Gunung Marapi kelihatan kok dari tengah laut, dari Padang juga terlihat kalau 
cerah. Lihat kearah utara. Dari Bandara imurInternasional Minangkabau juga 
terlihat sangat jelas.
Dari Pulau Pandan di lepas pantai Pariaman juga terlihat. Jarak darisana 
sekitar 350 km.
Dengan ketinggian Gunung Marapi yang 2891 mdpl, maka secara trigonometri 
matematika masih dapat dilihat pada jarak sampai 300 KM, dengan syarat tidak 
ada penghalang.

Kemungkinan datang dari arah timur juga masuk akal, karena yang dilihat pertama 
kali justru Gunung Marapi.
Kalau datang dari arah barat Gunung Singgalang, Tandikat dan Pasaman akan 
nampak lebih besar dan lebih dekat.

Namun fokus teori saya, bukan untuk menterjemahkan Tambo, namun sebatas 
memperkirakan tempat asal para imigran itu, yaitu sekitar India Selatan dan 
Srilanka.
Karena asal-usul daerah baru ini, yang justru ditemukan beritanya dalam tambo, 
saya perkirakan diciptakan kemudian sebagai sejarah resmi.

Saya juga ada satuhal yang mengganjal, karena didalam tambo disebutkan daerah 
sekitar Gunung Marapi masih lautan. Sehingga dalam rangka manaruko Nagari 
Sungai Tarab, katanya Datuk Maharaja Diraja menjelajahi tepian "pulau" gunung 
marapi.

Analisa saya dalam hal ini, kemungkinan mereka masuk lewat jalur timur.
Menghiliri batang Ombilin sampai kehulunya, dan laut yang dianggap itu 
sebenarnya adalah Danau Singkarak (tapi argumen ini lemah dan saling melemahkan)
Yang bisa agak kuat argumennya adalah, kitab Tambo ini diciptakan kemudian 
sebagai sejarah resmi, namun didalamnya sepersekian persen ada 
petunjuk-petunjuk antropologi yang bisa digunakan.

Afda Rizki <[EMAIL PROTECTED]> wrote:        quote :
 1. "Sajak gunuang marapi sagadang talua itiak"
     (Sejak gunung marapi sebesar telur itik)
   Ini maksudnya adalah gunung marapi yang terlihat masih jauh dari tengah laut 
(dari atas kapal), yang dilihat oleh para imigran pertama nenek moyang orang 
Minang yang diperkirakan datang dari sekitar India Selatan dan Langgapuri 
(Ceylon/Srilanka)
 
 -------
 
 Sanak Fadli Z - ado nan jadi agak mengganjal dek ambo saketek.  Karano satahu 
ambo gunuang marapi di ranah ado di Bukittingi, indak ka mungkin  nampak dari 
tangah, tapi atau bahkan padang sekalipun. Ntah kok dari tampek nan agak tinggi 
di Padang ten. :)
 
 Kaduo, nan mambedakan Pagaruyuang jo  kerajaan lain adolah inyo indak talatak 
di daerah aliran sungai, tapi lauik dan semisal itu. Hal nan samo nan di 
tarangankan dalam buku Sumatra Barat hingga Plakat Panjang. 
 
 Jadi apokah nenek moyong kito ko sangajo dari jauh-jauh datang untuk masuak ka 
Pagaruyuang  ( baca:pedalaman, karano indak di daerah aliran sungai atau tapi 
pantai). Manga indak di tapi lauk, pantai Padang, Pariaman , pesisir selatan 
sen nenek moyong kito tu  tingga?
 
 Mohon pencerahan sanak ....
 
 CMIIW 
 
 --
 Afda Rizki
 PS:mokasih Mak Ansori untuak buku nan bermanfaat tu
 
 *************
 Fadli Z wrote: Terimakasih atas apresiasinya.
 Dalam mencermati tambo, hal yang perlu sekali kita perhatikan adalah karakter 
dari bahasa tambo itu dan karakter bangsa penulisnya sendiri.Ini mirip 
metodologinya dengan belajar bahasa Arab untuk memahami alquran dan hadist.
 Untuk tambo versi bahasa indonesia bisa dibaca di link ini.
   
 OK, sekarang kita mulai. Orang Minang dari dahulu sampai sekarang terbiasa 
menggunakan kiasan, perumpamaan dan analogi. Ini telah saya ulas pada frase
 bugih lamo = kain lama = bekas istri = janda
 Selain itu kalau anda perhatikan di tambo, ada gelar-gelar seperti Kucing 
Hitam, Harimau Campo, Kambing Hutan dan Anjing Mualim yang sebenarnya manusia 
juga.
 Untuk menterjemahkan kiasan, salah satu metode yang dipakai adalah mencari 
frase yang menggunkan kosakata yang sama dengan kalimat yang akan ditafsirkan. 
 Kemungkinan perbedaan tafsiran pasti ada, namun tidaklah akan terlalu besar 
penyimpangan artinya.
 OK, sekarang saya cuplikkan dua buah kasus.
   
 1. "Sajak gunuang marapi sagadang talua itiak"
     (Sejak gunung marapi sebesar telur itik)
   Ini maksudnya adalah gunung marapi yang terlihat masih jauh dari tengah laut 
(dari atas kapal), yang dilihat oleh para imigran pertama nenek moyang orang 
Minang yang diperkirakan datang dari sekitar India Selatan dan Langgapuri 
(Ceylon/Srilanka)
   
 2. "Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Putri Bungsu mangorok kelangit"
  (Bundo Kanduang, Dang Tuanku dan Putri Bungsu menghilang/terbang/moksa 
kelangit)
 Kalimat ini ditemukan dalam Kaba Cindua Mato. Bisa dibaca dahulu di link ini.
  
 
  
 


 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke