Alaikumsalam Usa Saaf dan sanaks., Serancaknya ajakan udako ditaruihan ka pihak2 nan concern. Formalkan dalam bentuk surat ka "tigo tungku wisata" Sumbar. Musda Asita (bilo?) bisa dijadikan ajang pertemuan berkelnajutan kepada pembentukan WSTB. Kan kebetulan tigo tungku tu sadang dikumpuakna oleh Asita Sumbar. Ayolah pacapek Karya-nyata, pindah segera dari wacana dan kata-kata. Wassalam ajoduta
"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamualaikum w.w. sanak sapalanta, Kalau ambo indak salah, tulisan cucu Magek Dirih ko adolah nan paliang tajam tantang sanak ambo Prof Dr Ir James Hellyward, sabagai Kapalo Dinas Pariwisata. Sampai taraf tertentu ambo mandukuang kritik padeh baliau ko. Namun nan labiah penting adolah apo nan akan kito karajokan untuk mameloki apo nan kurang dala mamajukan pariwisata di nagari kito tu. Sacaro pribadi nan nampak dek ambo langkah nan paralu kito ambiak basamo adolah: 1) Mari kito duduak sameja marundiangkan apo nan akan kito pabuek untuak mameloki pariwisata tu. 2) Duduak sameja tu jan salincam-salincam sajo, tapi dibuekkan limbagonyo, kok lai satuju namonyo: "West Sumatra Tourism Board" (WSTB) nan alah lazim dima-dima. 3) Karano mamaciang pitih jo pitih, dan soal pitih ko masuak wewenang DPRD Sumbar, yo paralu bana duduak dalam WSTB tu komisi DPRD nan basangkutan. 4) Karano maambiak tuah dari nan manang, paralu kiti bandiangkan efektifitas dan efisiensi panggunoan anggaran pariwisata APBD Sumbal salamo ko, kalau bisa jo daerah lain satingkek jo kito, misalnyo Jambi atau Bengkulu. Ambo danga banyak bana pangaluaran nan salain indak efejtif juo indak efisien. Kok Iyo co itu, praktek sarupo tu harus dihantikan. Talabiah takurang mohon maaf. Wassalam, Saafroedin Bahar Yulnofrins Napilus <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Ada yang berminat membantu disain toilet umum utk Sumbar? Silahkan baca di Padeks hari ini: http://www.kotasolok.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=7868 Pariwisata Sumatera Barat Berjalan Mundur atau Makin Terpuruk Minggu, 02-Desember-2007, 12:15:03 Telah dibaca sebanyak 6 kali KETIKA masih jadi wartawan/koresponden Harian Pagi Kompas di Sumatera Barat (1979-1983), Cucu Magek Dirih pernah mengkritik rombongan provinsi yang ..... ....menghadiri bazar/pameran/promosi dagang/pariwisata Tong-tong di Belanda yang menghabiskan dana ratusan juta rupiah (kini setara miliaran) maklum Cucu masih garang/baru keluar dari rimba kampus. Pertama, sudah biasa jika ada rombongan ke Jakarta apalagi kalau ke luar negeri, maka pejabat/staf beserta istri yang masuk daftar dari peserta yang seharusnya ikut pameran/menggelar dagangan di pameran/promosi dagang internasional itu pejabat/staf instansi/istri memang punya hobi tourney. (ketika jadi wartawan/koresponden Kompas Riau 1983-1987 sebelum dipecah jadi Riau dan Kepulauan Riau, Cucu pernah mengkritik rombongan guru daerah terpencil yang dibawa ke Istana Negara/diterima Presiden/Nyonya Soeharto, yang didominasi pejabat/staf dinas pendidikan provinsi/istri). Kedua, kritik muncul setelah rombongan pulang bercerita dengan gelak-tawa /riuh rendah. Bahwa, betapa stand mereka ramai dikunjungi/pengunjung pun ada yang dari beberapa negara tetangga Belanda. Di antara cerita yang didengar Cucu, bahwa banyak sekali pengusaha berminat membeli produk khas daerah Sumatera Barat yang dipamerkan. Mereka memberikan kartu nama/nomor L/C, dan mereka meminta dapat dikirimkan sekian kali tiga bulan setelah pameran/bazar/pesta itu. Lalu, apa jawab yang diberikan penjaga stand pada pengusaha yang berminat itu: Oo, tidak bisa, kata mereka sambil tertawa cengengesan. Rupa-rupanya, penjaga stand itu bukan produsen, tapi, staf instansi atau istri mereka yang ikut dalam rombongan provinsi barang yang dipamerkan juga materi yang dibawa instansi, bukan materi dari produsen/pengrajin bersama produsen/pengajin yang bersangkutan. Lagi, pengrajin skala usaha kecil tidak mungkin langsung mengakses pasar global. Agar tak penasaran sekaligus jadi pembanding, soal guru dari daerah terpencil Riau itu dibawa ke Istana Negara dan bertemu Presiden Soeharto sebagai sebuah prestasi/kehebatan daerah provinsi Riau. Maklumlah daerah Riau (masih termasuk Kepulauan Riau yang kini sudah jadi provinsi sendiri) masih banyak yang terpencil. Pendidikan masih buruk. Di beberapa daerah terdapat sekolah dasar dengan jarak rumah warga ke sekolah masih sangat jauh. Nah, yang mengajar di SD seperti itu disebut guru di daerah terpencil. Ketika Pak Harto/Ny. Tien berdialog dengan penuh perhatian bersama para pahlawan tanpa tanda jasa dari daerah terpencil ini, rupanya yang ditanya adalah staf Dinas Pendidikan Provinsi Riau dan atau istri mereka (waktu itu kantor wilayah pendidikan menangani sekolah menengah dan dinas pendidikan provinsi menangani sekolah dasar), jawaban yang diberikan membuat dari Pak Harto berkerut. Blunder ini kemudian jadi gunjingan. Di Padang, Sumatera Barat sekali dalam setahun/sejak beberapa tahun terakhir dan dengan proyek/biaya sampai miliaran rupiah, digelar acara/ritual Dinas Pariwisata dan Seni-budaya yang diberi nama Pekan Budaya. Peserta pemerintah daerah (Pemda) kabupaten/kota dan masyarakat. Tak begitu jelas bagi Cucu Magek Dirih apa latar belakang pikir dan maksud/tujuan penyelenggaraan agenda menghabiskan dana APBD (provinsi dan karenanya juga kabupaten/kota). Ambil contoh, pekan budaya yang baru berlangsung Juni 2007 lalu yang dibuka Wakil Presiden Drs. H. Mohammad Jusuf Kalla. Entah karena maksudnya hanya untuk menghabiskan anggaran yang sudah ada dalam APBD atau justru lebih karena ketidakbecusan Kepala Dinas Pariwisata dan Seni-budaya bersama pihak/oknum penting yang terlibat/dilibatkan, yang pasti pesta budaya atau entah apa namanya, lenggang/sepi pungunjung. Tidak banyak masyarakat yang berminat datang/mengunjunggi. Bandingkan dengan pameran buku dalam tiga tahun ini yang digelar di Gedung Bagindo Aziz Chan Padang pintar juga/mulai tahun 2007 ini terlibat Kantor Perpustakaan Daerah Provinsi Sumatera Barat menggelar bedah buku Efrinanldi MAg, Ph.D yang ternyata mampu menyedot peminat yang membludak. Bukan karena Cucu bersama Harian Pagi Padang Ekspres mendukung pameran buku itu sejak semula. Soalnya, untuk pameran yang pertama (2005), sampai Gedung Aziz chan yang tidak lengkap fasilitas saja harus disewa pejabat yang berkaitan tidak hendak mendukung dan atau melancarkan. Tapi, Allah Maha Besar/Pengasih/Penyayang ada hadist menyebutkan jika hendak maju di dunia dengan ilmu/masuk surga dengan ilmu/mau keduanya dengan ilmu dan kalau perlu tuntut ilmu ke negeri yang jauh/biar beda agama pun, pengunjung pameran buku membludak luar biasa. Peserta pameran suka cita. Ilmu, antara lain, memang tersimpan dalam lembaran buku. Semula ada kekhawatiran panitia pameran buku seperti dikemukakan Yusrizal KW/Nita Indrawati kemungkinan jumlah pengunjung pameran buku akan sedikit. Tapi, terbukti, tidak hanya jumlah pengunjung membludak/transaksi buku luma yan pula penutupan sampai ditunda atas permintaan masyarakat! Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi)/peserta pameran buku berterima kasih pada panitia penyelenggara dan mengapresiasi minat baca/daya beli buku masyarakat Sumatera Barat. Tidak terbayang semula Cucu ikut merasa bahagia. Panitia menyelenggarakan pameran buku tahun 2006, dan sukses. Dan, tahun 2007. Juga sangat sukses Pameran buku yang diselenggarakan beberapa orang hebat/berdedikasi tinggi demi kemajuan daerah/masyarakat tersebut walau belum mendapat dukungan memadai (masuk APBD, misalnya) dari Pemda/Gubernur Gamawan, dapat dipandang sebagai bagian upaya/usaha mencerdaskan masyarakat Sumatera Barat. MEMANG, ada saat pemerintah menghabiskan dana APBD cukup besar, tapi, hasilnya tidak cukup berbanding dengan dana/organisasi/personel/waktu/ruang (resouces) dibelanjakan. ICOR buruk, dan pemerintah cenderung tak pernah berpikir/menggunakan instrumen ICOR!? Pemda/sebagian pejabat berpikir memasukkan anggaran sejauh mungkin menjadi proyek pengadaan/pisik, dan merasa sudah berhasil dengan membelanjakan/menghabis-habiskan anggaran!? Mungkin karena Cucu Magek Dirih adalah wartawan yang menjadi pedagang lagi pula ia memang/selalu merasa dari keluarga miskin, setiap rupiah/organisasi/personel/peralatan digunakan/logistik/ruang/waktu dibelanjakan selalu dimaksudkan benar-benar untuk mencapai tujuan/sasaran/target! Bahkan, karena itu Cucu Magek Dirih tidak populer di kalangan staf/memang tidak memikirkan popularitas, anggaran yang dialokasikan tak dihabis-habiskan/selalu dinilai ulang sebelum dibelanjakan. Di masa Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas (1977-1987) beliau orang kerja yang berdedikasi tinggi dan sedikit bicara/berwacana mengembangkan konsep manunggal ABRI/untuk strategi itu pula ia menonjol, selalu menghitung perbandingan dana/bahan/partisipasi masyarakat dengan nilai hasil yang berlipat ganda. Azwar dapat menunjukkan pada masyarakat bukti nyata hasil yang dinikmati masyarakat sehingga partisipasi/gotong-royong masyarakat tetap terpelihara/mengatasi keterbatasan dana pemerintah. Entah di mana/saat gubernur siapa keunggulan dibuktikan Jenderal Purn. TNI Ir. H. Azwar Anas itu tercapak. Gubernur Gamawan Fauzi Dahlan, bangga menyatakan kemudian dibukukan pemerintah yang tidak bertepi. Maksudnya, masyarakat tidak mau berpatisipasi karena menganggap sudah ada dana proyeknya. Ketua PWI Sumatera Barat Drs. H. Mufti Sarfi MM saja minta Gubernur Gamawan membantu pembangunan mushallanya. Lalu, perkara pejabat suka/gandrung/menikmati jalan-jalan ke Jakarta dan bahkan ke luar negeri seperti banyak digunjingkan berkaitan dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Provinsi Sumatera Barat Prof. Dr. Ir. James Hellyward MS, misalnya, memang memprihatinkan/jadi concern kita bersama. Sudah tiga tahun ini, dan sebetulnya ada format pengelolaan pariwisata Sumatera Barat dengan 10 destinasi/anggaran pariwisata provinsi tak dibagi per kabupaten/kota, dan karena pariwisata memang tidak dapat dibelah-belah menurut kabupaten/kota, toh sampai sekarang tidak kelihatan ada langkah maju sama ada untuk penyelenggaraan pekan budaya. Bahkan, Gubernur Gamawan sudah menyatakan, pariwisata harus jadi andalan, karena pertanian sudah tidak dapat diharapkan walau Cucu merasa aneh/tidak sependapat pada pernyataan Gubernur Gamawan tentang peran/kontribusi pertanian sebagai tidak strategis/penting lagi. Kita tak mungkin untuk mengatakan, Prof James tidak mempunyai kemampuan akademik entah kalau karena disiplin/bidang studinya tak cocok? Agaknya Prof James tentu lebih tahu dari Cucu Magek Dirih tentang bidang dalam dinas yang dipimpinnya. Masalahnya, seperti kata Prof. Dr. H. Quraish Shihab MA bahwa kita jangan menerima amanah kalau merasa tak dapat menjalankannya! Sungguh sayang/amat disayangkan kalau pariwisata yang dinyatakan Gubernur Gamawan sebagai andalan. Gamawan pernah sering mengatakan juga di depan forum elite Muhammadiyah, lalu pariwisata tidak tertangani dengan benar. Kata Gubernur Gamawan, kalau saja swasta membantu pembangunan toilet di sepanjang jalan pariwisata. Cucu yang terviasa basilantehangan/tidak berbasa-basi, mengatakan kepada Gamawan, pernyataannya itu harus maju selangkah lagi. Apa boleh buat, Cucu harus mengatakan apa adanya. Kiranya Gamawan tidak loosing face. Kalau saja Dinas Pariwisata dan Seni-budaya Sumatera Barat men-design toilet yang akan dibangun, lengkap rancang arsitektur, berapa biaya/toilet, dan di titik-titik mana saja akan dibangun, biar Cucu nan manjojo-an. Pasti segera dapat dibangun! Yang diperlukan bukan pendapat/wacana hebat, tapi, apa rencana aksi. Tapi, sudahlah. Kalau sekarang pariwisata berjalan mundur dan Insyaallah akan semakin terpuruk, apa peduli Dinas Pariwisata dan Seni Budaya? Toh sudah ada kambing hitam: gempa yang beruntun masih akan terus beruntun dan ancaman tsunami yang tak berketentuan. Beres, kan!?*** H. Sutan Zaili Asril --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. --------------------------------- Get easy, one-click access to your favorites. Make Yahoo! your homepage. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
