salam
  ya, ambo indak ingin mecederai adat. biarlah adat menjadi bagian budaya yang 
penuh estetika (dan semua ini saya dapat di milis ini) yang mungkin bisa jadi 
komoditi pariwisata (kabarnya, selain agro, sumber daya alam di minangkabau 
miskin dan amat terbatas; jadi pariwisata merupakan lahan empuk untuk dapatkan 
dolar, selain sumber daya manusianya yang sering dipujikan komunitas di luar 
minang).
  namun statement ADAT BERSANDI SYARAK, SYARAK BERSANDI KITABULLAH, ini amat 
mengganjal dalam batin ambo.
  mulai dari urang rumah yang sunda, anak ambo jadi 'anak debu' tak punya 
pijakan kampung halaman, bukan minang, bukan sunda. ini karena garis keturunan 
bukan dari bapak (bukankah garis keturunan dari bapak dalam Islam?)
  kemudian, kebiasaan membenamkan kepala kabau atau darah ayam yang ditaburi 
saat naik rumah baru, apakah ini Islami? namun secara adat, yang tentu asal 
semufakat dan kesepakatan pemakai adat, tak jadi masalah.
  bagi saya, biarkan adat berada di menara gadingnya. jadi komoditi pariwisata, 
kalau kita mau pragmatis. namun jangan dikaitkan dan dipaksakan bersandar ke 
syariat Islam.
  apakah Islam harus meluruskan adat? Memang seharusnya!
  namun, sudah disampaikan 'kabar baik agar berubah', realitasnya tidak mungkin.
  ambo pernah mengatakan, tak setuju pada pendapat vox populi vox dei. mana ada 
suara rakyat adalah suara Tuhan? suara rakyat ya suara rakyat yang manusia 
ciptaan Tuhan, yang selalu berada dalam titik alpa dan buta. sedangkan suara 
Tuhan tak pernah alpa dan buta, dan pasti adaNya!
  tentang adat nan idak lapuk dek hujan dan indak lekang dek paneh. ah, kok 
begitu 'sombong'nya kita yang minangkabau ini. yang pasti itu hanya dari Nya. 
sedangkan kesepakatan manusia bisa berubah. lihat saja, dulu PDIP lawan Golkar, 
sekarang PDIP berkawan dengan Golkar. 
  antahlah, kok ado dan batahan juo pado pendapat bahwa adat indak lapuk dek 
hujan dan indak lekang dek paneh, 'biarlah, inyo nan ka badoso!' (lagi-lagi 
saya petikkan ungkapan kawan karib saya, almarhum Hamid Jabbar)
  salam
  sutan iwan soekri munaf
  (belum selama St Perpatih jadi anggota RN)
  prabumulih, 12 juli 2007

Darul M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        v\:* {behavior:url(#default#VML);}  o\:* {behavior:url(#default#VML);}  
w\:* {behavior:url(#default#VML);}  .shape {behavior:url(#default#VML);}        
          Assalamua'alaikum WW
   
  Sanak Sutan Iwan, kok sanak memisahkan kebiasaan turun temurun dengan Islam. 
Apa dalam membentuk kebiasaan turun temurun itu tidak terikut atau tidak 
diikutkan tuntutan al Islam tersebut. Seharusnya iyakan? Karena keduanya 
dipakai dalam waktu yang bersamaan. Seharusnya keduanya saling mengisi dan 
saling meluruskan, kalau seandainya tidak terlebur salah satunya kedalam yang 
lain.
   
  Yang menjadi masalah berat, menurut intipan saya yang "suntua" ini adalah: 
Yang disebut adat oleh pemangkunya adalah adat zaman doeloe nan indak lapuak 
dek hujan indak lakang dek paneh. Pemangku ini seolah tidak melihat kenyataan 
saat kini.
   
  Saat kini dirantau maupun dikampuang, ikatan keluarga sudah mendekati 
keluarga batih, ayah-ibu-anak. Jika saya bertanya yang agak tidak enak bagi 
pemangku adat "dimanakah dibagian Minangkabau saat ini yang masih berlaku 
secara murni, kamanakan barajok kamamak, mamak barajo ka pangulu?
   
  Ikatan kekeluargaan kan tidak bisa terlepas dari ikatan ekonomi. Selama 
ekonomi mayoritas anak (kebenakan) adalah sama orang tuanya (ayah, mungkin 
tambah ibu), maka si anak/kebenakan tersebut akan beraja ke ayah. Kalau tidak 
percaya coba lakukan riset. Bagaimana Unand, apa hasil riset anda selama ini?
   
  Kalau menurut yang saya dapatkan dibangku lapau, tempat saya kuliah, yang 
adat adalah kesepakatan bersama yang dipatuhi oleh anggotanya. Adat akan 
berobah menurut kebutuhan dan nan disepakati oleh anggota masyarakat tersebut. 
Bukan kesepakatan yang doeloe ada ditanah leluhur.
   
  Kini yang jadi pertanyaan saya adalah: Apa yang disebut adat Minangkabau itu? 
Apakah adat yang berlaku dulu di ranah Minangkabau, atau yang berlaku umum saat 
ini di Sumatra Barat dengan kata lain di klaim sebagai Minangkabau?
   
  Ada satu contoh yang sangat tidak masuk akal, sering ditemui saat ini. Dimana 
keputusan diambil oleh mamak nan laki2 saja, karena mereka menganggap mereka 
beradat. Kebanakan dan kaum hawa harus mengikuti apa keputusan para mamak 
tersebut. Walau dalam kenyataan si mamak adalah tamatan SD atau SMP saja (maaf 
bukan membesarkan nilai ijazah formal), sedang nan kemenakan dan si kaum hawa 
adalah seorang sarjana malah profesor nan alah bauban dan pensiunan. Kalau 
mengambil keputusan harato pusako biasanya begini. Saya nggak tahu ini menurut 
adat dulu atau hanya yang kebetulan yang saya lihat dengan mata saya yang 
berkaca mata minus ini?

   
  Akhirnya, kalau boleh, saya ingin menyarankan, adat seharusnya pragmatis dan 
dinamis dan absorbis serta is ... is ...is yang lainnya. Sehingga sasuai jo 
badan nan ado kini. Indak galembong kalau dipakai.
   
  Baribu maaf dan ambo minta ampun ka Allah SWT, jikok ado nan talantuang 
kanaiak dan tasingguang katurun.
   
  Wassalam WW
  St. Parapatiah 
  20 taun diranah, 35 taun dirantau, 12 taun dirantaunet
   
      
---------------------------------
  
  From: iwan soekri
Sent: Wednesday, July 11, 2007 9:35 PM



   
    salam,

    Saya sepakat pada pendapat Puan tentang Adat adalah kebiasaan perilaku yang 
dijumpai secara turun temurun. Namun kesepakatan yang dibuat secara turun 
temurun itu, seyogianya indak disangkut-pautkan dengan Islam. Adat adalah adat. 
Syarak atau syariat Islam tercantum dalam Al Qur'an.

    Dalam adat, kebiasaan turun temurun, saat batagak kudo-kudo, biaso 
membenamkan kepala kabau. Namun dalam Islam itu adalah Berhala.

    Apakah ini yang disebut Adat Bersandi Syarak dan Syarak Bersandi KITABULLAH?

    Ini contoh-contoh yang membatalkan tentang ADAT BERSANDI SYARAK, SYARAK 
BERSANDI KITABULLAH.

    Yang tepat adalah, Adat Bersandi kepada kesepakatan Pemakai Adat. Dan 
Syarak bersandi KITABULLAH.

    salam

    sutan iwan soekri munaf

    (masih muda, lahir tahun 1957!)





    
---------------------------------
  Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.







Image by FlamingText.com
       
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim 
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke