12. Kembali ke Medan (2)
 
Mobil travel kali ini tidak sama dengan yang kami tompangi kemarin. Kali ini 
adalah L-300 Mitsubishi. Tarifnya juga tidak sama. Yang kemarin itu 125 ribu, 
di tiket tertulis full AC, full music. AC tidak ada (tidak pernah dijalankan). 
Musik dibunyikan cukup sopan, dengan suara pelan. Yang sekarang ini tarifnya 90 
ribu, tidak ada AC (resmi) dan full benar-benar full musik dangdut dengan 
volume a'utzubillah kerasnya. Sesudah menjemput kami mobil ini menjembut 
seorang penumpang lagi. Di atas mobil sudah ada tiga orang penumpang selain aku 
dan istriku. Sesudah mengambil penumpang berikutnya itu mobil ini langsung 
berangkat meninggalkan Blankajeuren.  Jadi hanya ada enam penumpang dari 
sembilan tempat duduk yang tersedia. Supir mempunyai seorang pembantu yang 
nanti ternyata adalah supir kedua. Mereka membawa mobil ini bergantian.
 
Kami duduk di belakang supir. Ruangan untuk kaki lumayan luas.  Disebelahku 
duduk seorang bapak-bapak, seorang perokok. Jadi lengkap juga hiasan mobil ini, 
musik yang hingar bingar dan asap rokok.  Sebelum meninggalkan kota aku mintak 
tolong agar volume musik itu dikecilkan sedikit karena aku ingin menelpon. Dan 
permintaanku dipenuhi. Alhamdulillah. 
 
Mobil kami melaju di kegelapan malam. Kelihatannya hari mau hujan. Bahkan sudah 
mulai agak gerimis. Mobil ini berhenti di tempat kami beristirahat subuh 
kemarin. Tadinya aku pikir mau beristirahat makan disana, ternyata bukan. Pak 
supir rupanya ingin membeli solar tambahan. Dan ternyata di kedai itu solar 
sudah habis. Kami meneruskan lagi perjalanan. Karena masih belum terlalu malam 
dikiri dan kanan jalan terlihat lampu dari rumah penduduk. Padahal waktu 
melalui daerah ini dua hari yang lalu kami tidak melihat apa-apa dan sepertinya 
kami sedang berada di tengah hutan belantara saja. Ada dua buah tempat lagi 
yang ditanyai oleh pak supir yang ternyata juga tidak ada persediaan solar. 
Wah, kalau tetap tidak ada tentulah mobil ini tidak akan sampai di Medan. 
Untunglah di tempat berikutnya ada persediaan dan mobil ini menambah 20 liter 
solar curah. Entah berapa harganya seliter.
 
Kami lanjutkan lagi perjalanan sampai ke sebuah pos pemeriksaan.  Lokasinya 
agak di tengah hutan. Disini dilakukan pemeriksaan bawaan penumpang untuk 
memeriksa kalau-kalau ada yang menyelundupkan ganja. Kami tenang-tenang saja di 
mobil. Rupanya semua tas bawaan penumpang diturunkan. Aku terpaksa turun ketika 
petugas polisi menyuruh buka tas-tas yang sudah tergeletak di luar, di atas 
sebuah meja kayu. Hari sedang hujan rintik-rintik. Aku turun memakai topi 
'koboi' bersisi lebar yang beberapa hari yang lalu aku beli di pasar Brastagi. 
Maksudnya sekedar melindungi kepala dari gerimis. Aku buka tas koper kami yang 
memang dikunci. Polisi itu meraba-raba jauh kedalam. Akhirnya dia menyuruh 
tutup kembali tas itu. Ada sebuah tas lagi yang mau kubuka tapi dilarangnya. 
 
Sesudah pemeriksaan itu barulah perjalanan kami dilanjutkan lagi. Jam sebelas 
malam kami sampai di Kutacane. Ternyata kota Kutacane jauh lebih besar. 
Lampu-lampu jalan menghiasi jalan di tengah kota yang dibagi menjadi dua jalur. 
Perut sudah lapar, dan mobil ini berhenti di sebuah kedai nasi Minang / Melayu. 
Kami makan malam di saat hampir tengah malam.
 
Lanjut lagi perjalanan. Ternyata penumpang yang duduk di depan, seorang ibu, 
hanya sampai ke Kutacane ini saja. Begitu dia turun, bapak yang duduk 
disampingku pindah ke depan. Tinggal kami berdua saja di bangku kedua. Dan 
rupanya supirnya berganti sekarang dengan yang satunya, yang tadinya aku pikir 
pembantu supir. Supir yang ini mulai lagi dengan musik yang berdentum-dentum.  
Kami tinggalkan Kutacane melalui negeri-negeri yang hampir bersambungan saja 
layaknya. Yang tidak aku lihat beberapa malam yang lalu karena aku tertidur 
ketika itu.
 
Kami masuki kota berikutnya, Lau Pakam. Kota ini sudah berada di kabupaten Karo 
di Sumatera Utara. Memasuki daerah Karo langsung secara kontras terlihat 
gereja-gereja yang satu sesudah yang lain. Agak heran juga aku, justru di 
perbatasan sekali ini jumlah gereja terlihat cukup banyak. Tempat inipun tidak 
terlihat olehku beberapa malam yang lalu. Memasuki daerah kabupaten Karo ini 
jalanpun dengan kontras berbeda. Jalan disini banyak yang rusak dengan lubang 
besar-besar.  Mulailah ayunan dan bantingan jalan kami rasakan. Supir cadangan 
ini ternyata cukup hebat mengendarai mobil di jalan yang rusak-rusak itu. 
 
Dan terlihat pula ladang jagung di sepanjang jalan. Dan tentu saja dengan 
selingan kuburan bertanda salib di tengah ladang ataupun di pekarangan. Jalan 
ini berliku, berputar, mendaki dan menurun. Kadang-kadang terlihat kembali 
lembah yang baru saja kami lalui setelah kami mencapai sebuah puncak. 
Seandainya perjalanan ini dilakukan siang hari mungkin bagus juga 
pemandangannya. 
 
Aku amati terus rumah-rumah ibadah yang terletak disepanjang jalan. Meski yang 
dominan adalah gereja GBKP, diselingi oleh gereja lainnya (ada gereja Katholik 
juga), frekwensi kehadiran mesjid cukup sering dan biasanya mesjidnya 
bagus-bagus. 
 
Kira-kira mendekati jam tiga malam, kami melintasi sebuah jalan di tengah 
ladang jagung. Di sebelah kiri jalan lamat-lamat terlihat silhoute bukit 
memanjang dan di atas bukit itu terlihat bulan yang sudah tinggal separo. Jalan 
masih banyak yang berlubang. Mungkin karena kecapekan, pemandangan itulah yang 
terakhir aku ingat dan sesudah itu aku tertidur. Aku terbangun ketika mobil ini 
berhenti di sebuah pompa bensin di kota Kabanjahe. Pak supir mengisi tangki 
solarnya sampai penuh dan menggoncang-goncangkan mobil agar tangki itu 
benar-benar penuh. Karena itulah aku terbangun.  Hari sudah jam setengah lima 
pagi. Sesudah menambah solar sekarang mobil melaju dijalan yang mulus. Kembali 
dikendarai supir utama (supir cadangan hanya kebagian dijalan buruk saja). Kami 
lalui Brastagi dan ketika itu aku mendengar suara azan. Aku beritahu supir 
bahwa aku ingin berhenti shalat dulu. Dia bilang nanti saja di depan ada mesjid 
lain lagi.
 
Dan benar, kami berhenti di depan sebuah mesjid kecil yang lampunya terang 
benderang. Aku turun bersama istriku. Kami ke kamar kecil dan berwudhu di 
tempat wudhu yang bersih. Di dalam mesjid hanya ada satu orang yang sudah 
selesai shalat kelihatannya. Kami shalat berdua saja tanpa shalat qabliyah, 
biar tidak terlalu lama. Soalnya hanya kami berdua saja yang turun untuk 
shalat.  Sesudah shalat sempat juga aku berbincang sedikit dengan orang tadi 
yang boleh jadi petugas mesjid ini. Aku tanyakan apakah tidak ada jamaah shalat 
subuh yang lain. Katanya, kalau subuh memang biasanya dia sendiri saja. Tapi 
kalau maghrib ada  empat lima orang. Aku salami dia sebelum berangkat.
 
Kami teruskan lagi perjalanan di udara yang sejuk di subuh itu. Sudah terang 
ketika kami berhenti lagi di warung kopi di daerah Sibolangit. Di warung 
Fatimah dengan ibu-ibu berjilbab pemilik warung ini. Aku memesan supermi dan 
kopi. Tadinya aku pikir supermi digodok secara cepat saja tapi ternyata 
diolahnya dengan sedikit ribet dan memakan waktu. Ketika supir bis menanyakan 
apakah kami sudah siap berangkat, aku beritahu bahwa kami masih menunggu 
supermi. Dan kami ditunggunya.
 
Aku minta tolong dicarikan losmen atau hotel klas melati yang bersih dan murah 
sesampai di Medan nanti. Aku jelaskan bahwa kami akan ke Jakarta dengan pesawat 
jam tujuh malam. Kata pak supir itu, tidak ada masalah dan dia berjanji akan 
mengantarkan kami ke sebuah hotel yang bersih di Padang Bulan.
 
                                                                        *****


      
____________________________________________________________________________________
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=graduation+gifts&cs=bz
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim 
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke