Pasan dari Kanda Suryadi, dilewakan di Palanta RN

Bisa juo ka http://marola.wordpress.com/
==============================

Instead, Tuanku Imam Bonjol is remembered, a man who was ultimately a
military failure, who was ideologically disillusioned, and for whom a
shift from violent action to conciliatory discourse was rewarded with
exile and misery (Jeffrey Hadler).

Sepanjang 62 tahun kemerdekaan Indonesia, nama Tuanku Imam Bonjol
(TIB) hadir di ruang publik bangsa ini—sebagai nama jalan di banyak
kota, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran 5000-an
rupiah keluaran Bank Indonesia 6 November 2001 (lihat ilustrasi). TIB
(1772-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat
Keputusan Presiden Republik Indonesia No.087/TK/Tahun 1973, tanggal 6
November 1973, adalah salah seorang pemimpin utama Perang Paderi di
Sumatra Barat (1803-1837) yang gigih melawan kolonialis Belanda.

Namun, baru-baru ini muncul petisi yang menggugat gelar kepahlawanan
TIB. Menurut petisi itu sosok TIB tak layak jadi Pahlawan Nasional
Indonesia. Beliau dituduh melanggar hak azasi manusia (HAM) karena
pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan
"jutaan" orang di daerah itu (lihat di sini; dikunjungi 18 November
2007). Kekejaman Kaum Paderi disorot lagi dengan diterbitkannya
kembali buku M.O. Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela Gelar
Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833
(2006) (edisi pertama terbit 1964, yang telah dikritisi oleh Hamka,
1974), menyusul kemudian karya Basyral Hamidy Harahap, Greget Tuanku
Rao (2007). Kedua penulisnya, yang kebetulan berasal dari Tanah Batak,
menceritakan penderitaan nenek moyang mereka dan orang Batak pada
umumnya selama serangan tentara Paderi antara 1816-1833 di daerah
Mandailing, Bakkara, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, dan sekitarnya
(Tempo edisi 34/36/15-21 Oktober 2007).

Mitos Kepahlawanan
Munculnya koreksi terhadap wacana sejarah Indonesia belakangan ini,
yang juga mencuatkan kritisisme terhadap konsep pahlawan nasional,
seharusnya menjadi renungan semua komponen bangsa. Kaum intelektual
dan akademis, khususnya sejarawan, adalah pihak yang paling
bertanggung jawab jika evaluasi wacana historis itu hanya akan
mengakibatkan munculnya friksi di tingkat dasar (masyarakat umum) yang
berpotensi memecah-belah bangsa ini.

Ujung pena kaum akademis harus tajam, tapi teks-teks hasil torehannya
seyogianya tidak mengandung 'hawa panas'. Itulah sebabnya dalam
tradisi akademis, kata-kata yang bernuansa subjektif dalam teks ilmiah
– yang sayangnya diumbar tanpa kontrol dalam buku M.O. Parlidungan
(2006 [1964]) – mesti disingkirkan sekuat tenaga oleh para penulis
akademis. Kaum akademis dan intelektual adalah palang pintu terakhir
untuk menjaga keutuhan bangsa ini di tengah langkanya politikus dan
birokrat kita yang layak dijadikan panutan.

Setiap generasi berhak menafsirkan sejarah- (bangsa)nya sendiri.
Namun, generasi baru bangsa ini—yang hidup dalam imaji
globalisme—harus menyadari juga bahwa negara-bangsa (nation-state)
apapun di dunia ini memerlukan mitos-mitos pengukuhan (myth of
concern). Sebuah mitos pengukuhan tidaklah buruk. Ia adalah unsur
penting yang di-ada-kan sebagai "lem perekat" bangsa. Sosok pahlawan
nasional seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin,
Sisingamangaraja XII,…., juga TIB, adalah bagian dari mitos pengukuhan
bangsa Indonesia.

Jeffrey Hadler dalam "An History of Violence and Secular State in
Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and Uses of History" (akan terbit dalam
Journal of Asian Studies, 2008) menunjukkan, kepahlawanan TIB telah
dibentuk sejak awal kemerdekaan hingga zaman Orde Baru, dan hal itu
setidaknya terkait tiga kepentingan:

Pertama, menciptakan mitos tokoh hero yang gigih melawan Belanda
sebagai bagian wacana historis pemersatu bangsa.

Kedua, mengeliminasi wacana radikalisme Islam dalam upaya menciptakan
negara-bangsa yang toleran terhadap keragaman agama dan budaya.

Ketiga, "merangkul" kembali etnis Minang ke haribaan Indonesia yang
telah mendapat stigma negatif dalam pandangan pusat akibat peristiwa
PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).

Kita tak yakin, sudah adakah biji zarah keindonesiaan di zaman
perjuangan TIB dan tokoh lokal lain yang hidup sezaman dengannya, yang
kini dikenal sebagai pahlawan nasional.

Kita juga tahu bahwa pada zaman itu perbudakan adalah bagian dari
sistem sosial dan beberapa kerajaan tradisional Nusantara melakukan
ekspansi teritorial dengan menyerang beberapa kerajaan tetangganya.
Para pemimpin lokal berperang melawan Belanda karena didorong semangat
kedaerahan, bahkan mungkin dilatarbelakangi keinginan untuk
mempertahankan hegemoni sebagai penguasa yang mendapat saingan akibat
kedatangan bangsa Barat. Namun, mereka akhirnya menjadi pahlawan
nasional karena bangsa memerlukan mitos pemersatu.

Bukan Manusia Sempurna
Tak dapat dimungkiri bahwa Perang Paderi telah meninggalkan kenangan
heroik sekaligus traumatik dalam memori kolektif bangsa Indonesia.
Selama kurang lebih 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis
yang saling berbunuhan adalah sesama saudara sendiri—antara sesama
orang Minangkabau dan orang Mandailing atau Batak pada umumnya.

Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan
Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema
pada awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang.
Kompeni melibatkan diri dalam perang itu karena 'diundang' oleh Kaum
Adat.

Pada 21 Februari 1821 Kaum Adat secara resmi menyerahkan wilayah Luhak
Nan Tigo (darek) kepada Belanda yang bersedia membantu mereka
memerangi Kaum Paderi. Perjanjian itu diadakan di Padang di bawah
sumpah menjunjung al-Qur'an dan disaksikan oleh Panglima Padang, Sutan
Raja Mansyur Alamsyah, dan wakilnya, Tuanku Bandaro Rajo Johan (Rusli
Amran, Sumatra Barat hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan,
1981, hlm. 409). Ikut 'mengundang' sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di
bawah pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh
pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat
Batu Sangkar, pada 1815—bukan 1803 seperti disebutkan oleh
Parlindungan, 2007:136-41—(H.M.Lange, Het Nederlandsch Oost-Indisch
leger ter Westkust van Sumatra (1819-1845). 's Hertogenbosch:
Gebroeder Muller,1852: I, hlm. 20-1).

Pada 25 April Sulit Air jauh ke tangan Kompeni setelah mereka sendiri
menderita kerugian besar. "Aldus begon onze oorlog met de Padries"
(Dengan demikian, peperangan kita dengan Kaum Paderi telah dimulai),
demikian tulis seorang opsir Belanda yang tidak menyebutkan namanya
(lihat: anonim, "Episoden uit geschiedenis der Nederlandsche
krigsverrigtingen op Sumatra's Westkus", Indisch Magazijn 12/1, no.7,
1844:116).

Namun, sejak awal 1833, perang itu berubah menjadi perang antara Kaum
Adat dan Kaum Agama melawan Belanda. Memorie Tuanku Imam Bonjol
(MTIB)—lihat transliterasinya oleh Sjafnir Aboe Nain (Padang: PPIM,
2004), sebuah sumber pribumi yang penting mengenai Perang Paderi yang
cenderung diabaikan para sejarawan selama ini—mencatat bagaimana kedua
pihak bahu-membahu melawan Belanda. Pihak-pihak yang dulunya
bertentangan akhirnya bersatu melawan musuh bersama: Kompeni Belanda.
Di ujung penyesalan muncul kesadaran bahwa mengundang Kompeni ke dalam
konflik itu telah semakin menyengsarakan masyarakat Minangkabau
sendiri.

Di dalam MTIB terefleksi rasa penyesalan TIB atas tindakan Kaum Paderi
terhadap sesama orang Minang dan Mandailing. TIB sadar bahwa
perjuangannya sudah melenceng dari ajaran agama. "Adapun hukum
Kitabullah banyaklah yang terlampau dek oleh kita. Bagaimana pikiran
kita?" (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh
kita. Bagaimana pikiran kalian?), demikian tulis TIB dalam MTIB
(hlm.39).

Sadar akan kekeliruan itu, TIB lalu mengirim kemenakannya, Fakih
Muhammad, dan Tuanku Tambusai ke Mekah untuk belajar mengenai
"kitabullah nan adil" (Hukum Kitabullah yang sebenarnya). Ikut juga
kemenakan Tuanku Rao bernama Pakih Sialu, dan Kemenakan Tuanku Kadi
(salah seorang rekan TIB) bernama Pakih Malano (MTIB, hlm. 36-40).
Kemudian keempat orang itu pulang membawa berita yang kurang
menggembirakan: Gerakan Wahabi di Mekah ternyata sudah dikalahkan dan
yang berkembang di sana justru Islam yang lebih moderat. Oleh
karenanya ide Haji Miskin yang telah membuat sesama orang Minangkabau
dan tetangga Bataknya berbunuh-bunuhan telah invalid atau kadaluarsa.

MITB (hlm. 53-55) selanjutnya mencatat bahwa setelah itu TIB kelihatan
ingin lengser dari kepemimpinan Gerakan Paderi. Dalam sebuah rapat di
Mesjid Bonjol TIB berkata kepada para hakim dan penghulu bahwa beliau
ingin mengundurkan diri. TIB juga menginstruksikan supaya
mengembalikan harta rampasan dan para tawanan perang. Namun rakyat
yang sudah menganggap beliau sebagai pemimpin mereka mengharapkan TIB
tetap memimpin perjuangan.

Tampaknya berita yang dibawa oleh Fakih Muhammad dan Tuanku Tambusai
dari Mekah telah mempengaruhi semangat TIB, yang pada gilirannya ikut
menentukan akhir Perang Paderi. Narasi dalam MTIB memberikan kesan
bahwa TIB menyesal telah menjerumuskan rakyat Minangkabau dalam perang
berdarah. Sekarang, dengan keterlibatan Belanda dengan persenjataannya
yang lebih modern, perang itu telah sampai ke tahap yang paling
kritis, yang kalau dilanjutkan hanya akan memakan korban orang
Minangkabau lebih banyak lagi. TIB berada dalam dilemma. Ketika TIB
menerima surat dari Kolonel Elout yang meminta Bonjol menyerah tanpa
syarat, muncul perpecahan di kalangan pemimpin Paderi di benteng itu.
Ada yang suka menyerah dan berdamai dengan Kompeni. Yang lain, seperti
Datuk Sati, ingin melanjutkan peperangan. TIB sedih melihat perpecahan
itu dan beliau serta keluarganya sempat mundur ke Lubuk Sikaping
(MTIB, hlm. 61-4).

Pada 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol berhasil direbut Kompeni setelah
dikepung selama 6 bulan. Sebelum benteng itu jatuh, TIB dan
keluarganya dibawa pergi oleh pengikut setianya masuk rimba. Proses
pengepungan Benteng Bonjol pada bulan-bulan terakhir sebelum jatuh
dicatat dengan detil, dilengkapi ilustrasi, oleh Kapten de Salis yang
ikut dalam pasukan Mayor Jendral Cochius dalam "Journaal van de
expeditie naar Padang onder de Generaal-Majoor Cochius in 1837
gehouden door de Majoor Sous-Chief van den Generaal-Staf Jonkher
C.P.A. de Salis", yang diterbitkan bersama tiga sumber pertama lainnya
dalam buku Gerke Teitler, Het einde Padri Oorlog: Het beleg en de
vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie [Akhir
Perang Paderi. Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837; Sebuah
Publikasi Sumber]. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 2004), hlm.59-183.

Setelah ada jaminan dari Kolonel Elout bahwa penduduk Bonjol akan
dihormati, TIB lalu menyerahkan diri kepada pasukan Kompeni. Ia
menghadap Kapten Steinmetz di Bukittinggi, yang kemudian mengirimnya
ke Padang. Sesampai di Padang, kapal yang akan membawa beliau ke tanah
pembuangan telah lego jangkar di Pulau Cingkuk. Gubernur Francis tak
memberi kesempatan kepada TIB untuk sekedar mengambil pakaian
pengganti. Kapal berlayar menuju Jawa: TIB tinggal di Cianjur, sebelum
kemudian dipindahkan ke Ambon, selanjutnya ke Menado di mana beliau
wafat pada 1864.

Api peperangan di Minangakabau belum sepenuhnya padam ketika TIB
berlayar ke tanah pembuangan. Sisa pasukan Paderi yang tidak mau
menyerah kepada Kompeni melanjutkan perjuangan. Begitu Bonjol direbut
Kompeni, pasukan Eropa dan prajurit pribuminya sudah langsung
melakukan tindakan yang membuat orang Bonjol berang dan merasa
terhina: tentara Kompeni dan pasukan Jawanya mengubah "mesjid jadi
tangsi tempat serdadu diam dan dibawanya anjing dan membikin kotor
sajo [saja; Suryadi] di dalam mesjid". Tentara Kompeni juga mengambil
dari penduduk segala bahan makanan yang mereka perlukan tanpa mau
membayar, dan menyuruh orang bekerja mengangkat segala perlatan
militernya tanpa diberi upah. Pada puncak kemarahan orang Bonjol,
mesjid itu diserang oleh penduduk yang mengakibatkan banyak kematian
di antara 139 tentara Kompeni yang bermarkas di sana (MITB,
hlm.69-70). Rupanya Kompeni tidak menepati janjinya untuk menghormati
adat dan agama penduduk Bonjol, sebagaimana diminta oleh TIB kepada
Kolonel Elout sebelum beliau menyerahkan diri.

Penyesalan TIB itu, dan perjuangan heroik beliau bersama pengikutinya
melawan Belanda yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama
kurang lebih enam bulan (16 Maret – 17 Agustus 1837)—seperti
dilaporkan rinci oleh De Salis (op cit.)— mungkin dapat dijadikan
pertimbangan untuk memberi maaf bagi kesalahan dan kekhilafan yang
telah diperbuat TIB.

Dalam bukunya, Greget Tuanku Rao (Jakarta: Komunitas Bambu, 2007),
Basyral Hamidi Harahap mempertanyakan kadar patriotisme TIB [dan
Tuanku Tambusai] yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik
Indonesia sebagai Pahlawan Nasional.

Kita bertanya di manakah jiwa kepahlawanan seorang yang telah banyak
membunuh, menculik kaum perempuan untuk dijual sebagai budak atau
dijadikan gundik di kalangan bangsa sendiri? […] Apakah seorang yang
[…] tidak [mampu] mempertahankan tanah tumpah darah sampai titik darah
penghabisan […] dan menginjak-injak harkat dan martabat bangsa sendiri
pantas menjadi pahlawan? […] Seorang patriot sejati, sekalipun
terpojok pastilah tetap berjuang mempertahankan bumi persada sampai
titik darah penghabisan. Tetapi yang dilakukan Tuanku Imam Bonjol
adalah ikut merekayasa penyerahan dirinya kepada Belanda (Harahap
2007:106).

Jadi, menurut interpretasi Basyral, TIB merekayasa penyerahan dirinya
sendiri kepada Belanda. Ia menganggap TIB tidak patriotis.

Namun, berbeda dengan Basyral, Jeffrey Hadler—seperti terefleksi dalam
kutipan di awal tulisan ini—mencoba 'membaca' lebih dalam dilemma
psikologis yang dialami TIB lebih 170 tahun yang lalu. Apalagi yang
membuat seorang pemimpin agama menjadi lemah tulang persendiannya
apabila akhirnya sadar bahwa semua yang telah dilakukannya ternyata
telah menyalahi dogma-dogma agama yang begitu diyakininya selama ini,
dan bahwa jika ia tetap ngotot dengan prinsipnya, maka hal itu hanya
akan menumpahkan lebih banyak lagi darah bangsanya sendiri. Memang
agak sulit untuk menilai dari jarak lebih satu setengah abad kemudian
apakah tindakan TIB itu tidak patriotis atau malah bijaksana.

Dalam pengungsiannya selama kurang-lebih empat bulan dalam rimba di
luar Bonjol, bersama TIB dan keluarganya ikut delapan orang Jawa,
sementara antara sesama orang Minang sendiri bersibak paham dalam
menghadapi Belanda (MTIB, hlm. 151-53). Episode akhir Perang Paderi
penuh dengan kisah tragis sekaligus mengharukan. Akan kita lihat nanti
apakah sutradara film kolosal mengenai TIB yang akan diproduksi PT.
Salsa Cemerlang Abadi Film (Republika, 27 Oktober 2007) mampu
merefeksikan konflik batin yang dialami TIB itu? Perang, dimanapun
terjadinya di dunia ini, adalah ranah dimana kelembutan hati dan
kebengisan jiwa makhluk yang bernama manusia sering menampakkan
wujudnya secara berbarengan. Mungkin karena itulah perang sering
dikenang sekaligus dikutuk, dan untuk itulah monumen-menumen
didirikan.

MTIB, menurut Hadler, merefleksikan […] the Tuanku's [TIB]
renunciation of Wahhabism in the face of matriarchal opposition […]".

In his memoir the Tuanku Imam's will to fight his fellow Minangkabau
crumbles when he learns that Wahhabi teachings have been discredited.
In an act of great moral bravery the Tuanku publicly renounces his
ideology, makes reparations, and apologizes for the suffering his war
has caused. In his memoir Imam Bonjol's enemies respond formulaically,
looking to him as a patron. But there remains some ambiguity and even
anger in their reported language. They demand that the Tuanku Imam
replace their elders, people likely killed by the Padri in their war
against traditional authority, and it unclear whether the Tuanku Imam
is to appoint replacements or to personally take the place of the
people he was responsible for killing. In his wish for peace the
Tuanku uses the term dituahnya. This is a form of royal blessing
usually delivered by the sorts of nobles that the Padri had hoped to
eliminate. The Tuanku Imam restores the status quo ante bellum,
confining religious authority to matters of shariah and allowing
customary leaders to adjudicate social issues. He proclaims that 'adat
basandi syarak"—hariah will be fundamental, even in questions of
social custom (Hadler, op cit.: 1, 16-17).

Seorang tokoh seperti TIB muncul, eksis, dan kemudian 'runtuh' oleh
kombinasi antara keinginan, takdir, dan kehendak zaman. Ada yang
menganggap beliau telah "berkhianat pada Kerajaan Islam Minangkabau
Pagaruyung, […] memimpin invasi ke Tanah Batak yang menewaskan" banyak
orang, "[…] menyerang Kerajaan Batak Bakkara dan menewaskan
Sisingamangaraja X", seperti yang dituduhkan si pembuat petisi yang
telah disebutkan di atas. Tapi mungkin ada juga yang melihat beliau,
yang dalam MTIB menunjukkan rasa penyesalan, sebagai ikon perlawanan
masyarakat Minangkabau yang belakangan baru sadar akan buruknya akibat
yang ditimbulkan oleh penjajahan Belanda di negeri mereka.

Sejarah adalah cermin perbandingan dan iktibar. Dengan mempelajari dan
mengenang peristiwa-peristiwa masa lalu, baik dan buruk, manusia dapat
memetik hikmah supaya mereka dapat menata hidupnya yang lebih baik di
masa depan. Dalam konteks perjuangan dan kesilapan yang dialami TIB
dalam hidupnya, kiranya relevan penulis kutipkan di sini kata-kata
intelektual Minang, Prof. Dr. Bahder Djohan:

Tiada hadjat kita akan mengembang kitab tambo jang ditoelis dengan
darah itoe [Perang Paderi; Suryadi], tiada bermaksoed kita akan
menoeroeti djedjaknja sendjata api jang bertahoen-tahoen lamanja itoe
bergemoeroeh didalam lembah dan dataran [Minangkabau], hanja disini
kita mengenangkan sedikit meréka-meréka jang bertjahaja sebentar
didalam zaman Paderi, jang seperti sinar dilangit meroepakan
[memperlihatkan; Suryadi] diri dimata kita jang sedang memandangi
koeblat jang hidjau itoe soepaja dapatlah poela kita mengetahoeï[,]
masja allah, jang terdjadi diabad jang lepas, jang selama-lamanja akan
mendjadi 'ibarat kesesatan kemanoesiaan (Djohan, "Zaman Paderi", Jong
Sumatra, No.1, 2de Jrg., 15 Djanuari 1919: 113).

Di hari-hari terakhirnya di Minangkabau, TIB diusung di atas tandu
oleh rakyat dalam perjalanannya dari Bukittinggi ke Padang menuju
tanah pembuangan (MTIB, hlm.176-78). Walau sudah dalam tawanan Belanda
keyakinan agama TIB tak goyah: "Jikalau tidak boleh berhenti
sembahyang apa gunanya hidup, lebih baik mati", demikian kata beliau
kepada tentara Belanda yang melarangnya berhenti untuk shalat Zuhur
ketika tandu usungan sampai di Kayu Tanam (MTIB hlm.176).

Kini terserah kepada Bangsa Indonesia—bangsa-bangsa lain jelas tak
ambil pusing—apakah TIB akan tetap ditempatkan atau diturunkan dari
"tandu kepahlawanan nasional" yang telah "diarak" oleh generasi-gerasi
terdahulu bangsa ini dalam kolektif memori mereka.

*Catatan: Versi pendek artikel ini dimuat di harian Kompas, 10 November 2007.

------------------------
Suryadi
Dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azië
en Oceanië, Universiteit Leiden, Belanda

http://naskahkuno.blogspot.com, 26.11.07

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke