Oi Mamak.
Nabi sen lai dihujat dek urang "tenggen".
Manga lo tuanku imam bonjol.
mako nyo indak usah heran


On Nov 28, 2007 11:14 AM, Rahmatullah Sjamsudin <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Pencerahan lagi.
> Tapi mungkin perlu diingat tidak ada manusia yang sempurna. Yang penting
> sekali dikaji apa manfaat dan tujuan untuk menentukan seseorang diakui
> sebagai pahlawan atau tidak? Apakah ada motif politik? Apakah benar murni
> motif pemurnian sejarah? Dimurnikan dengan apa sesuatu yg sudah lama
> berlalu?
> Bagi saya setiap orang setiap waktu adalah pahlawan dirinya sendiri,
> pahlawan keluarga, pahlawan sanak-familinya dan bisa juga menjadi pahlawan
> bangsanya. Tapi disaat yang lain orang tersebut bisa juga menjadi penjahat
> terhadap dirinya, keluarga, famili dan bangsanya.
> Lalu apa yg kita cari?
>
>
>
>
>
> On Nov 27, 2007 4:42 PM, Nofend St. Mudo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> >
> > Pasan dari Kanda Suryadi, dilewakan di Palanta RN
> >
> > Bisa juo ka http://marola.wordpress.com/
> > ==============================
> >
> > Instead, Tuanku Imam Bonjol is remembered, a man who was ultimately a
> > military failure, who was ideologically disillusioned, and for whom a
> > shift from violent action to conciliatory discourse was rewarded with
> > exile and misery (Jeffrey Hadler).
> >
> > Sepanjang 62 tahun kemerdekaan Indonesia, nama Tuanku Imam Bonjol
> > (TIB) hadir di ruang publik bangsa ini—sebagai nama jalan di banyak
> > kota, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran 5000-an
> > rupiah keluaran Bank Indonesia 6 November 2001 (lihat ilustrasi). TIB
> > (1772-1864), yang diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat
> > Keputusan Presiden Republik Indonesia No.087/TK/Tahun 1973, tanggal 6
> > November 1973, adalah salah seorang pemimpin utama Perang Paderi di
> > Sumatra Barat (1803-1837) yang gigih melawan kolonialis Belanda.
> >
> > Namun, baru-baru ini muncul petisi yang menggugat gelar kepahlawanan
> > TIB. Menurut petisi itu sosok TIB tak layak jadi Pahlawan Nasional
> > Indonesia. Beliau dituduh melanggar hak azasi manusia (HAM) karena
> > pasukan Paderi menginvasi Tanah Batak (1816-1833) yang menewaskan
> > "jutaan" orang di daerah itu (lihat di sini; dikunjungi 18 November
> > 2007). Kekejaman Kaum Paderi disorot lagi dengan diterbitkannya
> > kembali buku M.O. Parlindungan, Pongkinangolngolan Sinamabela Gelar
> > Tuanku Rao: Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, 1816-1833
> > (2006) (edisi pertama terbit 1964, yang telah dikritisi oleh Hamka,
> > 1974), menyusul kemudian karya Basyral Hamidy Harahap, Greget Tuanku
> > Rao (2007). Kedua penulisnya, yang kebetulan berasal dari Tanah Batak,
> > menceritakan penderitaan nenek moyang mereka dan orang Batak pada
> > umumnya selama serangan tentara Paderi antara 1816-1833 di daerah
> > Mandailing, Bakkara, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, dan sekitarnya
> > (Tempo edisi 34/36/15-21 Oktober 2007).
> >
> > Mitos Kepahlawanan
> > Munculnya koreksi terhadap wacana sejarah Indonesia belakangan ini,
> > yang juga mencuatkan kritisisme terhadap konsep pahlawan nasional,
> > seharusnya menjadi renungan semua komponen bangsa. Kaum intelektual
> > dan akademis, khususnya sejarawan, adalah pihak yang paling
> > bertanggung jawab jika evaluasi wacana historis itu hanya akan
> > mengakibatkan munculnya friksi di tingkat dasar (masyarakat umum) yang
> > berpotensi memecah-belah bangsa ini.
> >
> > Ujung pena kaum akademis harus tajam, tapi teks-teks hasil torehannya
> > seyogianya tidak mengandung 'hawa panas'. Itulah sebabnya dalam
> > tradisi akademis, kata-kata yang bernuansa subjektif dalam teks ilmiah
> > – yang sayangnya diumbar tanpa kontrol dalam buku M.O. Parlidungan
> > (2006 [1964]) – mesti disingkirkan sekuat tenaga oleh para penulis
> > akademis. Kaum akademis dan intelektual adalah palang pintu terakhir
> > untuk menjaga keutuhan bangsa ini di tengah langkanya politikus dan
> > birokrat kita yang layak dijadikan panutan.
> >
> > Setiap generasi berhak menafsirkan sejarah- (bangsa)nya sendiri.
> > Namun, generasi baru bangsa ini—yang hidup dalam imaji
> > globalisme—harus menyadari juga bahwa negara-bangsa (nation-state)
> > apapun di dunia ini memerlukan mitos-mitos pengukuhan (myth of
> > concern). Sebuah mitos pengukuhan tidaklah buruk. Ia adalah unsur
> > penting yang di-ada-kan sebagai "lem perekat" bangsa. Sosok pahlawan
> > nasional seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin,
> > Sisingamangaraja XII,…., juga TIB, adalah bagian dari mitos pengukuhan
> > bangsa Indonesia.
> >
> > Jeffrey Hadler dalam "An History of Violence and Secular State in
> > Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and Uses of History" (akan terbit dalam
> > Journal of Asian Studies, 2008) menunjukkan, kepahlawanan TIB telah
> > dibentuk sejak awal kemerdekaan hingga zaman Orde Baru, dan hal itu
> > setidaknya terkait tiga kepentingan:
> >
> > Pertama, menciptakan mitos tokoh hero yang gigih melawan Belanda
> > sebagai bagian wacana historis pemersatu bangsa.
> >
> > Kedua, mengeliminasi wacana radikalisme Islam dalam upaya menciptakan
> > negara-bangsa yang toleran terhadap keragaman agama dan budaya.
> >
> > Ketiga, "merangkul" kembali etnis Minang ke haribaan Indonesia yang
> > telah mendapat stigma negatif dalam pandangan pusat akibat peristiwa
> > PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia).
> >
> > Kita tak yakin, sudah adakah biji zarah keindonesiaan di zaman
> > perjuangan TIB dan tokoh lokal lain yang hidup sezaman dengannya, yang
> > kini dikenal sebagai pahlawan nasional.
> >
> > Kita juga tahu bahwa pada zaman itu perbudakan adalah bagian dari
> > sistem sosial dan beberapa kerajaan tradisional Nusantara melakukan
> > ekspansi teritorial dengan menyerang beberapa kerajaan tetangganya.
> > Para pemimpin lokal berperang melawan Belanda karena didorong semangat
> > kedaerahan, bahkan mungkin dilatarbelakangi keinginan untuk
> > mempertahankan hegemoni sebagai penguasa yang mendapat saingan akibat
> > kedatangan bangsa Barat. Namun, mereka akhirnya menjadi pahlawan
> > nasional karena bangsa memerlukan mitos pemersatu.
> >
> > Bukan Manusia Sempurna
> > Tak dapat dimungkiri bahwa Perang Paderi telah meninggalkan kenangan
> > heroik sekaligus traumatik dalam memori kolektif bangsa Indonesia.
> > Selama kurang lebih 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis
> > yang saling berbunuhan adalah sesama saudara sendiri—antara sesama
> > orang Minangkabau dan orang Mandailing atau Batak pada umumnya.
> >
> > Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan
> > Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema
> > pada awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang.
> > Kompeni melibatkan diri dalam perang itu karena 'diundang' oleh Kaum
> > Adat.
> >
> > Pada 21 Februari 1821 Kaum Adat secara resmi menyerahkan wilayah Luhak
> > Nan Tigo (darek) kepada Belanda yang bersedia membantu mereka
> > memerangi Kaum Paderi. Perjanjian itu diadakan di Padang di bawah
> > sumpah menjunjung al-Qur'an dan disaksikan oleh Panglima Padang, Sutan
> > Raja Mansyur Alamsyah, dan wakilnya, Tuanku Bandaro Rajo Johan (Rusli
> > Amran, Sumatra Barat hingga Plakat Panjang. Jakarta: Sinar Harapan,
> > 1981, hlm. 409). Ikut 'mengundang' sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di
> > bawah pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh
> > pasukan Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat
> > Batu Sangkar, pada 1815—bukan 1803 seperti disebutkan oleh
> > Parlindungan, 2007:136-41—(H.M.Lange, Het Nederlandsch Oost-Indisch
> > leger ter Westkust van Sumatra (1819-1845). 's Hertogenbosch:
> > Gebroeder Muller,1852: I, hlm. 20-1).
> >
> > Pada 25 April Sulit Air jauh ke tangan Kompeni setelah mereka sendiri
> > menderita kerugian besar. "Aldus begon onze oorlog met de Padries"
> > (Dengan demikian, peperangan kita dengan Kaum Paderi telah dimulai),
> > demikian tulis seorang opsir Belanda yang tidak menyebutkan namanya
> > (lihat: anonim, "Episoden uit geschiedenis der Nederlandsche
> > krigsverrigtingen op Sumatra's Westkus", Indisch Magazijn 12/1, no.7 ,
> > 1844:116).
> >
> > Namun, sejak awal 1833, perang itu berubah menjadi perang antara Kaum
> > Adat dan Kaum Agama melawan Belanda. Memorie Tuanku Imam Bonjol
> > (MTIB)—lihat transliterasinya oleh Sjafnir Aboe Nain (Padang: PPIM,
> > 2004), sebuah sumber pribumi yang penting mengenai Perang Paderi yang
> > cenderung diabaikan para sejarawan selama ini—mencatat bagaimana kedua
> > pihak bahu-membahu melawan Belanda. Pihak-pihak yang dulunya
> > bertentangan akhirnya bersatu melawan musuh bersama: Kompeni Belanda.
> > Di ujung penyesalan muncul kesadaran bahwa mengundang Kompeni ke dalam
> > konflik itu telah semakin menyengsarakan masyarakat Minangkabau
> > sendiri.
> >
> > Di dalam MTIB terefleksi rasa penyesalan TIB atas tindakan Kaum Paderi
> > terhadap sesama orang Minang dan Mandailing. TIB sadar bahwa
> > perjuangannya sudah melenceng dari ajaran agama. "Adapun hukum
> > Kitabullah banyaklah yang terlampau dek oleh kita. Bagaimana pikiran
> > kita?" (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh
> > kita. Bagaimana pikiran kalian?), demikian tulis TIB dalam MTIB
> > (hlm.39).
> >
> > Sadar akan kekeliruan itu, TIB lalu mengirim kemenakannya, Fakih
> > Muhammad, dan Tuanku Tambusai ke Mekah untuk belajar mengenai
> > "kitabullah nan adil" (Hukum Kitabullah yang sebenarnya). Ikut juga
> > kemenakan Tuanku Rao bernama Pakih Sialu, dan Kemenakan Tuanku Kadi
> > (salah seorang rekan TIB) bernama Pakih Malano (MTIB, hlm. 36-40).
> > Kemudian keempat orang itu pulang membawa berita yang kurang
> > menggembirakan: Gerakan Wahabi di Mekah ternyata sudah dikalahkan dan
> > yang berkembang di sana justru Islam yang lebih moderat. Oleh
> > karenanya ide Haji Miskin yang telah membuat sesama orang Minangkabau
> > dan tetangga Bataknya berbunuh-bunuhan telah invalid atau kadaluarsa.
> >
> > MITB (hlm. 53-55) selanjutnya mencatat bahwa setelah itu TIB kelihatan
> > ingin lengser dari kepemimpinan Gerakan Paderi. Dalam sebuah rapat di
> > Mesjid Bonjol TIB berkata kepada para hakim dan penghulu bahwa beliau
> > ingin mengundurkan diri. TIB juga menginstruksikan supaya
> > mengembalikan harta rampasan dan para tawanan perang. Namun rakyat
> > yang sudah menganggap beliau sebagai pemimpin mereka mengharapkan TIB
> > tetap memimpin perjuangan.
> >
> > Tampaknya berita yang dibawa oleh Fakih Muhammad dan Tuanku Tambusai
> > dari Mekah telah mempengaruhi semangat TIB, yang pada gilirannya ikut
> > menentukan akhir Perang Paderi. Narasi dalam MTIB memberikan kesan
> > bahwa TIB menyesal telah menjerumuskan rakyat Minangkabau dalam perang
> > berdarah. Sekarang, dengan keterlibatan Belanda dengan persenjataannya
> > yang lebih modern, perang itu telah sampai ke tahap yang paling
> > kritis, yang kalau dilanjutkan hanya akan memakan korban orang
> > Minangkabau lebih banyak lagi. TIB berada dalam dilemma. Ketika TIB
> > menerima surat dari Kolonel Elout yang meminta Bonjol menyerah tanpa
> > syarat, muncul perpecahan di kalangan pemimpin Paderi di benteng itu.
> > Ada yang suka menyerah dan berdamai dengan Kompeni. Yang lain, seperti
> > Datuk Sati, ingin melanjutkan peperangan. TIB sedih melihat perpecahan
> > itu dan beliau serta keluarganya sempat mundur ke Lubuk Sikaping
> > (MTIB, hlm. 61-4).
> >
> > Pada 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol berhasil direbut Kompeni setelah
> > dikepung selama 6 bulan. Sebelum benteng itu jatuh, TIB dan
> > keluarganya dibawa pergi oleh pengikut setianya masuk rimba. Proses
> > pengepungan Benteng Bonjol pada bulan-bulan terakhir sebelum jatuh
> > dicatat dengan detil, dilengkapi ilustrasi, oleh Kapten de Salis yang
> > ikut dalam pasukan Mayor Jendral Cochius dalam "Journaal van de
> > expeditie naar Padang onder de Generaal-Majoor Cochius in 1837
> > gehouden door de Majoor Sous-Chief van den Generaal-Staf Jonkher
> > C.P.A. de Salis", yang diterbitkan bersama tiga sumber pertama lainnya
> > dalam buku Gerke Teitler, Het einde Padri Oorlog: Het beleg en de
> > vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een bronnenpublicatie [Akhir
> > Perang Paderi. Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837; Sebuah
> > Publikasi Sumber]. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw, 2004), hlm.59-183.
> >
> > Setelah ada jaminan dari Kolonel Elout bahwa penduduk Bonjol akan
> > dihormati, TIB lalu menyerahkan diri kepada pasukan Kompeni. Ia
> > menghadap Kapten Steinmetz di Bukittinggi, yang kemudian mengirimnya
> > ke Padang. Sesampai di Padang, kapal yang akan membawa beliau ke tanah
> > pembuangan telah lego jangkar di Pulau Cingkuk. Gubernur Francis tak
> > memberi kesempatan kepada TIB untuk sekedar mengambil pakaian
> > pengganti. Kapal berlayar menuju Jawa: TIB tinggal di Cianjur, sebelum
> > kemudian dipindahkan ke Ambon, selanjutnya ke Menado di mana beliau
> > wafat pada 1864.
> >
> > Api peperangan di Minangakabau belum sepenuhnya padam ketika TIB
> > berlayar ke tanah pembuangan. Sisa pasukan Paderi yang tidak mau
> > menyerah kepada Kompeni melanjutkan perjuangan. Begitu Bonjol direbut
> > Kompeni, pasukan Eropa dan prajurit pribuminya sudah langsung
> > melakukan tindakan yang membuat orang Bonjol berang dan merasa
> > terhina: tentara Kompeni dan pasukan Jawanya mengubah "mesjid jadi
> > tangsi tempat serdadu diam dan dibawanya anjing dan membikin kotor
> > sajo [saja; Suryadi] di dalam mesjid". Tentara Kompeni juga mengambil
> > dari penduduk segala bahan makanan yang mereka perlukan tanpa mau
> > membayar, dan menyuruh orang bekerja mengangkat segala perlatan
> > militernya tanpa diberi upah. Pada puncak kemarahan orang Bonjol,
> > mesjid itu diserang oleh penduduk yang mengakibatkan banyak kematian
> > di antara 139 tentara Kompeni yang bermarkas di sana (MITB,
> > hlm.69-70). Rupanya Kompeni tidak menepati janjinya untuk menghormati
> > adat dan agama penduduk Bonjol, sebagaimana diminta oleh TIB kepada
> > Kolonel Elout sebelum beliau menyerahkan diri.
> >
> > Penyesalan TIB itu, dan perjuangan heroik beliau bersama pengikutinya
> > melawan Belanda yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama
> > kurang lebih enam bulan (16 Maret – 17 Agustus 1837)—seperti
> > dilaporkan rinci oleh De Salis (op cit.)— mungkin dapat dijadikan
> > pertimbangan untuk memberi maaf bagi kesalahan dan kekhilafan yang
> > telah diperbuat TIB.
> >
> > Dalam bukunya, Greget Tuanku Rao (Jakarta: Komunitas Bambu, 2007),
> > Basyral Hamidi Harahap mempertanyakan kadar patriotisme TIB [dan
> > Tuanku Tambusai] yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik
> > Indonesia sebagai Pahlawan Nasional.
> >
> > Kita bertanya di manakah jiwa kepahlawanan seorang yang telah banyak
> > membunuh, menculik kaum perempuan untuk dijual sebagai budak atau
> > dijadikan gundik di kalangan bangsa sendiri? […] Apakah seorang yang
> > […] tidak [mampu] mempertahankan tanah tumpah darah sampai titik darah
> > penghabisan […] dan menginjak-injak harkat dan martabat bangsa sendiri
> > pantas menjadi pahlawan? […] Seorang patriot sejati, sekalipun
> > terpojok pastilah tetap berjuang mempertahankan bumi persada sampai
> > titik darah penghabisan. Tetapi yang dilakukan Tuanku Imam Bonjol
> > adalah ikut merekayasa penyerahan dirinya kepada Belanda (Harahap
> > 2007:106).
> >
> > Jadi, menurut interpretasi Basyral, TIB merekayasa penyerahan dirinya
> > sendiri kepada Belanda. Ia menganggap TIB tidak patriotis.
> >
> > Namun, berbeda dengan Basyral, Jeffrey Hadler—seperti terefleksi dalam
> > kutipan di awal tulisan ini—mencoba 'membaca' lebih dalam dilemma
> > psikologis yang dialami TIB lebih 170 tahun yang lalu. Apalagi yang
> > membuat seorang pemimpin agama menjadi lemah tulang persendiannya
> > apabila akhirnya sadar bahwa semua yang telah dilakukannya ternyata
> > telah menyalahi dogma-dogma agama yang begitu diyakininya selama ini,
> > dan bahwa jika ia tetap ngotot dengan prinsipnya, maka hal itu hanya
> > akan menumpahkan lebih banyak lagi darah bangsanya sendiri. Memang
> > agak sulit untuk menilai dari jarak lebih satu setengah abad kemudian
> > apakah tindakan TIB itu tidak patriotis atau malah bijaksana.
> >
> > Dalam pengungsiannya selama kurang-lebih empat bulan dalam rimba di
> > luar Bonjol, bersama TIB dan keluarganya ikut delapan orang Jawa,
> > sementara antara sesama orang Minang sendiri bersibak paham dalam
> > menghadapi Belanda (MTIB, hlm. 151-53). Episode akhir Perang Paderi
> > penuh dengan kisah tragis sekaligus mengharukan. Akan kita lihat nanti
> > apakah sutradara film kolosal mengenai TIB yang akan diproduksi PT.
> > Salsa Cemerlang Abadi Film (Republika, 27 Oktober 2007) mampu
> > merefeksikan konflik batin yang dialami TIB itu? Perang, dimanapun
> > terjadinya di dunia ini, adalah ranah dimana kelembutan hati dan
> > kebengisan jiwa makhluk yang bernama manusia sering menampakkan
> > wujudnya secara berbarengan. Mungkin karena itulah perang sering
> > dikenang sekaligus dikutuk, dan untuk itulah monumen-menumen
> > didirikan.
> >
> > MTIB, menurut Hadler, merefleksikan […] the Tuanku's [TIB]
> > renunciation of Wahhabism in the face of matriarchal opposition […]".
> >
> > In his memoir the Tuanku Imam's will to fight his fellow Minangkabau
> > crumbles when he learns that Wahhabi teachings have been discredited.
> > In an act of great moral bravery the Tuanku publicly renounces his
> > ideology, makes reparations, and apologizes for the suffering his war
> > has caused. In his memoir Imam Bonjol's enemies respond formulaically,
> > looking to him as a patron. But there remains some ambiguity and even
> > anger in their reported language. They demand that the Tuanku Imam
> > replace their elders, people likely killed by the Padri in their war
> > against traditional authority, and it unclear whether the Tuanku Imam
> > is to appoint replacements or to personally take the place of the
> > people he was responsible for killing. In his wish for peace the
> > Tuanku uses the term dituahnya. This is a form of royal blessing
> > usually delivered by the sorts of nobles that the Padri had hoped to
> > eliminate. The Tuanku Imam restores the status quo ante bellum,
> > confining religious authority to matters of shariah and allowing
> > customary leaders to adjudicate social issues. He proclaims that 'adat
> > basandi syarak"—hariah will be fundamental, even in questions of
> > social custom (Hadler, op cit.: 1, 16-17).
> >
> > Seorang tokoh seperti TIB muncul, eksis, dan kemudian 'runtuh' oleh
> > kombinasi antara keinginan, takdir, dan kehendak zaman. Ada yang
> > menganggap beliau telah "berkhianat pada Kerajaan Islam Minangkabau
> > Pagaruyung, […] memimpin invasi ke Tanah Batak yang menewaskan" banyak
> > orang, "[…] menyerang Kerajaan Batak Bakkara dan menewaskan
> > Sisingamangaraja X", seperti yang dituduhkan si pembuat petisi yang
> > telah disebutkan di atas. Tapi mungkin ada juga yang melihat beliau,
> > yang dalam MTIB menunjukkan rasa penyesalan, sebagai ikon perlawanan
> > masyarakat Minangkabau yang belakangan baru sadar akan buruknya akibat
> > yang ditimbulkan oleh penjajahan Belanda di negeri mereka.
> >
> > Sejarah adalah cermin perbandingan dan iktibar. Dengan mempelajari dan
> > mengenang peristiwa-peristiwa masa lalu, baik dan buruk, manusia dapat
> > memetik hikmah supaya mereka dapat menata hidupnya yang lebih baik di
> > masa depan. Dalam konteks perjuangan dan kesilapan yang dialami TIB
> > dalam hidupnya, kiranya relevan penulis kutipkan di sini kata-kata
> > intelektual Minang, Prof. Dr. Bahder Djohan:
> >
> > Tiada hadjat kita akan mengembang kitab tambo jang ditoelis dengan
> > darah itoe [Perang Paderi; Suryadi], tiada bermaksoed kita akan
> > menoeroeti djedjaknja sendjata api jang bertahoen-tahoen lamanja itoe
> > bergemoeroeh didalam lembah dan dataran [Minangkabau], hanja disini
> > kita mengenangkan sedikit meréka-meréka jang bertjahaja sebentar
> > didalam zaman Paderi, jang seperti sinar dilangit meroepakan
> > [memperlihatkan; Suryadi] diri dimata kita jang sedang memandangi
> > koeblat jang hidjau itoe soepaja dapatlah poela kita mengetahoeï[,]
> > masja allah, jang terdjadi diabad jang lepas, jang selama-lamanja akan
> > mendjadi 'ibarat kesesatan kemanoesiaan (Djohan, "Zaman Paderi", Jong
> > Sumatra, No.1, 2de Jrg., 15 Djanuari 1919: 113).
> >
> > Di hari-hari terakhirnya di Minangkabau, TIB diusung di atas tandu
> > oleh rakyat dalam perjalanannya dari Bukittinggi ke Padang menuju
> > tanah pembuangan (MTIB, hlm.176-78). Walau sudah dalam tawanan Belanda
> > keyakinan agama TIB tak goyah: "Jikalau tidak boleh berhenti
> > sembahyang apa gunanya hidup, lebih baik mati", demikian kata beliau
> > kepada tentara Belanda yang melarangnya berhenti untuk shalat Zuhur
> > ketika tandu usungan sampai di Kayu Tanam (MTIB hlm.176).
> >
> > Kini terserah kepada Bangsa Indonesia—bangsa-bangsa lain jelas tak
> > ambil pusing—apakah TIB akan tetap ditempatkan atau diturunkan dari
> > "tandu kepahlawanan nasional" yang telah "diarak" oleh generasi-gerasi
> > terdahulu bangsa ini dalam kolektif memori mereka.
> >
> > *Catatan: Versi pendek artikel ini dimuat di harian Kompas, 10 November
> > 2007.
> >
> > ------------------------
> > Suryadi
> > Dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Zuidoost-Azië
> > en Oceanië, Universiteit Leiden, Belanda
> >
> > http://naskahkuno.blogspot.com, 26.11.07
> > > >
> >


-- 
This message (including any attachments) contains confidential and/or
proprietary information intended only for the addressee.
Any unauthorized disclosure, copying, distribution or reliance on the
contents of this information is strictly prohibited and may constitute a
violation of law. If you are not the intended recipient, please notify the
sender immediately by responding to this e-mail, and delete the message from
your system. If you have any questions about this e-mail please notify the
sender immediately.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke