Assalamualaikum

Menanggapi tindakan pembajakan budaya oleh pihak Malaysia, saya sebagai "orang 
mudo matah" sangat prihatin. Kalau lah beberapa lagu Melayu dan Minangkabau 
kemudian dipakai untuk promosi wisata dan identitas Malaysia, saya rasa itu 
wajar karena memang itu bagian dari kebudayaan mereka. 
HAnya saja, mereka tidak bisa main klaim begitu saja, karena toh beberapa 
porduk budaya itu bukan asli dari tanah mereka. Melainkan produk budaya 
Semenanjung Melayu yang melingkupi Sumatera Timur, Semenanjung Malaya dan 
Seluruh Pesisir Pulau Kalimantan.
Ok lah kalau negeri sembilan juga merupakan dunsanak kita yang berada di beda 
negara, tapi apa dengan begitu mereka dengan seenaknya mengklaim rendang dan 
segala produk budaya Ranah minang juga hak paten mereka.
Jadi, kalaulah dunsanak kito di negeri Sembilan masih merasa bagian dari 
Minangkabau, alangkah bijaknya apabila dalam setiap penggunaan simbol-simbol 
adat Minangkabau yang digunakandi ngeri sembilan tetap membawa nama Minangkabau 
di Simatera Barat. Bukan hanya Sumatera saja.
Jujur saja, sejak zaman Sriwijaya sampai sekarang,s eolah nama Minangkabau tabu 
di sebut-sebut dalam sejarah. Bahkan Minanga Tamwan tidak diakui sebagai 
Minangkabau, Indeswari (Dara Pitok), ibu raja-raja Majapahit tidak diakui 
sebagai puteri Minangkabau, dan Gajah Mada tidak diakui sebagai putera 
Dharmasyaraya yang menjadi punggawa istana Majapahit (bahkan untuk mengklaim 
GAjah Mada adalah putera asli Jawa, di sebutlah Gajah Mada sebagai putera asli 
desa MAda di KAki Gunung Gede...mungkin diantara anggota milist ada yang 
mengetahui hal ini, mohon penjelasaannya apa benar demikian??)
Apakah negeri sembilan juga akan berkhianat juga pada ranah Bundo Kanduang ini??

Tks
Bot SP
Ajo Piaman nan sasek di Pulau Seribu Pura

----- Original Message ----
From: Datuk Endang <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, October 29, 2007 12:30:01 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Mandacak Kudo Pandai ;Re: Malaysia Kembali 
"Bajak" lagu daerah Indo

Sanak Mardia yang ambo hormati,
  Saya memang berkeinginan suatu waktu mempelajari sejarah Semenanjung karena 
ada keterkaitan historis dan budaya dengan sejarah di Sumatera.
  Sementara waktu saya sampaikan hipotesis migrasi masyarakat Minang ke 
Semenanjung terutama ke Negeri Sembilan saat ini dalam dua alasan :
  1.       Eksodus karena
 pergolakan di Kerajaan Pagaruyung pada waktu peralihan Sultan Alif yang 
beragama Islam, sekitar tahun 1570-an. Karenanya dimungkinkan terbentuk format 
suprastruktur di Negeri Sembilan.
  2.       Previlege dalam bentuk konsesi dari Sultan Johor sewaktu masyarakat 
Minang membantu menghadang pengaruh Aceh di pesisir timur Sumatera, pada kurun 
pertengahan abad ke 17 s/d 18.
  Sehingga saya belum menemukan alasan bila kejadian itu berlangsung pada kurun 
abad 15 dan 16.
  Saya menyampaikan hipotesis singkat mengenai terbentuknya masyarakat 
Semenanjung hingga saat sekarang ini, walau telah muncul berbagai versi. Dalam 
ekspedisi Palapa, pelayaran Majapahit hanya menyisiri pantai timur Sumatera; 
dan disebutkan bila masyarakat Semenanjung hanya mengibarkan panji-panji 
Majapahit di sepanjang pantai. Belum ada penjelasan bila pada masa itu (abad 
14) telah terbentuk sistem kerajaan di Semenanjung.
  Ihwal terbentuknya suprastruktur adalah ketika Prameswara yang merupakan raja 
terakhir dari dinasti Syailendra terusir dari sekitar Palembang saat ini 
sekitar penghujung abad 14; kemudian atas perlindungan Raja Tiongkok menetap di 
Tumasik (Singapura). Selanjutnya berdasarkan kesepakatan Tiongkok dan Thailand, 
Prameswara kemudian pindah ke Malaka saat ini dan mendirikan dinasti baru di 
Semenanjung. Pada sekitar
 tahun 1412 Prameswara masuk Islam, dan mengawini putri Raja Pasai di Aceh.
  Saya ingin menggambarkan bila sebenarnya dinasti Sriwijaya telah berpindah 
dari Palembang ke Semenanjung. Perpindahan ini karena serangan Kerajaan 
Colamandala dari India pada penghujung abad ke 14. Serangan Cola ini selalu 
menjadi pertanyaan bagi saya, karena tidak bersifat intervensi, hanya bumi 
hangus dan mengusir saja. Terbukti setelah serangan itu armada Cola kembali ke 
India, dan sebagian diantaranya menyangkut di beberapa bandar di barat 
Semenanjung.
  Beberapa hal ini mudah-mudahan dapat menjadi pertimbangan : Sriwijaya (Budha) 
berada dalam protektorat Tiongkok; serta Melayu Jambi yang pindah ke Majapahit 
(Hindu) sejak lama memiliki relasi dengan India. Serangan Kublai Khan ke 
Singhasari (1296) telah dibalas dengan
 serangan Cola ke Sriwijaya (1399?).
  Saya meyakini masyarakat Sriwijaya itu eksodus ke Semenanjung, walau beberapa 
di antaranya masih menetap di daerah hulu sungai Musi dan daerah sekitarnya. 
Karena istilah kebangsawanan Sriwijaya (Datuk) sudah tidak bersisa di Sumatera 
Selatan saat ini. Masyarakat ini sudah berkembang sedemikian rupa sehingga 
sampai ke utara Kalimantan.
  Relasi Sriwijaya dan Minangkabau saya sebutkan disini adalah penghormatan 
yang sepantasnya kepada saudara yang lebih tua. Dari prasasti yang tersisa 
disebutkan pada abad ke-7 terjadi kunjungan muhibbah dari Sriwijaya ke suatu 
negeri yang disebut Minanga Tamwan. Saya menilai kunjungan ini mengukuhkan 
kesepahaman yang ternyata terus membekas hingga hari ini. Sebagai catatan, kita 
melihat setelahnya selama pergolakan Sriwijaya,
 Melayu, Aceh, dan Majapahit di Sumatera relatif tidak mempengaruhi 
Minangkabau, terlihat dari sistem adat dan budaya yang tidak berubah.
  Pada tahun 1511 terjadi pendudukan Malaka oleh Portugis, sehingga terjadi 
eksodus masyarakat Semenanjung ke Aceh. Pada tahun 1512 berdiri Kesultanan Aceh 
Darussalam di Krueng Aceh oleh para migran ini; dan sejak saat itu kita membaca 
selama berabad-abad dilakukan serangan berkali-kali terutama ke Malaka dan 
Johor. Untuk memperkuat posisi serangan, Aceh menguasai pesisir pantai 
Sumatera, untuk menghempang pelayaran jalan rempah, khususnya di pesisir timur.
  Saya belum tahu posisi Sultan Johor pada masa itu, kemungkinan berada dalam 
pengaruh Portugis. Pada awal abad 17 Aceh telah menguasai Siak Riau, sehingga 
Sultan Siak dan Sultan Johor meminta bantuan Pagaruyung
 untuk mengusir Aceh dari Siak. Raja Pagaruyung menghimpun kekuatan masyarakat 
dari ketiga luhak, dan kekuatan masyarakat ini akhirnya berhasil mengusir Aceh 
dari Siak. Sejak saat itu kita mengenal tumbuhnya rantau baru, terbentang dari 
Kampar hingga Siak, sebagai bentuk konsesi dan privilege dari bantuan tersebut. 
Dan kemungkinan juga sampai ke Negeri Sembilan saat ini.
  Secara historis adalah sangat wajar bila Semenanjung berhutang budi kepada 
masyarakat Minangkabau, melebihi masyarakat-masyarakat adat budaya lainnya di 
Sumatera. Saya menilai ketika beberapa waktu yang lalu ada penerbangan langsung 
KL-Minangkabau, mencerminkan hubungan adik-kakak ini.
  Selain itu Semenanjung juga memiliki hubungan dengan Sumatera Selatan, 
sebagai daerah asal usul mereka. Sebuah foundation saya dengar telah
 didirikan, yang memberikan kesempatan beasiswa pendidikan bagi putera-puteri 
dari Palembang untuk sekolah di Malaysia.
  Namun mari kita melihat konteks sejarah untuk membaca fenomena yang 
berlangsung beberapa waktu ini. Perlakuan Malaysia terhadap WNI khususnya TKI 
sudah sangat keterlaluan; namun seharusnya tidak begitu untuk masyarakat 
Minangkabau dan Sumatera Selatan. Walaupun demikian, kita sebagai bagian dari 
bangsa Indonesia tentunya akan lebih menjunjung tinggi martabat bangsa 
Indonesia.
  Sementara demikian. Wassalam.
  -datuk endang


mardia_n <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  
Assalaamu 'alaikum.

Dunsanak sadonyo,

Seperti yang kita tahu, orang Minangkabau ramai yang berhijrah dan
menetap di Negeri Sembilan, Malaysia. Mereka membawa bersama budaya
Minang, maka kebudayaan Minang dianggap sebahagian budaya Malaysia.
Jadi bila kita pertikaikan, maksudnya kita mempertikaikan orang Negeri
Sembilan, yang asalnya orang Minang kita juga. 

Kakak ibu saya dibawa dan menetap di Negeri Sembilan sewaktu remajanya
dan berkahwin dengan saudara kami juga yang telah menetap di sana
terlebih dahulu. Mereka merupakan orang Malaysia sebenar (tak macam
saya, orang kata Malaysia celup) :-) Rujuk di bawah sejarah Negeri
Sembilan (maaf dalam bahasa Inggeris).

Begitu juga budaya suku kaum lain dari Indonesia yang menetap di
Malaysia seperti Riau di Johor. 

Wassalaam,
mardia (44)
sg buloh, malaysia

http://www.malaysiatravel.org.uk/tourist-attraction/negeri-sembilan.html

Negeri
 Sembilan Malaysia
Malaysia Sembilian, Negeri SembilianNegeri Sembilian literally means
"Nine States". It is so called because it comprises a federation of
nine states. Located on the southwest corner of Peninsular Malaysia,
Negeri Sembilan encompasses an area of 6,645 sq km and a 48 km long
coastline.

Negeri Sembilan comprises of picturesque valleys and plains amidst
undulating hills and mountains. The rustic villages and lush forests
coupled with splendid waterfalls, cool, crystal clear streams, and
rivers make it an ideal site for eco-tourism. Negeri Sembilan is also
known for its Minangkabau-styled architecture, reflecting the
influence of the State's first inhabitants from Sumatra.

History
Negeri Sembilan was settled between the 15th and 16th century by the
Minangkabau people of West Sumatra who migrated to the region during
the Malay Sultanate in Malacca. At that time Negeri Sembilan was a
rather loose
 confederation of nine fiefdoms in a secluded valley of
the region. It was only in 1773, and with Raja Melewar as the Yam Tuan
or ruler, that the nine separate fiefdoms of Sungai Ujong, Rembau,
Johol, Jelebu, Naning, Segamat, Ulu Pahang, Jelai and Kelang were unified.

Negeri Sembilan's modern history then began with British intervention
in the districts of Sungai Ujong, Rembau and Jelebu to protect British
economic interests and placed the country under the control of a
British Resident. The British established their influence by making
treaties with the separate states (1874-89) and by reforming them into
a closer federation (1895). Negeri Sembilan became one of the
Federated Malay States in 1896.

Negri Sembilan endured Japanese occupation in World War II between
1941 and 1945, and joined the Federation of Malaya in 1948, and became
a state of Malaysia in
 1963.
 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com










__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Jika anda, kirim email kosong ke >>: 
berhenti >> [EMAIL PROTECTED] 
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED] 
digest: >> [EMAIL PROTECTED] 
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke