Assalamualaikaum w.w.Dunsanak Rahyu Salim, Ambo kiro rekan-rekan ambo di MAPPAS sadang tapurangah mambaco masalah ko. Mungkin labiah rancak kito danga baa penjelasan pakarnyo bana, Adinda Prof Dr K Suheimi.
Baa tu Adinda, sambah yo alah tatuju ka Adinda komah. Wassalam, Saafroedin Bahar --- rahyussalim <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > _____ > > From: [email protected] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On > Behalf Of Darul M > Sent: Thursday, May 24, 2007 10:03 AM > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [EMAIL PROTECTED] [SMA 1 Bkt Jaya] Kedokteran > Indonesia (1) > > > > Iko kontra produktif atas usaho MAPPAS. > > > > Eh baa MAPPAS kok anok2 sajo? > > > > _____ > > From: ulvan melvi > Sent: Thursday, May 24, 2007 4:48 AM > > Ambo ingin menyampaikan beberapa pengalaman jelek > ambo > ......... > > 1. waktu anak ambo yang no.2 berumur 3 bulan ambo > ado > ......................................................MasyaAllah > bagitu bahayo panyakik tu indak ado dokter > yang bisa mengenali dari awal. > > ===> Saya dan barangkali semua dokter Indonesia > (baik yang senior apalagi > yang masih yunior) seharusnya menyadari bahwa > penegakan diagnosis > (menentukan suatu jenis penyakit yang diderita oleh > seseorang) bukanlah > perkara mudah. Diakui atau tidak suatu diagonsis > penyakit yang disangkakan > oleh seorang dokter terhadap seorang penderita > adalah suatu rekaan (tebakan, > kesimpulan) yang dibangun dari hasil penelitian para > ahli (teksbook, journal > kedokteran dsb), pengalaman orang lain, pengalaman > dokter itu sendiri, > investigasi yang dilakukan (anamnesis, pemeriksaan > fisik) dan pemeriksaan > penunjang (laboratorium, imaging dsb). Sangat > berbeda dengan pengobatan > tradisional (dukun, alternative, dsb). Anda bisa > bayangkan rekaan apa yang > dikeluarkan bila berbagai komponen ini tidak > dilakukan dengan baik, > dikurangi atau disepelekan oleh dokter tersebut. Dan > bisa juga anda > bayangkan kalau anda berobat kepada seorang bukan > dokter (seperti dukun, > alternative, urut, mak erot, dsb) yang melakukan > rekaan terhadap penyakit > yang diderita oleh seorang penderita berdasarkan > wangsit atau sejenisnya, > dsb. Wallahu alam. (Kita belum berbicara mengenai > keputusan teknik > pengobatan yang akan diambil oleh seorang dokter > yang juga memerlukan > berbagai komponen untuk menentukan suatu strategi > pengobatan yang diambil.) > Tentu saja rekaan ini tidak bisa tepat 100% bahkan > kalau pun berbagai > komponen diatas dilakukan dengan baik, karena banyak > sekali factor yang > mempengaruhi untuk timbulnya suatu gejala dan > penyakit yang terjadi pada > seorang pasien. Gejala dan keluhan yang sama bisa > saja disebabkan oleh > penyakit yang berbeda. > > Lantas bagaimana??? Saya kira yang bisa diperbuat > oleh seorang dokter adalah > mempertinggi keakuratan rekaannya dan memperkecil > kesalahan rekaannya. Hal > ini bisa dilakukan dengan banyak baca (textbook, > journal ilmiah dsb), > menimba pengalaman orang lain, dan mempertajam > analysis dengan memanfaatkan > investigasi yang dilakukan dengan anamnesis, > pemeriksaan fisisk secara > professional dan mengoptimalkan sarana pemeriksaan > penunjang (laboratorium > dan imaging). Dan yang tidak kalah pentingnya adalah > membina hubungan baik > dengan pasien dan keluarganya untuk mendapatkan data > yang betul2 akurat > sesuai dengan keluhannya karena bisa saja entah > karena suatu hal si orang > tua menyembunyikan (atau tak sengaja) kronologi > penyakitnya. Pada umumnya > angka 90 sd 95 % keakuratan rekaan adalah yang > optimal dan ideal bisa > dicapai oleh seorang dokter bahkan oleh seorang guru > besar sekalipun. Kalau > kita bicara statistik maksud dari angka 90 sd 95 % > itu adalah bahwa dari 100 > orang yang berobat ke seorang ahli (dokter, guru > besar dsb) ada peluang > sebanyak 5 orang yang mengalami "kesalahan rekaan" > penyakit yang masih bisa > ditolerir dalam populasi normal. Artinya kita sudah > bisa menduga akan > terjadi 5 sd 10 kesalahan rekaan oleh seorang > praktisi kedokteran terhadap > 100 orang pasien yang diperiksanya. Barangkali > inilah yang terjadi pada > kasus ini yang pada akhirnya menimbulkan > ketidakpuasan keluarga pasien. > Angka 5 sd 10 % ini seharusnya bisa diperkecil dan > dikelola dengan baik oleh > para praktisi kedokteran, namun seringkali hal ini > terlupakan yang berakibat > pada semakin buruknya citra pelayanan kesehatan dan > kesakitan Indonesia. > > Dalam kenyatannya angka ini dapat ditemukan dimana2 > baik di dalam negeri > maupun di luar Indonesia. Bedanya adalah cara > mengelola angka yang 5 sd 10% > ini. > > > 2.Umua 2 thn anak > ambo............................................... > ...................................................... > kompres jo tambakau yg > dirandam dalam aia angek, Alhamdulillah 4 hari > infeksi itu hilang. > > ===> Ambo ikuik basyukur bahaso ananda nan baru > baumua 2 tahun iko akhirnyo > terbebas dari masalahnyo karena memang subananyo itu > adalah cita2 luhur dari > suatu pengobatan. Dan baitu pulo jo ibundanyo nan > sangat puas dengan hasil > pengobatan yang dianjurkan oleh bidan. Namun saya > berpendapat kalau kita mau > jujur mengatakan bahwa masalah kompetensi antara > bidan dengan dokter jelas > dokter lebih berkompeten dalam menangani kasus ini. > Masalah orang tuanya > yang tidak setuju atau tidak sependapat saya kira > adalah masalah lain yang > bisa dicarikan second opinion kepada yang memiliki > kompetensi yang sama atau > lebih baik. Sehingga dalam hal ini terlepas dari > hasil yang memuaskan > penderita ataupun keluarganya, meminta pendapat > seorang bidan dalam > menangani kasus infeksi di kuku jempol adalah suatu > hal yang tidak dapat > dibenarkan. > > > 3. Mintuo ambo ado benjolan di lehernyo, pai barubek > ............................................................................. > ... Saminggu di situ setelah dikemo kami pulang, > kondisi mintuo makin > manurun tapi masih bisa jalan dan ampek hari di > Medan Mintua ambo diimbau > Yang Khalik. > Yang jadi pikiran ambo : > 1. Masih bisakah dipicayo dokter2 awak ko, > > ===> Ya tentu, pendapat saya dokter Indonesia masih > banyak yang bisa > dipicayo (dalam hal ini "kompetensi menegakkan > diagnosis, menentukan > diagnosis"). Walaupun masih perlu penelitian tentang > ini, perkiraan saya 90 > sd 95% dokter Indonesia (sesuai dengan levelnya) > dapat melakukan diagnosis > dengan baik karena saya yakin mereka semua sudah > mendapatkan pembekalan > mengenai cara menegakkan diagnosis di fakultas > kedokteran mereka masing2. > Saya memandang persoalan ini sebagai suatu masalah > kita bersama maksud saya > pemerintah perlu memperbaiki sistem pelayanan > kesehatan dan kesakitan di > Indonesia, para pelayan rumah sakit (dokter, perawat > dan crewnya) perlu > menyadari bahwa merek professional yang seharusnya > memberikan yang terbaik > buat pasiennya, dan konsumen (pasien, keluarga > pasien) perlu meningkatkan > === message truncated === ____________________________________________________________________________________Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links. http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan email yang terdaftar di mailing list ini. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
