Walaikum Salam Wr Wb bapak Saaf
   
  Ikutan nimbrung (nyuri waktu nih)
   
  Manuruik hanifah, disampiang ikuik malibatkan para penghulu, nan paliang 
wajib terlibat adolah para alim ulama. Jadi katigo tungku (cadiak, pandai, 
niniak mamak, alim ulama), iyo basamo samo duduak dilapiak nan samo ba iyo iyo. 
Pangaruah pariwisata iyo akan malibatkan: cadiak awak, baradaik awak dan 
baagamo awak. Talengah salah ciek ... babahayo untuak maso depan Baiak budaya 
maupun agama rang Ranah. 
   
  Itu sen lu,  alah talambek.Mauh kalau ado nan indak berkenan
   
  Wass
   
  Hanifah Damanhuri

"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Assalamualaikum .w.w. sanak se palanta,

Hampir seluruh tokoh-tokoh di Ranah -- baik tokoh pemerintah maupuin tokoh 
masyarakat -- sependapat bahwa pariwisata adalah satu-satunya alternatif yang 
paling mungkin dimanfaatkan oleh daerah Sumatera Barat dalam jangka pendk ini 
untuk meningkatkan pendapatan penduduk. Sumatera Barat adalah miskin dalam 
sumber alam, namun mempunyai pemandangan alam yang bukan main cantiknya, yang 
mengundang decak kagum siapapun yang datang Pada saat yang sama ditengarai 
bahwa pengangguran kamum muda di Ranah bukan main banyaknya, yang bisa 
merupakan faktor penyebab berbagai masalah sosial. 

Namun bersamaan dengan adanya persamaan pendapat tentang pentingnya pariwisata 
dan hebatnya pemandangan alam Sumatera Barat, juga ada suatu 'kesepakatan' lain 
bahwa sesungguhnya Sumatera Barat belum siap untuk memanfaatkan pariwisata 
tersebut. Rata-rata pengunjung menilai bahwa hampir setiap obyek wisata kurang 
bersih, kurang nyaman, dan kurang aman. Artinya, kalaulah sekiranya obyek-obyek 
wisata itu lebih bersih, lebih nyaman, dan lebih aman, akan lebih banyak lagi 
wisatawan yang akan datang.

Dalam hal ini ada angka-angka yang menarik. Dalam buku "Sumatera Barat dalam 
Angka" edisi 2005 terbitan BPS Propinsi Sumatera Barat tercatat sebagai 
berikut. Jumlah wisatawan domestik yang datang pada tahun itu adalah sebesar 
4.272.382, dan wisatawan mancanegara sebesar 84.646. Jumlah ini sudah lumayan 
baik, karena penduduk Sumatera Barat pada tahun yang sama hanyalah 4.603.957. 
Besar kemungkinan yang mengunjungi Sumbar sedemikian banyak adalah para 
perantau Minang beserta keluarganya. Juga besar kemungkinan bahwa wisatawan 
mancanegara yang datang tersebut sebagian besar ke Mentawai, yang ombaknya 
terkenal bagus untuk 'surfing'. 

Namun yang juga sungguh menarik adalah lamanya para wisawatan menginap di 
Sumatera Barat adalah hanya 1,70 hari untuk hotel tidak berbintang, dan 1.50 
hari untuk hotel berbintang. Artinya dalam waktu kurang dari dua hari, semua 
wisatawan itu sudah 'cigin' meninggalkan Sumatera Barat yang beralam indah itu. 
Mungkin karena yang ingin mereka lihat dan mereka dapatkan adalah hanya alam 
yang indah thok Setelah itu tidak apa-apa lagi. Juga tidak ada penjelasan sama 
sekali tentang ciri khas masyarakat Minangkabau yang menganut sistem 
kekerabatan matrilineal dan ajaran tentang 'adat basandi syarak, syarak basandi 
Kitabullah ' yang sesungguhnya bisa amt menarik.

Angka-angka tersebut juga menyadarkan kita bahwa jumlah wisatawan domestik 
bukan main besarnya, dibandingkamn dengan wisatawan mancanegara. Ketua Kadin 
Sumbar mengatakan bahwa kalaulah masa tinggal para wisawatan domestik ini bisa 
diperpanjang menjadi empat hari saja, maka manfaatnya akan berlipat dua bagi 
penduduk, tanpa perlu menambah investasi apapun juga. Apa yang harus dilakukan 
adalah meningkatkan kebersihan, kenyamanan, dan keamanan.

Kepada Sekjen MPKAS saya telah menanyakan apakan agen perjalanan di Sumatera 
Barat sudah siap menyelenggarakan paket tour ke nagari-nagari, bukan hanya 
untuk menyaksikan keindahan alam, tetapi untuk menghayati suasana khasnya 
sebagai masyarakat hukum adat. Dengan cepat pak Nofrins yang bukan main 
gesitnya ini meneruskan pertanyaan saya kepada Balai Tour, agen perjalanan yang 
paling terkemuka di Sumatera Barat [ Ajoduta yang memprakarsai PB2008 juga 
menunjuk Balai Tour ini untuk menyelenggarakan program beliau]. Dengan cepat 
pula Balai Tour ini menjawab bahwa mereka telah punya paket wisata tersebut. 
Sebelum ini di milis MAPPAS (Masyarakat Peduli ariwisata `Sumbar) saya sudah 
pernah mengajukan gagasan tentang wisata ke nagari-nagari, selain ke nagari 
asal kita sendiri-sendiri. Gagasan ini telah disambut dengan baik. Artinya 
secara teknis semua sudah oke. Secara kebetulan, harian Kompas Minggu tanggal 1 
Juli juga memuat rubrik tentang wisata anak kota ke desa, yang bagi
 mereka adalah semacam 'outbound', karena melihat kerbau dan bajak saja mereka 
belum pernah.

Tinggal masalahnya apakah nagari-nagari di Sumatera Barat sudah siap untuk 
didatangi oleh 4. 603.957 wisatawan domestik ini, masing-masingnya selama dua 
hari, dan dinanti sebagai tamu nagari dan fasilitas menginap yang besrih, 
nyaman, dan aman ? [Tak usah mewah, karena kalau hanya sekedar mewah rasanya di 
kota-kota Rantau sudah ada]. Jika tour ke tiga nagari saja, berarti mereka akan 
menginap selama seminggu !

Dengan ini saya mengajukan pertanyaan kepada para pemangku adat dan aktif di 
milis RantauNet, khususnya pak Chaidir Nien Latief SH Dt Bandaro, Angku Azmi Dt 
Bagindo, dan Ananda Dt Endang Pahlawan, bersediakah bapak-bapak dan ananda 
bertiga -- tentunya bersama dengan organisasi para pemangku adat seperti LKAAM 
Sumbar -- untuk menggerakkan nagari-nagari di Sumatera Barat, sehingga lebih 
siap untuk menyambut tamu wisatawan domestik ini, yang sebagian besar 
kemungkinan adalah keturunan generasi kedua dan ketiga dari para perantau 
Minang sendiri ?

Bersama dengan rekan-rekan saya di MAPPAS (Masyarakat Peduli Pariwisata 
Sumbar), baik di Jakarta maupun di Sumatera Barat, saya insya Allah akan 
memberi bantuan sepanjang kami mampu untuk melaksanakannya. Saya percaya bahwa 
dengan keterlibatan para pemangku adat, tentunya bersama anak kemenakannya, 
nagari akan lebih bersih, lebih nyaman, dan lebih aman, bukan hanya untuk 
ditinggali anak kemenakan, tetapi juga untuk didatangi oleh sanak-saudara 
sesama Minang, yang belum pernah mendatangi nagari-nagari lain selain nagari 
asalnya. 

Saya percaya kiprah Bapak-bapak dan Ananda ini bukan saja akan memberikan 
lapangan kerja serta rezeki untuk sanak saudara dan keluarga Bapak-bapak dan 
Ananda di Ranah, tetapi juga akan mendukung terwujudnya strategi pembangunan 
daerah Sumatera Barat sendiri, sesuai dengan kata pepatah: "elok nagari dek 
panghulu'.

Wassalam,
Saafroedin Bahar





       
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim 
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke