________________________________



hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

        Manurut hanifah, kita tidak perlu terlalu terpaku ke petatah
petitih.
        Saat petatah dan petitih tersebut dibuat, situasinya kan tidak
sama dengan sekarang. Petatah dan petitih tersebut buatan manusia yang
tentunya punya keterbatasan, mungkin dari sisi waktu dll. 
         
        Jadi petatah dan petitihnya barangkali yang perlu disesuaikan.
Kan bukan petatah dan petitih tersebut yang jadi acuan hidup kita, tapi
Al Quran.
         
        =
========================================================================
=====================================================================
         
        Betul sekali acuan hidup kita adalah Al Quran bukan
petatah-petitih.
        Sekarang zaman instan, sesuatu yang bertele-tele  dianggap
in-effisen .
         
        Kalau untuk diperantauan mungkin bisa : Bakarilahan atau tst
sajo. Tapi jangan coba diaplikasikan dikampuang ( maksudnyo dikampuang
ambo, kalau yang lain antahlah). Mungkin lah modern pulo sajak adonyo
Orgen-Tunggal masuk kampung, system makan indak ba jamba lai tapi alah
duduak dikurisi dibawah tenda jo caro Parancih keceknyo. Tata cara nan
modern iko termasuk yang diperhatikan oleh KAN dan lah ado pulo SOPnyo.
Jadi indak bisa diterapkan untuk semua tamu dikampuang ambo 
         
        Protokoler/ pasambahan itu manjadi salah satu Identitas Urang
Minang. Bagaimana kalau salah satu  tata-aturan  belum terpenuhi baik
dalam suka-maupun duka  ,misalnya kalau kita mengantar  Marapulai
kerumah anak  daro atau kalau induak-bako kita meninggal.
         
        Kalau semua prosesi yang sudah baku itu tidak kita ikuti. Kita
sendirinya yang akan mendapat malu nanti karena mayoritas forum belum
bisa menerima hal-hal yang menurut kita lebih praktis itu.
        

        
        Akan hal prosesi dan pasambahan atau hal lain yang awak anggap
kurang efektif itu sabananyo ado juo pado suku lain. Rang Batak yang
awak anggap cukup progresif memiliki tata-upacara adat yang kadang lebih
pelik dari urang Minang, selain mengatur tata duduk, kesempatan
berbicara. Sia nan dapek kaki , kapalo atau bagian lain dari hidangan
Babi sajo harus diperhatikan dengan cermat, jangan sampai salah
pembagiannya sesuai menurut status mereka masing-masing. Bisa heboh
pesta itu nanti.
        

        
         Caliaklah   Rang Cino kalau kematian barapo lamo prosesinyo,
Rang Jawa sajak mulai hamil, melahirkan, perkawinan mulai dari pinangan
, mati ( menujuh , empat puluh bahkan seribu hari ). Bahkan di Bali dan
Toraja acara adat banyak dijadikan untuk jualan bagi para Turis.
         
        Kalau diawak lai bisa mendatangkan Turis pas acara batagak
-Penghulu di Medan nan Bapaneh itu......
        

        
        Ambo memang indak fasih malakukan pasambahan iko, tapi kalau iko
akan dianggap akan membatasi kito  nan serba taburu-buru. Maaf ambo alun
sapandapek lai, karano ambo masih menikmati dan menganggap itu sebagai
salah satu identitas sebagai urang Minang..
        

        
        Wassalam
        St. RA 
        


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke