Assalaamu'alaikum wa Rahmatulaahi wa Barakaatuhu,
Tarimo kasih Bapak Prof.Suheimi, Pak Syaf, tantang pikiran positif ko.
Mamang taraso indah kalau kito salalu bapikia positif juo ba baiak sangko ka
urang lain. . Ambo satuju jo Pak Syaf bahwa hiduik ko panuah jo tantangan,
cobaan jo hambatan. Mako jo pikiran positif plus baprasangko baiak ka satiok
invidu hiduik kitoko bisa dimanfaatkan sacaro elok pulo. Insha Allah.
Sebagai kito katahui juo bahwa Islam alah maagiah fasilitas ka umat manusia
agar dapat menikmati hiduik ko jo tanang, damai dan tanpa beban. Menikmati
hiduik jo selalu tersenyum, ringan dalam melangkah, serta memandang dunia
dengan berseri-seri. Ikolah implementasi dari ajaran Islam yang memang
dirancang untuak salalu mamudahkan dan menjadi rahmat bagi sekalian alam.
Untuk mewujudkan hidup yang sealu tersenyum, ringan dan tanpa beban
tersebut; Islam memberikan beberapa tuntunan. Yaitu di antaranya: menjaga
keseimbangan, selalu berbaik sangka (Khusnudzdzan), juga dengan berpikir
positif.
Islam menekankan betapa pentingnya husnudzdzan dan berpikir positif.
Kemungkinan ado babarapo alasan:
Pertama, kita harus husnudzdzan dan berpikir positif karena ternyata orang
lain seringkali tidak seburuk yang kita kira. Contoh terbaik mengenai hal
ini ialah kisah Nabi Khidhir dan Nabi Musa Alaihima As-Salam. Suatu kali,
Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Musa untuk menambah ilmu dari
seseorang yang sedang berdiri di tepi pantai yang mempertemukan dua arus
laut.Setelah mencari tempat yang dimaksud, di situ beliau menemukan Nabi
Khidhir, dan kemudian mengutarakan maksudnya. Nabi Khidhir mau
menerima dengan satu syarat; Nabi Musa tidak boleh kasak kusuak batanyo
sampai Nabi Khidhir menjelaskan. "Tapi aku yakin, kamu tidak akan bisa
bersabar", tambah Nabi Khidhir
lagi. Namun karena Nabi Musa bersikeras, akhirnya dimulailah perjalanan
beliau berdua berdasarkan syarat tadi. Ternyata benar!! Ketika dalam
perjalanan itu Nabi Khidhir melakonkan hikmah demi hikmah yang telah
diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, tak sekalipun Nabi Musa mampu
bersabar untuk tidak kasak kusuak menafsirkan yang bukan-bukan. (Qs.
Al-Kahfi: 60-82).
Dalam kisah tsb hal nan terpenting yang dapek kito ambiak : kita harus
selalu berbaik sangka dan berpikir positif terhadap orang lain. Karena, bisa
jadi, orang lain tidaklah seburuk yang kita kira. Sebab kita hanya bisa
melihat apa yang tampak, namun tidak tahu niat baik
apa yang ada di hatinya…dan seterusnya.
Kedua, berbaik sangka dan berpikir positif dapat mengubah suatu keburukan
menjadi kebaikan. Kita dapat menemukan pembuktiannya dalam teladan
Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, ketika seluruh kafilah-kafilah
Arab berkumpul di Makkah pada tahun-tahun pertama turunnya wahyu. Allah
Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Rasulullah
untuk menyampaikan risalah Islam kepada semua kafilah itu. Namun yang
terjadi, mereka justru mencaci dan menyakiti Rasulullah, serta melumuri
wajah beliau dengan pasir.
Saat itu, datanglah malaikat ke hadapan Rasulullah, "Wahai Muhammad, (dengan
perlakuan mereka ini) sudah sepantasnya jika kamu berdoa kepada Allah agar
membinasakan mereka seperti doa Nuh –`Alaihi As-Salam—atas kaumnya."
Rasulullah segera mengangkat tangan beliau. Tetapi yang terucap dalam doa
beliau bukanlah doa kutukan, melainkan untaian maaf dan harapan bagi
orang-orang yang telah menyakitinya, "Ya Allah, berilah petunjuk kepada
kaumku. Sesungguhnya (mereka melakukan semua ini terhadapku) hanya karena
mereka tidak tahu. Ya Allah, tolonglah aku agar mereka bisa menyambut ajakan
untuk taat kepada-Mu." ("Al-Ahadits Al-Mukhtarah, karya Abu `Abdillah
Al-Maqdasi, 10/14).
Pilihan beliau ternyata tidak salah. Tak lama setelah peristiwa tersebut,
mereka yang pernah menyakiti beliau berangsur-angsur memeluk Islam dan
menjadi Sahabat yang paling setia. Ini sesuai dengan ajaran Al-Qur'an,
"Tanggapilah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba
orang yang antaramu dengan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi
teman yang sangat akrab." (Qs. Al-Fushilat: 34)
Ketiga, berbaik sangka dan berpikir positif dapat menyelamatkan hati dan
hidup kita. Sebab hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan
kebencian. Hati yang tenteram adalah hati yang tidak memendam syakwasangka
dan apriori terhadap orang lain. Dan hati yang berseri-seri hanyalah hati
yang selalu berpikir positif bagi dirinya maupun orang lain.
Kebencian, berburuk sangka dan berpikir negatif hanya akan meracuni hati
kita. Sebab itulah, ketika Orang-orang Yahudi mengumpat Rasulullah
Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang sedang duduk santai bersama Aisyah
Radhiyallahu `Anha, dan Aisyah terpancing dengan balas menyumpahi mereka;
Rasulullah segera mengingatkan Aisyah, "Kamu tidak perlu begitu, karena
sesungguhnya Allah menyukai kesantunan dan kelemah-lembutan dalam segala
hal." (Riwayat Al- Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Ra.). Subhanallah!!
Beliau yang seorang utusan Allah dan pemimpin masyarakat muslim, yang
sebenarnya bisa dengan mudah membalas perlakuan Orang-orang Yahudi itu,
ternyata memilih untuk tetap santun dan berpikir positif –agar menjadi
teladan bagi seluruh umat manusia.
Senada dengan hadits di atas, ada ungkapan yang sangat menggugah dari
seorang sufi: "Yang paling penting adalah bagaimana kita selalu baik kepada
semua orang. Kalau kemudian ada orang yang tidak baik kepada kita, itu bukan
urusan kita, tapi urusan orang itu dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala."
Keempat, berpikir positif bisa membuat hidup kita lebih tenang, karena toh
Allah Subhanahu wa Ta'ala seringkali menyiapkan rencana- rencana yang
mengejutkan bagi hambaNya. Suatu saat, Umar bin Khaththab Radhiyallahu `Anhu
dirundung kegalauan yang menyesakkan.
Salah seorang puteri beliau, Hafshah Radhiyallahu `Anha, baru saja menjanda.
Maka Umar datang menemui Abu Bakar Radhiyallahu `Anhu menawarinya agar mau
menikahi Hafshah. Ternyata Abu Bakar menolak. Kemudian Umar menawari Utsman
bin Affan Radhiyallahu `Anhu untuk menikahi Hafshah, namun Utsman pun
menolaknya. (Shahih Al-Bukhari,
4/1471. Versi penjelasnya juga dapat dibaca dalam Tafsir Al- Qurthubi,
13/271).
Dalam kegalauan itu, Umar mengadu kepada Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa
Sallam tentang sikap kedua Sahabat tersebut. Maka Rasulullah menuntun Umar
agar selalu berpikir positif sehingga bisa menjalani hidup dengan legowo.
Rasulullah bahkan berdoa, "Semoga Allah akan menentukan pasangan bagi
Hafshah, yang jauh lebih dari Utsman; serta menentukan pasangan bagi Utsman,
yang jauh lebih baik dari Hafshah."
Ternyata, tak lama setelah itu, Rasulllah menikahkan Utsman dengan puteri
beliau sendiri. Dan setelah itu, beliau pun menikahi Hafshah.
Wassalam
Aswita
On Nov 29, 2007 10:53 PM, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamualaikum w.w. Dinda Prof Suheimi,
> Terima kasih atas posting Dinda yang telah menunjukkan ajaran Islam
> tentang perlunya kita berfikir positif. Izinkan saya menambah a la
> kadarnya beberapa pengalaman mengenai indahnya -- dan pentingnya -- berfikir
> positif ini, sebagai berikut.
> 1) Bung Karno pernah bercerita bahwa beliau dipenjara oleh rezim
> kolonial Belanda, beliau satu sel dengan seorang hukuman lain, seorang
> Belanda, di penjara Sukamiskin, Bandung. Sang Belanda ini begitu merasa
> tercekam dengan hukumannya itu, sehingga menjadi stress berat, putus asa,
> sakit, dan akhirnya meninggal. Lain dengan Bung Karno, yang menafsirkan
> hukumannya itu secara positif, yaitu sebagai kesempatan untuk merenungkan
> fikiran dari tokoh-tokoh besar dunia, sehingga tidak ada masalah bagi beliau
> dipenjara atau tidak. Beliau selamat.
> 2) Saudara-saudara kita di pulau Jawa sudah lama mempraktekkan berfikir
> positif ini. Jika mereka tergelincir dan luka, misalnya, mereka akan
> berkata: "Untung hanya luka, tidak patah". Mereka menamakan cara berfikir
> positif ini sebagai 'ilmu bejo'.
> 3) Dalam bentuk kecil-kecilan, saya banyak sekali tertolong oleh cara
> berfikir positif tersebut dalam menghadapi demikian banyak cobaan dan
> hambatan dalam hidup ini, sehingga saya bukan saja dapat mengatasinya tetapi
> justru dapat memanfaatkan cobaan dan hambatan itu sebagai motivasi untuk
> maju lebih lanjut. Oleh karena itu, secara sadar saya menganut cara berfikir
> positif yang ternyata islami ini dalam menjalani hidup, dan mengajarkannya
> secara berkelanjutan kepada sanak saudara dan anak cucu saya, yang ternyata
> juga telah merasakan manfaatnya.
> 4) Dalam rangka berminang-minang, jika ada buku yang berjudul :
> "Minangkabau di Tepi Jurang" (Jakarta, 2003) dan "Minangkabau yang Gelisah"
> (Bandung, 2003), saya justru menulis "Masih Ada Harapan" (2004).
> Jika para sanak ingin mengetahui lebih dalam masalah 'positive thinking'
> ini saya anjurkan untuk membaca antara lain buku klasik Dr Dale Carnegie
> mengenai hal itu.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
>
>
> *suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
> Indahnya Berpikiran positif
> Oleh : K Suheimi
>
> Suatu ceritra yang menggelitik dan jadi bahan renungan adalah sewaktu saya
> mendengar Radio Classy dengan judul Indahnya Berpikiran positif
> dan uang logam.
>
> Ceritra ini di olah oleh Yanti, dia rajin, sebulan yang lalu kebetulan
> melahirkan di Rs Bunda. Dan saya minta izin untuk ini disampaikan pada
> pembaca saya, semoga ada hikmah dan manfaatnya, selamat menikmati.
> Dan saya tersentak sewaktu mendengar resonansi jiwa dari Radio Classy. Yanti
> dengan manis mengubah satu kisah, dan kisah ni disampaikan oleh Adi dengan
> penuh perasaan. Saya kira ceritra ini bagus untuk kita simak bersama, begini
> kisahnya
>
>
> Ada seorang manager sebuah restoran ternama, yang selalu bersemangat dan
> punya hal positif untuk dikatakan,, Dimata karyawannya , si manager adalah
> seorang motivator alami,, Jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk,
> dia selalu ada di sana, memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi
> positif dari situasi yang tengah dialami,,
>
> Suatu hari , seorang karyawannya bertanya kepadanya ,
> "tuan… saya tidak mengerti! , bagaimana anda bisa berpikiran positif
> sepanjang waktu,,
> Mendengar pertanyaan karyawannya , simanagerpun menjawab ,
> "Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari
> ini,, Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih
> dalam suasana yang jelek,, Aku selalu memilih dalam suasana yang baik,, Tiap
> kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku
> belajar dari kejadian itu,,
>
> Beberapa tahun kemudian, restaurannya dirampok oleh tiga orang
> bersenjata,, saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup
> dan salah memutar nomor kombinasi,, Para perampok panik dan menembaknya,
> Untungnya, ia cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit,,
>
> Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif,
> si manager dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru
> masih berada di dalam tubuhnya,,
>
> Melihat keadaan itu , si karyawan pun kembali menanyakan apa yang dia
> pikirkan saat terjadinya perampokan,,
>
> Mendengar hal itu , sang managerpun menjawab
> "Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus
> mengunci pintu belakang, Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak
> di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk
> hidup atau mati,, Aku memilih untuk hidup,,"
>
> "Apakah anda tidak takut?" tanya si karyawan
>
> "anda tahu , para ahli medisnya sangat hebat,, Mereka terus berkata bahwa
> aku akan sembuh,, Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan
> melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut,, Mata mereka
> mengatakan kalau aku akan mati,, Karena itu aku katakan kepada mereka ,
> kalau Aku memilih untuk hidup,, Jadi aku minta mereka mengoperasiku sebagai
> orang hidup, bukan orang mati',,"
>
> Classy people , Satu hal yang benar-benar milik kita yang tidak bisa
> dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidup , sehingga jika kita bisa
> mengendalikannya dan segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah,,,
>
> Untuk itu saya teringat akan sebuah Firman suci_Nya dalam Al_Qur'an;
> Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (QS. 90:10)
> Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. (QS. 90:11)
> Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (QS. 90:12)
> (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, (QS. 90:13)
> atau memberi makan pada hari kelaparan, (QS. 90:14)
> kepada) anak yatim yang memberi kerabat, (QS. 90:15
> atau orang miskin yang sangat fakir. (QS. 90:16)
> Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk
> bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. (QS. 90:17)
> Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan
> kanan. (QS. 90:18)
>
> Padang 29 nov 2007
>
> Tulisan ini dapat dilihat di Website
> WWW.ksuheimi.blogspot.com<http://www.ksuheimi.blogspot.com/>
> ------------------------------
> Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail.
> See how.
> <http://us.rd.yahoo.com/evt=51732/*http://overview.mail.yahoo.com/>
> ------------------------------
> Never miss a thing.
> <http://us.rd.yahoo.com/evt=51732/*http://overview.mail.yahoo.com/> Make
> Yahoo your
> homepage.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs>
>
> >
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---