Protes ini sempetterlintas dalam benak saya, tapi setelah banyak
bergaul dan bekerjasama dengan rekan2 expat di lingkungan saya dapat
memahami hal ini.
1. Tempatkanlah diri anda sebagai seorang "bule"yang tinggal di negara
maju, hidup di negara yang tinggkat kemakmurannya dan fasilitas diatas
rata-rata,  dan lingkungan yang nyaman. Apa mungkin anda akan mau
bekerja di negara "berkembang" dengan gaji yang sama dengan yang anda
dapatkan di negara sendiri, tinggal di kota kecil yang fasilitasnya
minim,  bahkan di Jakarta kota terbesar di indonesia pun masih belum
apa-apa dibanding tempat anda tinggal, tol/parkir aja kita masih
manual? macet udah pasti, dst....
2. Saya sangat setuju kalau anda bilang kita tidak kalah pintar, saya
sudah mengalahkan beberapa rekan expat saya dalam pertandingan catur,
tapi toh kepintaran saja tidak cukup.  Saya mengerti kenapa mereka
dengan tingkat kepintaran "rata-rata"bisa jauh lebih maju dari bangsa
kita, kedisiplinan dan komitmen mereka sangat saya acungi jempol.
Misal saja dalam hal claim uang transportasi tol/bahan bakar, tidak
ada istilah korupsi kecil2-an, 1000 atau ratusan tribu perak jika itu
memang bukan hak mereka tidak akan diclaim, selalu komit dengan tugas
mereka dst. Tidak pernah korupsi waktu, sementara beberapa dari temen2
kita bahkan bisa2nya menggunakan waktu sholat/lunch time untuk curi2
waktu tambahan istirahat.

Dalam hal ini saya bicara statistik, dalam arti tidak menutup
kemungkinan  ada juga temen2 lokal yang tidak kalah disiplin dan
hebat, atau ada juga temen2 expat yang tidak disiplin dan komit, hanya
saja kalo kita melihat statistik bisa dibilang mereka jauh diatas
rata-rata dibanding kita. Pepatah nila setitik merusak susu sebelanga
terjadi dalam ini, image tersebut terbentuk dengan sendirinya karena
oknum-oknum yang menurunkan harga jual pekerja2 lokal.

So kenapa kita tidak bertindak memperbaiki diri sendiri daripada sibuk
menyalahkan sistem / orang lain???




~just a though

On 8/3/07, Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kenapa Negeriku Malah Dijadikan Surga Bagi Expatriate?
>
> S
> Oleh : Vima Tista Putriana
>
> 10-Jul-2007, 22:13:03 WIB - [HYPERLINK www.kabarindonesia www.kabarindonesia
> .com]
>
> KabarIndonesia Tiga setengah abad berada di bawah penjajahan Belanda yang
> sangat tidak beradab telah membuat bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa
> yang "rendah diri". Meskipun sudah lebih dari 60 tahun merdeka, tetapi
> sindrom "mental bangsa terjajah" ini tetap belum hilang. Masih saja merasa
> diri belum sejajar dengan bangsa lain.
>
> Satu contoh sederhana keminderan ini terlihat dari diskriminasi tingkat gaji
> yang sangat tinggi antara expatriate dan anak negeri sendiri. Para
> expatriate di Indonesia digaji 10 kali lipat dari orang Indonesia meskipun
> dengan tingkat pendidikan, kemampuan, tanggung jawab dan kinerja yang sama.
>
> Seorang foreign engineer di Jakarta misalnya, menurut standar Bappenas,
> mendapatkan gaji sekitar US $5.000,00 per tahun. Sebaliknya orang Indonesia,
> dengan kualifikasi sama hanya menerima sebesar $500,00 saja. Tidak jarang
> dalam suatu proyek, meskipun dengan kualifikasi pendidikan lebih tinggi
> semisal MSc atau PHd, orang Indonesia digaji tetap lebih rendah dari
> expatriate yang cuma BSc (Rahardjo,2006) .
>
> Di samping gaji tinggi, biasanya expatrite juga mendapat berbagai fasilitas
> berlimpah seperti berkantor di kawasan segitiga mas (Sudirman, Thamrin dan
> Kuningan), tempat tinggal di apartemen mewah, keanggotan di club-club olah
> raga dan hiburan elite dan lain-lain.
>
> Intinya mereka sangat dimanjakan, sehingga tidak salah kalau dikatakan
> Indonesia adalah syurga bagi para expatriate. Sebenarnya tidak masalah jika
> expatriate digaji sedemikian tinggi jika memang memiliki kemampuan unik yang
> tidak dimiliki oleh orang Indonesia dan betul-betul dibutuhkan. Tetapi jika
> kemampuan dan kinerja sama, lalu digaji lebih tinggi hanya karena statusnya
> bule, sungguh tidak logis menurut cara pikir orang yang berjiwa "merdeka".
>
> Jika pemerintah atau perusahaan harus membayar mahal hanya untuk status
> ke-bule-an saja, bukankah ini standar yang sangat stupid. Ketika jasa
> seseorang dihargai cuma 1/10 dari koleganya, hanya karena dia orang
> INDONESIA, berarti sungguh malang menjadi orang Indonesia.
>
> Mirisnya lagi, yang mengeluarkan standar gaji yang sangat diskriminatif ini
> adalah Bappenas-Pemerintah Indonesia sendiri. Berarti pemerintah Indonsia
> melecehkan rakyatnya sendiri, menganggap bodoh bangsanya sendiri. Ini
> sungguh bertolak belakang dari peran yang seharusnya dimainkan oleh
> pemerintah.
>
> Bukankah pemerintah suatu negara seharusnya menyokong rakyatnya, mendorong
> mereka supaya bisa maju, jika belum mampu difasilitasi supaya mencapai
> kualifikasi sama dengan expatriate. Singkatnya memberi kesempatan
> seluas-luasnya kepada anak bangsa untuk bisa berkembang dan mengekspolasi
> potensinya.
>
> Kenyataan di lapangan menunjukkan tidak selalu yang bernama bule lebih
> pintar dari orang Indonesia. Banyak diantara mereka memiliki kemampuan
> biasa-biasa saja. Malah mungkin di negaranya berada pada lapis ke-3 atau 4,
> tapi di Indonesia mereka disanjung sedemikian rupa, mendapatkan posisi yang
> sangat bagus dan hidup mewah.
>
> Keadaan ini tidak hanya berlaku di dunia bisnis, tetapi juga pada
> proyek-proyek pemerintah. Suatu kali tim peneliti dari UGM mendapat tugas
> membuat perencanaan daerah wisata pulau Jemur, di Kabupaten Rokan Hulu Riau.
> Sebagai arsitek dan perencana local, tim ini hanya mendapat dana sebesar 500
> juta rupiah untuk jangka waktu 6 (enam) bulan. Sementara ada satu kabupaten
> lain yang lebih percaya pada konsultan dari Singapura harus mengeluarkan
> anggaran sebesar 3 milyar rupiah.
>
> Saat hasil penelitian dan perencanaan sama sama dipresentasikan, ternyata
> perencanaan yang dibuat tim peneliti UGM tidak kalah bagus dari konsultan
> Singapura yang dibayar enam kali lipat lebih tinggi. Malahan perencaanan UGM
> terlihat lebih menyentuh apa yang dibutuhkan masyarakat karena mereka
> memadukan dengan metode Partisipatory Planning sehinga mereka tahu betul apa
> keinginan masyarakat.
>
> Sebenarnya kita sendiri yang menempatkan para expatriate pada posisi yang
> sangat tinggi, menyanjung mereka sedemikian rupa, begitu percaya dan yakin
> mereka lebih baik, dan lebih berkualitas. Sebaliknya tidak memberi perlakuan
> sama kepada bangsa sendiri. Secara umum di seluruh dunia, expatriate memang
> digaji lebih tinggi dari pekerja lokal, namun perbedaannya tidak separah di
> Indonesia. Di Silicon Valley misalnya, gaji seorang software engineer
> (expatriate) dua kali pekerja lokal, termasuk jika expatriate-nya orang
> Indonesia (Patriawan, 2006).
>
> Pemerintah Indonesia sepertinya tidak yakin dengan kemampuan sendiri. Inilah
> warisan mental Inlander (sindrom minder, rasa rendah diri, dan inferior)
> dari Belanda (Yulianto, 2007). Padahal fakta membuktikan banyak anak-anak
> Indonesia yang brilliant malah dimanfaatkan oleh orang luar negeri. Bukankah
> banyak jebolan ITB yang menjadi enginer-nya perusahan-perusahan minyak dunia
> di Houston misalnya, yang dikenal sebagai kota minyak dunia. Itu membuktikan
> kalau kualifikasi anak Indonesia, sama sekali tidak kalah dengan yang
> bernama bule.
>
> Mereka adalah aset bangsa yang sangat berharga, dimana potensi mereka
> seharusnya dimaksimalkan untuk membangun bangsa. Yang terjadi malah mereka
> "disia-siakan" , dan dimanfaatkan negara lain. Bukankah lebih baik memanggil
> mereka pulang dan memberi penghargaan yang sama sebagaimana layaknya
> expatriate, ketimbang menggaji orang asing. Ibarat memberikan sumbangan,
> lebih baik kepada saudara sendiri dahulu baru kepada yang lebih jauh.
>
> Disamping perlunya memberikan kesempatan yang sama kepada putra- putri dalan
> negeri sendiri, seharusnya pemerintah sangat berhati- hati dalam pemakaian
> expatriate , terutama untuk bidang perencanaan. Persoalannya bukan hanya
> sekedar pembayaran yang jauh lebih tinggi, tetapi menyangkut aspek lain yang
> lebih luas. Perlu digarisbawahi, pada proyek-proyek pemerintah, masuknya
> para expatriate ke Indonesia bukan karena sebuah rekruitment terbuka.
>
> Mereka adalah "AGEN-AGEN" yang dipekerjakan oleh pemerintah dari negara
> mereka, lalu ditempatkan pada lembaga lembaga strategis di Indonesia,
> khususnya dalam bidang-bidang perencanaan.
>
> Sebagaimana diketahui, fondasi dari sebuah pembangunan baik fisik maupun
> mental adalah pada aspek perencanaan. Ketika para expatriate berada pada
> posisi perencanaan, maka dengn mudah mereka menyuntikkan virus virus
> kapitalis didalamnya. Mereka memang sengaja dihadirkan melalui proyek-
> proyek besar yang didanai oleh negara-negara asing. Ini adalah dampak
> negatif bagi bangsa Indonesia yang perlu diwaspadai oleh pemerintah.
>
> Karena itu, perlu adanya perubahan paradigma yang menganggap bangsa asing
> (bangsa berkulit putih) lebih baik dari orang Indonesia. Pemerintah juga
> sebaiknya segera melakukan pemetaan SDM yang dimiliki Indonesia, baik
> menyangkut kuantitas maupun kualitas. Dengan adanya statistik lengkap dan
> peta yang jelas tentang penyebaran SDM Indonesia di berbagai disiplin ilmu,
> maka akan didapatkan gambaran jelas tentang kekuatan SDM Indonesia.
>
> Dengan kedua hal ini, diharapkan Bappenas-pemerintah - dapat merevisi
> standarnya yang tidak rasional tersebut. dan menggantinya dengan standar
> yang lebih mencerminkan jiwa merdeka sebuah bangsa. Lebih jauh, pemerintah
> bisa mendapatkan keyakinan bahwa sebenarnya tersedia cukup SDM dengan jumlah
> dan kualifikasi yang memadai, sehingga tidak selalu harus bergantung pada
> expatriate. Pada akhirnya diharapkan ibu pertiwi dapat menjadi syurga bagi
> anak negeri sendiri.
>
> umber:
> HYPERLINK http://www.kabarind onesia.com/ berita.php? pil=20&dn= 
> 20070710204429
> http://www.kabarind onesia.com/ berita.php? pil=20&dn= 20070710204429
>
>
>
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke