SETELAH 48 TAHUN AKHIRNYA KUTEMUKAN KELUARGAKU..
Kisah Nyata
Pukul 14.32 WIB, tanggal 21 Maret 1995, pesawat Qantas yang membawaku dari
Sidney Australia mendarat di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Setelah
mengemasi kopor dan melewati pemeriksaan imigrasi, kudorong troli barang-barang
bawaanku menuju Pintu 2 Terminal kedatangan.
Sambil menegok ke sana-sini, langkah kaki pun kuperlambat. Kuamati setiap
orang yang memegang kertas bertuliskan nama orang yang dijemputnya. Tapi di
antara kerumunan orang disitu tak satu pun yang memajang kertas bertuliskan
namaku. Rasa cemas segera melanda. Entah berapa kali keberjalan hilir mudik di
sekitar itu kembali tak satu pun tanda-tanda ada orang yang mencariku.
"Ada apakah gerangan? Bukankah seharusnya hari ini menjadi hari yang
kunanti-nantikan selama hidupku. Harusnya saat ini aku sudah berjumpa dengan
sanak saudaraku yang sejak lahir tak pernah kutahu beritanya, kukenal, bahkan
kulihat wajahnya. Mengapa belum muncul juga orang yang mencariku, padahal dari
perbincangan ditelepon akan ada orang yang menjemputku. Ada masalah dijalankah?
Atau... aku salah, seharusnya bukan hari ini aku datang?" tanyaku dalam hati.
Kemudian kuputuskan untuk menelepon salah satu nomor yang kudapat. Ini pun
tak mudah karena aku tak menguasai bahasa Indonesia. Ketika aku menukar uang
dengan uang logam, ternyata yang kudapat bukan uang logam yang kuminta. Selain
itu, ketika aku menelepon, orang yang menerima tidak mengerti yang kubicarakan.
Aku benar-benar kecewa.
Rasa gelisah dan khawatir yang sempat menghantuiku selama di dalam pesawat
kembali datang. " akankah mereka menerima diriku? Kecewakah mereka setelah
melihatku nanti? Apakah mereka mempunyai cukup banyak informasi tentang ayahku?"
Satu jam lebih berlalu sudah, aku masih belum beranjak dari bandara. Rasa
frustasi akhirnya menyerang. Aku bingung. Aku sedih. " Seharusnya tak kubiarkan
harapanku melambung tinggi...," sesalku dalam hati.
Akhirnya aku hanya duduk berdiam diri. "Pupus sudah harapanku...Rupanya
pertemuan ini hanyalah angan-anganku semata..." tak terasa air mata pun
menetes. Hatiku pedih sekali.
Tiba-tiba, dari jauh kudengar seorang pria berteriak memanggil namaku.
"Nooraya!" Aku tersentak, tangisku langsung berhenti. Begitu kulihat pria itu,
aku teringat salah satu foto keluarga yang pernah dikirimkan kepadaku beberapa
hari sebelum keberangkatanku ke Jakarta. Ternyata ia sepupuku. Kulihat ia
berlari kearahku, aku pun bergegas bangkit ke arahnya. Sekejap, kami pun saling
berpelukan.
Yang menggembirakan, ternyata ia tidak menjemputku seorang diri. Satu persatu
sepupu dan paman serta bibiku berhambur memelukku. Air mata tak sanggup lagi
kubendung. Aku merasa bahagia dan terharu. "Terima kasih Tuhan..., akhirnya
setelah 48 tahun berhasil juga kutemukan keluargaku..."
Ayahku tawanan perang Digul
Aku lahir di Melbourne tanggal 11 Oktober 1947. ayahku seorang
pria Indonesia bernama Zakaria. Di negaranya ia adalah seorang pejuang.
Akhirnya ia ia jadi tawanan perang Belanda yang pernah dibuang ke Digul sebelum
di bawa ke Australia. Ibuku seorang wanita Australia bernama Jean Edgar. Aku
adalah putri tunggal mereka. Sayangnya, sejak lahir aku tak pernah mengenal
Ayah.
Ibu tak pernah bercerita banyak tentang Ayah. Ia hanya mengatakan bahwa
ayahku seorang pahlawan. Ayah ikut berjuang untuk kemerdakaan bangsanya. Itu
saja. Aku tak pernah tahu kapan dan dimana tepatnya mereka bertemu. Sepertinya
Ibu selalu bersedih jika kutanya tentang Ayah dan kelihatannya ia tak ingin
membicarakannya. Ketika aku tumbuh menjadi gadis kecil, aku pun tak pernah
bertanya lagi tentang ayahku. Aku tahu itu akan membuatnya sangat sedih. Aku
pun tak pernah mempermasalahkan hal itu lagi. Keadaanlah yang membuatku
demikian. Selain kami tak punya orang yang bisa dihubungi di Indonesia,
teman-temanku semuanya pun orang Australia sehingga tak pernah membuatku
berpikir tentang Indonesia. Akhirnya aku pun tumbuh menjadi orang Australia.
Belakangan, barulah kutahu mengapa Ibu selalu menutup diri tentang Ayah.
Rupanya, pernikahan Ayah dan Ibu tak pernah mendapat restu dari Nenek dan
tanteku dari pihak Ibu (namanya sama dengan Ibu yaitu Jean, kini berusia 86
tahun). Mereka berdua marah terhadap Ibu. Mereka tak setuju Ibu menikah dengan
Ayah karena Ayah berasal dari Asia, dan bukan orang kulit putih. Apalagi Ayah
pernah menjadi tahanan Belanda dan dianggap lari dari negaranya. Mereka percaya
bahwa orang-orang pendatang seperti Ayah, tidak sebaik dan sepandai orang kulit
putih. Menurut mereka, orang seperti Ayah adalah orang primitif! Meyedihkan
sekali nasib Ibu maupun ayahku.
Bersama dengan 500 tawanan perang lainnya, Ayah dibawa tentara Belanda ke
Australia setelah 14 tahun ditahan di Digul. Ketika itu, Belanda berhasil
diusir dai Indonesia oleh Jepang tahun 1942. Ketika di Melbourne Ayah merupakan
pemimpin The Local Indonesian Independence Committee yang terbentuk tahun 1944
dan mempunyai cabang di beberapa tempat lain seperti Sidney. Walau tidak berada
di negaranya, Ayah tetap aktif berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Ibu juga menjadi anggota The Australia-Indonesia Association (dibentuk bulan
Agustus 1945). Ketika itu orang Australia memang banyak yang mendukung
perjuangan kemerdekaan Indonesia atas Belanda. Banyak demonstrasi-demonstrasi
menentang penjajahan Belanda. Sekitar tahun 1944 kedua orang tuaku menikah.
Tiga tahun kemudian Ayah di deportasi dari Australia.
Yang membuatku marah, sedih, bercampur dendam adalah karena peristiwa
pendeportasian itu terjadi akibat laporan dari Nenek dan Tante Jean kepada
pihak imigrasi Australia. Saat itu Australia memberlakukan White Australi
Policy, dimana semua pendatang dari Asia dan Afrika yang menetap di Australia
harus meniggalkan Australia.
Andai Nenek dan Tante Jean tidak mengadu, mungkin aku masih sempat bertemu
dengan Ayah. Sebab kira-kira satu setengah tahun sekembalinya Ayah di
Indonesia, Ayah meninggal dunia. Kabar itu diketahui Ibu dari radio. Tapi tak
lama kemudian Ibu menerima surat dari pihak Belanda disertai keterangan dari
dokter yang menyatakan bahwa Ayah meninggal dunia karena kanker, bisa
kubayangkan betapa sedihnya Ibu saat itu.
Sebatang kara
Setelah Ayah meninggal, Ibu bekerja sebagai perawat. Karena kehidupan yang
sangat miskin, sedangkan Ibu harus melahirkanku maka tak ada pilihan lain, ibu
terpaksa tinggal dengan Tante Jean. Mereka berdua merawatku sejak aku bayi,
tapi mereka tak pernah membicarakan tentang Ayah sedikit pun.
Tante Jean memang sangat mencintaiku akan tetapi menurutku tidak secara
normal. Ia terlalu keras terhadapku. Ia seperti merasa juga memilikiku, selalu
mengharapkan aku melakukan segala hal yang diinginkannya. Akhirnya aku merasa
ia tidak seperti keluarga bagiku. Setiap saat ia terlalu mengontrolku, mungkin
karena sikapnya ini pula ia menjadi sangat marah ketika Ibu menentangnya dengan
menikah dengan Ayah.
Ketika usiaku 12 tahun, Ibu menikah kembali dengan pria Australia dan
mengubah namanya dari Jean Zakaria menjadi Jean Cully, Ibu pikir pernikahannya
itu baik untukku, aku bisa mempunyai seorang Ayah. Tapi nyatanya....,
pernikahan itu tidak berhasil. Ibu tidak bahagia dengannya, begitu juga aku.
Aku tak pernah bisa mencintai ayah tiriku. Ia tidak menyukai anak-anak. Selama
jadi ayah tiriku ia sama sekali tak pernah bercakap-cakap denganku apalagi
memberi perhatian kepadaku. Ia tak pernah peduli tentang diriku.
Kehadiran ayah tiriku pun mempengaruhi hubunganku dengan Ibu, Aku merasa tak
bisa lagi sedekat dulu dengan Ibu. Rasanya kebahagiaanku sebelum ini musnah
direnggutnya. Akibatnya aku tidak betah tinggal di rumah. Usia 18 aku
meninggalkan rumah. Untuk bisa bertahan hidup aku bekerja di University of
South Australia. Uang hasil jerih payahku kukumpulkan lalu kugunakan untuk
biaya kuliahku disitu. Karena nilai-nilaiku selalu memuaskan aku berhasil
mendapatkan beasiswa.
Tahun 1967 akhirnya Ibu berpisah dengan ayah tiriku. Pernikahan mereka tak
membuahkan keturunan. Aku tahu, Ibu selalu teringat akan almarhum Ayah. Ibu
selalu teringat akan almarhum Ayah. Ibu terlalu mencintainya dan tak mampu
melupakannya.
Tahun 1969, nenek meninggal dunia. Sepuluh tahun kemudian Ibu yang
kusayangkan jatuh sakit, dan akhirnya meninggalkanku untuk selama-lamanya.
Hatiku sakit, pedih rasanya...Kasihan Ibu, seumur hidupnya sepeninggal Ayah,
Ibu tak pernah merasakan kebahagiaan.
Kini tak ada lagi orang yang kusayang dan menyayangiku. Walau masih ada Tante
Jean (ia tak mempunyai keturunan karena tak pernah menikah) aku merasa hidup
sebatang kara di dunia ini. Tapi keadaan ini cukup membantuku, dengan ringan
hati pada tahun 1976 kutinggalkan Australia untuk hidup di Inggris. Di situ aku
bekerja selama tiga tahun.
Ahun 1979 aku kembali ke Austalia dan tinggal di Cenral Australia di sebuah
gurun bersama-sama masyarakat Aborigin. Di tempat ini aku mengajarkan mereka
membaca dan menulis bahasa Aborigin dan juga bahasa Inggris. Di situlah aku
bertemu dengan Philip dan kemudian menikah dengannya.
Setahn kemudian lahirlah putraku. Untuk mengenang Ayah, kuberi nama Philip
Zakaria. Ketika Philip lahir Ibu masih ada. Saat itu aku tahu betapa besar
cinta Ibu kepada Ayah. Aku masih ingat pertanyaan Ibu sesaat setelah Philip
lahir, "Apakah rupa cucuku seperti kakeknya?".
Sayang pernikahanku itu tidak bertahan lama. Kami berpisah tapi tetap
berteman baik. Philip tetap rajin menemui putranya.
Sejak tahun 1980 aku selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Selama
tiga tahun aku pernah menetap di RRC dan bekerja sebagai guru bahasa di Kunming
Teachers University dan Shanghai Teacers College. Dari situ aku kembali ke
Inggris selama setahun baru kembali lagi ke Australia. Tahun 1991 aku berhasil
meraih gelar Master dari Monash University, Australia.
Dari situ, aku kembali berkelana. Aku mengajar bahasa Inggris di University
of Pnom Penh, Kamboja selama setahun. Awal tahun 1993 aku pergi ke Vietnam. Di
situ aku bekerja sebagai konsultan bahasa. Karena mendapat bea siswa mengambil
gelar PhD di bidang Linguistik dan Pendidikan dari Monash University, aku pun
kembali ke Australia. Kini tinggal setahun lagi aku bisa meraih gelar Doktor ku.
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Sukseskan Pulang Basamo se Dunia, bulan Juni 2008.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Harap memperhatikan urgensi posting email, yang besar dari >300KB.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, tidak dianjurkan! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim
melalui jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id&cd=US&service=groups2.
==========================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---