bu Nurraini dan para dunsanak yang baik

Ambo download artikel Ibi Banyak sekali artikel yang baik baik di melis ko 
seperti dari dunsanak kito suhaimi dll Ambo usul kok lai ado nan sepakat 

Kami dul;u di Bandung alah membentuk Klub Buku Adat Minangkabau Untuk tahap 
awal manabikkan jenis buku saku Alah beredar samapi judli 8 Pak Prof Buchari 
motornyo kini kan Ketua DAMI  Ambo alah mengapproach Ketua Bidang Adat di GM 
agar diambil oper Dulu memang gawenya GM Jawa Barat Tapi GM jawa Barat kini 
kedalam alah bagabuang dengan PKM Jawa Barat karano urangnyo danm kegiatannyo 
itu ka itu juo Tapi dari GM nanpaknyo indak ado reaksi

Baa kok kito tarik ka Rantau Net Nan penting manuruik ambo anggota dari Klub 
Buku itu kito mantapkan Salamoko walaupun dijua 4000 rupiah uarang awak kan kok 
dapek perai perai juo. Kalau rakyat Rantau Net bersedia Katakanlah untuk tahap 
awal 500 sajo anggota Rantau Net Dan tahap awal pulo melanjutkan serial buku 
saku sajo dulu Hargo 5000 rupiah Sabulan satu atau dua buku saku  Disamping 
diinformasikan buku buku baru atau buku lami yang akan dicopykan  Kito cetak 
1000  Jadi 500 diambil oleh rakyat Rantau Net dan 500 lainnyo kito edarkan 
dilua Kalau PASAR ini alah tajamin Pengasuhnya kito sempurnakan Ambo alah 
bicaro dengan Upi Sundari dan Firdaus Umar 

Chaidir N Latief


----- Original Message ----
From: Nuraini B Prapdanu <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, June 14, 2007 12:23:07 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: "Lokakry6a Bundo kanduong"


Dunsanak, 
 
Mungkin file iko dapek bermanfaat sebagai tambahan informasi 
 
Salam , 
Nuraini 
Ketua I Forum Bundo Kanduang 
IKM - Bekasi 
 


From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Ade Zur
Sent: Thursday, June 14, 2007 11:54 AM
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] "Lokakry6a Bundo kanduong"


Hallo bundo Nismah.....  saya sangat setuju membahas tentang BUndo Kandong 
dalam suatu Lokakrya  khusu Bundo Kanduong. Sangat menarik pembicaraan tentang 
Bundo Kanduong ini... dan kelihatannya banyak masalah tentang bundo kanduong 
dan pemberdayaan perempuan yang kita hadapi.... padahal perempuan > lebih 
banyak dari laki-laki... bayangkan kalau dikatakan di UI dari 10 CL, 8 adalah 
perempuan, begitu juga di Universitas Trisakti dari 18 yang CL, 12adalah 
perempuan, rata2 setiap wisuda 80% adalh perempun yang CL. Waaahh... coba 
bayangkan kalau bundo kanduong dn perempuan hampir selalu "diperdayakan" bukan 
diberdayakan ??..Kita akan selalu dalam keterpurukan... krisis.. 
Wass
Zoer'aini Djamal



From:  Hayatun Nismah Rumzy <[EMAIL PROTECTED]>
Reply-To:  [email protected]
To:  [email protected]
Subject:  [EMAIL PROTECTED] Re: Perempuan Minang
Date:  Wed, 13 Jun 2007 21:41:02 -0700 (PDT)



Assalamu Alaikum W. W.
   
Nanda Datuk Endang dan sidang RN nan bunda hormati,
   
Kasus bunda pribadi berbeda dengan perempuan Minang yang tinggal di Minang 
karena bunda meninggalkan kampung halaman semenjak umur 12 tahun. Bunda 
berkiprah dirantau, berkarir tanpa dikungkung oleh adat. Bunda merasa 
benar-benar bersyukur dapat menggunakan segala kemampuan bunda dan kebolehan 
bunda ditempat kerja dan dimasyarakat. Bunda mendapatkan kesempatan yang sangat 
berharga ini. Bunda berjuang untuk mendapatkan persamaan hak (bukan emansipasi 
ini ada bedanya). Jadilah bunda ini perantau yang yang pulang dari rantau yang 
2 kali setahun.  Bunda tak punya mamak (adik atau kakak laki-laki dari mak 
bunda) jadi jadi laki-laki yang ada ditipak bunda itu umurnya dibawah bunda 
semua. 
   
