Okey deh! Next... Okey, Requestnya Ntar Aja

Mati den, co iko bana, raso di Mall Semanggi wak mandanga radio Padang
ko, alah tu, matianlah lai," seorang wartawan mengumpat panjang
pendek, dua malam lalu. Radio Padang memang sudah 'tak di Padang
lagi'. Kantornya di sini, desah dan dialek penyiarnya jauh di sana ,
nun serasa di Jakarte.
Kita simak saja:|
"Mau request lagu apa nih, Mala...."
"Lagu apa ya..."
"Mala maunya lagu apa?"
"Lagunya Agnes aja deh, terserah judulnya apa,"
"Okey... Mala dari Tabing baru saja bergabung bersama kita malam ini.
Okey yang lagi ngerumpi, yang lagi bete , yang lagi sedih ditinggal
pacar bergabung bersama kita di.... Okey, ada penelepon yang masuk"

Kring...kringgg...
"Okey selamat malam, siapa?"
"Aku Rina."
"Rina di mana?"
"Di Indarung,"
"Okey Rina di Indarung, gitu dong bergabung bersama kita. Apa susahnya
sih mutar telepon, wow...."
"Okey, sih, dong," apa susahnya. Kata orang Piaman, "aa saghik e,
namambah oke, sih jo dong je nye."
Kata-kata "okey" telah menjadi pelarian bagi pembawa acara yang
tiba-tiba kehilangan kata-kata untuk menyambung kalimat sebelumn-ya.
Tanpa ia sadari, tiap sebentar terdengarlah kata-kata 'okey-okey'

Bahasa radio seperti bermanja-manjakan awak. Dan, tentunya,
bajakarte-jakarte-an awak. Seorang teman wartawan dari Jakarta ,
sempat mendengar suara penyiar radio Padang di atas mobil, ketika
berkunjung ke kota ini beberapa hari lalu.
"Wow, gue kira ini Padang , kirenye Jakarte , tapi agak medok dikit, "
katanya terkekeh. Bahasa gaul dan bahasa pembawa acara di radio,
memang telah menjadi fenomena akhir-akhir ini. Sebuah penelitian
menyebutkan, banyak bahasa lokal yang punah, seperti bahasa Lampung
gara-gara 'intervensi' dialek Betawi ke daerah-daerah.

"Okey, sebuah tembang manis dari Agnes Monica berikut ini, akan
menemani malam-malam Anda."
Dan sebuah lagu terdengar dari sebuah radio swasta di Padang . Tak
lama kemudian penyiar/pembawa acara terdengar lagi berbicara. "Okey,
bagi Anda yang masih setia bersama kami, silahkan telpon atau juga
bisa sms, buat yang ingin request lagu dan juga menya-lamin temen atau
curhat juga boleh. Okey, kita baca sms dulu dari siapa ini ya? Okey,
iya dari Siska, katanya mau request lagu Des-r'ee dong dengan judul
It's Okay , spesial buat yang lagi nyiar aja, okey next sms , ada dari
Mima di UK, mau nyalemin temen-temen di UBH Akuntasi 2003 aja ,
spesial buat Ridho. Okey deh pendengar, gue mau break dulu, setelah
jeda nanti gue bakal puterin request -annya satu per satu, okey deh
jangan ke mana-mana!" sebut sang penyiar itu digenit-genitin.

Menanggapi hal ini, Armand (samaran) salah seorang penyiar radio
swasta di Padang , mengatakan, pengucapan kata-kata okey tersebut
lebih banyak disebabkan oleh faktor refleks, atau secara tidak sadar.
"Kadang suka refleks aja sebutin kata okey. Bisa dibilang, kata okey
adalah kata yang paling cepat diingat oleh penyiar, jika kehabisan
bahan. Ada sih kata-kata lain, cuman yang ini lebih populer dan otak
sepertinya sudah tahu betul apa yang harus diucapkan mulut di saat
genting. Masalah ini juga mengarah pada faktor pengawasan dari
produser siaran. Zaman sekarang ada radio yang rutin mengadakan
evaluasi siaran kepada penyiarnya setiap minggu ada pula yang tidak,
tergantung radionya mendidik para penyiarlah," sebutnya serius.

Permasalahan ini juga dinilai oleh Armand bermuara kepada kemam-puan
penyiar dalam berimprovisasi dan beradaptasi. "Selain pengawasan,
masalah ini juga terletak kepada kemampuan berimprovisasi dan
kematangan dalam variasi kalimat. Banyak penyiar sekarang yang variasi
kalimatnya parah, alias standar belum lagi ditambah dengan skill
improvisasi yang stagnan karena kurang membaca dan bergaul dengan
lingkungan di luar dunia kepen-yiaran. Akhirnya ya gitu , bahasa itu
ke itu saja, pengetahuan juga sulit bertambah, akibatnya rekonsiliasi
kata-kata bahkan kalimat sering terjadi saat siaran. Jelas mengganggu
audiens menurut saya," begitu ia menanggapi dan mencarikan solusi
terha-dap permaslahan ini.

Meski demikian ia memaklumi rekan-rekannya masih terdengar ber-siaran
seperti itu. Dikatakan pria yang hampir lima tahun jadi penyiar radio
ini, hal tersebut cenderung dilakukan oleh penyiar baru. "Penyiar baru
kebanyakan kayak gitu , maklumlah demam panggung akhirnya speachless ,
dan sering nyebutin kata-kata okey. Pada tahap ini wajar, karena kata
okey sudah jadi bahasa sehari-hari anak muda di Padang . Tapi kalau
sudah senior, perlu perhatian khusus, karena kitapun juga malas
mendengarkan kalimat yang itu ke itu saja kan , apapun kosa katanya,"
tambahnya mengakhiri. kj/ricki

Sumber : http://www.hariansinggalang.co.id/18juli_utm_oke.htm

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim 
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke