Maaf kalau lah pernah diposting .... ============ ========= ========= === Negeri Kita yang Mereka Kehendaki ============ ========= ========= === http://www.panji.co.id/plan2.html
Intelijen Asing: Ada yang berkedok pengusaha, ada pula yang berperan sebagai wartawan, bahkan pemantau pemilu. Mereka mengail di air keruh dan bermain untuk mengegolkan calon presiden yang mereka inginkan. Namanya Ronald, di kartu namanya tertera begitu. Ia bekerja sebagai direktur eksekutif sebuah perusahaan. Selain nama perusahaannya yang mirip sebuah perusahaan nasional, tak terungkap di bidang apa usahanya. Ia hanya mengaku pengusaha dari Belanda. Berulang-ulang ia mengontak seorang pejabat tinggi Indonesia--yang belakangan disebut-sebut sebagai salah satu calon presiden--sebut saja Pak Senior. Mereka pun akhirnya bertemu dalam sebuah acara makan siang. Selain soal bisnis, tak ada pembicaraan lain. Namun setelah tiga kali bertemu, muncul sebuah topik diskusi menarik di antara mereka. Ronald mengatakan, mengapa Indonesia membuka hubungan diplomatik dengan Rusia dan Cina, padahal dalam konstitusi kedua negara itu jelas-jelas tertera bahwa mereka ateis, tak beragama. Di sisi lain, ia juga mempertanyakan mengapa Indonesia tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel padahal mereka bertuhan. Ujung-ujungnya Ronald menawarkan Pak Senior untuk berkunjung ke Israel. Ia menawari apakah mau pergi secara terbuka atau tertutup. Maksudnya, bila memakai jalur terbuka, ia bisa terbang langsung dari Jakarta. Sedangkan bila tertutup, ia dapat bertemu di Singapura, baru kemudian mencari penerbangan yang ke Tel Aviv. "Tapi, saya tak mau. Kalau saya mau, meski diam-diam pasti akan ketahuan. Mereka juga yang akan membocorkan, " tutur Pak Senior kepada Panji. Benar juga. Beberapa waktu lalu, kunjungan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ke Israel juga bocor, kendati dilaksanakan secara diam-diam. Senin malam lalu, di layar TPI, Gus Dur yang kini juga jadi kandidat presiden itu malah bercerita tentang pengalaman yang sama seperti yang dialami Pak Senior. Usai pertemuan terakhir itulah Pak Senior menyimpan syak wasangka terhadap Ronald. Jangan-jangan. . Ia pun jadi penasaran. Dengan bantuan kawan-kawannya di intelijen--barulah terbongkar siapa si Ronald itu. Ya, aktivitas bisnis memang cuma kedok. Istilahnya coverjob saja. Ronald, yang sebelumnya menggunakan nama Laurent Daniel Deschodt, punya profesi lain sebagai telik sandi, alias intel. Dia mengaku binaannya Mossad, dinas rahasia Israel yang disegani intel mana pun. Ronald mengaku, kehadirannya di Indonesia menemui sejumlah tokoh adalah membawa misi Israel. Dari jejak yang ditinggalkan, antara lain kartu nama, Panji lalu menelusuri. Alamat yang tertera ternyata sebuah rumah di kawasan perumahan elite Pondok Indah. Tak ada tanda-tanda istimewa pada bangunan bercat putih, dua lantai, seluas kira-kira 750 meter persegi itu. Seorang satpam tampak berbaring di teras. Suasana terkesan sepi, terlebih karena letaknya berada di ujung jalan. Letaknya tak jauh dari Padang Golf Pondok Indah. Rumah itu memang dwifungsi, rumah-kantor. Anehnya, orang di rumah bernama Dewi yang mengaku stafnya, tidak mengetahui persis kegiatan bisnis Ronald. "Kayaknya sih semacam bisnis elektronik," tutur Dewi yang mengaku baru bekerja beberapa bulan. Dalam bekerja, Ronald dibantu oleh beberapa staf yang semuanya orang Indonesia. Tapi dalam bisnisnya, ia menanganinya sendiri. "Itu Mister Ronald langsung yang handle," kata Dewi. Sayang, Ronald, menurut pengakuan Dewi tengah ke luar negeri. Dari pelacakan tim investigasi Panji, selain Ronald juga ada agen lain yang sering kontak dengan sejumlah tokoh. Terakhir ia bernama Briand Schomend Berg yang selama ini mengaku sebagai pengusaha di bidang pertambangan emas. Ia seorang Yahudi yang menjadi agen Amerika. Sudah lama ia berkeliaran di Jakarta dan sejumlah kota lain. Tapi sepak terjang agen CIA ini sudah tercium aparat. Kini, menurut sumber Panji di TNI, sebut saja Mr. Bond, ia tengah dicari untuk segera di-personanongrata- kan. Alasannya, tentu bukan karena aktivitas intelijen, melainkan soal administrasi imigrasi. Ketika Panji mengontak ke rumahnya, ia sudah pindah. "Sudah tidak tinggal lagi di sini," kata seorang ibu di rumah di kawasan Kebayoran Baru. Telepon genggamnya juga seperti sudah lama tak aktif. Sumber Panji di badan intelijen negara juga menyebut dugaan miring terhadap sebuah lembara riset asal AS, RAND Corporation (Research, Analysis, and Development) yang selama ini bergerak di bidang konsultan. "Kebanyakan dari orang-orang di lembaga itu berperan ganda sebagai agen," kata si sumber. Di Indonesia, RAND banyak bekerja sama dengan lembaga penelitian demografi sebuah universitas kondang. Tetapi, menurut seorang staf di lembaga itu, RAND sekarang sedang tidak aktif di Indonesia. Biasanya mereka datang kalau sedang ada proyek di sini. Kerja mereka lebih pada pencarian data-data. "Mereka memang lebih banyak mencari data, mencakup semua masalah," kata sumber itu. Intel Bermain. Selidik punya selidik, sejak beberapa bulan sebelum pecah tragedi Trisakti, orang macam Ronald atau Briand, diyakini banyak berkeliaran. Mereka berasal dari berbagai negara, terutama Amerika Serikat, Inggris, Israel, Cina, Jepang, dan Jerman. Misi mereka bermacam-macam. Yang terbilang ringan adalah mengamankan warga negaranya masing-masing kalau terjadi sesuatu di Indonesia. Mereka punya aturan sendiri tentang bagaimana cara evakuasi dilakukan. Nah, penentuan kapan dan bagaimana, itu sangat bergantung hasil kerja intel. Namun misi demikian biasanya dilakukan agen resmi pemerintah. Yakni, mereka yang berasal dari atase pertahanan setiap negara. Atau mungkin juga dilakukan oleh agen setengah resmi, misalnya seorang pejabat di kedutaan atau imigrasi yang juga merangkap sebagai agen. Lain halnya dengan agen yang banyak gentayangan belakangan ini. Mereka adalah agen-agen tak resmi. Operasinya tidak dikoordinasi oleh kedutaan, tetapi terkait langsung dengan lembaga intelijen di negerinya. Termasuk dalam kelompok inilah Ronald dan Briand. Sumber Panji di sebuah lembaga intelijen, sebut saja Mr. Spion, menuturkan bagaimana ketika menjelang jatuhnya Soeharto banyak sekali intel asing yang datang. Bahkan, kala itu Armada Ketujuh Amerika sudah merapat di seputar Jakarta. Misi utamanya mengevakuasi warga Amerika. Tetapi, ia juga membawa banyak sekali intelijen. "Itu saya tahu karena ditelepon dari kenalan saya di CIA yang bekerja di Bangkok," kata Mr. Spion. Untuk bisa ikut andil dalam perkembangan politik, mereka punya kontak dengan sumber-sumber penting. Para pengambil keputusan, aktivis, tokoh politik, bahkan pengusaha. "Mereka menjadi tahu lebih dulu. Lebih cepat memprediksi apa yang bisa dilakukan sebelum kejadian pecah," lanjutnya. Mr. Spion malah sempat terbengong-bengong karena sudah mendapatkan informasi akan ada kerusuhan di Ambon beberapa hari sebelum kejadian. "Informasi itu justru datang dari kenalan berkebangsaan asing," katanya. Banyak