Belanda, Kereta Api dan Gergaji
oleh Ervan Hardoko

Meski  sejarah  mencatat,  Belanda  menjajah Indonesia 350 tahun lebih
namun  si  penjajah ini masih memiliki sejumlah sisi baik yang mungkin
terlupakan. Lewat Daendels --yang dalam buku sejarah Indonesia ditulis
sebagai   orang   kejam--  dibangunlah  jalur  Pantura  yang  sekarang
digunakan  jutaan  orang  Indonesia dan selalu macet saat lebaran itu,
dan masih berfungsi hingga kini.

Bukan  memuji  Belanda, namun mereka memang memiliki pandangan jauh ke
depan  soal  masa  depan  transportasi Indonesia. Tak hanya jalan raya
pantura saja yang dibangun. Belanda juga membangun jaringan kereta api
di  seluruh Jawa dan sebagian Sumatera. Tak percaya kalau Belanda yang
membangun perkeretapian Indonesia?

Ini cuplikan sejarahnya dari Wikipedia:

Sejarah  perkeretaapian  di  Indonesia  diawali  pencangkulan  pertama
pembangunan  jalan  kereta api di desa Kemijen, Jum at tanggal 17 Juni
1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J. Baron Sloet van
den   Beele.   Pembangunan  diprakarsai  oleh   Naamlooze  Venootschap
Nederlandsch  Indische Spoorweg Maatschappij  (NV. NISM) yang dipimpin
oleh  Ir.  J.P  de  Bordes  dari  Kemijen menuju desa Tanggung (26 km)
dengan  lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum
pada hari Sabtu. 10 Juni 1867.

Keberhasilan    swasta,   NV.   NISM   membangun   jalan   KA   antara
Kemijen-Tanggung,  yang  kemudian  pada tanggal 10 Februari 1870 dapat
menghubungkan  kota  Semarang-Surakarta  (110  km), akhirnya mendorong
minat  investor  untuk  membangun  jalan  KA  di daerah lainnya. Tidak
mengherankan,  kalau  pertumbuhan  panjang  jalan rel antara 1864-1900
tumbuh  dengan  pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 menjadi
110  km,  tahun  1880mencapai  405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan
pada tahun 1900 menjadi 3.338 km.

Selain  di  Jawa,  pembangunan  rel  KA juga dilakukan di Aceh (1874),
Sumatera  Utara  (1886), Sumatera Barat 1891, Sumatera Selatan (1914),
bahkan  tahun  1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan KA sepanjang
47  Km antara Makasar0Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal
1  Juli  1923,  sisanya  sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan,
meskipun  belum  sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak-Sambas (220
km)  sudah  diselesaikan.  Demikian juga di Pulau Bali dan Lombok juga
pernah dilakukan studi pembangunan jalan KA.

Nah,  lebih  dari seabad lalu Belanda sudah memulai pembangunan sarana
transportasi  Indonesia. Mungkin, jika Indonesia tidak keburu merdeka,
maka Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Lombok bakal punya jalur
kereta api. Mungkin, Belanda menyangka bakal selamanya tinggal di bumi
nusantara.  Sehingga  mereka  membangun sarana transportasi sebaik dan
serapi mungkin.

Kini,  sudah  62  tahun  Indonesia  Merdeka. Jaringan jalan kereta api
peninggalan  Belanda menjadi milik PT Kereta Api Indonesia. Sayangnya,
jangankan   mengembangkan   dan   memperbarui,   tapi   untuk  menjaga
peninggalan  itu  saja  bangsa  Indonesia  sudah  kepayahan.  Buktinya
banyak.   Kecelakaan  kereta  api  yang  terjadi  berulang  kali.  Tak
terhitung  berapa kali kereta api di negeri ini anjlok akibat rusaknya
rel kereta api.

Alasan  kurangnya  dana mungkin bisa diterima karena memang kebanyakan
rel  kereta  api berusia lebih tua dari pada republik. Namun, kejadian
yang   terbaru  menunjukkan  penghuni  negeri  bernama  Indonesia  ini
benar-benar  sableng  bin  geblek dan jahat luar biasa. Bayangkan, rel
kereta  api yang melintas di sekitar Grobogan, Jawa Tengah, digergaji.
Akibatnya   kereta   api  Gumarang  jurusan  Jakarta-Surabaya  anjlok.
Beruntung  tidak  ada  penumpang yang tewas. Mereka cuma benjut-benjut
dan menyumpah-nyumpah pelaku penggergajian itu.

Saya sempat berfikir. Apa yang ada di benak orang yang menggergaji rel
kereta api itu.

Apakah  dia  atau  mereka  tidak tahu bahwa kereta bisa terguling saat
melewati  rel  yang  rusak?  Atau  mereka  tidak  tahu  kereta api itu
mengangkut  ratusan  penumpang  yang  punya  keluarga yang menunggu di
rumah?

Saya  tidak  bisa  menemukan  jawabannya.  Yang jelas mereka itu orang
geblek, sableng binti gila.

Di  jaman  Belanda,  terutama  saat  perang  kemerdekaan, memang orang
Indonesia  suka  merusak  rel  kereta  api. Tapi tujuannya jelas yaitu
menghambat  pasokan  logistik,  persenjataan  dan pasukan Belanda. Dan
saat  itu  Belanda  pasti hanya tahu rel kereta api hanya bisa dirusak
dengan menggunakan bom atau bahan peledak lainnya.

Sayangnya,  para  meneer  Belanda  salah. Ternyata rel kereta api yang
terbuat dari baja itu bisa dikalahkan hanya oleh sebilah gergaji.
***




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke