4. SELAMAT DATANG DI ISTAMBUL
Pemandu wisata kami seorang yang ramah dengan bahasa Inggeris yang baik.
Seorang wanita yang lebih kelihatan Eropah dari Asia. Dia mengawali ucapan
selamat datangnya dengan memperkenalkan namanya, Lale. Bukan Lela (Laila),
karena Lela sudah tinggal di Dubai katanya melucu. Istambul adalah kota yang
unik, terletak di benua Eropah dan Asia. Yang di bagian Eropah adalah kota lama
dibagian selatan yang berbentuk tanduk disebut juga sebagai the Golden Horn
yang adalah merupakan pusat kota lama, dan bagian utara yang disebut daerah
Galata. Di seberang laut terletak bagian kota di benua Asia yang merupakan kota
moderen. Kedua sisi kota dipisahkan oleh selat Bosporus. Penduduk kota
berjumlah sekitar 15 juta orang dari sekitar 70 juta penduduk Turki. Sekitar
satu di antara lima orang Turki tinggal di Istambul.
Dan tentu saja dia harus bercerita sedikit tentang Turki. Tentang republik
Turki yang moderen dan sekuler, dengan penekanan secara khusus pada kata
'sekuler'. Penduduk Turki 97% beragama Islam, katanya. Tapi pemerintah
melindungi dengan undang-undang pemisahan yang tajam antara urusan agama dengan
urusan dunia. Bagi sebagian besar masyarakat Turki, katanya lagi, jika
ditanyakan apa agama mereka, umumnya mereka akan menjawab Islam. Tapi mereka
bukanlah orang yang fanatik dalam beragama. Pada saat urusan agama berbenturan
dengan urusan pekerjaan (dunia) maka pasti urusan pekerjaan yang akan
didahulukan. Jadi, urusan shalat, urusan puasa dan sebagainya, baru akan
dilakukan kalau ada waktu berlebih.
Lale merasa perlu menjelaskan semua itu sebelum bercerita tentang sejarah kota
Istambul. Dan dia juga menjelaskan tentang mata uang Turki baru sesudah
didevaluasi pada awal tahun 2005, ketika satu juta lira Turki dijadikan 1 lira
Turki baru atau yang dalam bahasa Turkinya disebut Yenni Turkis lira (YTL).
Dan diapun bercerita tentang nama Istambul yang dilekatkan sejak penaklukkan
kota ini oleh Sultan Mehmet II (Muhammad II) pada tahun 1453. Sebelumnya kota
ini bernama Konstantinopel, pusat kerajaan Romawi Timur dan sekaligus menjadi
pusat agama Kristen Orthodok. Bahkan lebih awal lagi, sebelum Masehi kota ini
bernama Bizantin. Dibawah kekuasaan sultan-sultan dari dinasti Ottoman kota
Istambul dihiasi dengan banyak sekali mesjid, karena hampir setiap sultan
membangun mesjid megah untuk menandai masa pemerintahannya. Dan mesjid-mesjid
itu dinamai dengan nama sultan seperti mesjid Sultan Ahmad, Mesjid Sultan
Beyazid dan sebagainya.
Samar-samar di kejauhan terlihat menara-menara mesjid seperti yang diceritakan
oleh Lale. Dan sedikit demi sedikit menjadi kenyataan pada penglihatanku
julukan kota seribu minaret untuk kota Istambul ini.
Kami melalui jalanan yang macet di penghujung siang meski tidak semacet
jalan-jalan di Jakarta. Dan hampir tidak ada pengendara sepeda motor terlihat
disini. Hari mulai berangsur gelap. Tapi tidak terdengar suara azan. Aku
bertanya-tanya, apakah mesjid-mesjid yang banyak itu semua sudah berubah jadi
musium? Sementara pertanyaan itu belum terjawab. Kami melalui pusat kota dengan
toko dan restoran berjejer-jejer di pinggir jalan. Kesan yang kuperoleh
berikutnya seolah aku sedang berada di Paris. Di jalan dan di restoran di
pinggir jalan itu banyak sekali orang sedang bersantai menikmati saat
pergantian siang dan malam. Dalam pakaian seperti penduduk kota-kota Paris.
Yang wanita muda dengan pakaian minimum, yang tali baju atau kutangnya
kelihatan. Aku menyaksikan semua itu melalui jendela bus di tengah kemacetan.
Penduduk Istambul, paling tidak yang terlihat saat itu, rupanya sangat
menikmati suasana santai di sore hari musim panas, dengan duduk-duduk di
restoran kebab Turki.
Akhirnya kami sampai di hotel tempat kami menginap, hotel Kent. Sebuah hotel
berbintang 4 tapi penampilannya kalah dengan hotel berbintang sama di Jakarta.
Hari sudah jam sembilan malam. Sesudah mendapatkan kunci kamar masing-masing,
kami makan malam dulu di restoran hotel. Makanan ala Turki yang pertama, dengan
salad tomat dan mentimun mentah dalam porsi cukup besar. Makan malam yang tidak
terlalu nikmat untuk lidah Melayu.
Sesudah makan kami menuju kamar masing-masing. Aku mendapat kamar di lantai
dua. Aku segera bergegas mandi. Ingin cepat-cepat shalat dan sesudah itu tidur.
Sudah hampir jam sepuluh malam waktu Istambul atau jam dua pagi waktu Jakarta
dan aku rasanya sudah sangat lelah. Setelah aku selesai mandi, bergantian
dengan istriku mandi. Rencananya kami akan shalat berjamaah berdua. Tiba-tiba
terdengar suara azan sangat lantang. Sangat dekat sekali sumber suara azan itu.
Aku tersentak dan memberi tahu istriku bahwa aku akan mencari mesjid untuk
shalat.
Aku bergegas ke bawah. Di lobby hotel aku tanyakan kepada petugas hotel dimana
letak mesjid yang mengumandangkan azan barusan dan berapa jauh jaraknya. Orang
itu agak terheran-heran memandangku. Dia memberi tahu jalan ke arah mesjid yang
katanya hanya tiga menit berjalan kaki jaraknya. Aku bergegas menyusuri jalan
yang ditunjukkannya itu. Aku harus menyeberangi jalan besar untuk mencapainya.
Aku sampai di mesjid Beyazid. Dan ada seorang laki-laki yang juga
tergopoh-gopoh menuju mesjid itu di depanku yang langsung aku susul. Di dalam
mesjid orang sedang shalat. Imam membaca surah dengan keras, berarti paling
banyak baru rakaat kedua. Aku ikut shalat. Bacaan imam itu sangat baik
tajwijnya, sedikitpun tidak ada bedanya. Anggapanku selama ini bahwa orang
Turki membaca Allahu Acbar (aku mendengar seperti itu ketika di Arafah beberapa
tahun yang lalu) ternyata keliru. Imam ini membaca Allahu Akbar dengan lafadz
yang sempurna. Sesudah shalat seseorang (bukan
imam) membaca 'Allahumma antassalam wa minkassalam tabaarakta yaa tzaljalaali
walikram' dengan keras. Sesudah itu orang yang sama memberi komando untuk
membaca zikir Subhanallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar, hanya di awalnya
saja. Jamaah membaca zikir itu menggunakan tasbih yang tersedia di mesjid
digantung di sebuah gantungan di depan saf pertama. Jamaah yang dekat dengan
gantungan tasbih itu mengambil beberapa tasbih dan membagi-bagikannya kepada
jamaah yang lain.
Sesudah zikir masing-masing jamaah berdoa secara perlahan (sirr). Terakhir imam
membaca beberapa ayat al Quran di luar kepala dengan nyaring dan itu mengakhiri
rangkaian shalat.
Tidak banyak yang ikut shalat. Hanya sekitar dua belas orang. Di mesjid yang
besar dan megah ini. Aku tanyakan kepada seorang jamaah jam berapa waktu subuh.
Dia memberi tahu, jam lima. Aku berniat akan kembali ke mesjid ini besok subuh.
Aku bergegas kembali ke hotel. Aku ceritakan pengalamanku barusan kepada
istriku dan aku beritahu dia bahwa aku insya Allah akan kembali ke mesjid itu
nanti subuh. Dia bilang dia ingin ikut. Aku stel alarm di HP untuk
membangunkanku jam setengah lima nanti, untuk pergi shalat subuh kembali ke
mesjid Beyazid. Dan sekarang kami beristirahat tidur dulu.
*****
St. Lembang Alam
http://lembangalam.multiply.com
http://360.yahoo.com/stlembang_alam
____________________________________________________________________________________
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. Play
Sims Stories at Yahoo! Games.
http://sims.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---