Sanak Bot ysh,
Saya juga mendukung pengembangan perfilman Nasional, terutama dalam
mengangkat sejarah dan budaya yang kita miliki sebagai khazanah kekayaan
nasional.
Hanya mungkin saya sedikit mempertanyakan "kebenaran sejarah" yang akan
ditampilkan, misalnya dalam film Tuanku Imam Bonjol ini. Apakah sutradara dan
produsernya cukup jujur untuk menampilkan bila yang disebut dengan "serdadu
Belanda" yang tulen berdarah Belanda itu hanya kurang dari 5%?
Wassalam,
-datuk endang
Bot S Piliang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamualaikum
Saya pribadi sangat mendukung perkembangan film Indonesia. PAda awal
kebangkitan film Indonesia dulu, pada sewaktu Ca bau Kan, Eliana-eliana, dan
sebagainya, saya selalu berusaha dapat menonton di bioskop atau kalaupun akan
membeli VCD nya, saya beli yang asli, tidak bajakan.
Tai pada perkembangannya, film Indonesia justru berkembang ke arah yang tidak
menggembirakan, tema yang diangkat selalu bertema horor atau remaja yang
ceritanya buat saya monoton. Saya merindukan film kolosal seperti Cut Nyak
Dhien yang bertemakan sejarah dan kekayaan bangsa.
Saya pernah berangan-angan, kapan cerita/kaba Cindur Mato atau Kisah Perlawan
Orang Minang di Padang Sibusuk dan Kiliran Jao terhadap ekspansi Majapahit di
Ranah Minang dapat diangkat ke layar lebar.
Atau keruntuhan Dharmasyaraya pasca ekspedisi Pamalayu dan awal berdirinya
Pagaruyung yang melibatkan banyak setting sejarah, seperti kerajaan Singosari,
Majapahit, Dharmasyraya, PAlembang dan tentu saja Ranah Minang tercinta.
Tapi saya juga sadar bahwa film-film tersebut bukan film populer, tapi adalah
film kolosal idela dan sedikit minang sentris yang akan butuh budget mahal. Dan
pasti, akan banyak perdebatan sejarah tentang ini, terutama dari Jawa yang
masih meragukan bahwa ibu dari raja-raja Majapahit adalah Orang Minang (Dara
Pitok/Petak, putri kerajaan Dharmasyaraya yang dalam kitab negara kertagama di
sebut Indeswari), dan Sriwijaya juga masih menyangkal bahwa Dapunta Hyang
berasal dari Minangkabau (Minang Tamwan..)
Alhamdulillah, sines Indonesia akhirnya tertarik mengangkat Tuanku Imam Bonjol
sebagai salah satu momentum pergerakan Islam dan modernisasi Islam di ranah
Minang yang akhirnya mengangkat Minangkabau dengan Islam Intelektualnya.
Dan menurut saya, ini adalah kesempatan baik bagio pariwisata Sumatera Barat,
akrena tentu saja akan banyak objek-objek sejarah dan alam yang di "shoot". Dan
mudah-mudahan, proyek film ini tidak dianggap "rejeki harimau" oleh pihak
manapun di Sumbatera Barat sehingga sineas-sineas maupun pelaku kreatif lainnya
tidak "kapok" mengarahkan kamera dan mencurahkan ide kreatifitasnya di Sumatera
Barat, Ranah Budo, the Motherland of Minangkabau. Amien...
Salam
Bot S Piliang
Denpasar
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Jika anda, kirim email kosong ke >>:
berhenti >> [EMAIL PROTECTED]
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED]
digest: >> [EMAIL PROTECTED]
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---