Selasa 06 November 2007
Sastra Minangkabau Modern: Antara Ada dan Tiada
OLEH Suryadi

Istilah "Sastra Minangkabau Modern" muncul dalam SMS yang saya terima
dari Dekan Fakultas Sastra Universitas Andalas, Dra. Adriyetti Amir,
SU, yang memberitahukan bahwa kiriman off-print artikel saya,
"Vernacular Intelligence: Colonial Pedagogy and the Language Question
in Minangkabau" (Indonesia and the Malay World 34:100, 2006: 315-44)
telah beliau terima. "Saya minta Suryadi juga menulis sesuatu tentang
Sastra Minang Modern. Itu diperlukan untuk bahan pelajaran di Jurusan
Bahasa & Sastra Minangkabau, Fakultas Sastra UNAND," kata Dra.
Adriyetti Amir, SU dalam SMS-nya kepada saya.
Sudah sejak beberapa tahun yang lalu saya berencana menulis satu
artikel untuk konsumsi internasional – kalaulah tidak akan
menghasilkan sebuah buku – tentang fenomena dan perkembangan Bahasa
dan Sastra Minangkabau sejak tahun 1970-an sampai tahun 2000-an. Namun
karena kesibukan sehari-hari mengajar di Universitas Leiden, rencana
itu agak terbengkalai. Hal itu menjadi terpikirkan kembali setelah
saya menerima SMS Dekan Fakultas Sastra UNAND itu.
Artikel pendek ini lebih merupakan ajakan kepada akademikus di Sumatra
Barat untuk memperkatakan Sastra Minangkabau Modern. Sebuah disksusi
budaya atau seminar ilmiah mengenai hal ini kiranya patut diadakan
dalam rangka memikirkan masa depan Bahasa, Sastra, dan Budaya
Minangkabau. Di sini saya mencoba menyampaikan pemikiran saya tentang
Sastra Minangkabau Modern berdasarkan bahan-bahan yang sudah saya
kumpulkan dan berdasarkan penelusuran kepustakaan yang sudah dan
sedang saya lakukan.
Sejauh yang saya ketahui belum ada penelitian yang mendalam tentang
fenomena dan perkembangan Sastra Minangkabau sepanjang seperempat
terakhir abad ke-20 dan dekade pertama abad ke-21 yang sedang kita
jalani ini, dalam artian bagaimana fenomena Sastra (dan Bahasa)
Minangkabau itu dalam hubungannya dengan budaya cetak dan media
pandang-dengar modern yang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari orang
Minang sekarang. Apakah Sastra Minang berkembang mengikuti perubahan
sosial masyarakat Minangkabau sendiri?
Satu di antara amat sedikit peneliti yang pernah mengamati
perkembangan Sastra Minangkabau tahun 1970-an dan 1980-an, lisan
maupun tulisan, adalah Nigel Phillips. Beliau telah menulis beberapa
artikel mengenai hal ini, yaitu "Notes on Modern Literature in West
Sumatra" (Indonesia Circle 12,1977: 12-20); "'Kotaku Sayang, Wahai
Kotaku': A Poem by Rusli Marzuki Saria, Introduced and Translated by
Nigel Phillips (Indonesia Circle 13, 1977: 26-32); "Minangkabau
Languages and Literature". In E. Ulrich Kratz (ed.), Southeast Asian
Languages and Literature: A Bibliographical Guide to Burmese,
Cambodian, Indonesian, Javanese, Malay, Minangkabau, Thai and
Vietnamese. London: I.B. Tauris, 1996, pp. 291-308; dan "Two
Minangkabau Short Stories by Nasrul Siddik, introduced and translated
by Nigel Phillips" (Indonesia and the Malay World 77, 1999: 64-71).
Nigel Phillips juga mengamati tema-tema baru dalam beberapa kaba
Minang yang diceritakan dalam tradisi rabab Pasisia (gaya baru) dan
dendang Pauah serta pengaruh hubungan tukang kaba (storyteller;
singer) dan khalayak (audience) terhadap teks cerita (kaba), seperti
dapat dikesan misalnya dalam artikelnya "Some Ideas Expressed in
Minangkabau Oral Story" (Tenggara 21/22, 1988: 171-84); "Two variant
Forms of Minangkabau Kaba". In J.J. Ras and S.O. Robson (eds.),
Variation, Transformation and Meaning: Studies on Indonesian
Literature in Honour of A.Teeuw (Leiden: KITLV Press, 1991: 73-86); "A
Note on the Relationship between Singer and Audience in West Sumatran
Story-telling" (Indonesia Circle 58, 1992: 67-70); dan "Perhubungan
antara Tukang Rebab 'Gaya Baru' dengan Pendengarnya". Dalam Sahlan
Mohamad Saman (ed.), Pengarang, Teks dan Khalayak (Kuala Lumpur: DBP,
1994, hlm. 196-202). Selain itu, ada satu artikel dari Edwin Wieringa,
"The Kaba Zamzami jo Marlaini: Continuity, Adaptation, and Change in
Minangkabau Storytelling" (Indonesia and the Malay World 73, 1997:
235-51) yang didasarkan atas transliterasi kaba itu yang dikerjakan
oleh Suryadi (1993; lihat di bawah).
Menurut pendapat saya yang daif, Sastra Minang Modern, dalam artian
bentuk ekspresi sastra yang eksis dalam tulisan, baik berupa novel,
cerpen, atau bentuk-bentuk ekspresi lainnya (cerita bersambung, esai,
komik, dll.) kurang berkembang. Ia antara ada dan tiada, atau kalau
memakai ungkapan Minang: taraso lai, tampak indak. Terbitnya satu buku
baru-baru ini dalam Bahasa Minang yang dapat dikategorikan sebagai
karya 'sastra', yaitu Tigo Carito Randai oleh Musra Darizal Katik &
Mangkuto (Padang: Dewan Kesenian Sumatra Barat, 2007), misalnya, tak
dapat dijadikan indikator bahwa Sastra Minang Modern eksis.
Ada lusinan penulis Minang sejak zaman kolonial sampai sekarang –
"Minangkabau tak akan kekurangan penulis", demikian kata Budayawan
Wisran Wadi – tapi tak banyak yang menulis dalam bahasa ibunya. Setahu
saya, satu-satunya antologi cerpen yang terbit dalam Bahasa
Minangkabau adalah karya Nasrul Siddik, Saputangan Sirah Baragi
(Padang: Genta, 1966). Jadi, antologi ini terbit waktu saya baru
berumur setahun). Antologi ini diindonesiakan oleh almarhum Mursal
Esten dengan judul yang sama dan diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa tahun 1993. Dalam rentang 4 dekade setelah itu tak
pernah kedengaran teks sastra dalam Bahasa Minang diterbitkan.
Walaupun judul novel Nazif Basir, Tersapa di Rimba Panti (Padang:
Genta,1966) agak berbau "bicaro gaduang" (Bahasa Minang halus), tapi
rupanya teks novel suami Elly Kasim itu ditulis dalam Bahasa Indonesia
(gaya Minang?) (Kata tasapo diindonesiakan menjadi tersapa yang tak
sepenuhnya dapat mentrasfer makna aslinya. Kata tasapo membayangkan
subjek yang 'menyapa' adalah makhluk halus. Kata tersapa tidak membawa
makna itu).
Walhasil, agak sulit melihat hasil nyata produk Sastra Minang mutakhir
yang muncul dalam bentuk tulisan.Bentuk-bentuk ekspresi dalam Bahasa
Minang ragam tulis hanya terbatas pada kolom-kolom kritik dan refleksi
pendek yang terbit dalam edisi Minggu beberapa koran terbitan Sumatra
Barat seperti Haluan, Singgalang, dan sekarang Padang Ekspres (Lihat
dua kolom kritik dengan tokoh Jila dan Atang dan Sabai dan Mangkutak
oleh Wisran Hadi yang cukup rutin muncul dan rubrik Ciloteh Minang
oleh Viveri Yudy yang sayangnya sekarang sudah berhenti pula terbit).
Selain Wisran Hadi yang dikenal sebagai sastrawan dan budayawan di
tingkat nasional, penulis-penulis lain kolom-kolom seperti itu,
seperti Papasi Candra (saya kira ini pseudonym: ayahnya Si Chandra),
Cui Indra, dan Sawir Pribadi, lebih dikenal sebagai wartawan dan
penulis lokal. Seperti saya katakan, hakekat tulisan-tulisan seperti
itu adalah refleksi budaya dan kritik sosial ringan sambil bagarah
(juga mengandung cimeeh). Sesekali muncul dalam bentuk cerpen yang
sedehana sekali. Sebelum tahun 1980-an keadaannya relatif sama: ada
beberapa rubrik seperti itu dalam koran-koran yang terbit di Padang.
Malah dulu setiap koran memiliki feulleton (cerbung), tapi ditulis
dalam Bahasa Indonesia, misalnya Tikam Samurai (yang kemudian
dibukukan) dan Huru-Hara di Ngalau Kamang. Kolom-kolom seperti itu
kadang-kadang ditemukan juga dalam beberapa majalah yang umumnya tak
berumur panjang, misalnya majalah Kaba yang diterajui oleh Asbon Budi
Nan Haza. Di zaman kolonial lusinan koran pernah terbit di Padang –
lihat misalanya Ahmat Adam, "The Vernacular Press in Padang,
1865-1913". Akademika 7, 1975: 75-99 – namun tidak ada Koran yang
seluruh rubriknya berbahasa Minang. Bahkan, media-media kaum adat
seperti Oetoesan Alam Minangkabau: Sasaran Penghoeloe Medan Ra'jat
(Padang: Drukkerij S[oematra Bode]; nomor pertama terbit 1939) juga
tidak memamakai Bahasa Minangkabau. Majalah-majalah berbahasa daerah
yang terbit rutin seperti Mangle untuk Budaya Sunda dan Jaka Lodang
untuk Budaya Jawa, dimana para penulis lokal, kadang-kadang juga
penulis nasional yang berasal dari etnis bersangkutan, dapat
mengekpresikan ide dan pikirannya dalam bahasa ibunya sendiri, tidak
pernah muncul dari rahim kebudayaan Minangkabau.
Tinggal pertanyaan: mengapa para penulis Minang enggan menulis dalam
bahasa ibunya (mother tongue)? Jawabannya yang sederhana: karena
mereka ingin menulis dalam bahasa yang pembacanya lebih banyak, yaitu
Bahasa Indonesia. Tapi jawaban dari segi ilmiah tentu tidak
sesederhana itu. Untuk memahami hal itu kita perlu mengkaji lebih jauh
aspek sosio linguistik Bahasa Minang dan sejarah Bahasa Minangkabau
ragam tulis, serta konvensi kesastraan Minangkabau. Dalam kaitannya
dengan hal ini, menarik apa yang dikatakan Nigel Phillips kepada saya
bahwa ia pernah mewawancarai penyair terkemuka Sumatra Barat, 'Papa'
Rusli Marzuki Saria, yang mengatakan kepadanya bahwa "dia ['Papa
Rusli] ada mencoba menulis puisi dalam Bahasa Minang, tetapi kosa kata
Bahasa Minang tidak mencukupi untuk menyampaikan maksudnya" (Phillips,
email 27-6-2007).
Jika ditinjau dari segi isi, maka apa yang disebut Sastra Minang
Modern itu – kalau memang ada – mestinya mempunyai satu ciri yang
berbeda dengan yang tradisional. Kata "modern" itu tentu mencirikan
sesuatu yang baru pada sebuah teks – bisa jadi konvensi penulisannya,
gaya bahasa, latar cerita, tema yang diusung, dan lain sebagainya.
Banyak kaba yang diterbitkan dalam bentuk buku sekarang, tapi
hakekatnya tetap Sastra Minangkabau Tradisional, sebab teksnya tak
lain hanyalah pemindahan dari lisan ke tulisan (kebanyakan
transliterasi, sedikit yang berupa saduran). Kaba-kaba tertulis itu
tak menawarkan suatu konvensi penulisan yang baru, dan ceritanya tetap
menggambarkan latar (setting) tradisional dengan tem-tema yang
bersifat supernatural dan irasional. Dengan kata lain, munculnya
sebuah buku dalam Bahasa Minang yang dapat digolongkan sebagai sastra,
seperti Tigo Carito Randai-nya Musra Darizal Katik & Mangkuto itu,
tidak otomatis berarti bahwa itu hasil gubahan Sastra Minang Modern
(Saya sendiri belum membaca buku itu, baru mengetahuinya melalui
www.ranah-minang.com dan informasi Sdr. Sudarmoko; tetapi sejauh yang
saya ketahui cerita-cerita randai relatif statis dan konvensional.
Beberapa kajian mengenai randai, misalnya oleh Mursal Esten [1980],
Margaret Kartomi [1981], Mohd Anis Md Nor [1986], Kharul Harun [1992],
dan Kirstin Pauka [1995]) menunjukkan bahwa kurang ada diversifikasi
tema dalam cerita randai).
Yang justru lebih menarik adalah beberapa bentuk penceritaan kaba
lisan yang kemudian juga banyak yang dikasetkan dan sekarang
di-VCD-kan. Saya menggariswabahi di sini dua bentuk penceritaan kaba:
dendang Pauah dan rabab Pasisia (gaya baru). Menarik sekali bahwa
kaba-kaba yang diceritakan dalam kedua bentuk storytelling itu
mengandung unsur 'kemodernan' yang sebenarnya amat menarik diteliti
lebih lanjut. Kaba-kaba yang diceritakan berlatar dunia modern, dengan
tokoh-tokohnya yang digambarkan bepergian dengan mobil, bus, atau
kapal terbang, tidur di hotel. Watak tokoh-tokoh itu digambarkan juga
dengan ciri kepribadian yang baru, yang lebih individualis, yang
berbeda dengan watak tokoh kaba-kaba klasik. Unsur-unsur supernatural
dan irasional juga sangat minim ditemukan dalam kaba-kaba tersebut.
Frase "gaya baru" yang sering dipakai oleh Syamsuddin, seorang tukang
rabab Pasisia yang terkenal asal Kambang, juga mengindikasikan adanya
inovasi dalam gaya bahasa dan penyampaian (Menurut Nigel Phillips
[1991] ini juga semacam trick untuk menarik khalayak dan pembeli
kaset-kaset rekaman rabab Pasisia). Misalnya Syamsuddin mencoba
memasukkan unsur humor yang lebih banyak ke dalam pertunjukannya
melalui banyak pantun-pantun yang lucu. (Mengenai aspek modernitas
dalam kaba-kaba yang diceritakan rabab Pasisia dan dendang Pauah kedua
bentuk pertunjukan ini, lihat artikel Nigel Phillps (1991) dan Edwin
Wieringa (1997) (lihat di atas); Suryadi, Dendang Pauah: Cerita Orang
Lubuk Sikaping (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1993); dan Suryadi,
Rebab Pesisi Selatan: Zamzami dan Marlaini (Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 1993).
Inilah sedikit pemikiran saya mengenai "Sastra Minangkabau Modern".
Mungkin saja ada fenomena terbaru sekitar kebahasaan dan kesastraan di
Minangkabau yang tidak ter-cover oleh tulisan singkat ini, mengingat
dua tahun terakhir ini saya hanya mengamati perkembangan kebudayaan
Minangkabau dari jauh melalui media. Saya rasa para akademikus dan
budayawan di Sumatra Barat sendiri tentu lebih banyak tahu. ***

Suryadi, alumnus Jurusan Sastra Daerah, Program Studi Bahasa & Sastra
Minangkabau, Fakultas Sastra Universitas Andalas, dosen dan peneliti
pada Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and
Oceania, Leiden University, Belanda

---------- Forwarded message ----------
From: Suryadi <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2 Des 2007 16:54
Subject: MANTAGISME : Sastra Minangkabau Modern: Antara Ada dan Tiada
To: [EMAIL PROTECTED]


Suryadi telah mengirimi Anda link ke sebuah blog:

Beste Nofendri, Ambo liek di rantau net ado nan batanyo tentang sastra
Minang modern. Sabananyo sastra Minang modern tu indak bakambang. Iko
salah satu tulisan ambo tentang hal itu, yg pernah dimuek di Padang
Ekpres. Mungkin ado manpaaiknyo dek urang di lapau... Salam arek,
Suryadi

Blog: MANTAGISME
Post: Sastra Minangkabau Modern: Antara Ada dan Tiada
Link: 
http://mantagisme.blogspot.com/2007/11/sastra-minangkabau-modern-antara-ada.html

--
Menggunakan teknologi Blogger
http://www.blogger.com/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
Website: http://www.rantaunet.org
===============================================================
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply.
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke