Manambah mengenai Pekan Budaya ko, barikut wak Copi Paste lo apo nan 
disampaikan rang tuo kito di Padang Ekpress.

Marola
www.solok-selatan.com
Nagari 1000 Rumah Gadang
====================

Bicara Budaya Bukan Hanya di Bibia
Padang Ekspres ONLINE Minggu, 15-Juli-2007
 
Oleh : Musra Dahrizal Khatik Jomangkuto, Budayawan/Dosen Luar Biasa Fakultas 
Sastra IIndonesia Unand 


Pekan budaya Sumbar 2007 baru saja berakhir. Konsep awal alek tahunan yang 
menyedot Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2007 sebesar Rp1,3 miliar 
ini, dapat dianggap sangat bagus. Selain menjadi ajang promosi wisata, juga 
wadah mengaktualkan kembali seni tradisi di kabupaten/kota se-Sumbar.
 
Tapi dalam pelaksanaannya selama sepekan ini, kiranya banyak yang perlu 
dibenahi. Salah seorang yang memberi penilaian itu, tak lain budayawan Musra 
Dahrizal. Bagaimana Dosen Luar Biasa Fakultas Sastra Universitas Andalas 
(Unand) melihat penyelenggaraan Pekan Budaya Sumbar 2007 ini, berikut penuturan 
Musra Dahrizal kepada wartawan Padang Ekspres Rommi Delfiano dan Afrianingsih 
Putri. 

"Selama yang saya dengar, sasaran Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman 
Budaya sangat bagus. Apalagi UPTD juga sudah meminta masukan dari budayawan, 
seniman dan lainnya. Kalau masukan dan rencana itu berjalan, semestinya seluruh 
sasaran itu tercapai," ujar Musra yang mengaku mengikuti sejak awl persiapan 
Pekan Budaya.Realisasi selama sepekan pelaksanaannya, usulan, masukan budayawan 
yang dirangkum UTPD Taman Budaya banyak yang tidak terlaksana. Artinya, Pekan 
Budaya ini tak mencapai target. Contohnya ajang baralek gadang. Konsep awalnya, 
baralek gadang ini langsung dihadiri seluruh bupati/walikota sebagai wujud 
upaya mengangkat budaya daerah masing-masing. 

"Kenyataannya, hanya empat daerah yang tampil. Termasuk Kabupaten Dharmasraya. 
Tak hanya itu, acara bakaba sedianya juga diikuti seluruh daerah, minus 
Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kenyataannya hanya tiga daerah yang mengirim 
utusannya dalam acara itu. Itu pun tidak juga "membawa" kaba. Artinya, apa yang 
disampaikan itu tak sesuai dengan prinsip kaba," ulas Musrizal.Apa itu kaba? 
Menurut pengalaman Musra selama berpuluh-puluh tahun menggeluti budaya, bakaba 
itu ada empat kategori yang harus dihindari. Tidak ada wirid dan orator, tidak 
membaca petatah-petitih, tidak menggurui orang.Terakhir, tidak diikuti dengan 
randai. Antara itu, juga intonansi dan artikulasi kaba dengan pemain."Kalaulah 
bakaba menggurui, tak sah bakaba.Kenyataannya, tidak satu pun peserta dari 
empat daerah yang tampil, tidak satupun delegasi yang benar-benar menyampaikan 
kaba," akunya. 

Tak hanya baralek gadang dan bakaba yang "dingin-dingin" saja. Acara randai dan 
saluang juga tak jauh beda. Kedua acara ini hanya diikuti 13 daerah. "Artinya 
tak semua daerah yang ikut berpartisipasi dalam acara tahunan ini. Apa 
kendalanya? Sosialisasi Dinas Pariwisata Sumbar dengan kabupaten/kota yang 
belum optimal, atau proposal awal ke kabupaten/kota tidak sampai? Amak tak 
begitu mengetahuinya," jelasnya.Musra juga menilai, terlihat kabupaten/kota tak 
siap mengikuti acara ini. Selaku juri randai festival randai tradisi, 
seharusnya peserta merujuk sastra, lagu, musik tradisi. Sekian banyak peserta 
randai, hanya empat daerah yang dianggap layak."Selebihnya tim menampilkan 
randai kontemporer. Namanya Minang klasik itu bahasanya delapan, sembilan, atau 
sepuluh per suku katanya. Kalaulah 14, 13 suku katanya, itu masuk Minang 
kontemporer. Contohnya, Nak kanduang sibiran tulang, ubek jariah palarai damam 
(delapan suku kata)," katanya. 

Terkait persoalan ini, Musra melihat tak sepenuhnya masalah ini akibat minimnya 
sosialisasi dilakukan Dinas Pariwisata Sumbar ke kabupaten/kota. Pasalnya, 
rancangan acara ini sudah disiapkan sejak Februari lalu. Maretnya, rancangan 
itu tuntas dan langsung dilepas ke kabupaten/kota. "Waktu itu diundang 
wako/bupati. Apakah informasi wako/bupati ke jajarannya tidak sampai? Amak tak 
tahu juga," tukasnya.Berangkat masalah di atas, Musra melihat memang tak ada 
perubahan pelaksanaan Pekan Budaya lalu. Malahan ia mengakui anggapan 
keberadaan Pekan Budaya ini tak ubahnya memindahkan pedagang kaki lima (PKL) 
dari Pasar Raya, ke Taman Budaya. Termasuk masih banyaknya los lambuang, diisi 
PKL. "Kini panitia, termasuk Pemprov perlu melakukan evaluasi," tukasnya. 

Terlepas masalah itu, Musriza melihat semakin berkurangnya pemahaman terhadap 
adat belakangan ini, karena tidak ada pewarisan pemahaman adat terhadap 
generasi muda. Menurutnya, berbicara kebudayaan bukan hanya di bibia. Kadang 
kaum yang lebih tua justru sibuk dengan urusan tanpa memperdulikan bagaimana 
anak kemenakan dipahami. Mamak, katanya bukan hanya bertanggung jawab terhadap 
kemenakan kandung saja, tapi juga bertanggung jawab kepada semua kemenakan yang 
satu garis keturunan (satu ranji). Musra mengatakan kemenakan dalam kaum adalah 
seranji samo jauh samo dakek. 

"Sasalah-salah nan ketek, tetap salah nan tuo. Kok tidak diberi tahu anak 
kemenakan. Karena tidak mungkin anak kemenakan tahu kalau tidak di beri tahu 
oleh mamak mereka sendiri. Yang lucunya, justru nan tuo membanggakan usia yang 
sudah tua. Kadang banyak yang mengicek, ambo ko alah tuo, alah banyak tahu, 
makonya ndak usah ditanyo. Tapi kenyataan, justru yang tua ini tidak pernah 
menjelaskan pemahaman adat ke anak kemenakan," kata dosen luar biasa Unand 
ini.Kalaulah falsafah minang ini, katanya dipahami dan diwarisi secara 
turun-temurun kekhawatiran terhadap berbagai pengaruh global tidak perlu 
terjadi. Namun kenyataan justru tidak demikian. Belakangan ini, katanya banyak 
orang yang bergelar datuak. Bahkan satu rumah terdapat banyak datuak. Datuak 
sekarang sepertinya kata Musra mudah diperoleh bahkan ada yang bergelar datuak 
tapi justru tidak paham dengan adat. 

Padahal dulu datuak hanya ada untuk dalam nagari.Pemahaman adaik jauah dari 
cukuik. Kalau cukuik, untuang juo lah. Tapi kenyataannya hal itu masih jauh. 
Bahkan pantun adat, ada ninik mamak yang justru tidak tahu," kata pria 
kelahiran Batipuh Kabupaten Tanahdatar ini.Sebenarnya, kata Musra pemerintah 
kalau ingin serius menangani, bisa dibuat sebuah kebijakan pembinaan. Pembinaan 
tersebut harus dilakukan semenjak dini. Atau pemerintah kabupaten/kota bisa 
membuat kebijakan melakukan pembinaan terhadap semua nagari-nagari bahkan ke 
jorong-jorong."Walinagari atau kepala jorong coba sekali-sekali dipanggil ke 
kantor bupati untuk diberi pembinaan dan pembekalan bagaimana pemahaman adat 
sehingga tradisi adat terus dilakukan oleh masyarakat," katanya. 

Musra menyarankan pembinaan juga bisa dilakukan semenjak bangku sekolah SD 
melalui guru pendidikan Budaya Adat Minangkabau (BAM).Guru-guru tersebut sekali 
tiga bulan diajarkan pemahaman tentang adat.Sehingga guru-guru tersebut mampu 
memberikan pemahaman kepada anak didik bagaimana hidup beradat. Mengerti kato 
nan ampek (mendaki, malereng, mendata, menurun). Sehingga, anak-anak muda 
katanya dari sejak dini diajarkan bagaimana berperilaku secara adat."Tapi guru 
yang mengajarkan BAM tersebut harus mengajarkan dengan bahasa Minang. Jangan 
pakai Bahasa Indonesia. Nanti pesan yang diajarkan justru tidak sampai. Dengan 
mengajarkan dengan bahasa Minang tersebut lebih membiasakan anak-anak untuk 
mengenal budaya mereka karena bahasa Minang akan mudah dipahami," katanya. 

Musra saat ini sedikit lega dengan dibukanya pendidikan pelajaran BAM di UNP. 
Hal ini menunjukkan pelajaran BAM perlu diberi porsi. Walaupun saat ini baru 
ada tiga angkatan, namun diharapkan nantinya lulusan ini dapat menjadi guru BAM 
di sekolah-sekolah. Selama ini, katanya guru-guru BAM justru tidak berasal dari 
latar belakang pendidikan BAM."Bagaimana pemerintah menyikapi ini nantinya. 
Diharapkan ada kerjasama dengan UNP untuk merekrut para lulusan pendidikan BAM 
ini untuk dapat mengajar sebagai guru BAM," pungkasnya. (***)


----- Original Message ----
From: "[EMAIL PROTECTED]" [EMAIL PROTECTED]

Ass. Wr. Wb. 

Dunsanak di palanta sarato rekan2 MAPPAS mungkin iko bisa jadi masukan, Pekan 
Budaya Minangkabau di Padang alah di tutuik, kalau kito baco tulisan kakanda 
Khairul Jasmi di harian singgalang (ambo copy paste di bawah). Nampaknyo masih 
paralu pembenahan2 untuak mawujudkan Sumbar sabagai tujuan wisata. 

Sarupo nan dikawatirkan Ajo Duta, adonyo acara PB 2008, apokah Sumbar siap?. 

Sebuah event Pekan Budaya, yang bisa jadi event pariwisata kalah jo 3 saribu, 
"Pekan Budaya Judulnyo, Pasa Malam isinyo" 
Barangkali paralu penataan nan labiah profesional. 

Salam 
Is 
www.cimbuak.net 
Kampuang Nan Jauah dimato dakek dijari.


                
___________________________________________________________ 
What kind of emailer are you? Find out today - get a free analysis of your 
email personality. Take the quiz at the Yahoo! Mail Championship. 
http://uk.rd.yahoo.com/evt=44106/*http://mail.yahoo.net/uk 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim 
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke