2. DUBAI
Dubai adalah sebuah negeri yang WAH. Airportnya besar dan moderen. Dengan
puluhan pesawat terparkir, sebagian besar pesawat Emirat dari kumpulan yang 90
buah lebih itu. Penerbangan Emirat memang dipusatkan disini. Pemeriksaan
imigrasi berjalan lancar. Dan cukup banyak orang antri di loket-loket imigrasi
pada subuh begini. Mungkin orang-orang seperti kami yang akan transit sebentar
sebelum meneruskan penerbangan ke negeri lain.
Kami sudah ditunggu oleh petugas perjalanan yang akan membawa kami
melihat-lihat kota Dubai. Begitu keluar dari ruangan bandara, terasa udara
panas padang pasir. Mataku melihat sebuah sedan super limosin yang panjangnya
mungkin mencapai sepuluh meter. Entah Syeikh mana yang punya. Kami menaiki bus
pariwisata yang akan membawa kami ke sebuah hotel untuk sarapan. Sebenarnya aku
tidak lapar karena di pesawat kami baru saja mendapatkan sarapan besar. Tapi
dalam program perjalanan kami rupanya sudah diatur demikian, kami akan mampir
dulu di hotel Lotus. Lalu lintas masih belum terlalu sibuk di pagi hari itu.
Hanya dalam beberapa menit kami sudah sampai di hotel yang dimaksud. Meski
hanya menggunakan fasilitas umum di hotel itu, lumayan juga karena kami dapat
mencuci muka dan berganti pakaian sebelum sarapan. Menu sarapan dan suasana di
restoran hotel ini mengingatkanku ke hotel Kakhi di Jeddah. Anggota rombongan
terlihat sedikit lebih segar sesudah mencuci
muka dan berganti pakaian pula. Kami sarapan sambil berbincang-bincang santai.
Waktu kami berfoto-foto, dan suasana terlanjur agak ramai, kami ditegur
petugas hotel. Dia menunjuk ke sebuah pengumuman yang melarang memotret di
dalam ruangan restoran. Sebagian peserta menggerutu. Aku menduga, larangan itu
disebabkan karena restoran adalah ruangan semi umum, dimana wanita yang
bercadarpun bisa masuk dan pastilah mereka membuka cadarnya untuk makan dan itu
yang dilarang untuk dipotret. Larangan pagi ini rasanya disebabkan karena
rombongan kami agak sedikit riuh dan ramai. Maklumlah rombongan ibu-ibu.
Sesudah sarapan, sekitar jam setengah sembilan waktu Dubai kami dibawa
berkeliling untuk melihat-lihat. Pemandu wisata kami seorang wanita berasal
dari Peru - Amerika Selatan. Kami dibawa melalui jalan raya besar di pusat
kota. Di kiri kanan terlihat bangunan-bangunan tinggi pencakar langit dan
banyak sekali bangunan-bangunan yang masih dalam tahap pembangunan.
Pemandu kami bercerita tentang Dubai. Negeri yang tadinya dihuni oleh
sekelompok kecil orang Arab Badui yang mungkin sesudah capek mengembara lalu
membanting kemudi menjadi nelayan dan penyelam mutiara di tepi pantai teluk.
Tentang Dubai yang kemudian menjadi satu dari tujuh emirat yang berserikat
dalam Uni Emirat Arab. Dengan penduduk sekitar dua juta jiwa yang hanya 15
persen pribumi dan sisanya adalah pekerja pendatang dari India, Pakistan,
Banglades, Korea dan Philipina (dia tidak menyebutkan Indonesia). Tentang
pembangunan dan pembangunan yang memang 'gila-gilaan'. Sebuah kota yang konon
jumlah 'crane' (alat pemindah bahan bangunan di pembangunan gedung bertingkat)
paling banyak saat ini. Tentang sebuah bangunan yang akan menjadi yang
tertinggi di dunia yang minimum akan 800m tingginya. Akupun bertanya, minimum ?
Memang berapa maksimumnya, apakah tidak ada rencananya ? Lalu dijawab, memang,
800m itu sudah pasti, tapi lebihnya dari 800m masih
dalam perbincangan.
Dan kami dibawa singgah ke 'kantor perencanaan kota' (?). Disini kami lihat
maket rencana pengembangan kota buatan di pinggir laut yang dibentuk menyerupai
pohon kurma. Dan ini bukan hanya sekedar maket karena sebagian sudah
direalisasikan pembangunannya. Mereka menyedot pasir dari laut dalam untuk
kemudian dijadikan pulau buatan dan pulau itu dibuat menyerupai pohon dan
pelepah kurma yang di setiap lembaran pelepah dibangun puluhan bangunan
bertingkat untuk jadi apartemen, perkantoran dan sebagainya. Masya Allah. Dan
rencana lebih besar adalah membangunan beberapa pohon kurma lagi, sehingga
besar rangkaian kota buatan itu nantinya, akan lebih besar dari kota Paris.
Dengan emas semua kemas, dengan pitih semua jadi dan sekarang dengan minyak
semua rancak.
Dan tadi di antara bangunan tinggi aku melihat di puncaknya potongan ayat al
Quran, wa lilLaahi maa fis samaawati wal ardh. Dan kepunyaan Allah lah apa-apa
yang di langit dan di bumi.
Ini adalah sebuah kota yang sangat ambisius dan sangat WAH (sekali lagi) karena
taburan petro dollar dari hasil penjualan minyak bumi. Ada pembangunan sarana
transport kereta bawah tanah (entahlah kalau itu memang perlu) yang
pemborongnya adalah syarikat Mitshubishi. Dan pemborong utama
bangunan-bangunan tinggi dan besar-besar itu adalah syarikat Al Amar, milik
pribumi Dubai. Membangun, membangun, membangun dan membangun. Apa saja yang
tidak akan dibangun. Bahkan, aku melongo mendengarnya, ada bangunan tempat
bermain ski setinggi empat ratus meter agar pemain ski dapat meluncur
meliuk-liuk ke bawah. Bermain ski di sebuah ruangan yang dibekukan untuk
membuat es di tengah cuaca yang elok untuk memanggang. Membangun apa saja. Yang
bekerja buruh pendatang yang datang dari Asia Selatan dan Asia Timur. Untuk
penduduk asli disediakan segala kemudahan dan kemudahan. Dari sarana
pendidikan, pengobatan dan tempat tinggal semua diberikan nyaris cuma-cuma
kepada
penduduk asli.
Dan kami dibawa pula ke pantai. Yang panasnya 45 derajat celcius. Tapi ada juga
orang yang sanggup berjemur di pantai yang membara itu. Ambisi menjadikan Dubai
kota wisata campuran barat dan timur di Asia Barat sedang direalisasikan.
Entahlah kalau orang mau datang berbondong-bondong nanti kesini, bahkan untuk
berjemur di pantai dibawah cuaca terik seperti ini.
Kami mampir pula ke sebuah super mall. Untuk melihat-lihat. Aku harus merasa
rendah diri melihat barang-barang yang dipajang di mall dengan harga yang tidak
mudah dijangkau rupiah. Sebuah sepatu yang biasa-biasa saja harganya di atas
400 dirham alias sejuta dua ratus ribu rupiah lebih. Di dalam super mall ada
juga Carrefour yang kasirnya kebanyakan laki-laki. Sambil menunggu ibu-ibu
melakukan shopping (baik window shopping maupun shopping benaran) aku dan bapak
satunya dalam rombongan, duduk di sebuah bangku di depan Carrefour sambil
berbincang-bincang. Membahas kecanggihan dan kehebatan Dubai.
Kami dibawa pula mampir sesudah itu ke Hardrock Cafe Dubai sekedar
melihat-lihat karena ketika itu bukan pada saatnya beroperasi. Ya Allah,
bangunan yang seronok inipun ada disini. Banyak petugas bertampang kurang
begitu jelas entah dari negeri mana didalamnya sedang berbersih-bersih. Ada
beberapa orang laki-laki Amerika Latin beranting-anting. Entah kenapa ada pula
acara mengunjungi tempat ini. Tapi bagi ibu-ibu yang heboh itu kunjungan ini
bermakna sekali. Mereka berebutan membeli baju kaus berlogo Hardrock Cafe Dubai
yang harganya 25 dollar selembar. Bukan main.
Setelah itu kami dibawa berputar-putar menjelajahi kota pelabuhan laut.
Terlihat kapal-kapal kayu berbaris-baris bersandar. Konon kapal-kapal itu
datang dari Pakistan. Memang banyak orang bertampang Pakistan di pelabuhan itu.
Setelah mengelilingi Dubai yang hebat sekitar enam jam, kami diantarkan kembali
ke bandara untuk melanjutkan penerbangan kami ke Istambul. Kami melintas di
depan toko-toko bebas bea di dalam bangunan bandara. Yang menawarkan apa saja.
Datanglah ke Dubai, bawalah uang sebanyak-banyaknya, berbelanjalah disini
sepuas-puasnya, itulah kesan yang aku tangkap. Dan Bandara ini ramai dan sibuk
dengan orang yang datang dan pergi. Aku boleh tidak terlalu yakin orang akan
datang ke Dubai mengunjungi negeri panas di tepi padang pasir, tapi
kenyataannya orang-orang berdatangan. Menumpang pesawat Emirat. Mungkin yang
dari Paris mau ke Tokyo. Yang dari London mau ke Sidney. Yang dari Rio de
Janeiro mau ke Berlin. Semua dikunjungi oleh pesawat Emirat dan dibawa singgah
ke Dubai.
*****
St. Lembang Alam
http://lembangalam.multiply.com
http://360.yahoo.com/stlembang_alam
____________________________________________________________________________________
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel
and lay it on us. http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---