"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
  >>> Assalamualaikum w.w. para dunsanak sa palanta,
   
  Waalaikumsalam wr.wb, pak Saaf dan Dunsanak sadonyo.

... [deleted] 

  >>> Masalah ini jelas penting, karena mengenal watak suatu suku bangsa akan 
  >>> memudahkan kita untuk mendapatkan gambaran secara kolektif mengenai suku 
  >>> bangsa tersebut. Kalau saya tidak salah, sosiolog Max Weber akan menyebut 
hal ini >>> sebagai 'ideal type'.

Pak, saya juga menganggap ini sangat penting. Itulah sebabnya mengapa dari awal 
saya mengatakan "ini tidak bisa disederhanakan begitu saja"; 
   
  Setidaknya, ada tiga alasan saya:
   
  Pertama, ideal type yang berakar dari ke khas an historis ini merupakan satu 
dari tiga "konstruksi" yang membentuk ideal type. Jadi bukan satu2nya; Bisa 
diperdebatkan juga, mana yang lebih kuat, ideal type pertama ini (berdasarkan 
historis); type kedua (realitas sosial, seperti birokrasi dan feodalism); atau 
malah type ketiga (behaviour yang telah direkonstruksi secara rasional - 
seperti yang dianut ekonomis).
   
  (Kelihatannya Hajima Nakamura menggunakan type pertama ini - melihat ke empat 
etnis (india, cina, tibet, dan jepang) dari kesamaan khusus yang berkaitan 
dengan pengaruh Budha). Saya belum baca secara lengkap disertasi Prof Dr 
Suwarsih, tapi kalau melihat abstraknya mungkin pendekatannya sama. Demikian 
juga dengan beberapa buku tentang berbagai etnis di Indonesia - waktu itu saya 
lihat ada sekitar 10 judul di perpustakaan CSIS - saya rasa juga sama).
   
  Kedua, ideal type yang mengacu ke fenomena historis ini mungkin berlaku untuk 
suatu periode tertentu, tetapi belum tentu selalu berlaku - artinya bisa 
berubah.
   
  Secara terbatas saya melihat adanya perubahan fenomena ini. Waktu mengambil 
mata kuliah Organizational Behavior, saya dapat tugas menjelaskan pengaruh 
eastern culture terhadap organisasinya. Dari sederetan kasus, saya melihat 
betapa kuatnya pengaruh arti angka 9 bagi etnis Cina. Ini dipercaya sebagai 
angka keberuntungan, antara lain karena ini adalah angka tertinggi. Wakatu itu 
saya lihat di Indonesia contoh itu juga ada, rokok DJI SAM SOE atau 234, yang 
diproduksi oleh SAMPOERNA di pabrik yang beberapa unsur pentingnya berkaitan 
dengan angka 9. Kebetulan saya dapat nila A untuk project kecil ini, ha ha.
   
  Tapi kemudian saya 'mendengar', angka 9 bukan lagi angka terbaik, tetapi 
trendnya di "kaum muda" sekarang adalah angka 8. Angka 8 dianggap lebih kuat, 
dua lingkaran tanpa ujung; kalau direbahkan seperti simbol matematika "tak 
terhingga". Mungkin ini yang dianut Lippo group untuk logonya?  Sebagai catatan 
adalah satu dari sangat sedikit bank yang tenang2 saja diwaktu krisis moneter 
tahun 97 dst 
   
  Ketiga. Ada kecenderungan, orang lebih cepat "hafal" dengan stereotype yang 
negatif; yang -celakanya- tidak jelas, apakah ini berdasarkan penelitian yang 
valid atau tidak. Etnis tertentu dipandang pelit, ada yang culas, bengkok, ada 
yang kasar, dsb dsb.
   
  Akibatnya, jika sesesorang harus bernegosisasi dengan etnis tersebut, 
"terpaksa" dilatarbelakangi dengan: bagaimana agar lawan negosisasi ini tidak 
bisa culas, tidak bisa pelit, dst dst.
   
  
>>> Menurut penglihatan saya, ulasan mengenai karakter suatu bangsa merupakan 
  >>> kristalisasi [=pemurnian] dan resultante [=akibat] dari keseluruhan 
interaksi antara
>>> sistem nilai serta sistem kelembagaan suku bangsa yang bersangkutan yang 
  >>> membentuk watak perseorangan warganya. Bagaimanapun, manusia adalah 
  >>> makhluk sosial, yang menerima sebagian dari watak pribadinya dari
>>> ligkungan di sekitarnya. 

Saya sepakat, pak. Beberapa text books human behavior menggambarkan kuatnya 
pengaruh lingkungan ke karakter seseorang, dan kemudian karakter "sekian 
seseorang" berpengaruh ke karakter kelompok, dan seterusnya, bolak balik begitu
   
  >>> Dalam hubungan ini mungkin sekali ada beda karakter antara apa yang dapat 
disebut >>> sebagai warga MinangRanah yang hidup dalam kerangka ABSSBK ... 
[deleted] dengan >>> warga MinangRantau, ... 
   
  Mungkin'ideal type' jenis pertama memang begitu, Pak. Kalau dalam literatur 
disebutkan: which refer to phenomena that appear only in specific historical 
periods and in particular cultural areas
   
  
>>> Bagaimanapun, kita memerlukan ulasan seperti itu, untuk mengenal ciri khas 
>>> berbagai >>> suku bangsa kita, serta untuk menyesuaikan pendekatan kita 
>>> dalam berkomunikasi.
   
  Iya Pak, saya sangat sepakat, tetapi dengan catatan, harus dipergunakan 
secara hati-hati, dan tidak "disederhanakan". 
   
  Sebagai  tambahan cerita, waktu mencari2 bahan tentang first kind of ideal 
types ini, seorang kenalan yang pernah tinggal di Indonesia mengatakan, salah 
satu contoh bagus ada di film Indonesia. Dia pinjamkan videonya ke saya. 
Ternyata itu film dari jaman "sebelum saya". Sampai sekarang saya masih ingat 
judulnya, Senyum Pagi di Bulan Desember. Pemeran utamanya Soekarno M Noor. Film 
ini bercerita tentang seorang hakim (dan hakim - dalam film itu mewakili 
pandangan pandangan masyarakat) sangat yakin kalau "seorang bapak perampok, 
anaknya pasti berjiwa rampok juga". Suatu saat bayinya pak hakim diculik, 
kemudian dididik oleh perampok, setelah dewasa "dipertemukan" dengan orang tua 
aslinya.
   
  Wassalam,
   
   
  Riri
   
   
   
   

       
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally,  mobile search that gives answers, not web links. 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke