Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuh.

Kado untuk Suamiku

Kupersembahkan kado sederhana ini untukmu suamiku 
tercinta.
Tiada kata yang pantas keucapkan dari lidahku yang
mungil ini, selain"Terimakasih atas segala apa yang
kau berikan padaku, semoga Allah memberikan rahmat dan
ridhaNya selalu kepadamu, dengan segenap ragaku,
sepanjang jantungku masih berdetak, maka aku tetap "
Mencintaimu", melalui kehangatan tanganmu, aku
merasakan hangatnya cintamu".

Air mataku selalu berlinang bila mengingat dirimu yang
telah bersusah payah mencari nafkah lahir dan bathin
untuk menghidupi kami.Terkadang dirimu sendiri tidak
kau pikirkan, rapikah dandanan bajumu, tersisirkah
rambutmu, terpakaikah dasimu, mengkilatkah sepatumu,
atau bahkan kau lupa akan isi perutmu sendiri, sudah
sarapan pagikah, sudah makan siangkah, semua tidak kau
pikirkan kalau tidak kuingatkan padamu, karena
pikiranmu cuma satu, mencari nafkah.
Selama perkawinan kita dirimu cukup tergantung akan
perhatianku pada makan, minum, dan pakaianmu.sampaipun
hampir semua bajumu akulah yang memilihkan
warnanya.kau benar-benar seorang suami yang manja, dan
aku menyukai kemanjaanmu itu.

Wajah dan tubuhmu yang dulu kekar, mulai memudar,
keriput mulai merambat diwajahmu, rambutpun mulai
memutih, mata semakin sayu, , dan dengan tetesan
keringat selalu membasahi sekujur tubuhmu.Namunpun
begitu, bagiku dirimu adalah tetap suamiku yang
tertampan dan termuda , karena akupun jua semakin
melangkah tua.Hatimu selalu ikhlas, tanpa sedikitpun
rasa mengeluh dan lelah kau perlihatkan
padaku.Sementara aku tidak sepantasnya selalu mengeluh
atas kesulitan RT, membersihkan rumah, mengurus
anak-anak, mengantarkannya sekolah, memasak, mencuci,
menggosok. Tidak sepantasnya aku selalu saja menuntut
minta ini, minta itu, beli ini beli itu, antarkan ini,
antarkan itu, padahal, seharusnya semua itu mampu aku
kerjakan sendiri, karena aku harus menyadari, waktu
sangat berharga bagimu, semenit itu bisa jadi uang
untuk menafkahi kami, dan juga dirimu butuh istirahat.

Aku selalu ingat, betapa Rasulullah pernah mendapatkan
teguran karena hanya sekedar mencari keridhaan
istrinya, mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah
Ta'ala, padahal, perintah Allah harusnya jauh lebih
kau perhatikan ketimbang permintaanku.Juga aku selalu
ingat, betapa Allah menyuruh Rasulullah, disaat para
istrinya menginginkan kehidupan duniawi lebih lagi,
apa yang harus dijawab Rasulullah atas perintah Allah
tersebut?" Katakanlah wahai Muhammad(pada istri-istri
kamu), jika kamu menginginkan kehidupan duniawi
beserta perhiasannya, maka, marilah sini akan
kuberikan kesenangan duniawi itu, dan kuceraikan kamu
dengan perceraian yang baik-baik".(Al Ahzab 28)

Dari firman Allah diatas, aku bisa merenungkan, betapa
seharusnya seorang istri, jangan terlalu banyak
menuntut kepada suami. Ridha dan ikhlas dengan apapun
pemberian suami, apapun keputusan suami, karena itulah
realita kehidupan.Allah ta'ala berfirman:" lelaki(para
suami) itu pemimpin atas perempuan(para istri), dengan
kelebihan yang diberikan oleh Allah ta'ala kepada
sebahagian mereka(suami) atas sebahagian yang
lain(istri), dan dengan kelebihan para suami
memberikan nafkah bagi para istri dari harta mereka,
maka para istri-istri yang shalihah adalah mereka yang
taat pada Allah dan menjaga
dirinya.Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan
nusyuz(membangkang, melawan), hendaklah kamu beri
nasehat kepada mereka, tinggalkanlah mereka ditempat
tidur(pisah ranjang),dan (kalau perlu), pukullah
mereka.tetapi jika mereka mentaatimu, janganlah kamu
mencari-cari alasan untuk menyusahkannya, sungguh
Allah maha tinggi, lagi maha besar(Annisa 34). 

Wahai suamiku, tidak sepantasnyalah seorang suami
takut pada istrinya seperti kebanyakan suami zaman
sekarang(tidak semua lelaki), dan ketakutan suami pada
sang istri, jarang kita temukan dari zaman para Nabi
dan para sahabat, andaikanpun ada, langsung dapat
teguran dari Allah Subhanahu Wata'ala. Suatu yang
aneh, bila kita melihat para suami takut pada sang
istri, apakah memang kiamat dah dekat, atau bumi sudah
kebalik?Allahu'alam.

Siapasih perempuan didunia ini, yang tidak
menginginkan gemerlap keajaiban duniawi, kesenangan
berbaju cantik, berpakaian indah, perhiasan dengan
hiasan emas permata, bahkan berlian sekalipun, tinggal
dirumah mewah dengan perabotan serba canggih ,
mutakhir dan lengkap.Hampir semua perempuan didunia
ini menginginkan hal itu.Hanya sayang sekali, pada
hakikatnya kesederhanaan dan menghemat itu sering
terlupakan. Kehidupan zuhud, sederhana dan menghemat
disaat kita mampu sudah sulit ditemukan lagi, karena
gemerlap kemewahan telah menghiasi dan menyelimuti
dunia fatamorgana, penuh fantasi ini.

Pepatah mengatakan:"Al Iqtishaadu asaasunnajaahi,
Kesederhanaan, (hemat), itu adalah sumber dari
keberhasilan seseorang".Hemat bukan berarti pelit,
karena Allah paling tidak suka pada orang yang sombong
lagi pelit.Sudahlah sombong dan pelit, orang pelit
pada umumnya sifatnya egois, mementingkan diri
sendiri, tidak pernah memikirkan bagaimana nasib orang
lain, sudahlah egois, malah menyuruh orang agar egois
dan berbuat bakhil pula dan berusaha menyembunyikan
kekayaan, atau karunia yang diberikan Allah
padanya(Annisa 36-37).
 (agar tidak ada orang yang meminta belas kasihan
kepadanya, dan termasuk disini mereka yang selalu saja
mencari-cari alasan agar tidak bersedeqah, seakan-akan
kebutuhan rumah yang selalu bertambah-tambah, dan
kebutuhan selalu kurang, padahal kalau kita ingat
firman Allah, manusia disuruh bersedeqah dalam keadaan
lapang dan sempit, sebab disanalah keberkahan hidup
itu adanya, bisa jadi dengan sedeqah kita yang sedikit
itulah yang justru mempermudahkan rezeki kita).
 
Suamiku, aku tau, betapa banyaknya para lelaki yang
hancur karena ulah perempuan, tetapi sebanyak itu pula
para lelaki yang maju karena ada perempuan baik
mendampinginya. Ingat kita cerita Napoleon Bonaparte
yang katanya super pintar, salah satu penyebab
hancurnya juga karena perempuan, ingat kita kehancuran
Mesir kuno, dengan cerita cleopatranya, tetapi kita
tak juga pernah lupa akan perannya Siti Khadijah
dengan segala dukungan, moril, harta dan sayang serta
cintanya pada Rasulullah sampai Rasulullah maju.dan
berhasil menjadi pemimpin yang paling berhasil didunia
sampai zaman kini.Siti Aisyah yang pintar lagi manja,
sampai meneruskan perjuangan Rasulullah dengan
hadits-hadits melalui beliau.

Kita tak pernah lupa dalam sebuah kata:"Perempuan itu
adalah tiang Negara, bila baik perempuan dinegara itu,
maka baiklah negerinya, bila buruk perempuan ditempat
itu, maka buruklah lokasi tersebut.Begitulah betapa
pentingnya peran seorang perempuan yang berhati mulia,
berkata santun, cerdas, dan memiliki sense of crisis
yang cukup tinggi atas kehidupan manusia lainnya,
tidak merasakan dunia ini hanyalah miliknya sendiri,
dan hidupnya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri,
tidak akan pernah tenang dan tentram hatinya kecuali
segalanya ia miliki sendiri.Karena ia kurang sadar,
dan merasa dunia ini hanya selebar daun talas, ia 
seperti katak dibawah tempurung yang hanya tau dirinya
saja.Betapa para sahabiah hidup dalam lingkungan yang
luas, hidup mereka bebas, tetapi terikat.Bebas
menyalurkan ilmu-ilmu mereka, bebas bekerja membantu
mencari nafkah suami, namun terikat dan terbatas
sesuai dengan naluri kewanitaannya.Para sahabiah,
banyak yang berjualan kepasar, jadi penjahit, daiah,
dan sebagainya.

Suamiku, dengan ayunan langkahmu meninggalkan
tapaksuci rumah kita, aku selalu mendo'akan agar
dirimu sehat dan selamat didalam perjalanan.Aku selalu
berusaha menahan diri agar tidak menuntutmu  sepulang
kerja nantik belikan atau bawakan ini dan itu,
walaupun itu kau tawarkan pada diriku.Yang aku
inginkan adalah keselamatanmu, karena keselamatanmu
jauh lebih berharga dari harta melimpah.Aku tak ingin
membiasakan diriku menjadi tangan yang selalu di
bawah, selalu meminta, pendidikan itu justru kumulai
dari rumah kita, agar kelak anak-anak kitapun tumbuh
menjadi orang baik-baik, orang yang selalu memikirkan
nasib orang lain, dan tak membiasakan diri untuk
menerima saja, tetapi selalu memberi.

Aku tak ingin diriku dan anak-anak kita terbiasa akan
kebiasaan tangan dibawah itu, karena Allah
berfirman:"Mereka tidak selalu meminta seolah-olah
pengemis, sehingga akibat mereka menahan diri untuk
tidak meminta, banyak orang yang menduga mereka itu
adalah orang yang kaya, karena memelihara diri mereka"
bahkan mereka selalu berusaha tangan diatas, karena
"Tangan diatas, jauh lebih baik dari tangan dibawah,
memberi, jauh lebih pantas, ketimbang selalu
menerima", pendidikan semacam ini, harus kita mulai
dari diri dan keluarga kita sendiri wahai
suamiku.meskipun dengan alasan atau sandaran aku
meminta pada suamiku sendiri, meskipun anak-anak
meminta pada orang tuanya sendiri, tetapi tetap juga,
yang namanya meminta itu kurang baik, dan pendidikan
itu justru dimulai dari keluarga. Tangggung jawab
suami pada istri dan anak-anaknya tidak perlu pula
harus diminta, ia datang dengan sendirinya sesuai
dengan kesanggupan suami.

Suamiku, aku cukup bangga dan bahagia mendapatkan
suami seperti dirimu yang baik, shalih, penyayang,
perhatian, penyabar, tanggung jawab, dan memperlakukan
istri dengan baik, karena aku sadar, dan akupun
memilihmu juga  karena agamamu, karena dirimu juga
memilih aku karena agamaku, sebagaimana sabda
Rasulullah 

"Dinikahi perempuan dengan empat perkara, karena
kecantikannya, kekayaannya, keturunannya, agamanya,
maka pilihlah karena agamanya, niscaya dirimu akan
beruntung", Akupun menerima lamaranmu karena aku takut
akan ancaman dalam sebuah hadits Rasulullah:"Apabila
datang lelaki shalih meminang seorang perempuan untuk
menjadikannya sebagai istri, kemudian ditolak oleh
perempuan itu, maka tunggulah fitnah(cobaan) yang
besar akan datang menimpanya".
Aku tau, dirimu melakukan semua kebaikan-kebaikan itu
atas dasar menjalankan perintah illahi dengan
firmanNya"Dan pergaulilah istri-istrimu dengan
pergaulan yang baik".

Segala perbuatan baik, pasti balasannya juga baik,
(Hal Jazaaulihsaan, illaalihsaan), tetapi tak jarang
pula justru kita menemukan sebaliknya.Apapun kebaikan
yang kita berikan selalu salah dan tak berarti dimata
orang yang kita baik padanya, tak heran, bahkan kita
mendapatkan balasan buruk darinya, karena memang
begitulah dunia ini, seperti cerita keledai dengan
ayah serta anaknya, dinaiki salah, tak dinaiki salah,
diangkat salah, tak digendong salah menurut pandangan
orang lain, dan bisa jadi kita menemukan balasan
kebaikan itu dari orang lain, bukan dari orang yang
kita telah berbuat baik dan berkorban untuknya, karena
bagaimanapun janji Allah pasti benar adanya.

Mungkin kebaikan yang kita lakukan pada si A, tidak
kita terima balasan darinya, tetapi kita menerimanya
dari si B.Karena itulah Allah dan RasulNya selalu
mengingatkan kita akan berbuat, bertindak, dan berlaku
sesederhana mungkin, pertengahan, tidak berlebihan.
Dan jangan pernah mendzalimi siapapun didunia ini,
karena perbuatan yang paling dibenci oleh Allah Ta'ala
dan rasulNya adalah mendzalimi sesama, menghina dan
mencaci maki sesama, sejelek-jelek perkataan adalah
perkataan cacian, hinaan dan makian, karena bisa jadi
orang yang kita hina, kita ejek dan kita hina jauh
lebih baik dari yang menghina, dan mengejek. (Lihat
Q.S Al Hujurat 11).

Mari kita jauhi dari berbuat dzalim, apalagi
mendzalimi orang yang telah berbuat baik untuk
kita.Betapa banyaknya firman Allah akan hal ini,
dzalim pada manusia, maka penyelesaiannya haruslah
pada manusia yang kita dzalimi, kalau tidak
tergantunglah segala amalan dan hisab kita diakhirat
kelak, terkatung-katung nasib kita kelak, sebelum
semua terselesaikan, baik itu kesalahan, ataupun
hutang kita.
Apapun sikap, perbuatan yang kita lakukan hendaknya
berada dalam posisi pertengahan, karena Allah juga
berfirman:"Dan kami jadikan kamu ummat pertengahan,
agar menjadi saksi kelak atas ummat lainnya"dan lagi:

"Masing-masing perkara itu sebaiknya adalah
pertengahan, tidak terlalu berlebihan".Agar tidak
terjadi penyesalan dibelakang hari.Mari kita serahkan
semua perkara pada Allah Ta'ala, karena Dialah maha
Khaliq, maha bijaksana, maha adil, dan maha
mengetahui.Dari Atsar dan sebahagian ulama telah
mengatakan ini menjadi sebuah hadits:"Cintailah
kekasihmu sedang-sedang saja, bisa jadi ia menjadi
musuh kamu suatu saat kelak, dan benciilah musuhmu
sedang-sedang saja, bisa jadi musuhmu itu menjadi
menjadi kekasihmu suatu saat kelak.Hal inipun sesuai
dengan firman Allah."Balaslah perbuatan jahat dengan
perbuatan baik, bisa jadi orang yang dulunya ada
diantara kita permusuhan, suatu saat ia menjadi teman
yang sangat baik(kekasih)."Waliyun Hamim"(Teman yang
sangat dekat, dalam bahasa Arab, Hamim itu kekasih),
berbeda dengan sahabat, aqrabat.

Wassalamu'alaikum.Biaro, Bukittinggi, 24 September
2007.Rahima.






       
____________________________________________________________________________________
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out. 
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545433

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti (unsubscribe), kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount 
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke