dalam hal ini aku menyokong anda. apolah kito...melukut tepian gantang. just carry along...ok. old friend. Ipoh.
Idris Talu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu, Kanda Chaidir dan Ajo Duta nan ambo hurmati, Malu adalah sifat kita manusia yang normal apabila kita membandingkan sesuatu di antara kita. Tetapi sifat ini tidak seharusnya mematikan kita dalam berusaha memperbaikinya. Kita ambil contoh Indonesia, siapa bilang Indonesia tidak baik? Saban tahun, universiti-universiti di Malaysia menarik dosen-dosen yang bagus-bagus dari Indonesia supaya berkhidmat di Malaysia. Kalau mereka tidak bagus kenapa mereka dilayan sebegitu baik di Malaysia, diberikan gaji yang lumayan - ramai di antaranya yang terus menjadi rakyat Malaysia dan menarik ribuan pelajar-pelajar Indonesia ka Malaysia. Kalau mereka masih di Indonesia mungkin mereka juga termasuk ke dalam kelompok bersindrom inferioriti ini. Coba kita liat pula aliran pelajar Malaysia yang belajar di Indonesia - beratus-ribu anak-anak Malaysia mencari ilmu di Indonesia. Ada Menteri Malaysia yang pernah belajar di Indonesia. Tentu ada kehebatan di sini (Indonesia). Berbalik kepada perasaan malu, siapa yang tidak mempunyai perasaan malu. Ambo juga mempunyainya. Ini timbul kerna sistem komunikasi kita tidak sama. Ada masalah EQ (emotional intelligent) di sini. Kita tidak dapat mewujudkan level yang sama di antara kita. Contohnya tulisan anggota rantaunet dari Malaysia kurang disukai kerna resam mereka yang agak berbeda. Ambo juga malu pabilo pandangan ambo sendiri melalui rantaunet tidak dipedulikan oleh ramai anggota millis kerna perbedaan-perbedaan dalam hal ini - mungkin kerna ambo tidak lebih dari "abu di atas tunggul". Namun baitu, ambo akan taruih memberikan padapek jika masih diterima sebagai anggota rantaunet-mungkin pandapek ambo bisa diterima oleh "passive members". Pada suatu petang yang hening di ateh bukik di Ambun Pagi- sambil maliek panorama yang indah di bawah bukik sana - Danau Maninjau dengan lahan sawah menguning, air mato ambo deras mengalir. Timbul pertanyaan di benak ambo, kenapa begitu ramai urang Minang (termasuk kakek ambo) sanggup meredah laut Selat Melaka, meninggalkan nagari sebegini indah bertarung nasib di rantau yang belum tentu hasilnya? Dan yang labiah mengherankan ambo, pabilo ambo mengajak generasi yang lebih tuo dari ambo untuak pulkam, "pai lah daulu!" jawab mereka. And they never follow me till the end of their life. Malu bukannya penutup cerita. Malu membuka jalan kepada usaha perbaikkan. Ambo petik kata-kata Jim Collins dalam bukunya "Good to Great" yang berbunyi:- "We don't have great schools, principally because we have good schools. We don't have great government, principally because we have good government. Few people attain great lives, in large part because it is just so easy to settle for a good life. The great vast majority of companies never become great, precisely because the vast majority become quite good-and that is their main problem." Terpulang kepada kita samaada kita ingin taruih "just so easy to settle for a good life." Dan.....Apakah kita benar-benar berada "in good life?" Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu, Yang akan terus menulis walau pun tidak dipedulikan ialah, Idris Talu (56) chaidir latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Add Duta Mardin yang baik Tidak hanya sebagai orang Minang tetapi sebagai orang Indonesia kita juga harus merasa malu Orang lain bisa bangsa kita tidak Orang lain maju bangsa kita tertinggal Contohnya dibanyak hal Saya mengalami sendiri parang Melayu bertukar pengalaman soal Keretaapi Peninggalan Belanfada yang hanya 6700 km sekarang tinggal hanya separonnya Dengan lok uanp di zanman Belanda Jakarta Bandung mampu 2,5 jam Sekarang dengan disel dan perbaikan rel ganda dll 3 - 4 jam Sementara sebentyar lagi Singapura - Kuala Lumpur 90 menit saja Saya pernah diejek teman lama Ada apa negeri anda Negeri kepulauan dimana mana laut tapi inpor garam. Negri pertanian tapi impor beras jagung kedela kentang Semua impor Yang diekspor malahan tenaga kasar pembantu rumah tangga Tidal dimanfaatkan didalam negri Saya jawab apa Rasa malu ini hanya ada pada orang yang punya HARGA DIRI Karena itulah upaya NYATA yang coba diusahakan di lingkungan yang kecil pada etnis Minangkabau Berkat yakin akan ada hasilnya PERUBAHAN memeng harus terjadi Apa yang dilakukan para kaula muda sekarang ini moga moga setapk demi setapak akan ada hasilnya Cjaidir N Latief ----- Original Message ---- From: dutamardin umar <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Saturday, July 21, 2007 7:39:15 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Malu Aku Jadi Orang Minang Sekali sekali niru Uda Taufiq Ismail; Malu Aku Jadi Orang Minang Di BIM aku di pangua Di lapangan parkir aku dipalak Ditempat wisata aku diperas Naik kapal terbang bosku "nembak" Pantaiku kotor Pasarku kumuh Daerah wisataku tak terurus Bosku bilang: "Akan difikirkan" Surauku langang Mal-ku ramai Bosku bilang:"yang salah orangtua" Anak gadisku Tak lagi berbaju kurung Nampak ketek Nampak pusek Nampak ****ek Bosku bilang:"yang salah mamak jo nenek" Dulu pemimpin banyak dari kampungku Ulama besar dari nagariku Pujangga dari ranahku Bosku bilang:"Jangan mimpilah. Sekarang jaman pragmatis Yang penting pitis" Malu jadi orang Minang? Enggak jugalah Sebab aku tak pernah minta dilahirkan sebagai orang Minang. Melihat tari piring aku suka Mendengar talemong hati berdebar Mendengar bansi jo pupuik hati bergetar Aku hanyut melihat foto-foto alam Minangkabau Tunggu kami bundo....... Aku akan datang melapor padamu Bos! Virginia, dimusim panas 2007 Ajoduta --------------------------------- Ready for the edge of your seat? Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com --------------------------------- Boardwalk for $500? In 2007? Ha! Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB. - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2. ========================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
