Sanak Arnold,
Saya sebenarnya dari dulu bingung kalau ada yang mengkaitkan Siti Nurbaya
yang "kawin pakasa" itu dengan adat Minangkabau.
Dan juga, rasanya novel itu juga tidak bercerita tentang "kehidupan sebuah
keluarga yang
ditimpa musibah kekurangan harta dan terlilit hutang sehingga ia menjual anak
gadisnya".
Saya menduga, image tersebut timbul dan beredar di masyarakat luar yang tidak
mengerti adat Minang dan sekaligus belum pernah membaca novel tersebut.
Mungkin orang luar itu tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena ternyata
tidak satupun dari mahasiswa di 3 kelas Program Bahasa dan Sastra Indonesia UNP
(UNP = Universitas Nasional Padang) pun tidak membaca itu. Tidak satupun !!!
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/10/seni/3506232.htm.
Jadi, kala mahasiswa bahasa dan sastera Indonesia di Padang saja tidak
membaca, ya kalau begitu "sah2" saja kalau orang luar punya image yang tidak
tepat.
Riri
Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Banyak terjadi kesalahfahaman orang non minang terhadap orang
minang dikarenakan mendapat informasi yang salah, image orang
minang yang buruk mereka dapatkan dari cerita atau tontonan yang
sebetulnya bukan merepresentasikan adat minang sebenarnya.
Ketika orang-orang membaca novel Siti Nurbaya mengesankan bahwa
Siti Nurbaya merupakan korban adat minang, tetapi yang
sebetulnya bukanlah demikian tetapi hanyalah akibat oknum-oknum
yang berkedok/bertamengkan adat minang.
Kawin paksa bukanlah produk adat minang apapun alasannya, dalam lakon
cerita Siti Nurbaya menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang
ditimpa musibah kekurangan harta dan terlilit hutang sehingga ia
menjual anak gadisnya, cerita ini dilatar belakangi kehidupan
minang, dan melibatkan seorang pemuka adat yang menyalahgunakan
kekuasaanya.
Setiap tragedi ini bisa terjadi menimpa keluarga siapa saja,
baik orang Jawa, suku Sunda, Batak, Bugis dll., dan akhirnya
ceritanya juga bisa diubat tragis.
Sekarang ini saja banyak terjadi perkawinan antara anak seorang
pengusaha dengan pengusaha lainnya untuk memperkuat jaringan
business.
Demikian pula hal lainnya yang dicoba didramatisir sehingga
menjadi tontonan yang menarik, cerita laki-laki Pariaman yang
'dibeli' juga merupakan tema menarik untuk ditampilkan dilayar
lebar, tanpa mempedulikan kebenaran dan keabsahannya.
Saya tidak menonton sinetron ini, bagi yang menyimak tontonan
ini dan bila terkesan menyudutkan minangkabau, dan seolah-olah
memang merupakan produk adat minang maka berhak melakukan somasi
terhadap hal ini.
Tapi bila hanyalah sebuah cerita yang sekedar memakai setting
sebuah keluarga minang, dan hanya menampilkan kharakter negatif
individu keluarga tersebut, tanpa bermaksud untuk menyudutkan adat minang,
dan tidak bermaksud menyatakan inilah budaya minang, yang
demikian itu merupakan persoalan lain.
Arnoldison
---------------------------------
Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---