kejadian aneh yang disinyalir-- bukan tak mungkin--melibatkan agen luar negeri. Insiden Krueng Geukeuh, Aceh, misalnya. Insiden itu pecah pada pukul 13.00 WIB. Tapi Komite Palang Merah Internasional (ICRC) pada pukul 08.00 WIB sudah minta ke puskesmas agar menyiapkan dua ambulan. "Bagaimana mereka tahu akan terjadi pertumpahan darah?" ujar Panglima TNI Jenderal Wiranto, yang kemudian berkesimpulan ada rekayasa di balik peristiwa itu. Terlebih peluru yang ditemukan, menurut Wiranto, tidak dimiliki TNI. Kecurigaan itu belakangan ditepis Wakil Kepala Delegasi Regional ICRC untuk Indonesia, Pierre Gerber. ICRC, menurut dia, sebelumnya menerima telepon dari seseorang yang tak mau disebutkan jati dirinya. Ia memberitahukan bahwa ada aparat keamanan datang ke Desa Krueng Geukeuh untuk melakukan investigasi dan beberapa orang telah diperlakukan kasar. Begitupun, misteri semacam itu jadi mencurigakan. Di Timor Timur, rektor Universitas Timor Timur bahkan sempat menuding wartawan asing berada di balik demo di universitas tersebut. Indikasinya, seperti diberitakan media massa, para wartawan itu selalu berada di lokasi, bahkan ketika demo belum berlangsung. Dua kasus "kecil" itu mungkin hanya indikasi adanya faktor lain yang harus diperhitungkan. Merebaknya aksi kerusuhan yang berakhir dengan misteri--selain menggambarkan betapa aparat tak serius menangani--tak tertutup kemungkinan memang ada pihak di luar yang ikut bermain. Membongkar siapa mereka? Ini pekerjaan yang jauh lebih ruwet. Sulit Dibuktikan. Gerakan mereka umumnya sulit terdeteksi, kecuali oleh sesama intel. Mereka biasanya berhubungan dengan banyak orang Indonesia yang dianggap punya pengaruh dan jaringan luas. Mereka ini akan memberikan informasi atau mengipasi tokoh itu, untuk kemudian instruksi-instruksi nya dijalankan oleh orang Indonesia. "Cuma, pembuktiannya yang sulit bukan main," kata Mr. Spion. Biasanya mereka bekerja dalam tim, tidak lebih dari lima orang, dan selalu memakai coverjob untuk penyamaran. Yang paling banyak dipakai adalah pengusaha. Lalu, bila situasi sudah genting kerap mereka menyamar sebagai wartawan. "Dengan label wartawan, mereka bisa punya akses ke mana saja," katanya. Ada beberapa indikasi untuk membedakan mana wartawa beneran dan mana yang intel. Wartawan beneran biasanya menggunakan tenaga lokal untuk membantu, baik sebagai sopir atau penunjuk jalan. Sedangkan "wartawan intel" selalu bekerja sendiri. Dan medianya kadang tidak dikenal. Mr. Spion juga menuturkan, belakangan ada juga yang datang berkedok sebagai pemantau pemilu. Peliknya lagi, mereka beroperasi silih berganti. Biasanya, yang datang dua minggu sekali atau tergolong rutin adalah agen yang bergerak di bidang aksi langsung. "Kalau mereka datang, ya memberi dana pergerakan, atau memberi support lain," ujar Mr. Spion. Hanya agen yang menyamar sebagai usahawan dan menetap di Indonesia saja yang mudah terdeteksi. Tapi, untuk penguntitan pun aparat kita kewalahan. "Perlu dana dan tenaga yang besar," katanya. Konyolnya lagi, alat-alat yang dipakai untuk mendeteksi atau menyadap mereka sudah diketahui pihak asing. "Soalnya yang memproduksi kan mereka. Mereka sudah menyiapkan bagaimana mengaburkannya, " katanya sambil tertawa pilu. Agen-agen asing ini memang dihadapi dengan counter intelijen. Cuma, persoalannya tidak sesederhana itu. "Mau dijerat dengan tuduhan apa? Paling-paling ya di-personanongrata- kan," katanya. Ia lantas menyebut seorang staf kedubes asing yang diusir karena ikut mengorganisasi demonstrasi buruh. Seorang agen yang menyamar sebagai wartawan ini tertangkap ketika ikut menggerakkan demonstrasi. Ia mengaku dari Jepang. Mr. Spion juga mengingatkan bahwa yang perlu diwaspadai adalah orang lokal yang bertindak sebagai agen asing. "Itu yang berbahaya, karena sulit dilacak," katanya. Ia mencontohkan Anton Ngenget yang dipakai sebagai agen oleh CIA dan KGB. Kepada Panji, Anton sendiri mengakui bahwa dirinya pernah dipakai CIA dan KGB. Dan, ia juga membuat peta intelijen yang berperan saat ini. Namun, pengamat Indonesia Daniel Lev tak percaya agen asing berperan dalam peristiwa politik yang menimpa Indonesia. "Saya tidak percaya," ujarnya. Kalau dulu di era Perang Dingin, mungkin saja, tapi kini tidak. "Mereka hanya memikirkan utang dan pasar Indonesia." Target. Nah, mengapa agen-agen berebut masuk ke Indonesia? Ada beberapa hal yang membuat mereka berkepentingan terhadap Indonesia. Selain lokasinya yang strategis dan memiliki sumber daya alam yang sangat kaya, Indonesia, dengan penduduk yang besar, adalah pasar yang potensial. Satu hal yang membuat pihak asing, terutama negara-negara Barat, punya kepentingan terhadap suatu negara adalah besarnya jumlah penduduk yang beragama Islam. Setelah runtuhnya komunis, Islam merupakan musuh bersama Amerika, Israel, dan negara-negara Barat. Kehadiran agen Israel misalnya, selain membawa misi untuk membuka hubungan diplomatik, mereka juga ingin membendung ekspansi kekuatan Jerman--yang dekat dengan Presiden Habibie--yang mulai menguat di Indonesia. Tengok saja sepak terjang Habibie yang mesra dengan Jerman. Misalnya soal keterlibatan Bundesbank yang cukup besar di sini. Jerman dengan Israel adalah musuh bebuyutan. Sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, dan punya pengaruh, Indonesia ingin dimanfaatkan Mossad untuk kepentingan Israel. Amerika juga punya banyak sekali kepentingan terhadap Indonesia. Selain beberapa faktor yang telah disebut di atas, AS sangat khawatir terhadap menguatnya kelompok Islam di sini. Ketika bertemu Amien Rais di Hotel Borobudur tempo hari, yang ditanyakan Madeline Albright, menlu AS, adalah tentang gerakan NII (Negara Islam Indonesia). Sebagai negara kuat--dengan mampu menggenggam Indonesia--AS juga ingin menunjukkan superioritasnya di kawasan Asia Tenggara. Semua itu merupakan target-target jangka panjang. Dan, untuk mewujudkan itu ada langkah-langkah jangka pendek. Yakni, soal penentuan siapa yang bakal memimpin bangsa ini. Memilih Presiden. Mr. Spion mengungkapkan, pihak asing selalu berkepentingan terhadap siapa yang akan muncul menjadi pemimpin. Tak terkecuali dalam proses pergantian kepemimpinan di Indonesia sekarang ini. "Mereka ingin punya akses, karena itu ikut mendukung satu kekuatan," katanya. Cara yang ditempuh mulai dari yang paling kasar sampai memberi bantuan dana yang tak terbatas. "Makanya mereka bekerja makin keras," ujarnya. Ia pun merasa yakin, agen-agen itu sudah membina orang-orang di sekitar calon pemimpin bangsa. Cuma, pembuktiannya memang sulit sekali karena kerja mereka secara sistem sel, juga sangat tertutup dan sengaja tidak meninggalkan bukti. Indikasinya bisa dilihat. "Kok ada partai yang dulu kecil bisa tiba-tiba besar, dananya dari mana?" katanya penuh selidik. Amerika Serikat dan sekutunya, Inggris dan tentu Israel, termasuk agresif menggalang hal ini. Sejarah membuktikan jatuhnya Soekarno--dan mungkin juga Soeharto--tak lepas dari ikut campurnya AS. Sejarah kini berulang. "Mereka kini tengah menyaring, siapa di antara mereka yang paling bisa dikendalikan, " ujar seorang pejabat Departemen Luar Negeri, sebut saja Bung Data. Mereka tentu telah menjajagi, siapa tokoh yang paling cocok, untuk kemudian didukung. Gus Dur, Megawati, Habibie, ataukah Amien Rais? Atau mungkin Sri Sultan. Banyak analisis berseliweran. Bolak-balik Amien Rais ke AS, dan di sana ia dipuji Henry Kissinger sebagai tokoh masa depan, diprediksi banyak orang sebagai dukungan. Tapi ada juga yang melihat justru AS lebih cenderung memilih Megawati. J. Stapleton Roy mengelak dirinya memberi dukungan pada satu orang. "Rakyat Indonesialah yang memilih," ujarnya. (Lihat: Amerika Tidak Punya Pilihan). Namun, bukan rahasia kalau selama ini pemerintah AS kurang hangat menerima tampilnya Habibie, yang kerap diidentikkan dengan simbol Islam. Konon, sudah berulang kali Habibie menunjukkan hasratnya untuk bertemu Clinton, tapi tak pernah diladeni. Namun hal ini ditepis pihak AS. "Kami mengakui pemerintahan ini," ujar Craig Stromme, atase pers Kedubes AS. "Dan, kami tidak punya calon presiden untuk rakyat Indonesia," ujarnya. Habibie yang condong ke Jerman tentu menjadi musuh berat Israel. Mereka tentu tidak menghendaki Habibie--terlebih belakangan lebih banyak memunuculkan identitas Islam--yang naik kelak. Sebagai rekan bersekutu, CIA tentu akan berdiri di posisi yang sama dengan Mossad. Kalaupun ada dukungan Amerika kepada Habibie, pasti ini berkat lobi Jerman. Sebaliknya, Jerman, kalau melihat fenomena selama ini, tentu akan lebih condong ke Habibie. Kecenderungan AS atau negara asing lainnya, terutama Eropa, akan figur presiden Indonesia mendatang wajar saja. Menurut pengamat luar negeri Riza Sihbudi, agen-agen asing itu--terutama dari AS--tentunya menghendaki pemerintahan yang sekular, yang Islamnya tidak kental. Tapi siapa. Tak terungkap. Namun dalam pengamatan Bung Data dari Departemen Luar Negeri, hingga kini AS belum memiliki kandidat pilihan. Ia masih melihat-lihat situasi. Negeri itu paling takut kalau Indonesia dipimpin oleh mereka yang punya akar. Maka, ia cenderung akan menyukai pemimpin yang tidak berakar. Ibarat kembang teratai yang mengambang di air. Padahal, nyatanya dari seluruh kandidat yang ada, hampir semuanya punya akar yang kuat. Ada baiknya para calon presiden yang tentu berharap dukungan dari luar negeri itu belajar dari pesan presiden pertama Soekarno. "Kalau pemimpin Indonesia dicaci maki Barat, berarti pemimpin yang benar bagi Indonesia, tapi kalau dipuji-puji, hati-hati." Ya, para pemimpin kita memang harus waspada. Mereka harus tahu gawang mana yang mesti dituju. Siapa pun, jangan terjebak dalam perangkap orang lain. Karena kita kaya, maka negara lain menghendaki Indonesia terus sakit, tapi tidak mati. Dalam kondisi itulah kita akan di bawah kendali negara lain. Jangan mudah terbujuk tawaran manis orang macam Ronald dan Briand yang akan terus mengusik ketenangan kita. ### ------------ --------- --------- --------- --------- --------- - Laporan: Pracoyo Wiryoutomo, Budiyono, Agung Y. Achmad, Elly Burhaini Faizal, dan Masad T. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== Website: http://www.rantaunet.org =============================================================== UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. - Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui jalur pribadi. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di https://www.google.com/accounts/NewAccount =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
