Assalamualaikum Wr.Wb. yth. bapak Darwin Bahar ibu2/bapak2 sarato para Dunsanak di Palanta.
Batu bana pandapek pak Darwin Bawar, contoh caliaklah petani2 diAfrika nan dihancuakan dek Kapitalismus, harago panennyo jatuah dek Kapital-Raksasa. Seluruah negara I ndustrie nan kuaik, mananam padi untuak cadangan mereka, nan mano cadangan tasabuik untuak umpan manakan negara2 nan systemnyo korrupt. Partamu harago turun dek banyak panen, petani ketek jatuh miskin secaro relativ lambek. Dalam pado maso itu panen tasabuik lalu distock mereka digudang, kudiannyo, wakatu rakyaik paralu baru ditakan pemerintahnyo dan tekanan tasabuik ditaruihkan karakyaik. Makin ketek rakyaiknyo (status sosialnyo) makin banyak marassai jo marasoi pressure tasabuik. Nan talampau bana dimato ambo, Pengusaha (Kapitalis) tasabuik dapek keringanan dalam perpajakan mirip jo subsidi. Contohnyo sakali lai, petani2 di Afrika, carilah di Maik Google. Wassalam, sakitu sajolah dulu tukuaknyo dari ambo, wassalam, Muljadi Ali Basjah. -------- Original-Nachricht -------- > Datum: Mon, 13 Feb 2012 08:41:32 +0700 > Von: "Darwin Bahar" <[email protected]> > An: "Palanta Rantaunet" <[email protected]>, > [email protected], [email protected] > Betreff: [R@ntau-Net] OOT: Food Estate dan Penghancuran Kedaulatan Pangan > #BAD11 > 16 October 2011 | urai oleh Ade Fadli > > http://timpakul.web.id/food-estate-dan-penghancuran-kedaulatan-pangan-bad11. > html > > Catatan, > > Kenapa perkebunan kelapa sawit skala besar harus ditolak? Bukan karena > kelapa sawitnya tentu saja, tetapi sifat kapitalistiknya, penguasaan asset > nasional oleh segelintir pengusaha, sementara rakyat pemilik lahan > tergusur > dan sekedar menjadi penonton > > Dengan alasan yang sama perkebunan padi oleh BUMN juga harus ditolak, > karena > pada akhirnya rakyat pemilik lahan tergusur dan sekedar menjadi penonton. > Apalagi tujuannya hanyalah swasembada pangan cara instan, demi pencitraan > > Apa hendak dikata inilah realitas hidup di negara yang--maaf--dikendalikan > oleh para bedebah > > Wassalam, HDB-SBK (L, 68+) > > =============================================== > > Lagi, solusi terhadap kegagalan swasembada pangan yang dilahirkan oleh > Pemerintah adalah membangun sebuah perkebunan pangan. Delta Kayan Farm > Food > Estate akan dibangun di Bulungan oleh sebuah perusahaan BUMN persero yang > bekerjasama dengan swasta lain dengan luas 30.000 hektar. BUMN hanya akan > mengelola 3.000 hektar, sementara sisanya akan digarap oleh pihak swasta. > > Kota Terpadu Mandiri Salim Batu (KTM Salim Batu) yang dikembangkan sebagai > kawasan food estate akan memanfaatkan areal potensial seluas 30.000 hektar > dengan melibatkan 7.841 keluarga/30.215 jiwa yang terdiri dari penduduk > asli > dan masyarakat transmigran. (Kompas) > > Pangan, yang di negeri ini sangat identik dengan padi sawah, sepertinya > sudah benar-benar menghapus memori para pelayan publik (baca: pemerintah) > dalam memperkuat pangan komunitas lokal. Selama ini, komunitas lokal lebih > banyak ditopang oleh padi ladang (gunung), serta beragam pangan dari > hutan, > perlahan beralih pada pangan yang disiapkan karpet merah oleh pemerintah. > Bahkan sekarang tak terlalu sulit untuk menemukan mie instant di ujung > jalur > transportasi. > > Food Estate pun kian menarik pemerintah daerah, yang kemudian > berlomba-lomba > untuk menyajikan lahannya untuk kerajaan pangan ini. Kutai Kartanegara, > kabupaten yang wilayahnya dipenuhi oleh ratusan perijinan tambang batubara > yang menggusur lahan pertanian, bahkan menyatakan bersedia menyediakan 120 > ribu hektar lahan food estate. Kutai Barat pun menyanggupi 70 ribu hektar, > Kutai Timur dengan 30 ribu hektar dan Bulungan hingga 50 ribu hektar. > Seolah > melupakan begitu banyaknya lahan-lahan pangan yang selama ini dikelola > oleh > komunitas lokal telah tergusur oleh perkebunan besar dan pertambangan. > > Para petani dan peladang di berbagai wilayah negeri ini masih terus > bertarung untuk mempertahankan lahan pangannya. Pemerintah dengan murah > menggadaikan lahan-lahan pertanian produktif kepada investor (asing) yang > selalu datang hanya dengan bermodalkan air liur. Begitu mudahnya negeri > ini > membiarkan jengkal demi jengkal lahan beralih penguasaan, dari warga > negeri > ini kepada korporasi. Padahal sudah jelas, begitu banyaknya korporasi di > negeri ini, tidak pernah membawa sebuah perubahan yang lebih baik bagi > kesejahteraan dan kebahagaian warga. Bahkan seorang menteri pun berani > berujar "petani tidak akan jadi buruh", yang pada kenyataannya para petani > terpaksa menjadi buruh di lahan yang dulu pernah dimilikinya. > > Pemerintah pun mengklaim bahwa 1.600 hektar sawah sudah dicetak dalam > setahun terakhir. 9,7 juta rupiah setiap hektarnya. Angka produksi pun > belum > bergeser dari 149.138 hektar, 580.654 ton gabah kering giling atau setara > dengan 336.108 ton beras. Masih defisit 65.042 ton beras, kabarnya. Ini > hanya hitungan bagi perkotaan, bukan terhadap mereka yang selama ini > membangun lumbung-lumbung padi, yang sebagian besar telah dihilangkan > paksa, > dengan menanam padi ladang atau memanen di sawah tadah hujan. > > Satu hal lagi yang terlupakan oleh Pemerintah, karena food estate > diletakkan > di kawasan Delta, yang artinya merupakan kawasan mangrove dan lahan basah, > yang tentu saja akan mengangkangi Deklarasi Kalimantan Timur Hijau, yang > selalu yes-yes-yes-yes-yes, karena food estate akan mengalihfungsikan > kawasan mangrove, rawa dan gambut. Bisa jadi para pemimpin tersebut sedang > terhalang pikirannya dengan angka-angka investasi yang fantastis, tanpa > pernah melakukan perhitungan kehilangan ekologi dan sosial-budaya warga. > Defisit pasti akan terjadi, hanya demi memuaskan kebutuhan pangan yang > entah > untuk siapa. > > Food Estate, sebuah model baru untuk menghancurkan negeri ini. Tatatan > budaya kelola lahan, yang merupakan pembentuk budaya dan identitas negeri > ini. Beragam materi budaya, tari, lagu, syair, dilahirkan dari budaya > kelola > lahan. Kebhinnekaan pun ingin ditungalkan oleh pelayan publik. Hanya demi > eksistensi, kepuasan pribadi dan aliran kepingemas untuk memperkuat > pundi-pundi kelompoknya. Food Estate, potret penghancuran negeri. > > * Tulisan ini merupakan bagian dari gerakan Blog Action Day 2011 * > > Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan > sumbernya : > > -- Empfehlen Sie GMX DSL Ihren Freunden und Bekannten und wir belohnen Sie mit bis zu 50,- Euro! https://freundschaftswerbung.gmx.de -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
