Kaba nan ko sabananyo hanyo manunggu wakatu sajo sabab lahan persawahan samakin 
manyusuik di pulau Jawa. Nan agak aneh, di nagari awak banyak lahan persawahan 
nan kurang produktif dengan hasil dibawah 4 ton/ha. Sabab seharusnyo paliang 
indak bisa 6.5 to/ha dari kondisi tanah nan ado pabilo dikaokan dengan sistem 
pertanian organik. Lai pulo seluruh kegiatan pemprov jo pemkab alah maarah 
kasinan, namun mentalitas masyarakat kito di nagari-nagari jo infrastruktur 
irigasi nan ado indak memadai.

Insya Allah kutiko alah baliak dari Talang Babungo kab Solok & sadang melatih 
jajaran Polresta Pariaman atas bantuan DPP PKDP akan ambo cubo lewakan 
permasalahan petani kito di nagari-nagari. Baa kalau dana nan ado dari 3 BUMN 
mantun bisa dialihkan untuk memperbaiki sistem irigasi persawahan di 
nagari-nagari kito jo melatih lansuang kelapangan untuak menerapakan sistem 
pertanian organik? Kok iyo iko ka dikaokan, aratinyo kelompok tani akan 
mandapek bantuan jawi sebagai salah satu input sistem pertanian organik. Kok 
kabaaja mengenai pertanian padi sabatang ambo kiro indak paralu jauah-jauah 
bana, di Ampek Angkek Agam jo di Kubang 50 Koto hasil persawahan tanaman padi 
kini alah 6.5 ton per ha. Kok kabaraja usaha ternak dalam pengandangan basamo 
bisa ka Simarosok, Agam nan alah bisa mengkorversi biogas menjadi energi 
listrik.

Nan tenampak di ambo, banyak dari kito indak jaleh bana baa kondisi sabananyo 
nan ado di nagari-nagari, sahinggo hal iko indak terpublikasikan sacaro batua.

wasalam 

AZ/lk/33th/caniago
Padang


asa nagari Kubang, 50 Koto
babako ka Canduang Koto Laweh, Agam  
         


________________________________
 Dari: Nofend St. Mudo <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Sabtu, 11 Februari 2012 12:11
Judul: [R@ntau-Net] Untuk Kebutuhan BUMN Dicari Ribuan Hektare Sawah <<< Tak 
Ada Sawah untuk Dijual
 

- http://hariansinggalang.co.id/untuk-kebutuhan-bumn-dicari-ribuan-hektare-sawah/http://hariansinggalang.co.id/tak-ada-sawah-untuk-dijual/
Untuk Kebutuhan BUMN Dicari Ribuan Hektare Sawah
Tanggal 10 February 2012


Padang –  SINGGALANG Badan Usaha Milik Negara (BUMN) butuh ribuan hektare lahan 
sawah di Sumbar. Program ini merupakan program dari Kementerian BUMN pada 2012 
yang ingin menciptakan lahan sawah baru seluas 100 ribu hektare di Indonesia 
yang akan dikelola dalam bentuk korporasi.
Tahun ini dianggarkan dana Rp9 triliun di Kementerian BUMN. Ini terkait dengan 
program Presiden SBY yang mencanangkan produksi padi Indonesia mencapai angka 
10 juta ton pada 2014.

Sementara nama BUMN yang akan mengelola PT Padi Energi Nusantara (PEN), anak 
perusahan Pupuk Sriwijaya Palembang.
Paling tidak, Sumbar dapat masuk dalam pengadaan lahan pertanian tersebut. 
Karena lahan pertanian itu akan dikelola dengan sistem inti dan plasma. 
Perusahaan inti mengelola lahan yang utama. Masyarakat sekitar menjadi plasma.
“Untuk mendapatkan lahan itu bisa dibeli, disewa atau buka baru,” sebut 
Direktur Keuangan PT PEN, Amrul Amri, saat bertemu dengan Asisten II 
Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Sumbar, Syafrial, Kamis, (9/2).

Pencarian lahan untuk sawah itu ditugasi kepada tiga BUMN, Shangyang Sri 
sebesar 30 ribu hektare, Pertani 30 ribu hektare, dan Pusri Holding sebesar 40 
ribu hektare. Pupuk Sriwijaya yang merupakan anak perusahaan Pusri Holding 
bersama empat lainnya, PT Kujang, PT Petrokimia Gersik, dan Pupuk Kaltim 
mendapat tugas untuk mencari lahan yang masing-masing seluas 10 ribu hektare.
PT Pupuk Sriwijaya Palembang ditugasi di Sumatra, kecuali Lampung. PT Kujang di 
Lampung, Petrokimia Gersik di Sulawesi, dan Pupuk Kaltim di Kalimantan. “Sejauh 
ini saya sudah mensurvei di Sumatra Utara, Riau, dan kini di Sumbar, setelah 
itu ke Jambi,” ujarnya.
Setiap provinsi dia harus menemukan 1.000 hektare lahan. “Kalau bisa dalam satu
hamparan,” sambung dia.

Pada intinya, jelas Amrul, kementerian BUMN akan membeli lahan untuk dibuat 
lahan sawah baru dengan sistem inti plasma.
“Saya rasa, di Sumbar akan sulit untuk membeli lahan. Jadi, kalau tidak bisa 
dibeli akan kita sewa. Ini berbeda dengan di Sumatra Utara. Di sana, pemerintah 
daerahya telah mengarahkan saya ke Asahan dan Labuhan Batu yang memiliki luas 
lahan 25 ribu hektare. Mereka pun siap untuk dibeli,” jelasnya.
Demikian pula dengan Riau di daerah Rokan Hilir dan Indragiri Hilir.

Di Sumbar, Amrul mengaku sudah pergi ke Solok Selatan. Di sana sudah bertemu 
dengan pemerintah setempat yang telah menunjukkan sejumlah lahan yang dapat 
digunakan. Dia juga dapat informasi, di Dharmasraya potensi lahannya cukup 
besar, serta di Pesisir Selatan.
Syafrial merespon serius program yang disampaikan Amrul tersebut. Dia langsung 
menjadwalkan sebuah pertemuan Rabu mendatang antara PT PEN dengan Pemda 
kabupaten dan kota se-Sumbar. “Nanti kami akan berikan waktu untuk persentasi. 
Begitu juga bupati dan walikota, juga akan kami beri waktu mempresentasikan 
potensi lahan mereka yang bisa digunakan. Program ini mesti kita dukung,” 
ujarnya.

Bupati dan walikota tergugah dengan program ini. PT PEN berharap minimal dalam 
pertemuan nanti, bisa mendapat peta lahan yang bisa dipergunakan serta 
potensi-potensinya. Peta dan gambaran lahan itu nanti yang akan jadi kajian 
Pusri. Lahan mana yang paling potensi dan ekonomis, setelah itu ada tim teknis 
yang akan mengevaluasinya.

Jika program itu terwujud, maka gabah yang dihasilkan akan dijual ke Bulog 
dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan harga pasar. Bulog bisa 
menjual ke pasar dengan harga yang lebih murah dari harga pasar.
Dengan pernyataan tersebut dia membantah, kehadiran korporasi padi tersebut 
mengganggu petani tradisional, karena tidak akan dilepas langsung ke pasar 
bebas.
“Sebab itulah produk dari koporasi padi ini dijual ke Bulog. Karena ini hanya 
untuk penyangga kebutuhan pangan nasional,” terang Amrul.
Kemudian, produksi korporasi ini nantinya, bukan tidak mungkin akan diekspor 
juga. Dengan catatan kebutuhan domestik harus terlebih dahulu terpenuhi. Kalau 
berlebih baru bisa di ekspor.
(401)


Tak Ada Sawah untuk Dijual
Tanggal 11 February 2012


Padang, Singgalang Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura Sumbar, Joni 
mengakui tidak akan ada sawah ribuan hektare untuk dijual. Sebaiknya, Badan 
Usaha Milik Negara (BUMN) memberlakukan sistem bagi hasil pertigaan dan 
perduaan saja.

Menurutnya, rencana BUMN yang membutuhkan ribuan hektare sawah tidak dapat 
dilaksanakan dengan sistem membeli tanah, atau dengan menyewa sawah masyarakat. 
Sebab, untuk membeli tanah di Sumbar sangat sulit. Apalagi lahan tersebut 
dialiri irigasi teknis.
“Tak akan ada tanah ribuan hektare, karena masyarakat banyak yang bekerja 
sebagai petani. Malahan lahan pertanian terbatas,” sebut Joni pada Singgalang, 
Jumat (10/2).

Sedangkan rencana untuk disewa, menurut Joni, juga akan lebih parah lagi. 
Karena itu sama saja dengan membunuh masyarakat petani. Sebab, bagi masyarakat 
yang pencahariannya hanya bertani, kemudian disewa perusahaan maka mata 
pencaharian petani itu akan hi-
lang. Penghasilan berkurang, maka akan timbul masalah baru.
Dikatakannya, ada langkah lain yang dapat dilakukan oleh BUMN tersebut jika 
ingin mendapatkan lahan sawah di Sumbar. Dengan jalan pertigaan (patigan) 
dengan masyarakat pemilik lahan. Jika langkah itu yang ditempuh BUMN, maka 
rencana pemerintah untuk membangun ribuan hektare sawah di Sumbar terbuka lebar.
“Kalau kita memaksakan juga perusahaan itu membeli tanah, mencarinya sangat 
sulit. Tidak akan mau masyarakat. Sekarang aman, ujung-ujungnya nanti bisa 
ribut juga. Maka tidak akan bisa dibeli,” ujarnya.

Kemungkinan dengan sistem pertigaan, sistem bagi hasil itu sudah dilakoni 
masyarakat Sumbar sejak nenek moyang dulunya. Pengelola mendapatkan dua pertiga 
dari hasil, kemudian pemilik lahan mendapatkan satu pertiganya. Atau perduaan, 
dimana pengelola mendapatkan setengah dari hasil, pemilik lahan mendapatkan 
setengahnya.
“Kalau dengan sistem bagi hasil bisa saja dilakukan, ada peluangnya itu. Orang 
tua kita dulu kan biasa dengan pertigaan atau perduaan. Kalau cara ini banyak 
lahan di Sumbar, paling tidak kita memiliki sebanyak 35 ribu hektare yang 
tersebar,” ujarnya.

Menurut dia, di tiga daerah pemilik lahan pertanian yang cukup luas di Sumbar 
adalah Pesisir Selatan, Dharmasraya dan Sijunjung. Jumlahnya sekitar 35 ribu 
hektare. Lahan itupun juga lahan yang tidak sanggup dikelola oleh masyarakat.
Sawah baru
Sebelum ada rencana BUMN untuk mencari sawah di Sumbar, Dinas Pertanian dan 
Hortikultura sudah melaksanakan program cetak sawah baru. Program tersebut 
memberikan insentif Rp10 juta pada masyarakat dan kelompok tani yang membuka 
sawah baru seluas 1 hektare.

Pada tahun 2011, Sumbar berhasil mencetak seluas 450 hektare sawah baru. 
Letaknya berada di Kabupaten Solok Selatan, Dharmasraya dan Pesisir Selatan. Di 
tahun 2012 ini Sumbar kembali mendapatkan prorgam cetak sawah baru sebanyak 
2.250 hektare. Rencananya, cetak sawah baru itu akan dialokasikan seluas 1.000 
hektare di Dharmasraya, 1.000 hektare di Pesisir Selatan, 50 hektare di Solok 
Selatan, 100 hektare di Pasaman dan 100 hektare di Kabupaten Limapuluh Kota.
“Mudah-mudahan dengan pencetakan sawah baru ini dapat menjadi penyangga pangan 
di masa datang,” ujarnya.
Sementara itu dari data Dinas Pertanian dan Hortikultura, pengurangan sawah 
dari tahun ke tahun di Sumbar tidak sampai 100 hektare pertahun. (401)
-- 


Wassalam
Nofend | L-35 | CKRG


--

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke