Assalamualaikum w.w
Angku2 Bapak2 Ibu2 Sidang Palanta nan ambo hormati
Dibawahko ambo tuliskan, tulisan Linto Karsah nan berjudul "Menggugat Spirit
Gerakan KPM" nan parnah dimuat di Harian Singalang pada tgl. 10 April 2005,
mungkin dapat di jadikan sebagai bahan masukan kito semua, mudah-mudahan
bermanfaat adanya.
Wasalam,
Azmi Dt.Bagindo
MENGGUGAT SPIRIT GERAKAN KPM.
Semua pihak diyakini akan berada pada posisi yang salah kalau
tidak mendukung gerakan Kongres Prempuan Minangkabau (KPM) sepanjang gerakan
feminisme itu mencerdaskan kaum perempuan di ranah ini.
Tetapi akan lebih salah lagi, kalau dukungan diberikan untuk kesetaran gender
sebagai mana yang di cita-citakan feminisme.
Mendukung kesetaraan gender sama halnya dengan mendorong perempuan bersikap
Maskulin ( menjadi pria secara mental ).
Dan kesetaraan gender baru bisa tercapai dalam semua segi kehidupan, menurut
Socrates dalam bukunya "Plato's Repubalic ", apabila krakter peminim ( female
mod esty ) dapat dihilangkan kaum wanita.
Ini berarti kaum wanita harus berani melucuti pekaiannya untuk telanjang dan
tidak menjadi sosok layak fitrah seorang wanita.
Selain dari itu harus diadakan tempat-tempat peninitipan anak, atau
pengasuhan anak oleh negara. Bahkan kalau perlu, seorang ibu tidak perlu tahu
siapa anaknya; begitu lahir serahkan saja pada negara. Lamanya seorang ibu
kontak dengan anaknya cukup seperti seorang dokter menangani seorang pasien
yang sakit cacar ( hal ini juga mirip seorang anak yang tidak diasuh oleh
ibunya sendiri ).
Socrates juga menyatakan jangan ada perkawinan kalau ada, cukup satu hari
atau satu malam saja ( persis dengan "kumpul kebo" tanpa kometmen merambaknya
seks-seks bebas). Hanya dengan semuanya inilah wanita bisa bebar dari kerakter
feminim untuk kemudian meraih kesetaraan dengan pria disegala sektor publik.
Disetir Socrates, gagasan karakter feminim itu mencakup kehormatan wanita,
sifat kelembutan dan keibuan, karakter yang membedakan wanita dan pria.
Karakter inilah menurut Socrates yang dapat melenggangkan ititusi keluarga
dengan segala macam relasi khasnya; ada suami yang menjadi kepala yang akan
melindungi istri yang menjadi ibu anak-anak, yang memerlukan komitmen penuh
dari suami.
Karakter feminim atau perempuan telah menjadi makanisme dan perlindungan kaum
laki-laki terhadap kaum wanita. Hilangnya krakter feminim adalah harga yang
sangat mahal yang mesti dibayar. Dengan melunturnya karakter feminim kaum peria
juga akan kehilangan kehinginan untuk memberikan perhatian kepada wanita.
Ratna Megawani, seorang penulis tentang gender, punya premis bahwa karakter
feminim yang sifatnya alami dan kodrati sangat "keras kepala", sehingga sulit
untuk diubah demi mendafatkan kondisi yang didambakkan kaum feminis yaitu;
genderless sosiety ( ketika tidak ada lagi perbedaan antara pria dan wanita )
Praktek-praktek sosial yang dilembaga melalui pranata sosial, entah itu
agama, kepercayaan, atau norma budaya, secara universal memang sejalan dengan
simbol-simbol alam yang membedakan kaum pria dan wanita.
Kaum pria seperti disimbolkan oleh gerak superma, yang ada dibawah pengaruh
hormon testoron, cendrung lebih aktif, akgresif, kompentitef, berorientasi
vertikal. Ingin memimpin, memiliki dan menjadi pemenang.
Begitu juga sifat feminim yang cendrung mewarnai sifat wanita dan disimbulkan
dalam bentuk oval sel telur ( dipengaruhi oleh hormon estrogen), telah
membentuk sipat feminim yang cendrung fasif, ingin menyatu, dan menginginkan
kebersamaan, ( berorientasi sirkular ), ingin berkorban, ingin dilindungi, dan
ingin bergantung.
Usaha merobah kodrat wanita agar menjadi lebih maskulin ( mandiri, otonomi,
agresif dan kefentitif ) telah merobah keseimbangan ( harmoni ) relasi gender,
yaitu menyuburkan sifat maskulin pria untuk lebih maskulin, tetapi yang
kebablasan.
Sifat alami maskulin ingin berjuang dalam memperoleh sesuatu, termasuk
mendapatkan pasangannya tentu harus ada lokus wanita yang malu-malu kucing'
atau ' jinak-jinak merpati menunggu si pangeran.
Ketika wanita meninggalkan karakternya, yaitu mudah menyerahkan diri kepada
seorang pria sebelum menikah, bahkan kumpul kebo, dorongan pria untuk
memberikan komitmen masuk kedalam lembaga perkawinan pun akan menurun karena
apa yang diinginkan sudah diperoleh.
Apabila wanita bebas mengekpresikan astrat sexsualnya kepada siapa saja yang
dikehendaki, bagaimana kaum pria dapat memberikan komitmen penuh dan
perlindungan kepada kaum wanita.
Melalui riset selama puluhan tahun terhadap kehidupan wanita pemuja gerakan
feminisme, Danielle Criteenden seorang penulis barat, mengungkapkan yang
menurutnya hal-hal yang menurutnya tidak pernah dibicarakan oleh generasi
wanita terdahulu. Hal-hal yang sedemikian kuat dirasakan kaum wanita, namun
harus tertimbun dan kemudian terabaikan oleh pola pikir kebanyakan orang yang
banyak terpengaruh oleh visi gerakan kaum wanita. Sehingga menimbulkan
pertanyaan-pertanyaan yang merisaukan.
Pertnyaannya itu adalah " mana yang lebih penting antara karir dan keluarga,
apakah saya harus menikah atau berkarir dahulu, apakah saya harus melakukan hal
yang sama dengan pria agar mencapai kesetaraan. Pertanyan itulah yang
mengantui tanpa bisa dijawab oleh generasi ibu mereka".
Menurut Crittenden, banyak konsekwensi dari gerakan feminisme, prasaan
tercabik-cabik apabila meninggalkan anak-anaknya untuk berangkat bekerja, atau
rasa gundah yang muncul ketika mempersoalkan pemabagian peran rumah tangga
dengan suami, sebagai pasangan yang sama-sama bekerja.
Juga, masih mungkinkah wanita mengakui secara jujur hasratnya sebagai wanita.
( Linto Karsah Singgalang Minggu 10 April 2005).
Pepatah itu bukan hiasan Bunda, senantiasa diacu dalam perjalanan hidup ini
oleh anak nagari. Apakah Bunda tidak pernah diundang untuk berunding dalam
berbagai persoalan? Saya tidak akan pernah memutuskan suatu persoalan bila
belum ada keikhlasan dari kaum ibu. Bilamana perlu kapan waktu Bunda pulang,
ikut dalam barisan arak-arakan, manjunjuang botieh atau bungo sirieh, dan
merasakan betapa kaum ibu itu sumarak dalam nagari dan sangat diagungkan dalam
budaya kita. Untuk merasakan harus dilakukan, jangan hanya dipandang saja.
Tungku 3 sajarangan dalam mufakat kaum terletak pada : ninik mamak, bundo
kanduang, dan urang sumando.
Pendapat Lusi Herlina dalam "Masih Ada Harapan" tentu saja salah, dan tidak
bisa dijadikan rujukan. Lusi belum bisa memahami maksud "panjawek pusako di
rumah nan gadang".
Suatu sistem nilai bila dibanding-bandingkan dengan sistem nilai lain ya
hasilnya seperti itu. Sama seperti kaidah HAM dan demokratisasi dari barat yang
mau diterapkan di Indonesia, hasilnya ya seperti yang kita rasakan hari ini.
Mohon keampunan Bunda. Wassalam.
Hayatun Nismah Rumzy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Bundo kanduang, limpapeh
rumah nan gadang
Umbun puro pegangan kunci
Hiasan didalam kampuang
Sumarak dalam nagari
Nan gadang basa batuah
Kok hiduik tampek banasa
Kok lah mati tampek baniat
Ka unduang-unduang ka Madinah
Ka payuang panji ka sarugo
Pepatah diatas hanya sebagai hiasan negeri, tempat membayarkan nazar, menjadi
puro penyimpan harta benda, tapi dia tidak mempunyai fungsi untuk dibawa
bermufakat sama sekali.
Juga didalam tungku 3 sajarangan yang maksudnya ialah pemerintahan, adat, dan
agama jadi berdiri tegak untuk menumpu periuk atau kancah. Jadi dimanakah
letaknya perempuan bundo kanduang itu?
Didalam buku "Masih Ada Harapan" karangan pak Saaf dikatakan bahwa studi dari
Lusi Herlina mengatakan bahwa Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan
Minangkabau sesungguhnya tidak memiliki kontrol terhadap sumber daya, tanah dan
harta pusaka tingi lainnya. Dari penelitian dan analisis Lusi Herlina dkk.,
Bundo Kanduang tidak dapat lagi berfungsi sebagai perlindungan dan pemberdayaan
bagi jutaan kaum perempuan dan anak-anak anggota suku di Minangkabau. Makin
lama dalam sistem pengambilan keputusan semakin melemah dan lama kelamaan akan
kehilangan kekuatan politiknya dan akan menjadi hiasan belaaaaka dalam sistem
adat Minangkabau".
Buku "Minangkabau Yang Gelisah" sudah mengrekomendasikan yang berkaitan
dengan peranan bundo kanduang itu:
Melestarikan peranan Bundo Kanduang dalam budaya matrilineal.
Fungsi laki-laki dan perempuan dalam adat Minang, secara filosofisnya,
masing-masing memiliki fungsi masing-masing pula.
Dalam hal gender, Minangkabau mengakui persamaan gender sejak dulu dan
masalah feminim lebih dulu muncul daripada dalam tataran global.
Dalam Konsep Islam dikatakan manusia adalah khalifah (pemimpin) dimuka bumi
. Jadi baik perempuan dan/laki-laki adalah sama-sama pemimpin.
Gender memang diperjuangkan dalam tatanan global.
Keadaan ditanah Arab yang menjalankan syariah Islam tidak lebih baik
keadaannya. Contohnya:
Perempuan di Makah dan Madinah hanya keluar pada hari Jumat saja dan kalau
keluar mukanya ditutup dan yang kelihatan hanya matanya saja.
Ruang tunggu di Rumah Sakit tempatnya terpisah laki-laki sesama laki-laki
dan perempuan sesama perempuan.
Jarang adanya perempuan yang berkarir, berdagang, dan bersekolah tinggi
bahkan membawa mobil saja tidak ada orang perempuan.
Kemerdekaan dan kesempatan yang selama ini diperdapat oleh perempuan apakah
akan hilang kalau kita menjalankan ABSSBK? Seperti pak Saaf mengatakan dalam
pembagian warisan beliau tak mau membedakan anak-anaknya begitu juga perempuan
yang berjalan malam hari tanpa muhrim apakah juga akan ditangkap seperti yang
terjadi di Tangerang?
Apakah kita akan kembali lagi keawal abad ke 20 yang diterima di Sekolah Raja
hanya laki-laki saja?
Apakah sudah ada bupati atau walikota perempuan di Minangkabau?
Sekianlah dulu pendapat saya yang telah bertahun-tahun merasakan kemerdekaan
akan membiarkan anak cucu dan kemenakan perempuan saya akan menjadi hiasan
belaka.
Wassalam bil maaf
Hayatun Nismah Rumzy (68+)
---------------------------------
---------------------------------
Sekarang dengan penyimpanan 1GB
http://id.mail.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---