Betul sekali Om Riri..sepakat dengan anda..
sekali lagi kita masih "gamang" dengan positioning MAPPAS, apakah akan menjadi
NGO yang kritis terhadap pemda ataukah menjadi mitra bagi pemda dalam memajukan
industri pariwisata.
kalaulah kita memutuskan menjalankan fungsi kontrol maka kita harus tegas dan
tak berhenti memberikan kritikan terhadap kebijakan yang di implementasikan
selama ini. Tentunya kita juga musti membangun daya tawar yang mumpuni termasuk
menguasai media dan kelompok penekan lainnya.
kalau kita memutuskan menjadi mitra yang saling bersinergi, saling memberikan
suport dengan asumsi awal kita saling melengkapi dan menguatkan seperti halnya
MPKAS, maka kita juga harus tahu diri untuk tidak "memerahkan muka" pejabat
pemerintahan. Seperti yang dikatakan Om Riri jangan pernah mempertanyakan dan
mengkritik kinerja pejabat bersangkutan didepan umum apalagi beliau diposisikan
sebagai narasumber/ahli.
Apalagi ikut2an masuk ke politik praktis atau reshufle kabinet gamawan. tak
perlulah kiranya kita hembuskan di palanta umum ini. sekiranya yang
bersangkutan juga anggota palanta ini minimal ikut membaca apa yang kita
diskusikan alamat tertutuplah jalan bagi kita untuk membawa serta pemda dalam
misi kita.
akhirnya kita musti belajar banyak terhadap kejadian ini, seperti halnya
pepetah niniak moyang, kok kandua badantiang dantiang kok tagang bajelo jelo
...MAPPAS dan segenap pengurusnya musti memahami filosofi ini dan juga musti
memahami psikologis urang awak terutama berkaitan dengan kerjasama antar
kelompok kepentingan ..
salam
Ben
Riri - Mairizal Chaidir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamualaikum wr.wb
Da Nof dan sanak sadonyo.
Tentang Kepala Dinas yang "tidak tahu" kebijakan pimpinannya itu harusnya bukan
merupakan hal yang mengejutkan.
Pak Chaidir Latief berkali2 mengungkapkan kekecewaannya di milist MAPPAS.
Waktu ikut rapat MPKAS di kantor pak Saaf bulan puasa kemaren, saya juga
"meminta" para dunsanak untuk tidak otomatis menyimpulkan: jika Gubernur
setuju, Kepala Dinasnya akan jalan; Jika Kepala Dinas OK, anak buahnya akan
melaksanakan. Saya tidak bilang itu berlaku umum, tetapi itulah sebagian hasil
selama 2 setengah tahun lebih di sana, dimana penugasan saya banyak berhubungan
dengan bapak-bapak tersebut. Kemudian, yang saya lihat, tidak hanya di sana,
tetapi ada ada di tempat lain juga, yang bisa ditarik "benang merahnya". Sama,
begitu juga.
Trend yang saya lihat sekarang adalah, kalau atasannya "dipegang", bukan
otomatis yang dibawah juga kepegang; malah dalam banyak kasus saya lihat justru
kalau kita "terlalu dekat" dengan atasannya, justru dipersulit di bawah.
Saya tidak punya data empiris, tapi yang saya lihat, kecenderunga di Pemda
bukan seperti di tentara.
Ide untuk meminta bossnya memecat beliau? Please never do that, kecuali kalau
anda benar2 yakin bahwa si boss itu adik kandung anda, dan si anak buah itu
musuh bebuyutan keluarga kita secara turun temurun. Atau kalau anda seorang
pemasok barang strategis, dengan bonus yang sangat besar untuk si boss. Meminta
atasan memecat anak buahnya tidak akan produktif. Tidak semua orang di kantor
itu yang "memusuhi" si "terpecat" tersebut. Malah itu akan membuat
lingkungannya bersimpati: Pak itu dipecat gara2 permintaan dari ...
Sekedar contoh, kebetula saya bekerja dengan suatu lembaga donor. Saya sering
dengar - entah benar atau tidak - pak atau ibu itu diganti karena kita yang
minta. Hasilnya? Ya memang dianya diganti, tapi "kerajaannya" belum tentu.
Satu lagi, da Nof jangan pingsan karena KaDis Pariwisata mengatakan bahwa
Promosi lewat Internet tidaklah efektif dg alasan tidak semua bisa buka. Msh
lebih baik dg Brosur2 dan Road Tour...! .
Jangan pingsan, Da. Juga tidak ada gunanya untuk 'memberikan pengertian yang
benar" ke beliau. Mungkin beliau juga punya literatur atau hasil riset tentang
itu. "Pakem" yang saya pahami untuk jaman sekarang adalah, jangan pernah
mempertanyakan pendapat atau kinerja pejabat, apalagi di depan umum. Tapi cari
celah positifnya.
Misalnya, bagaimana kalau kita mencoba melihat ini sebagai peluang,? "OK, saya
promosikan lewat internet, Bapak tolong lewat brosur dan road tour".
Ga apa2 toh, kan brosur dan road tour itu pakai anggaran dia. Ya - kalau beliau
mau - batu biar brosur dan road tournya itu tidak "menyimpang".
Wassalam,
Riri
---------------------------------
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search that gives answers, not web links.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---