Yth, rekan-rekan milis,
  Membaca keluhan add Fadli, uni Upi jadi tertarik. Terutama pertanyaannya, 
"Kemana saja seniman Minang? ".
  Izinkanlah uni menjawabnya.
  Seniman Minang ada dimana-mana. Karyanya ada juga karena mereka tetap 
berlatih di sanggar-sanggar kecil milik mereka. Bahwa mereka tak pernah tampil, 
itu yang jadi masalahnya. Bukan karena mereka tak mau tampil, tapi justru 
kesempatan untuk tampil yang tak pernah mereka dapatkan. Apa masalahnya?....
  1. Seniman tari, untuk menciptakan satu tarian dan melatih satu tarian 
membutuhkan waktu berbulan-bulan. Akibatnya butuh dana latihan (untuk makan 
minum ketika penat berlatih, sewa tempat latihan, sedikit ongkos untuk naik bus 
pulang pergi ). Dari siapa dana itu bisa mereka dapatkan?....Mana ada orang mau 
mensponsorinya?...
  Sebagai contoh Sanggar Tari Zamri, saking inginnya mementaskan MINANGKABAU 
EXTRAVAGANZA dengan judul MINANGKABAU BAKABA, Dia koreografer dan anak-anak 
didiknya latihan 3 bulan, menghahiskan dana hampir 50 juta untuk biaya 40 
penari, pemusik, penyanyi dll. Uangnya tak ada, maka dia gadaikan pelaminannya, 
dia jual talempong yang dia miliki. 
  Tak satupun sponsor dia dapatkan. Memang pertunjukan sukses di TIM tanggal 31 
Juli kemarin, tapi usai pertunjukan, usai tepuk tangan dia harus menghadapi 
uang gedung yang belum lunas....uang honor penari yang belum dibayar....gadaian 
yang harus ditebus...posisi dia sekarang seperti orang linglung....
  Adakah diantara kita yang kasian kepada nasib seniman????....Tak ada. 
  Sementara seorang penari untuk dapat honor Rp. 300.000,- dia harus berlatih 
hampir satu atau dua bulan, yang biayanya dapat dipastikan lebih dari 300 ribu. 
  Sementara seorang penyanyi dia dibayar Rp. 5.000.000,- dia tak perlu latihan 
berbulan-bulan. Ironiskan????
   
  Kita di Jakarta punya ratusan seniman, ada penari, pemusik, penyanyi, 
tradisional dan modern. Ada organisasi LKAM Lembaga Kesenian Alam Minangkabau, 
tapi kembali bukan kami tak pandai berorganisasi, bukan kami tidak kreatif tapi 
kami tak punya sponsor, tak punta "orang kuat" dan dukungan pemda pun tak ada. 
Bagaimana mungkin kami tampil di televisi, semua pakai duuuuiiiit.
  Wass
  Uni Upi
  

chaidir latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Fadli yang baik
   
  Mulai dengan kecewa boleh saja Tapi dengan kecewa saja tidak memberi solusi 
Orang sekarang berbuat Kalau ada IDE ajak kawan kawan Baa sampai TERLASANA Toh 
orang lain jalan juga Kini kota kota kecilpun bangun Jember baru baru ini 
muncul Seniman muncur dari daerah daerah kecil Kota kota kecil di Jawa muncul 
dengan macam macam acara Dirantau indak saketek nan jagoan 
   
  Chaidir N Latief


  ----- Original Message ----
From: Fadli ZF <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, August 9, 2007 1:17:04 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Kemana Saja Seniman Minang?

  Sangat Kecewa! Itulah ungkapan pertama saya dalam postingan ini. Apa pasal? 
Tidak lain tidak bukan karena saya amatlah kesal melihat ketertinggalan para 
seniman kita dalam menjajah televisi swasta nasional. Bolehlah saya maklum jika 
setiap akhir pekan dimasa yang lampau kita disuguhi kesenian Jawa, Sunda dan 
Betawi dalam bentuk seni pertunjukan semacam Ketoprak Humor, Ludruk Glamor, 
Srimulat, Wayang Kulit, Wayang Orang, Wayang Golek si Cepot dan Lenong serta 
Topeng Betawi. Namun melihat ekspansi sekarang oleh etnis Batak yang sekarang 
punya acara 2 jam O Tano Batak di Indosiar, saya-saya benar-benar kecewa dengan 
Seniman Minang yang katanya tidak mau disebut kalah kreatif. Padahal di 
media-media televisi swasta itu amatlah banyak petingginya yang orang Minang, 
masa minta jatah sejam seminggu saja tidak bisa.
  Saya teringat masa-masa kejayaan Serial Sitti Nurbaya dan Sengsara Membawa 
Nikmat ditahun 1990-an (saat itu saya masih kelas 3 SD). Dan sempat pula 
dihadirkan oleh Sinetron Malin Kundang beberapa tahun lalu. Namun dalam hal 
kesenian tradisional versi elektronik kita kalah pamor (kalau tidak akan 
menyebut tak dikenali).
  Kalangan skeptis diantara seniman urang awak akan berkilah, apa yang akan 
kita jual. Kalau saya balik menjawabnya dengan, "menurut Anda apa yang mereka 
jual?". Kata kuncinya adalah revitalisasi dan modifikasi tanpa kehilangan 
arwahnya sama sekali. Itulah yang kelompok-kelompok seniman Jawa, Sunda dan 
Betawi lakukan.
  Apakah para pembaca pernah mendengar lakon Lareh Simawang? Sekitar tahun 2003 
lakon ini dipopulerkan dipentas nasional oleh salah satu grup kesenian dari 
Padang yang sejatinya hanya murid-murid sebuah SMK di Padang. Anda bisa 
bayangkan potensialitas mereka?
  Cuma kenapa hanya sebatas itu? OK, disini saya tidak akan menyalahkan 
siapa-siapa. Saat ini saya akan mengajak dan memberi solusi. Dimata saya 
masyarakat Minang punya banyak bahan seni pertunjukan dengan latar belakang 
kisah romantisme perantau. Cerita-cerita ini bisa dikembangkan menjadi Opera 
Modern dengan tetap mengambil ruh Randai, Indang, Saluang dan Gamad.
  Saya membayangkan bentuknya sebagai opera/drama/ketoprak dengan lakon 
berpakaian sehari-hari Minang era 1920-an, berbahasa Indonesia halus (Melayu 
Tinggi), bergurau dengan tingkat intelektualitas tinggi dan berkisah tentang 
romantisme yang dibumbui konflik  keluarga dan perantauan.. Dalam setiap 
pertunjukan diselipkan lagu-lagu Minang kontemporer yang dinyanyikan langsung 
oleh pelakon atau secara lyp sing.
  Contoh :
  Adegan 1 : (Setting Tahun 1960-an)
  Seorang gadis meratap di pelabuhan mengenang kekasihnya yang masih belum 
mengirimkan kabar. Setelah kira-kira 2 menit monolog, gadis ini menyanyikan 
lagu Uda Zainuddin yang pernah dipopulerkan Betharia Sonata tahun 1980-an. 
Cerita berlanjut dengan mengisahkan perjuangan sang kekasih yang ternyata hidup 
melarat dirantau. Dalam salah satu adegan pelakon pria ini menyanyikan lagu 
Alah Kabaa ko Mai yang pernah dipopulerkan Elly Kasim.
  Adegan 2 :
  Gadis yang ditinggal pergi ternyata diinginkan oleh seorang pemuda dikampung 
yang dengan segala cara berusaha memutuskan tali kesetiaan sang gadis dengan 
kekasihnya di rantau. Pada stage ini bagus juga diselipkan lagu Gasiang 
Tangkurak..
  Secara Keseluruhan dialog dalam Bahasa Indonesia dan Nyanyian tetap dalam 
Bahaso Minang.
  Mengingat saya sendiri bukan seniman, saya hanya bisa mengkhayal suatu hari 
nanti pada akhir pekan saya dapat menyaksikan adegan-adegan diatas dilayar 
televisi swasta walaupun hanya satu jam. Operanya secara live mungkin bisa 
dipentaskan di Gedung Kesenian Djakarta (tempat gumarang manggung dahulu) atau 
di Taman Ismail Marzuki.
   
  Salam dan Selamat Berkarya.
  Jangan Pernah Berhenti Bermimpi!
  [Fadli ZF ]
     

  Pesan Sponsor
  Telah terkumpul hampir 150 lirik lagu di http://laguminanglamo.wordpress.com  
  Siapa menyusul menyumbangkan lirik untuk project bersama ini?

  



  
---------------------------------
  Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.





       
---------------------------------
Luggage? GPS? Comic books? 
Check out fitting  gifts for grads at Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke