Dunsanak dipalanta,
Ambo diagiah tau kawan dari sebuah blog, silahkan iko ka jadi topik 
diskusi baru atau sekedar bahan bacaan.
Keluhan amak2 di nagari awak satantang uang jemputan. Blognyo :  
http://shaphira.multiply.com/journal/item/100
Atau lansuang koment ka blog itu, 
Salam
Is.39+ 1 hr

Rame-rame cari suami JAWA
Bulan Sya'ban/September 2006 ini memang bulan pilihannya masyarakat untuk 
menyelenggarakan pernikahan. Jadi jangan heran, kalau dalam satu minggu, 
kita akan menerima 2 sampai dengan 3 undangan resepsi pernikahan. Itu 
berarti unpredictable cost. Coba kita hitung deh berapa besar pengeluaran 
tambahannya. Buat "nyecep" - kata orang Sunda, terus buat bikin baju baru 
... . Perempuan kan biasanya nggak mau pake baju yang sama untuk acara 
yang sama (pernikahan) takut ketemu orang yang sama .... (tapi nggak 
termasuk gue lho ....). Belum lagi buat sanggul dan make up di Salon .... 
Belum lagi kalo undangannya di luar kota.  Wuaduh .... bayangin aja kalo 
setiap minggu selama bulan Sya'ban ada undangan dan mesti hadir ... 
Alamat, akan ada krisis di dapur. 
Hari minggu 10 September 2006 yang lalu, gue dapet undangan pernikahan 
dari Padang. Ini kenalan lama waktu tinggal di Stains 1981-1984. Keluarga 
dosen dari Universitas Andalas. Saat mengikuti suaminya ke Perancis, uni 
Tjul (begitu sama memanggilnya) sudah punya 2 anak perempuan. Yang besar, 
Dhini (dia ini yang menikah) kira2 umur 7 tahun dan Lydia berumur 1 1/2 
tahun. Baru tinggal 1 bulan di Stains, uni Tjul langsung hamil anak ke 3. 
Kehamilan yang berat secara psikologis maupun fisik, harus dilaluinya. 
Sampai2 PMI (protection Maternelle et Infantile) mengirimkan femme au 
foyer, yang membantu uni Tjul untuk mengerjakan urusan rumah tangga 
(masak, cuci, ke pasar dll). Kehamilan itu juga dilalui dengan harap-harap 
cemas, menginginkan kehadiran anak lelaki dalam keluarga. Maklum, punya 
anak perempuan saja, bagi orang Minang itu costly. 
Saya yang kebetulan secara bersamaan hamil anak pertama dan tahu 
kekhawatiran uni Tjul, sering mengganggunya. Apalagi saat dari hasil USG, 
diketahui bahwa bayi saya berkelamin lelaki sementara uni Tjul ... 
lagi-lagi perempuan.
Kembali ke Jakarta tahun 1984, saya sempat bertemu lagi dengan uni di 
Jakarta dan di Padang saat ada perayaan hut REI. Saat itu, uni Tjul sudah 
punya anak ke 4, masih perempuan dan terakhir. Putus asa juga rupanya 
..... 4 anak perempuan pasti bisa bikin pusing keluarga Minang. 
Dalam perkawinan adat Minang, keluarga perempuan wajib "manjapuik 
marapulai" dengan sejumlah hantaran dan "uang panjapuik". Inilah sumber 
kekhawatiran Uni.
" Bayangkan Lin .... berapa kilo "ameh" yang mesti uni sediakan untuk 
manjapuik marapulai" bila anak uni berjodoh dengan urang awak...? Onde.... 
indak tabayang, jo uni....!" Saat itu, Dhini sudah kuliah di Unpad dan 
ketiga adiknya masih tinggal di Padang. 
"Doakan uni supaya bisa menyekolahkan anak-anak di Jawa ya..."
"Kenapa ni....?"
"Biar anak-anak mendapat jodoh orang Jawa. Biar putus kewajiban uni 
menyediakan "ameh" tu!"
Duh .... kasihan si Uni!! gue inget banget, saat di Stains, uni cerita 
bahwa saat menikah dengan uda, beberapa keluarga si uda memaksakan untuk 
meminta "panjapuik marapulai" yang sesungguhnya diluar kesanggupan 
keluarga uni. Untungnya, diam-diam uda sudah punya simpanan yang cukup 
besar sehingga demi cinta dan terlaksananya pernikahan, simpanannya itu 
direlakan untuk digunakan dalam acara "manjapuik marapulai".
Gue juga inget, keponakan suami (Jawa+Sunda) beberapa tahun yang lalu 
terpaksa putus dengan pacarnya yang anak dokter asal Minang. Konon ibu si 
pacar keberatan anaknya menikah dengan non Minang, karena anak lelaki 
(sarjana bo .... nilainya sama dengan BMW) mereka tidak akan menerima 
"panjapuik". 
Beberapa tahun kemudian, selesai mendapai ijasah S1, Dhini mulai kerja di 
Jakarta. Uni yang kebetulan berkunjung ke Jakarta, lagi-lagi berpesan....
"Carikan jodoh orang Jawa untuk Dhini ya Lin...", Gue gak bisa ngomong 
apa-apa .... Haree geenee ngejodohin anak orang .... Ngeri skalee....!!!
Jadi, saat menerima undangan dari uni Tjul ....buru-buru gue telpon dia ke 
Padang. Ngobrol agak lama, gak ngitung pulsa telpon lagi deh.
"Uni ..... selamat ya. Menantu uni; tepat dan sesuai dengan idaman uni 
ya....  ! Ketemu dimana tuh?"(keluarga calon suami Dhini, tinggal di 
Kediri - Jatim)
"Tetangga sebelah rumah kost di Depok, sewaktu Dhini ambil S2" 
"Syukurlah ....Maaf nggak bisa hadir ya, ni..., kami di Jakarta juga 
banyak dapat undangan pernikahan! Maklum, menjelang puasa".
"Sayang ya, nggak bisa hadir. Mohon doanya ya .... Masih berat tanggungan 
uni nih .... masih ada 3 anak gadis lagi yang belum menikah...!"
Waduh si uni....! , masih itu aja yang dipikirin....! 
Semua anak gadisnya "diusir" dari Padang agar mendapat jodoh non Minang. 
Lydia, selesai kuliah di univ Andalas, lalu kerja di kantor akuntan 
Jakarta. Irma ... yang lahir di St Denis - France, baru selesai S1 dan 
sudah dikirim di Jakarta untuk cari kerja. Tinggal si bungsu yang baru 
masuk kuliah, tinggal bersama mereka di Padang.
Apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup? Ternyata mempertahankan adat 
istiadat yang sakral dan katanya bernilai budaya yang sangat tinggi dalam 
berbagai aspek ternyata membebani masyarakat. 
 http://shaphira.multiply.com/journal/item/100


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK SELALU DIPERHATIKAN: 
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Posting email besar dari >200KB akan di banned, sampai yang bersangkutan 
menyampaikan komitmen akan mematuhi Tata Tertib yang berlaku. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahulu mendaftarkan email anda pada Google Account di
https://www.google.com/accounts/NewAccount
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

<<image/gif>>

<<image/gif>>

<<image/gif>>

Kirim email ke