Alaikumsalam sanak Iwan.,
Nan satahu ambo uang jemputan di Piaman bukanlah mahar.
Sewaktu ijab kabul marapulai masih menyerahkan mahar.
Uang jemputan yang biasanya dalam satuan "ameh-pound"
Itu menjadi hak kedua penganten, sebagai modal awal
barumahtangga.
Nan mambuek kacau adonyo "uang hilang". Iko akibat
dari banyak saingan untuk memperebutkan "jawi" saikua.
Akhirnya ada tim lobby yang mendekati mamaks marapulai.
Akibatnya terjadi money-politics.
Maoh maulang kaji. Dulu di RN pernah pulo jadi topik soalko.
Baa ajo Saaf, bantu ambo manjalehkan atau mangoreksi.
Ajo Doto Suhaemi, pernahkah manulih soal ko?
Salam dari jauaah,
ajoduta/60 (17 agustus yad)
iwan soekri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
salam
saya setuju akan tulisan ini.
saya tak setuju suara rakyat suara tuhan
suara rakyat ya suara rakyat. suara Tuhan ya suara Tuhan.
saya tak setuju : adat basandi syara, syara basandi kitabullah
pasalya, banyak hal dalam adat tak bersandi ke syara. syara bersandi ke kitab
Allah, itu benar.
jadi, saya setuju, adat bersandi pada kebiasaan orang banyak pemakai adat.
syara bersandi ke kitab Allah.
apakah orang minang itu Islam? secara adat, saya sulit mengatakan minang. di
piaman laweh, misalnya, laki-laki dijemput (dibeli), padahal seyogianya mahar
datangnya dari laki-laki. proses jemput ini mirip orang india yang membeli
laki-laki.
salam
iwan
dutamardin umar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---