Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
   
  Walaupun pemilihan calon presiden Republik Indonesia yang akan datang tidak 
terkait langsung dengan masalah 'berminang-minang' yang menjadi perhatian RN, 
namun secara tidak langsung jelas ada kaitannya, khususnya dalam status kita 
sebagai warga negara Republik Indonesia. Sehubungan dengan itu, saya posting 
disini, artikel paling akhir dalam situs website saya 
www.saafroedinbahar.grahacitra.com. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
   
  Wassalam,
  Saafroedin Bahar
   
  TIDAK ADA MUKA BARU CALON PRESIDEN 2009
   
  Harian 'Kompas' tanggal 17 September 2007 menampilkan hasil Jajak Pendapat 
Litbang Kompas dengan judul "Perubahan Kepemimpinan Nasional Dilematis". Dalam 
artikel tersebut disampaikan hasil olahan jawaban responden terhadap beberapa 
pertanyaan sekitar peran partai politik dan para calon presiden. Mengingat 
hal-hal itu penting bagi nasib kita semua dalam tahun-rahun mendatang, izinkan 
saya menampilkan beberapa hal yang saya pandang penting.
   
  Tentang peran partai politik, sebagian besar responden tidak percaya bahwa 
partai politik - yang akan menjadi 'kendaraan' para calon presiden tersebut - 
akan mampu menampilkan calon yang sanggup menangani masalah-masalah pokok 
nasional seperti: menjaga kesatuan nasional, menghindari pengelompokan SARA, 
disiplin dan tanggung jawab, dan mengutamakan keselamatan bangsa. Implikasinya, 
partai-partai politik kelihatannya mulai kehilangan legitimasi sebagai lembaga 
demokrasi yang  dipercaya untuk  mewakili aspirasi dan kepentingan rakyat, atau 
dalam istilah Tim Litbang Kompas, partai-partai politik lebih banyak menjual 
aksi dari pada isi.
   
  Dari 18 orang nama calon yang ditampilkan 'Kompas', hanya dua orang yang 
dipandang layak oleh responden untuk bertanding dengan memperoleh lebih dari 
50% suara, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (67.8%) dan Sri Sultan Hamengku 
Buwono X (60.8%).  Sebanyak 16 orang calon lainnya memperoleh suara di bawah 
43.1%. Sekedar catatan, mantan Presiden Megawati Soekarno Putri hanya 
memperoleh  43,1% dan KH Abdurrahman Wahid sebanyak 17.1%. Wakil Presiden Jusuf 
Kalla memperoleh  31.2%. 
   
  Adalah menarik bagi saya bahwa kriteria yang diajukan 'Kompas' untuk 
menjaring para calon presiden tersebut adalah: hal-hal yang sama sekali tidak 
ada kaitannya dengan kemampuan untuk memimpin dan memecahkan masalah bangsa 
yang berjumlah 220 juta dan sedang dirundung dengan berbagai musibah ini. 
Kriteria 'Kompas' itu adalah : usia, pendidikan, asal daerah, militer atau 
sipil, jenis kelamin, agama, latar belakang ekonomi, profesi, tokoh baru atau 
lama.
   
  Saya kira ada masalah besar dengan kriteria yang dipakai koran tersebut, 
karena jabatan presiden itu terkait dengan tugas besar kenegaraan, dan yang 
kita cari adalah calon yang secara intelektual, manajerial, serta kematangan 
pribadi mampu memimpin bangsa ini, bukan hanya sekedar dengan menanggulangi 
kompleksitas masalah masa kini, tetapi juga mengantarkannya dengan selamat ke 
masa depan yang lebih aman, sejahtera, dan makmur.  Kriteria yang disajikan 
'Kompas' tersebut rasanya sama sekali tidak relevan dengan apa yang kita 
butuhkan.
   
  Secara berkebetulan, menjelang pemilihan presiden talam Pemilihan Umum 2004 
dahulu saya mencoba mengotak atik kriteria calon presiden ini, dan menemukan 
sepuluh kriteria yang saya pandang relevan dengan jabatan itu beserta bobotnya 
masing-masing, yaitu: 1)  komitmen terhadap perlindungan dan pemenuhan hak 
asasi manusia [10], 2) kejujuran, anti KKN, dan keteladanan pribadi [10], 3)  
kemampuan memahami dan mengendalikan birokrasi pemerintahan, sipil dan militer 
[10], 4)  komitmen pada kesatuan politik dan integritas wilayah Republik 
Indonesia [10], 5)  memahami sejarah dan kompleksitas kemajemukan etnik dan 
masalah-masalah aktual daerah [9[,  6)  memahami kompleksitas era globalisasi 
dan hubungan internasional [9], 7)  citra publik yang baik dalam pandangan 
rakyat dan luar negeri [9],  8)  kepribadian yang matang dan stabil [9],  9) 
kemampuan berkomunikasi langsung dengan publik [7], dan 10)  keberanian 
mengambil keputusan yang mendasar dan berat [7].  Bagi para pembaca
 yang berminat membaca ulasan saya ini saya persilahan melihat halaman 626-633 
buku saya "Konteks Kenegaraan Hak Asasi Manusia", Penerbit Pustaka Sinar 
Harapan, Jakarta, 2002.
   
  Bersama dengan rekan saya Dr Chandra Setiawan, waktu itu beliau menjadi 
Rektor STUI IBII di Jakarta, 10 kriteria tersebut beserta dengan bobotnya 
masing-masing, kami ujicobakan pada 10 calon yang kami pandang layak jadi 
presiden pada saat itu, sebagian karena yang bersangkutan menjadi ketua partai, 
yaitu Megawati Soekarno Putri, Hamzah Haz, KH Abdurrahman Wahid, KH Zainuddin 
MZ, Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono, Prof Dr Yusril Ihza Mahendra, H Akbar 
Tanjung, Prof Dr Amien Rais, Matori Abdul Jalil, dan Prof Dr Alwi Shihab. Untuk 
masing-masing calon dan masing-masing kriteria kepada responden kami beri 
kesempatan memberi skor antara 4-8, karena angka 1-3 serta angka 9-10 kami 
anggap tidak realistik. Skor final setiap calon merupakan penjumlahan dari 
perkalian bobot kriteria serta skor calon yang bersangkutan. Pada audience 
apapun dan di manapun, ternyata pilihan jatuh pada Jenderal Susilo Bambang 
Yudhoyono, yang memperoleh skor paling tinggi, yaitu 578, yang ternyata
 kemudian memang terpi;ih jadi presiden pada Pemilu 2004,
   
  Dengan kata lain, mungkin akan baik jika harian 'Kompas' melanjutkan jajak 
pendapatnya tersebut dengan mempergunakan sepuluh kriteria yang relevan dengan 
tugas dan jabatan kepresidenan ini, sebagai pelengkap dari kriteria yang 
digunakannya dalam jajak pendapat sebelumnya.
   
   
   
   

       
---------------------------------
Catch up on fall's hot new shows on Yahoo! TV.  Watch previews, get listings, 
and more!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke