Oi Mamak. Nabi sen lai dihujat dek urang "tenggen". Manga lo tuanku imam bonjol. mako nyo indak usah heran
On Nov 28, 2007 11:14 AM, Rahmatullah Sjamsudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pencerahan lagi. > Tapi mungkin perlu diingat tidak ada manusia yang sempurna. Yang penting > sekali dikaji apa manfaat dan tujuan untuk menentukan seseorang diakui > sebagai pahlawan atau tidak? Apakah ada motif politik? Apakah benar murni > motif pemurnian sejarah? Dimurnikan dengan apa sesuatu yg sudah lama > berlalu? > Bagi saya setiap orang setiap waktu adalah pahlawan dirinya sendiri, > pahlawan keluarga, pahlawan sanak-familinya dan bisa juga menjadi pahlawan > bangsanya. Tapi disaat yang lain orang tersebut bisa juga menjadi penjahat > terhadap dirinya, keluarga, famili dan bangsanya. > Lalu apa yg kita cari? > > > > > > On Nov 27, 2007 4:42 PM, Nofend St. Mudo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Pasan dari Kanda Suryadi, dilewakan di Palanta RN > > > > Bisa juo ka http://marola.wordpress.com/ > > ============================== > > > > Instead, Tuanku Imam Bonjol is remembered, a man who was ultimately a > > military failure, who was ideologically disillusioned, and for whom a > > shift from violent action to conciliatory discourse was rewarded with > > exile and misery (Jeffrey Hadler). > > > > Sepanjang 62 tahun kemerdekaan Indonesia, nama Tuanku Imam Bonjol > > (TIB) hadir di ruang publik bangsa ini—sebagai nama jalan di banyak > > kota, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran 5000-an > > rupiah keluaran Bank Indonesia 6 November 2001 (lihat ilustrasi). TIB > > (1772-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat > > Keputusan Presiden Republik Indonesia No.087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 > > November 1973, adalah salah seorang pemimpin utama Perang Paderi di > > Sumatra Barat (1803-1837) yang gigih melawan kolonialis Belanda. > > > > Namun, baru-baru ini muncul petisi yang menggugat gelar kepahlawanan > > TIB. Menurut petisi itu sosok TIB tak layak jadi Pahlawan Nasional > > Indonesia. Beliau dituduh melanggar hak azasi manusia (HAM) karena > > pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan > > "jutaan" orang di daerah itu (lihat di sini; dikunjungi 18 November > > 2007). Kekejaman Kaum Paderi disorot lagi dengan diterbitkannya > > kembali buku M.O. Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela Gelar > > Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833 > > (2006) (edisi pertama terbit 1964, yang telah dikritisi oleh Hamka, > > 1974), menyusul kemudian karya Basyral Hamidy Harahap, Greget Tuanku > > Rao (2007). Kedua penulisnya, yang kebetulan berasal dari Tanah Batak, > > menceritakan penderitaan nenek moyang mereka dan orang Batak pada > > umumnya selama serangan tentara Paderi antara 1816-1833 di daerah > > Mandailing, Bakkara, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, dan sekitarnya > > (Tempo edisi 34/36/15-21 Oktober 2007). > > > > Mitos Kepahlawanan > > Munculnya koreksi terhadap wacana sejarah Indonesia belakangan ini, > > yang juga mencuatkan kritisisme terhadap konsep pahlawan nasional, > > seharusnya menjadi renungan semua komponen bangsa. Kaum intelektual > > dan akademis, khususnya sejarawan, adalah pihak yang paling > > bertanggung jawab jika evaluasi wacana historis itu hanya akan > > mengakibatkan munculnya friksi di tingkat dasar (masyarakat umum) yang > > berpotensi memecah-belah bangsa ini. > > > > Ujung pena kaum akademis harus tajam, tapi teks-teks hasil torehannya > > seyogianya tidak mengandung 'hawa panas'. Itulah sebabnya dalam > > tradisi akademis, kata-kata yang bernuansa subjektif dalam teks ilmiah > > – yang sayangnya diumbar tanpa kontrol dalam buku M.O. Parlidungan > > (2006 [1964]) – mesti disingkirkan sekuat tenaga oleh para penulis > > akademis. Kaum akademis dan intelektual adalah palang pintu terakhir > > untuk menjaga keutuhan bangsa ini di tengah langkanya politikus dan > > birokrat kita yang layak dijadikan panutan. > > > > Setiap generasi berhak menafsirkan sejarah- (bangsa)nya sendiri. > > Namun, generasi baru bangsa ini—yang hidup dalam imaji > > globalisme—harus menyadari juga bahwa negara-bangsa (nation-state) > > apapun di dunia ini memerlukan mitos-mitos pengukuhan (myth of > > concern). Sebuah mitos pengukuhan tidaklah buruk. Ia adalah unsur > > penting yang di-ada-kan sebagai "lem perekat" bangsa. Sosok pahlawan > > nasional seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, > > Sisingamangaraja XII,…., juga TIB, adalah bagian dari mitos pengukuhan > > bangsa Indonesia. > > > > Jeffrey Hadler dalam "An History of Violence and Secular State in > > Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and Uses of History" (akan terbit dalam > > Journal of Asian Studies, 2008) menunjukkan, kepahlawanan TIB telah > > dibentuk sejak awal kemerdekaan hingga zaman Orde Baru, dan hal itu > > setidaknya terkait tiga kepentingan: > > > > Pertama, menciptakan mitos tokoh hero yang gigih melawan Belanda > > sebagai bagian wacana historis pemersatu bangsa. > > > > Kedua, mengeliminasi wacana radikalisme Islam dalam upaya menciptakan > > negara-bangsa yang toleran terhadap keragaman agama dan budaya. > > > > Ketiga, "merangkul" kembali etnis Minang ke haribaan Indonesia yang > > telah mendapat stigma negatif dalam pandangan pusat akibat peristiwa > > PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). > > > > Kita tak yakin, sudah adakah biji zarah keindonesiaan di zaman > > perjuangan TIB dan tokoh lokal lain yang hidup sezaman dengannya, yang > > kini dikenal sebagai pahlawan nasional. > > > > Kita juga tahu bahwa pada zaman itu perbudakan adalah bagian dari > > sistem sosial dan beberapa kerajaan tradisional Nusantara melakukan > > ekspansi teritorial dengan menyerang beberapa kerajaan tetangganya. > > Para pemimpin lokal berperang melawan Belanda karena didorong semangat > > kedaerahan, bahkan mungkin dilatarbelakangi keinginan untuk > > mempertahankan hegemoni sebagai penguasa yang mendapat saingan akibat > > kedatangan bangsa Barat. Namun, mereka akhirnya menjadi pahlawan > > nasional karena bangsa memerlukan mitos pemersatu. > > > > Bukan Manusia Sempurna > > Tak dapat dimungkiri bahwa Perang Paderi telah meninggalkan kenangan > > heroik sekaligus traumatik dalam memori kolektif bangsa Indonesia. > > Selama kurang lebih 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis > > yang saling berbunuhan adalah sesama saudara sendiri—antara sesama > > orang Minangkabau dan orang Mandailing atau Batak pada umumnya. > > > > Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan > > Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema > > pada awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. > > Kompeni melibatkan diri dalam perang itu karena 'diundang' oleh Kaum > > Adat. > > > > Pada 21 Februari 1821 Kaum Adat secara resmi menyerahkan wilayah Luhak > > Nan Tigo (darek) kepada Belanda yang bersedia membantu mereka > > memerangi Kaum Paderi. Perjanjian itu diadakan di Padang di bawah > > sumpah menjunjung al-Qur'an dan disaksikan oleh Panglima Padang, Sutan > > Raja Mansyur Alamsyah, dan wakilnya, Tuanku Bandaro Rajo Johan (Rusli > > Amran, Sumatra Barat hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan, > > 1981, hlm. 409). Ikut 'mengundang' sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di > > bawah pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh > > pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat > > Batu Sangkar, pada 1815—bukan 1803 seperti disebutkan oleh > > Parlindungan, 2007:136-41—(H.M.Lange, Het Nederlandsch Oost-Indisch > > leger ter Westkust van Sumatra (1819-1845). 's Hertogenbosch: > > Gebroeder Muller,1852: I, hlm. 20-1). > > > > Pada 25 April Sulit Air jauh ke tangan Kompeni setelah mereka sendiri > > menderita kerugian besar. "Aldus begon onze oorlog met de Padries" > > (Dengan demikian, peperangan kita dengan Kaum Paderi telah dimulai), > > demikian tulis seorang opsir Belanda yang tidak menyebutkan namanya > > (lihat: anonim, "Episoden uit geschiedenis der Nederlandsche > > krigsverrigtingen op Sumatra's Westkus", Indisch Magazijn 12/1, no.7 , > > 1844:116). > > > > Namun, sejak awal 1833, perang itu berubah menjadi perang antara Kaum > > Adat dan Kaum Agama melawan Belanda. Memorie Tuanku Imam Bonjol > > (MTIB)—lihat transliterasinya oleh Sjafnir Aboe Nain (Padang: PPIM, > > 2004), sebuah sumber pribumi yang penting mengenai Perang Paderi yang > > cenderung diabaikan para sejarawan selama ini—mencatat bagaimana kedua > > pihak bahu-membahu melawan Belanda. Pihak-pihak yang dulunya > > bertentangan akhirnya bersatu melawan musuh bersama: Kompeni Belanda. > > Di ujung penyesalan muncul kesadaran bahwa mengundang Kompeni ke dalam > > konflik itu telah semakin menyengsarakan masyarakat Minangkabau > > sendiri. > > > > Di dalam MTIB terefleksi rasa penyesalan TIB atas tindakan Kaum Paderi > > terhadap sesama orang Minang dan Mandailing. TIB sadar bahwa > > perjuangannya sudah melenceng dari ajaran agama. "Adapun hukum > > Kitabullah banyaklah yang terlampau dek oleh kita. Bagaimana pikiran > > kita?" (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh > > kita. Bagaimana pikiran kalian?), demikian tulis TIB dalam MTIB > > (hlm.39). > > > > Sadar akan kekeliruan itu, TIB lalu mengirim kemenakannya, Fakih > > Muhammad, dan Tuanku Tambusai ke Mekah untuk belajar mengenai > > "kitabullah nan adil" (Hukum Kitabullah yang sebenarnya). Ikut juga > > kemenakan Tuanku Rao bernama Pakih Sialu, dan Kemenakan Tuanku Kadi > > (salah seorang rekan TIB) bernama Pakih Malano (MTIB, hlm. 36-40). > > Kemudian keempat orang itu pulang membawa berita yang kurang > > menggembirakan: Gerakan Wahabi di Mekah ternyata sudah dikalahkan dan > > yang berkembang di sana justru Islam yang lebih moderat. Oleh > > karenanya ide Haji Miskin yang telah membuat sesama orang Minangkabau > > dan tetangga Bataknya berbunuh-bunuhan telah invalid atau kadaluarsa. > > > > MITB (hlm. 53-55) selanjutnya mencatat bahwa setelah itu TIB kelihatan > > ingin lengser dari kepemimpinan Gerakan Paderi. Dalam sebuah rapat di > > Mesjid Bonjol TIB berkata kepada para hakim dan penghulu bahwa beliau > > ingin mengundurkan diri. TIB juga menginstruksikan supaya > > mengembalikan harta rampasan dan para tawanan perang. Namun rakyat > > yang sudah menganggap beliau sebagai pemimpin mereka mengharapkan TIB > > tetap memimpin perjuangan. > > > > Tampaknya berita yang dibawa oleh Fakih Muhammad dan Tuanku Tambusai > > dari Mekah telah mempengaruhi semangat TIB, yang pada gilirannya ikut > > menentukan akhir Perang Paderi. Narasi dalam MTIB memberikan kesan > > bahwa TIB menyesal telah menjerumuskan rakyat Minangkabau dalam perang > > berdarah. Sekarang, dengan keterlibatan Belanda dengan persenjataannya > > yang lebih modern, perang itu telah sampai ke tahap yang paling > > kritis, yang kalau dilanjutkan hanya akan memakan korban orang > > Minangkabau lebih banyak lagi. TIB berada dalam dilemma. Ketika TIB > > menerima surat dari Kolonel Elout yang meminta Bonjol menyerah tanpa > > syarat, muncul perpecahan di kalangan pemimpin Paderi di benteng itu. > > Ada yang suka menyerah dan berdamai dengan Kompeni. Yang lain, seperti > > Datuk Sati, ingin melanjutkan peperangan. TIB sedih melihat perpecahan > > itu dan beliau serta keluarganya sempat mundur ke Lubuk Sikaping > > (MTIB, hlm. 61-4). > > > > Pada 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol berhasil direbut Kompeni setelah > > dikepung selama 6 bulan. Sebelum benteng itu jatuh, TIB dan > > keluarganya dibawa pergi oleh pengikut setianya masuk rimba. Proses > > pengepungan Benteng Bonjol pada bulan-bulan terakhir sebelum jatuh > > dicatat dengan detil, dilengkapi ilustrasi, oleh Kapten de Salis yang > > ikut dalam pasukan Mayor Jendral Cochius dalam "Journaal van de > > expeditie naar Padang onder de Generaal-Majoor Cochius in 1837 > > gehouden door de Majoor Sous-Chief van den Generaal-Staf Jonkher > > C.P.A. de Salis", yang diterbitkan bersama tiga sumber pertama lainnya > > dalam buku Gerke Teitler, Het einde Padri Oorlog: Het beleg en de > > vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie [Akhir > > Perang Paderi. Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837; Sebuah > > Publikasi Sumber]. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 2004), hlm.59-183. > > > > Setelah ada jaminan dari Kolonel Elout bahwa penduduk Bonjol akan > > dihormati, TIB lalu menyerahkan diri kepada pasukan Kompeni. Ia > > menghadap Kapten Steinmetz di Bukittinggi, yang kemudian mengirimnya > > ke Padang. Sesampai di Padang, kapal yang akan membawa beliau ke tanah > > pembuangan telah lego jangkar di Pulau Cingkuk. Gubernur Francis tak > > memberi kesempatan kepada TIB untuk sekedar mengambil pakaian > > pengganti. Kapal berlayar menuju Jawa: TIB tinggal di Cianjur, sebelum > > kemudian dipindahkan ke Ambon, selanjutnya ke Menado di mana beliau > > wafat pada 1864. > > > > Api peperangan di Minangakabau belum sepenuhnya padam ketika TIB > > berlayar ke tanah pembuangan. Sisa pasukan Paderi yang tidak mau > > menyerah kepada Kompeni melanjutkan perjuangan. Begitu Bonjol direbut > > Kompeni, pasukan Eropa dan prajurit pribuminya sudah langsung > > melakukan tindakan yang membuat orang Bonjol berang dan merasa > > terhina: tentara Kompeni dan pasukan Jawanya mengubah "mesjid jadi > > tangsi tempat serdadu diam dan dibawanya anjing dan membikin kotor > > sajo [saja; Suryadi] di dalam mesjid". Tentara Kompeni juga mengambil > > dari penduduk segala bahan makanan yang mereka perlukan tanpa mau > > membayar, dan menyuruh orang bekerja mengangkat segala perlatan > > militernya tanpa diberi upah. Pada puncak kemarahan orang Bonjol, > > mesjid itu diserang oleh penduduk yang mengakibatkan banyak kematian > > di antara 139 tentara Kompeni yang bermarkas di sana (MITB, > > hlm.69-70). Rupanya Kompeni tidak menepati janjinya untuk menghormati > > adat dan agama penduduk Bonjol, sebagaimana diminta oleh TIB kepada > > Kolonel Elout sebelum beliau menyerahkan diri. > > > > Penyesalan TIB itu, dan perjuangan heroik beliau bersama pengikutinya > > melawan Belanda yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama > > kurang lebih enam bulan (16 Maret – 17 Agustus 1837)—seperti > > dilaporkan rinci oleh De Salis (op cit.)— mungkin dapat dijadikan > > pertimbangan untuk memberi maaf bagi kesalahan dan kekhilafan yang > > telah diperbuat TIB. > > > > Dalam bukunya, Greget Tuanku Rao (Jakarta: Komunitas Bambu, 2007), > > Basyral Hamidi Harahap mempertanyakan kadar patriotisme TIB [dan > > Tuanku Tambusai] yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik > > Indonesia sebagai Pahlawan Nasional. > > > > Kita bertanya di manakah jiwa kepahlawanan seorang yang telah banyak > > membunuh, menculik kaum perempuan untuk dijual sebagai budak atau > > dijadikan gundik di kalangan bangsa sendiri? […] Apakah seorang yang > > […] tidak [mampu] mempertahankan tanah tumpah darah sampai titik darah > > penghabisan […] dan menginjak-injak harkat dan martabat bangsa sendiri > > pantas menjadi pahlawan? […] Seorang patriot sejati, sekalipun > > terpojok pastilah tetap berjuang mempertahankan bumi persada sampai > > titik darah penghabisan. Tetapi yang dilakukan Tuanku Imam Bonjol > > adalah ikut merekayasa penyerahan dirinya kepada Belanda (Harahap > > 2007:106). > > > > Jadi, menurut interpretasi Basyral, TIB merekayasa penyerahan dirinya > > sendiri kepada Belanda. Ia menganggap TIB tidak patriotis. > > > > Namun, berbeda dengan Basyral, Jeffrey Hadler—seperti terefleksi dalam > > kutipan di awal tulisan ini—mencoba 'membaca' lebih dalam dilemma > > psikologis yang dialami TIB lebih 170 tahun yang lalu. Apalagi yang > > membuat seorang pemimpin agama menjadi lemah tulang persendiannya > > apabila akhirnya sadar bahwa semua yang telah dilakukannya ternyata > > telah menyalahi dogma-dogma agama yang begitu diyakininya selama ini, > > dan bahwa jika ia tetap ngotot dengan prinsipnya, maka hal itu hanya > > akan menumpahkan lebih banyak lagi darah bangsanya sendiri. Memang > > agak sulit untuk menilai dari jarak lebih satu setengah abad kemudian > > apakah tindakan TIB itu tidak patriotis atau malah bijaksana. > > > > Dalam pengungsiannya selama kurang-lebih empat bulan dalam rimba di > > luar Bonjol, bersama TIB dan keluarganya ikut delapan orang Jawa, > > sementara antara sesama orang Minang sendiri bersibak paham dalam > > menghadapi Belanda (MTIB, hlm. 151-53). Episode akhir Perang Paderi > > penuh dengan kisah tragis sekaligus mengharukan. Akan kita lihat nanti > > apakah sutradara film kolosal mengenai TIB yang akan diproduksi PT. > > Salsa Cemerlang Abadi Film (Republika, 27 Oktober 2007) mampu > > merefeksikan konflik batin yang dialami TIB itu? Perang, dimanapun > > terjadinya di dunia ini, adalah ranah dimana kelembutan hati dan > > kebengisan jiwa makhluk yang bernama manusia sering menampakkan > > wujudnya secara berbarengan. Mungkin karena itulah perang sering > > dikenang sekaligus dikutuk, dan untuk itulah monumen-menumen > > didirikan. > > > > MTIB, menurut Hadler, merefleksikan […] the Tuanku's [TIB] > > renunciation of Wahhabism in the face of matriarchal opposition […]". > > > > In his memoir the Tuanku Imam's will to fight his fellow Minangkabau > > crumbles when he learns that Wahhabi teachings have been discredited. > > In an act of great moral bravery the Tuanku publicly renounces his > > ideology, makes reparations, and apologizes for the suffering his war > > has caused. In his memoir Imam Bonjol's enemies respond formulaically, > > looking to him as a patron. But there remains some ambiguity and even > > anger in their reported language. They demand that the Tuanku Imam > > replace their elders, people likely killed by the Padri in their war > > against traditional authority, and it unclear whether the Tuanku Imam > > is to appoint replacements or to personally take the place of the > > people he was responsible for killing. In his wish for peace the > > Tuanku uses the term dituahnya. This is a form of royal blessing > > usually delivered by the sorts of nobles that the Padri had hoped to > > eliminate. The Tuanku Imam restores the status quo ante bellum, > > confining religious authority to matters of shariah and allowing > > customary leaders to adjudicate social issues. He proclaims that 'adat > > basandi syarak"—hariah will be fundamental, even in questions of > > social custom (Hadler, op cit.: 1, 16-17). > > > > Seorang tokoh seperti TIB muncul, eksis, dan kemudian 'runtuh' oleh > > kombinasi antara keinginan, takdir, dan kehendak zaman. Ada yang > > menganggap beliau telah "berkhianat pada Kerajaan Islam Minangkabau > > Pagaruyung, […] memimpin invasi ke Tanah Batak yang menewaskan" banyak > > orang, "[…] menyerang Kerajaan Batak Bakkara dan menewaskan > > Sisingamangaraja X", seperti yang dituduhkan si pembuat petisi yang > > telah disebutkan di atas. Tapi mungkin ada juga yang melihat beliau, > > yang dalam MTIB menunjukkan rasa penyesalan, sebagai ikon perlawanan > > masyarakat Minangkabau yang belakangan baru sadar akan buruknya akibat > > yang ditimbulkan oleh penjajahan Belanda di negeri mereka. > > > > Sejarah adalah cermin perbandingan dan iktibar. Dengan mempelajari dan > > mengenang peristiwa-peristiwa masa lalu, baik dan buruk, manusia dapat > > memetik hikmah supaya mereka dapat menata hidupnya yang lebih baik di > > masa depan. Dalam konteks perjuangan dan kesilapan yang dialami TIB > > dalam hidupnya, kiranya relevan penulis kutipkan di sini kata-kata > > intelektual Minang, Prof. Dr. Bahder Djohan: > > > > Tiada hadjat kita akan mengembang kitab tambo jang ditoelis dengan > > darah itoe [Perang Paderi; Suryadi], tiada bermaksoed kita akan > > menoeroeti djedjaknja sendjata api jang bertahoen-tahoen lamanja itoe > > bergemoeroeh didalam lembah dan dataran [Minangkabau], hanja disini > > kita mengenangkan sedikit meréka-meréka jang bertjahaja sebentar > > didalam zaman Paderi, jang seperti sinar dilangit meroepakan > > [memperlihatkan; Suryadi] diri dimata kita jang sedang memandangi > > koeblat jang hidjau itoe soepaja dapatlah poela kita mengetahoeï[,] > > masja allah, jang terdjadi diabad jang lepas, jang selama-lamanja akan > > mendjadi 'ibarat kesesatan kemanoesiaan (Djohan, "Zaman Paderi", Jong > > Sumatra, No.1, 2de Jrg., 15 Djanuari 1919: 113). > > > > Di hari-hari terakhirnya di Minangkabau, TIB diusung di atas tandu > > oleh rakyat dalam perjalanannya dari Bukittinggi ke Padang menuju > > tanah pembuangan (MTIB, hlm.176-78). Walau sudah dalam tawanan Belanda > > keyakinan agama TIB tak goyah: "Jikalau tidak boleh berhenti > > sembahyang apa gunanya hidup, lebih baik mati", demikian kata beliau > > kepada tentara Belanda yang melarangnya berhenti untuk shalat Zuhur > > ketika tandu usungan sampai di Kayu Tanam (MTIB hlm.176). > > > > Kini terserah kepada Bangsa Indonesia—bangsa-bangsa lain jelas tak > > ambil pusing—apakah TIB akan tetap ditempatkan atau diturunkan dari > > "tandu kepahlawanan nasional" yang telah "diarak" oleh generasi-gerasi > > terdahulu bangsa ini dalam kolektif memori mereka. > > > > *Catatan: Versi pendek artikel ini dimuat di harian Kompas, 10 November > > 2007. > > > > ------------------------ > > Suryadi > > Dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azië > > en Oceanië, Universiteit Leiden, Belanda > > > > http://naskahkuno.blogspot.com, 26.11.07 > > > > > > -- This message (including any attachments) contains confidential and/or proprietary information intended only for the addressee. Any unauthorized disclosure, copying, distribution or reliance on the contents of this information is strictly prohibited and may constitute a violation of law. If you are not the intended recipient, please notify the sender immediately by responding to this e-mail, and delete the message from your system. If you have any questions about this e-mail please notify the sender immediately. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
