Sebuah buku baru tentang Songket Minang bau saja diterbitkan oleh KITLV Press 
(Leiden, 2007). Penulisnya Susan Rodgers dkk. Silakan mengunjungi web KITLV 
Leiden untuk info lebih lanjut.
Ma urang awak nan manulih songket Minang?

Salam,
Suryadi


----- Pesan Asli ----
Dari: auliah azza <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Sabtu, 17 November, 2007 7:47:43
Topik: [EMAIL PROTECTED] Tenun Songket Meniti Sejarah


Tenun Songket merupakan seni budaya spesifik dibelahan benua Asia yang berasal 
dari daratan negeri Cina, keberadaannya lebih kurang sejak 1000 tahun yang 
lalu. Dalam kisah perjalanan yang cukup panjang. Tenun Songket setelah itu 
hadir di Negeri Siam (Thailand), kemudian menyebar ke beberapa negara bagian di 
Semenanjung Negeri Jiran Malaysia. Seperti ke Selangor, Kelantan, Trengganu dan 
Brunai Darussalam kemudian menyeberang ke pulau Andalasan yaitu ke Silungkang, 
Siak dan Palembang. Yang mana Songket Silungkang berasal dari Negara Bagian 
Selangor, sedangkan Songket Pandai Sikek berasal dari Silungkang dan Songket 
Payakumbuh berasal dari Pandai Sikek. Yang membawa ilmu songket dari Selangor 
ke Silungkang yaitu Baginda Ali asal Kampung Dalimo Singkek beserta hulubalang 
beliau yang diperkirakan pada abad ke 16 dan lebih kurang sudah sejak 400 tahun 
yang lalu.
Pada tahun 1910 Songket Silungkang telah berkiprah di gelanggang Internasional 
pada Pekan Raya Ekonomi yang berlangsung di Brussel ibukota Belgia. Yang 
mendemonstrasikan cara bertenun pada waktu itu yaitu Ande BAENSAH dari Kampung 
Malayu, dan dikala itu hanya dua daerah penghasil Songket dari Indonesia yang 
ikut didalam Pekan Raya Ekonomi tersebut yaitu Silungkang dan Bali. Seperti 
Songket Bali itu sendiri berasal dari Negeri Sungai Gangga India. Di tahun 1920 
Ismail, Kampung Dalimo Godang, adik dari Ongku Palo pergi merantau kenegeri 
Indo Cina, seperti Vietnam, Birma dan Laos yang membawa barang dagangan berupa 
kain Songket, kain Batik, kain Lurik serta kain sarung Bugis dari Makasar.
Kemudian menyusul pada tahun 1921 yaitu Muhammad Yasin kampung Panai Empat 
Rumah pergi merantau ke Calcutta sebuah kota yang terletak diujung pantai timur 
India, membawa barang dagangan yang sejenis dengan barang dagang yang dibawa 
Ismail ke Indo China. Apa kata Om Frans dari Maluku, bagi kami orang Maluku 
belum bisa dibilang Dehafe (Elite) apabila salah satu keluarga disana belum 
menyimpan sekurang-kurangnya 20 helai kain Songket tenunan Silungkang. Begitu 
juga pakaian adat perkawinan di Minahasa Sulawesi Utara, seperti penganten 
wanitanya juga memakai kain Songket tenunan Silungkang, yang mana warga dari 
kedua daerah tersebut sangat bangga sekali memakai kain Songket tenunan 
Silungkang, sebagaimana bangganya masyarakat Minangkabau memaki kain sarung 
Bugis dari Makasar. Di era tahun 50-an, Abidin kampung Dalimo Godang berdagang 
kain Songket dengan mempergunakan jasa Pos dan mengirimkan dengan pos paket ke 
berbagai kota di Indonesia, antara lain :
 Padang, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Makasar.
Masih pada era yang sama, Songket Silungkang hadir sebagai peserta diarena 
Pasar Malam dibeberapa kota besar di pulau Jawa, seperti pasar malam Gambir di 
Jakarta, pasar malam Andir di Bandung, pasar malam Simpang Lima di Semarang, 
pasar malam Alun-Alun di Yogyakarta, pasar malam Yand Mart di Surabaya.
Pada tahun 1974 diruangan Bali Room Hotel Indonesia Jakarta diadakan pameran 
Industri Kecil yang diselenggarakan oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia 
(IWAPI) pimpinan DR. Dewi Motik Pramono.
Dari sekian banyak hasil kerajinan industri kecil dari seluruh Nusantara yang 
dipamerkan pada waktu itu, merasa kagum dan bangga akan Nagari Silungkan, 
setelah melihat didalam sebuah kotak kaca, disana tersimpan sehelai kain 
Songket karya anak nagari yang telah berumur 234 tahun pada waktu itu, warna 
dasar merah hati ayam yang memakai benang Mokou Bulek Soriang tak sudah, 
bermotif Pucuk Rebung, yang mana kain Songket tersebut bukanlah milik kolektor, 
tetapi milik sebuah Museu di Den Haag Negeri Belanda.
Informasi dari seorang sarjana asal Koto Anau Solok, di era tahun 1990-an 
pernah mengikuti bidang studi di Canada, ibu kost dari sarjana tersebut 
menyimpan lima helai kain Songket tenunan Silungkang. Memang sudah selayaknya 
kampung Batu Manonggou dijadikan sebagai kawasan penghasil Songket di Nagari 
Silungkang, karena hampir disetiap rumah disana memiliki alat tenun (palantai) 
untuk memproduksi kain Songket sebagai Home Industri, istimewanya lagi bukan 
kaum wanitanya saja yang pandai bertenun Songket, tetapi kaum prianya juga 
mahir bertenun Songket.
Di masa lampau jika ada tamu yang berkunjung ke Silungkang untuk melihat 
bagaimana cara bertentun Songket, mereka diajak ke bawah rumah, karena 
disanalah diletakkan alat tenun, sekarang ini sudah ada dua show room kain 
Songket yang terletak ditepi jalan lintas Sumatera, lebih tepatnya dibawah 
kampung batu Manongou, disana juga tersedia alat tenun untuk mendemontrasikan 
cara bertenun Songket. Keunggulan dari kain Songket Silungkang selama ini, jika 
dipakai akan terlihat indah cemerlang, Songket Silungkang bukan saja berjaya di 
Bumi Merah Putih ini, bahkan juga berkibar dibeberapa negara Eropa seperti 
Belanda, Inggris, Perancis, Swiss dan Belgia bahkan ada diantara ibu rumah 
tangga disana yang mengoleksi kanin tenun Songket Silungkang yang telah berumur 
antara 100 hinga 200 tahun. Bahkan di Nagari Silungkang sendiri Songket yang 
seumur itu sudah sangat sulit untuk ditemui.
Begituilah kisah perjalanan sejarah ilmu bertenun songket yang datangnya dari 
daratan negeri Cina. (SS/DAPESA)


Sumber : Tabloid Suara Silungkang - Edisi Kelima November 2007 
Alamat Redaksi : Lantai Atas, Blok C Pasar Inpres Silungkang, Kec. Silungkang, 
Kota Sawahlunto 27431. 0755 - 91353, email : [EMAIL PROTECTED]



-----------------

-- 
http://auliahazza.com/
http://auliahazza.belajar-islam.com/


      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Jika anda, kirim email kosong ke >>:
berhenti >> [EMAIL PROTECTED]
Cuti: >> [EMAIL PROTECTED]
digest: >> [EMAIL PROTECTED]
terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke