Inilah yang saya khawatirkan adanya upaya-upaya untuk mencabut
akar keagamaan (agama Islam ) dari budaya minang.
Salah satu cara dari upaya proses kristnisasi adalah dengan menghilangkan
hubungan antara agama Islam dan adat masyarakat minang atau dengan
jalan mempertentangkannya satu sama lain.
Konflik terbuka (perang) sebagai tanda perlawanan rakyat dimulai
dengan hal-hal yang sepele , Perang Diponegoro dimulai dengan
sengketa tanah antara Antawirya dengan Belanda.
Tapi bukan perkara tanah inilah yang menjadi sebab timbulnya
perlawanan, sengketa tanah merupakan pemicu bara api dari
kemarahan atas kezaliman yang dilakukan oleh penjajah Belanda.
Perang Paderi yeng menyeret perang melawan Belanda disebabkan
bukan karena sekedar praktek-praktek kemaksiatan masyarakat yang
suka berjudi, sabung ayam, minuman keras - yang menyebabkan
keterlenaan masyarakat dan penguasa pada waktu - tapi karena
timbulnya kesadaran pembebasan dari penjajahan.
Para ulama yang sehabis pulang belajar dari Mekkah mereka saling
bertukar pikiran dimana selama menimba ilum berada di rantau
(Mekkah) banyak bertemu dengan alim ulama dari berbagai penjuru
dunia sehingga timbul kesadaran akan pentingnya kemerdekaan.
Perang paderi juga merupakan perang yang berskala nasional bukan
saja melibatkan tentara Batavia tapi juga dikirimnya Sentot
Prawirodirjo panglima Pangeran Diponegoro yang ditawan oleh
Belanda,dikirim ke Sumatera Barat untuk memerangi kaum paderi
yang ternyata berbalik memihak perang Paderi.
Sejarah tidak cukup sekedar dinina bobokkan sebelum tidur tapi
harus dipelajari, ukuran kecintaan masyarakat terhadap pelaku
sejarah tidak diukur seperti tambo-tambo yang tidak jelas
(dongeng sebelum tidur) yang kerap beredar ditengah masyarakat,
karena sejarah sendiri sudah memiliki catatan tertulis. Demikian
halnya perang paderi yang terjadi pada permulaan abad 19 dimana
tradisi tulis menulis sudah mulai membudaya dengan demikian
budaya tambo ikut berakhir (penyampaian berita tidak lagi secara
lisan).
Wassalam
Arnoldison
Tuesday, May 22, 2007, 11:22:10 PM, you wrote:
MS> Kembali saya ingin menarik topik ini ke masalah perang paderi.
MS> Pertanyaan mendasar saya, apakah memang Tuanku Imam Bonjol dan
MS> pentolan perang paderi ini memang merupakan pahlawan di hati orang
MS> minangkabau??
MS> Lalu akan muncul juga pertanyaan-pertanyaan lain seperti..
MS> Pertama kita harus melihat, kapan Imam Bonjol ditetapkan sebagai
MS> Pahlawan Nasional, yaitu pada tahun 1973 berbarengan dengan
MS> pahlawan-pahlawan di masa VOC sampai akhir abad 19. Lalu siapa
MS> yang menginisiasi pemerintah pusat untuk menetapkan Imam Bonjol
MS> sebagai Pahlawan.
MS> Apakah sebelum 1973, nama Imam Bonjol membekas di hati masyarakat
MS> minang baik sebagai sebuah tradisi cerita heroik lisan atau
MS> tulisan? Apakah juga tradisi bacarito sabalum lalok di surau-surau
MS> seantero minangkabau menceritakan tentang Imam Bonjol dan
MS> kawan-kawan?
MS> Ketakutan saya, Imam Bonjol dan gerakan Paderinya tidak pernah
MS> berada di hati masyarakat minangkabau. Jangan-jangan usulan kita
MS> menjadikan Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional, hanyalah sebatas
MS> gengsi karena di tahun itu daerah-daerah lain memunculkan
MS> tokoh-tokoh penentang imperialisme barat. Mudah-mudahan katakutan
MS> saya ini tidak terbukti.
MS> Wassalam,
MS> UBGB
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---