Dikampuang diwaktu mupakaik diadakan, para perempuan didapur hanya untuk 
menyiapkan makanan. Setelah para alim ulama, niniak mamak dan cadiak pandai tu 
ka "manyungkah" (ini kata kasar sekali yang tak pernah ada sekarang lagi) 
mereka menanyakan apo alah siap nan dibalakang? Mako sibuklah para perempuan 
itu untuk menghidang.
   
Didalam buku "Adat Minangkabau Pola dan tujuan hidup orang Minang ado nan 
disabuik 4 jinih unsurnya terdiri dari niniak mamak, cadiak pandai, alim ulama, 
dan bundo kanduang baru disertakan didalam KAN ada unsur bundo kanduang. Tetapi 
kalau KAN rapat maka para bundo kanduang tidak hadir menjadi desision maker.
   
Baiak dirumah gadang atau di balai adat tidak ado perempuan Minang nan duduak 
tagak samo randah dan duduak samo tinggi samo alim ulama, cadiak pandai, dan 
niniak mamak tadi.
   
Nanda Hanifah kita bukan membicarakan kasus tapi peranan bundo kanduang secara 
keseluruhan. Sekarang ditiap nagari, kecamatan, kabupaten dan propinsi ada 
bundo kanduangnya. Peranan sekarang yang hanya menjadi penghias nagari, 
manjunjuang jamba harus lebih ditingkatkan menjadi para decision maker.
   
Bunda mempunyai beberapa buku tt Adat Minang dan bunda tak menemukan distu 
bukupun pemberdayaan perempuan Minang hanya lebih banyak wanita Minang tsb. 
diperdayakan kaum laki-laki Minang.
   
   
   
Buku ADAT MINAGKABAU Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang karangan Amir M. S. 
bagus sekali untuk referensi kita orang Minang. Jadi sebelum kita berdebat dan 
berdiskusi diharapkan kita semua mempunyai buku2 yang dibawah ini:
   
   
Islam dan Adat Minangkabau karangan buya Hamka.   
Masih ada Harapan karangan DR. Saafroedin Bahar. (Buku No. 1 dan No. 2 hampir 
sama isinya yaitu mengatakan kekurangan adat Minang secara keseluruhan).   
Alam Takambang Jadi Guru A. A. Navis   
Minangkabau yang Gelisah Rangkuman dari Mupakai Bandung oleh bp. Chaidir N, 
Latief   
Dari Pemberontakan ke Inetgrasi oleh Audrey Kahin   
Tambo Alam Minagkabau H. Datoek Toeah
   
Jadi ambo ingin manambah koleksi ambo jo buku karangan Amir MS iko dimano bisa 
ambo dapekkan.
   
 
   
Pertemuan (kopi darat) yang lah tajadi kapatangko iyo sabana manuntaskan sagalo 
permasalahan yang lah awak 
bicarakan diforum RN.
   
Sayang sakali angku Azmi indak basuo dan kalau basuo mungkin duo garis sejajar 
tu indak sejajar lai tapi akan batamu disatu titiak persamaan.
   
Juga sayang Dt Endang tak bisa hadir karena pertemuan tersebut telah merumuskan 
beberapa hal yang menjadi silang selisih.
   
Wassalam 
   
Hayatun Nismah Rumzy (68+)
   
Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
   
   
Pepatah itu bukan hiasan Bunda, senantiasa diacu dalam perjalanan hidup ini 
oleh anak nagari. Apakah Bunda tidak pernah diundang untuk berunding dalam 
berbagai 
persoalan? Saya tidak akan pernah memutuskan suatu persoalan bila belum ada 
keikhlasan dari kaum ibu. Bilamana perlu kapan waktu Bunda pulang, ikut dalam 
barisan arak-arakan, manjunjuang botieh atau bungo sirieh, dan merasakan betapa 
kaum ibu itu sumarak dalam nagari dan sangat diagungkan dalam budaya kita. 
Untuk merasakan harus dilakukan, jangan hanya dipandang saja. 
   
       

Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 








Try it now! Live Search: Better results, fast 


       
____________________________________________________________________________________Ready
 for the edge of your seat? 
Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 
http://tv.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke