Ada yang berminat membantu disain toilet umum utk Sumbar? Silahkan baca di
Padeks hari ini:
http://www.kotasolok.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=7868
Pariwisata Sumatera Barat Berjalan Mundur atau Makin Terpuruk
Minggu, 02-Desember-2007, 12:15:03
Telah dibaca sebanyak 6 kali
KETIKA
masih jadi wartawan/koresponden Harian Pagi Kompas di Sumatera Barat
(1979-1983), Cucu Magek Dirih pernah mengkritik rombongan provinsi yang
.....
....menghadiri
bazar/pameran/promosi dagang/pariwisata Tong-tong di Belanda yang
menghabiskan dana ratusan juta rupiah (kini setara miliaran) — maklum
Cucu masih garang/baru keluar dari rimba kampus. Pertama, sudah biasa
jika ada rombongan ke Jakarta — apalagi kalau ke luar negeri, maka
pejabat/staf beserta istri yang masuk daftar dari peserta yang
seharusnya ikut pameran/menggelar dagangan di pameran/promosi dagang
internasional itu — pejabat/staf instansi/istri memang punya hobi
tourney. (ketika jadi wartawan/koresponden Kompas Riau 1983-1987 —
sebelum dipecah jadi Riau dan Kepulauan Riau, Cucu pernah mengkritik
rombongan guru daerah terpencil yang dibawa ke Istana Negara/diterima
Presiden/Nyonya Soeharto, yang didominasi pejabat/staf dinas pendidikan
provinsi/istri).
Kedua, kritik muncul setelah rombongan pulang bercerita dengan
gelak-tawa /riuh rendah. Bahwa, betapa stand mereka ramai
dikunjungi/pengunjung pun ada yang dari beberapa negara tetangga
Belanda. Di antara cerita yang didengar Cucu, bahwa banyak sekali
pengusaha berminat membeli produk khas daerah Sumatera Barat yang
dipamerkan. Mereka memberikan kartu nama/nomor L/C, dan mereka meminta
dapat dikirimkan sekian kali tiga bulan setelah pameran/bazar/pesta
itu. Lalu, apa jawab yang diberikan penjaga stand pada pengusaha yang
berminat itu: “Oo, tidak bisa,” kata mereka sambil tertawa cengengesan.
Rupa-rupanya, penjaga stand itu bukan produsen, tapi, staf instansi
atau istri mereka yang ikut dalam rombongan provinsi — barang yang
dipamerkan juga materi yang dibawa instansi, bukan materi dari
produsen/pengrajin bersama produsen/pengajin yang bersangkutan. Lagi,
pengrajin skala usaha kecil tidak mungkin langsung mengakses pasar
global.
Agar tak penasaran — sekaligus jadi pembanding, soal guru dari
daerah terpencil Riau itu dibawa ke Istana Negara dan bertemu Presiden
Soeharto sebagai sebuah “prestasi/kehebatan daerah” provinsi Riau.
Maklumlah daerah Riau (masih termasuk Kepulauan Riau yang kini sudah
jadi provinsi sendiri) masih banyak yang terpencil. Pendidikan masih
buruk. Di beberapa daerah terdapat sekolah dasar dengan jarak rumah
warga ke sekolah masih sangat jauh. Nah, yang mengajar di SD seperti
itu disebut guru di daerah terpencil. Ketika Pak Harto/Ny. Tien
berdialog dengan penuh perhatian bersama para pahlawan tanpa tanda jasa
dari daerah terpencil ini, rupanya yang ditanya adalah staf Dinas
Pendidikan Provinsi Riau dan atau istri mereka (waktu itu kantor
wilayah pendidikan menangani sekolah menengah dan dinas pendidikan
provinsi menangani sekolah dasar), jawaban yang diberikan membuat dari
Pak Harto berkerut. Blunder ini kemudian jadi gunjingan.
Di Padang, Sumatera Barat — sekali dalam setahun/sejak beberapa
tahun terakhir dan dengan proyek/biaya sampai miliaran rupiah, digelar
acara/ritual Dinas Pariwisata dan Seni-budaya yang diberi nama Pekan
Budaya. Peserta pemerintah daerah (Pemda) kabupaten/kota dan
masyarakat. Tak begitu jelas bagi Cucu Magek Dirih apa latar belakang
pikir dan maksud/tujuan penyelenggaraan agenda menghabiskan dana APBD
(provinsi dan karenanya juga kabupaten/kota). Ambil contoh, pekan
budaya yang baru berlangsung Juni 2007 lalu yang dibuka Wakil Presiden
Drs. H. Mohammad Jusuf Kalla. Entah karena maksudnya hanya untuk
menghabiskan anggaran yang sudah ada dalam APBD atau justru lebih
karena ketidakbecusan Kepala Dinas Pariwisata dan Seni-budaya bersama
pihak/oknum penting yang terlibat/dilibatkan, yang pasti pesta budaya
atau entah apa namanya, lenggang/sepi pungunjung. Tidak banyak
masyarakat yang berminat datang/mengunjunggi.
Bandingkan dengan pameran buku dalam tiga tahun ini yang digelar di
Gedung Bagindo Aziz Chan Padang — pintar juga/mulai tahun 2007 ini
terlibat Kantor Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Barat menggelar
bedah buku Efrinanldi MAg, Ph.D yang ternyata mampu menyedot peminat
yang membludak. Bukan karena Cucu bersama Harian Pagi Padang Ekspres
mendukung pameran buku itu sejak semula. Soalnya, untuk pameran yang
pertama (2005), sampai Gedung Aziz chan yang tidak lengkap fasilitas
saja harus disewa — pejabat yang berkaitan tidak hendak mendukung dan
atau melancarkan. Tapi, Allah Maha Besar/Pengasih/Penyayang — ada
hadist menyebutkan “jika hendak maju di dunia dengan ilmu/masuk surga
dengan ilmu/mau keduanya dengan ilmu dan kalau perlu tuntut ilmu ke
negeri yang jauh/biar beda agama pun”, pengunjung pameran buku
membludak luar biasa. Peserta pameran suka cita. Ilmu, antara lain,
memang tersimpan dalam lembaran buku.
Semula ada kekhawatiran panitia pameran buku — seperti dikemukakan
Yusrizal KW/Nita Indrawati — kemungkinan jumlah pengunjung pameran buku
akan sedikit. Tapi, terbukti, tidak hanya jumlah pengunjung
membludak/transaksi buku luma yan pula — penutupan sampai ditunda atas
permintaan masyarakat! Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi)/peserta
pameran buku berterima kasih pada panitia penyelenggara dan
mengapresiasi minat baca/daya beli buku masyarakat Sumatera Barat.
Tidak terbayang semula — Cucu ikut merasa bahagia. Panitia
menyelenggarakan pameran buku tahun 2006, dan sukses. Dan, tahun 2007.
Juga sangat sukses Pameran buku yang diselenggarakan beberapa orang
hebat/berdedikasi tinggi demi kemajuan daerah/masyarakat tersebut —
walau belum mendapat dukungan memadai (masuk APBD, misalnya) dari
Pemda/Gubernur Gamawan, dapat dipandang sebagai bagian upaya/usaha
mencerdaskan masyarakat Sumatera Barat.
MEMANG, ada saat pemerintah menghabiskan dana APBD cukup besar,
tapi, hasilnya tidak cukup berbanding dengan
dana/organisasi/personel/waktu/ruang (resouces) dibelanjakan. ICOR
buruk, dan pemerintah cenderung tak pernah berpikir/menggunakan
instrumen ICOR!? Pemda/sebagian pejabat berpikir memasukkan anggaran —
sejauh mungkin menjadi proyek pengadaan/pisik, dan merasa sudah
berhasil dengan membelanjakan/menghabis-habiskan anggaran!? Mungkin
karena Cucu Magek Dirih adalah wartawan yang menjadi pedagang — lagi
pula ia memang/selalu merasa dari keluarga miskin, setiap
rupiah/organisasi/personel/peralatan digunakan/logistik/ruang/waktu
dibelanjakan selalu dimaksudkan benar-benar untuk mencapai
tujuan/sasaran/target! Bahkan, karena itu Cucu Magek Dirih tidak
populer di kalangan staf/memang tidak memikirkan popularitas, anggaran
yang dialokasikan tak dihabis-habiskan/selalu dinilai ulang sebelum
dibelanjakan.
Di masa Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas (1977-1987) — beliau
orang kerja yang berdedikasi tinggi dan sedikit bicara/berwacana —
mengembangkan konsep manunggal ABRI/untuk strategi itu pula ia
menonjol, selalu menghitung perbandingan dana/bahan/partisipasi
masyarakat dengan nilai hasil yang berlipat ganda. Azwar dapat
menunjukkan pada masyarakat bukti nyata hasil yang dinikmati masyarakat
sehingga partisipasi/gotong-royong masyarakat tetap
terpelihara/mengatasi keterbatasan dana pemerintah. Entah di mana/saat
gubernur siapa keunggulan dibuktikan Jenderal Purn. TNI Ir. H. Azwar
Anas itu tercapak. Gubernur Gamawan Fauzi Dahlan, bangga menyatakan —
kemudian dibukukan – “pemerintah yang tidak bertepi”. Maksudnya,
masyarakat tidak mau berpatisipasi karena menganggap sudah ada dana
proyeknya. Ketua PWI Sumatera Barat Drs. H. Mufti Sarfi MM saja minta
Gubernur Gamawan membantu pembangunan mushallanya.
Lalu, perkara pejabat suka/gandrung/menikmati jalan-jalan ke
Jakarta dan bahkan ke luar negeri — seperti banyak digunjingkan
berkaitan dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Provinsi
Sumatera Barat Prof. Dr. Ir. James Hellyward MS, misalnya, memang
memprihatinkan/jadi concern kita bersama. Sudah tiga tahun ini, dan
sebetulnya ada format pengelolaan pariwisata Sumatera Barat dengan 10
destinasi/anggaran pariwisata provinsi tak dibagi per kabupaten/kota,
dan karena pariwisata memang tidak dapat dibelah-belah menurut
kabupaten/kota, toh sampai sekarang tidak kelihatan ada langkah maju —
sama ada untuk penyelenggaraan pekan budaya. Bahkan, Gubernur Gamawan
sudah menyatakan, pariwisata harus jadi andalan, karena pertanian sudah
tidak dapat diharapkan — walau Cucu merasa aneh/tidak sependapat pada
pernyataan Gubernur Gamawan tentang peran/kontribusi pertanian sebagai
tidak strategis/penting lagi.
Kita tak mungkin untuk mengatakan, Prof James tidak mempunyai
kemampuan akademik – entah kalau karena disiplin/bidang studinya tak
cocok? Agaknya Prof James tentu lebih tahu dari Cucu Magek Dirih
tentang bidang dalam dinas yang dipimpinnya. Masalahnya, seperti kata
Prof. Dr. H. Quraish Shihab MA bahwa kita jangan menerima amanah kalau
merasa tak dapat menjalankannya! Sungguh sayang/amat disayangkan kalau
pariwisata yang dinyatakan Gubernur Gamawan sebagai andalan. Gamawan
pernah sering mengatakan — juga di depan forum elite Muhammadiyah, lalu
pariwisata tidak tertangani dengan benar. Kata Gubernur Gamawan, kalau
saja swasta membantu pembangunan toilet di sepanjang jalan pariwisata.
Cucu yang terviasa basilantehangan/tidak berbasa-basi, mengatakan
kepada Gamawan, pernyataannya itu harus maju selangkah lagi. Apa boleh
buat, Cucu harus mengatakan apa adanya. Kiranya Gamawan tidak loosing
face.
Kalau saja Dinas Pariwisata dan Seni-budaya Sumatera Barat
men-design toilet yang akan dibangun, lengkap rancang arsitektur,
berapa biaya/toilet, dan di titik-titik mana saja akan dibangun, biar
Cucu nan manjojo-an. Pasti segera dapat dibangun! Yang diperlukan bukan
pendapat/wacana hebat, tapi, apa rencana aksi. Tapi, sudahlah. Kalau
sekarang pariwisata berjalan mundur dan Insyaallah akan semakin
terpuruk, apa peduli Dinas Pariwisata dan Seni Budaya? Toh sudah ada
kambing hitam: gempa yang beruntun — masih akan terus beruntun dan
ancaman tsunami yang tak berketentuan. Beres, kan!?*** H. Sutan Zaili
Asril
____________________________________________________________________________________
Get easy, one-click access to your favorites.
Make Yahoo! your homepage.
http://www.yahoo.com/r/hs
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---