Udah punya n lumayan kok......!!! Pejuang ga kenal lelah n ga kenal penyakitnya sendiri, diantaranya berupa penyakit paru-paru yang didapat saat beliau di belanda, dikarenakan tidak punya baju penghangat di musim dingin..
Meninggal ditangan bangsa sendiri di kediri ga tau kuburan dan apakah prosesi terhadap jenazah beliau dihargai selayaknya manusia meninggal, wallahualam bissawab ----- Pesan Asli ---- Dari: Nofend St. Mudo <[EMAIL PROTECTED]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sabtu, 17 November, 2007 5:35:29 Topik: [EMAIL PROTECTED] Pengen punya Buku : Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau Perjuangan Tan Malaka Sejak dari Kampung Halaman :: Lukman Santoso :: Berjuang tapi dihapus dalam catatan sejarah Orde Baru. Begitulah nasib tragis Tan Malaka yang akhirnya mati dibunuh dengan tuduhan pemberontak. Buku-buku yang meluruskan sejarah perjuangan Tan Malaka kemudian marak muncul sejak Orde Baru tumbang. Citizen reporter Lukman Santoso mengulas salah satu buku tentang Tan Malaka yang tidak hanya mengulas mobilitas perjuangan Tan Malaka di Asia, tapi juga gerakan kiri di kampungnya, Minangkabau. (p!) Judul Buku: Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau Penulis: Zulhasril Nasir Penerbit: Ombak Yogyakarta Cetakan I: Agustus 2007 Tebal: xxii + 223 halaman Sejarah merupakan bagian terpenting dari eksistensi sebuah bangsa. Disadari atau tidak, sejarah sangat berpengaruh terhadap maju dan mundurnya perkembangan sebuah bangsa. Hal ini perlu dipahami sebagai rangkaian dialogis, kritis, dan berkelanjutan antara pelaku peristiwa masa kini dengan pelaku peristiwa masa lalu demi terciptanya idealisme sebuah negara yang mapan. Sikap kritis dalam membaca sekaligus memahami paparan sejarah menjadi semakin penting, terlebih jika konteks pemaparannya didominasi oleh kalangan tertentu. Khususnya dominasi kalangan penguasa yang tentunya memiliki kecenderungan dan kepentingan tersendiri terhadap realitas masa lalu. Persoalan mendominasi catatan sejarah inilah yang selama ini menjadi kegelisahan banyak pakar sejarah terhadap kondisi sejarah Indonesia yang notabene telah "dikaburkan" selama tiga dasawarsa lebih. Salah satunya, adalah sejarah ketokohan Tan Malaka dalam kaitannya dengan gerakan revolusi di Indonesia. Berlatar dari konteks ini, Zulhasril Nasir melalui buku "Tan Malaka dan Gerakan Kiri Minangkabau" berupaya memotret secara gamblang dan komprehensif perjuangan Tan Malaka yang bersifat lintas bangsa dan lintas benua selama 30 tahun lebih, serta korelasinya dengan gagasan gerakan kiri yang dilahirkannya. Selain itu, buku yang merupakan hasil penelitian Zulhasril ini memiliki beberapa tujuan, diantaranya, pertama, merupakan upaya untuk membuktikan hubungan ke-revolusioner-an Tan Malaka dengan demokrasi alam Minangkabau yang merupakan tanah kelahirannya. Kedua, untuk menjelaskan tentang perbedaan idiologi antara Tan Malaka dengan tokoh pergerakan kiri asal Minangkabau lainnya sebagai akibat dari perbedaan penerapan filosofi masyarakat Minangkabau. Ketiga, untuk mengkaji faktor kepeloporan orang Minangkabau sebagai pendorong pergerakan kiri di tanah air dan di semenanjung Malaya. Dalam lintasan sejarah, Tan Malaka memang merupakan salah satu tokoh revolusi kiri yang namanya hingga kini masih terus berkibar, paling tidak di Eropa. Sehingga tak heran jika Harry Poeze, peneliti senior sekaligus Direktur KITLV Belanda, menulis disertasi mengenai Tan Malaka pada tahun 1976 yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia dalam dua jilid. Poeze kemudian melanjutkan buku kisah perjalanan hidup Tan Malaka ini sampai akhir hayatnya pada 1949, yang dalam buku tersebut diungkap mengenai lokasi tewasnya Tan Malaka di Jawa Timur dan siapa yang menembaknya. Penelusuran Poeze ternyata tidak hanya berhenti disitu, pada 8 Juni 2007 lalu, di Universitas Leiden Belanda, Poeze meluncurkan buku yang berjudul Verguisd en Vergeten, Tan Malaka; De linkse Beweging en Indonesische Revolutien 1945-1959. Buku setebal 2.194 halaman ini mengisahkan sepak terjang Tan Malaka ketika Indonesia dalam masa revolusi. Di Eropa buku ini di jual seharga 99,90 Euro, dan cukup mendapat apresiasi dari khalayak pembaca. Menurut Zulhasril, Tan Malaka yang lahir di Sumatera Barat tahun 1896 ini, dikenal sebagai tokoh gerakan kiri yang gigih memperjuangkan gagasan revolusioner anti penjajahan dan menuntut kemerdekaan 100 persen. Namun, sejak era Orde baru, namanya telah dihapus dalam kamus sejarah Indonesia, atau dalam bahasa para ahli peneliti, Tan Malaka telah menjadi "off the record" dalam sejarah Orde baru. Bahkan, gelar pahlawan nasional yang disematkan Soekarno padanya tidak pernah disebut lagi. Alasannya bisa jadi karena Orde baru menganggap Tan Malaka sebagai tokoh partai yang terlibat terhadap berbagai pemberontakan. Padahal realitasnya Tan Malaka justru menolak pemberontakan PKI tahun 1926/1927, apalagi pemberontakan PKI Madiun 1948. Selain itu, partai yang didirikannya, yakni partai Murba juga telah berseberangan idiologi dengan PKI. Tan Malaka pantas disebut sebagai pahlawan yang terlupakan. Mengapa demikian? Karena perjuangannya berpuluh-puluh tahun bersama rakyat di berbagai wilayah di Nusantara tidak mendapat penghargaan sama sekali. Ia kemudian malah dibunuh dan dikuburkan di samping markas militer di sebuah desa di Kediri pada 1949 dengan dalih pemberontak. Tak banyak orang yang tahu soal ini. Padahal bila ditelusuri, kenyataan sejarah perjuangan Tan Malaka jauh dari kesan "pemberontakan". Ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di tanah Jawa, ia mendirikan Sekolah Rakyat di Semarang. Padahal saat itu Tan Malaka ketika sedang dalam pengejaran Intelijen Belanda, Inggris dan Amerika. Menurutnya, pendidikan jelas merupakan cara terbaik membebaskan rakyat dari kebodohan dan keterbelakangan untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Dalam konteks regional, misalnya Tan Malaka dan gagasannya tidak hanya menjadi penggerak rakyat Indonesia, tetapi juga membuka mata rakyat Filipina dan semenanjung Malaya menuju kemerdekaan. Penggunaan istilah kiri yang digunakan Zulhasril dalam buku ini, tampaknya memiliki makna yang lebih longgar. Istilah itu secara historis-politik pada mulanya digunakan untuk menyebut anggota parlemen di Perancis yang terbentuk sesudah revolusi Perancis yang duduk di sebelah kiri dari Ketua Dewan. Jadi kelompok yang duduk disebelah kanan yang dianggap moderat, sedangkan yang dibagian kiri yang dipandang lebih progresif atau revolusioner. Namun, dalam perkembangan politik internasional istilah kiri kemudian dipahami sebagai gagasan untuk menghapuskan hak-hak sosial istimewa, segala bentuk penindasan kolonial, pembatasan hak berbicara dan berekspresi serta menganjurkan kebebasan dan berkeadilan. Penelaahan Zulhasril dalam buku ini tampaknya lebih memposisikan gerakan kiri dalam konteks regional Asia Tenggara. Dalam buku ini ia menjelaskan bagaimana cara atau proses pembentukan jaringan kiri tersebut, sejauh mana faktor etnisitas berperan dalam pembentukannya, serta bagaimana berbagai surat kabar kiri yang terbit pada masa itu turut berperan di Hindia Belanda dan di Malaya dalam mengiringi perkembangan gerakan kiri. Selain itu, Zulhasril juga sedikit mengulas tentang tokoh-tokoh kiri yang juga mengiringi perjuangan Tan Malaka. Secara lebih jauh, dalam buku setebal 223 halaman ini, penulis juga memaparkan tabel yang menggambarkan mobilitas Tan Malaka secara intensif tanpa henti di dalam negeri maupun lintas benua selama berpuluh tahun. Ini menurutnya penting untuk diulas, karena disadari atau tidak, jarang sekali ditemukan dalam paparan sejarah nasional, seorang pemikir yang berjuang dalam situasi konflik terus-menerus menyebarkan pemikiran bersamaan dengan aktifitas perjuangannya didalam negeri serta menembus kancah pergerakan bangsa lain. Sehingga dalam kerangka ini, penulisan sejarah Tan Malaka menjadi sangatlah berarti untuk membangun atau mengkonstruksikan apa yang telah terjadi pada masa lampau, dipedomani pada masa sekarang dan dipakai untuk referensi ke masa depan. Senada dengan apa yang dikatakan Frederick Jameson (1981), bahwa menulis sejarah juga bermakna menjadikan teks itu sebagai kekuatan (power) karena sejarah memiliki pengaruh besar dalam pembangunan identitas budaya. Maka, buku ini patut diapresiasi sebagai gerbang pembuka menuju sejarah Indonesia yang lebih obyektif. (p!) *Citizen reporter Lukman Santoso adalah penikmat buku dan peneliti Pada Centre for Studies of Religion and State (CSRS) Yogyakarta dapat dihubungi melalui email [EMAIL PROTECTED] http://www.panyingkul.com/view.php?id=543&jenis=bukukita Komentar-komentar terhadap buku ini : 19-09-2007 Dari : Ganjar REY Had shu | Tan Malaka adalah tokoh besar dengan pemikiran sangat modern munkin kisah hidup Tan Malaka perlu dibuat dalam film seperti halnya Soe Hok gie sehingga para generasi muda bisa mengenal Tan Malaka sebagai salah satu pahlawan bangsa ini atau bahkan bisa menjadi inspirasi untuk membangun bangsa yang kita cintai ini THANK YOU TAN MALAKA WE NEVER EVER FORGET YOU 07-09-2007 Dari : joko | cemara_hijau@ tan malaka. orang besar yang terlupakan. tragis. sejarah memang milik para pemenang. orang-orang seperti tan malaka, sutan syahrir atau mungkin hatta adalah tokoh-tokoh yang bahkan ketika telah meninggal pun tetap diasingkan. ide-ide mereka kalau kita baca bukunya, sangat indonesia. mereka bukan tokoh atas angin yang tidak risau dengan konteks ke indonesiaan. sosialisme yang mereka perjuangkan jadi stigma negatif. kita phobia dengan istilah itu. kayak tong kita sudah paham dengan sosialisme yang mereka pahami. pake kaca mata kuda. pokoknya mereka salah. Sejarah pada akhirnya adalah pergulatan. antara ide yang menang dan kalah. mudah2 an orang muda seperti kita bisa lebih fair melihat dari dua sudut pandang sebelum memberikan justifikasi. 25-08-2007 Dari : rusle | muhruslee@ entah bagaimana jalan pikiran orde baru, sampai berusaha menghilangkan tokoh pejuang adiluhung dalam kanvas sejarah pergerakan ini. sayang sekali kita hanya bisa menikmati tulisan dan kisah tentangnya jauh setelah kita tak lagi di bangku sekolah. bahkan hanya ketika kita kesasar mengklik sesuatu di internet baru mendapatkan sosok sosialis dari minang ini. beruntunglah kita yang bisa 'membaca' hidupnya. Dan.... manuruik sanak?????? ________________________________________________________ Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Jika anda, kirim email kosong ke >>: berhenti >> [EMAIL PROTECTED] Cuti: >> [EMAIL PROTECTED] digest: >> [EMAIL PROTECTED] terima email individu lagi: >> [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi keanggotaan lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
