16 October 2011 | urai oleh Ade Fadli

http://timpakul.web.id/food-estate-dan-penghancuran-kedaulatan-pangan-bad11.
html

Catatan, 

Kenapa perkebunan kelapa sawit skala besar harus ditolak? Bukan karena
kelapa sawitnya tentu saja, tetapi sifat kapitalistiknya, penguasaan asset
nasional oleh segelintir pengusaha, sementara rakyat pemilik lahan tergusur
dan sekedar menjadi penonton

Dengan alasan yang sama perkebunan padi oleh BUMN juga harus ditolak, karena
pada akhirnya  rakyat pemilik lahan tergusur dan sekedar menjadi penonton.
Apalagi tujuannya hanyalah swasembada pangan cara instan, demi pencitraan

Apa hendak dikata inilah realitas hidup di negara yang--maaf--dikendalikan
oleh para bedebah

Wassalam, HDB-SBK (L, 68+)  

===============================================

Lagi, solusi terhadap kegagalan swasembada pangan yang dilahirkan oleh
Pemerintah adalah membangun sebuah perkebunan pangan. Delta Kayan Farm Food
Estate akan dibangun di Bulungan oleh sebuah perusahaan BUMN persero yang
bekerjasama dengan swasta lain dengan luas 30.000 hektar. BUMN hanya akan
mengelola 3.000 hektar, sementara sisanya akan digarap oleh pihak swasta.

Kota Terpadu Mandiri Salim Batu (KTM Salim Batu) yang dikembangkan sebagai
kawasan food estate akan memanfaatkan areal potensial seluas 30.000 hektar
dengan melibatkan 7.841 keluarga/30.215 jiwa yang terdiri dari penduduk asli
dan masyarakat transmigran. (Kompas)

Pangan, yang di negeri ini sangat identik dengan padi sawah, sepertinya
sudah benar-benar menghapus memori para pelayan publik (baca: pemerintah)
dalam memperkuat pangan komunitas lokal. Selama ini, komunitas lokal lebih
banyak ditopang oleh padi ladang (gunung), serta beragam pangan dari hutan,
perlahan beralih pada pangan yang disiapkan karpet merah oleh pemerintah.
Bahkan sekarang tak terlalu sulit untuk menemukan mie instant di ujung jalur
transportasi.

Food Estate pun kian menarik pemerintah daerah, yang kemudian berlomba-lomba
untuk menyajikan lahannya untuk kerajaan pangan ini. Kutai Kartanegara,
kabupaten yang wilayahnya dipenuhi oleh ratusan perijinan tambang batubara
yang menggusur lahan pertanian, bahkan menyatakan bersedia menyediakan 120
ribu hektar lahan food estate. Kutai Barat pun menyanggupi 70 ribu hektar,
Kutai Timur dengan 30 ribu hektar dan Bulungan hingga 50 ribu hektar. Seolah
melupakan begitu banyaknya lahan-lahan pangan yang selama ini dikelola oleh
komunitas lokal telah tergusur oleh perkebunan besar dan pertambangan.

Para petani dan peladang di berbagai wilayah negeri ini masih terus
bertarung untuk mempertahankan lahan pangannya. Pemerintah dengan murah
menggadaikan lahan-lahan pertanian produktif kepada investor (asing) yang
selalu datang hanya dengan bermodalkan air liur. Begitu mudahnya negeri ini
membiarkan jengkal demi jengkal lahan beralih penguasaan, dari warga negeri
ini kepada korporasi. Padahal sudah jelas, begitu banyaknya korporasi di
negeri ini, tidak pernah membawa sebuah perubahan yang lebih baik bagi
kesejahteraan dan kebahagaian warga. Bahkan seorang menteri pun berani
berujar "petani tidak akan jadi buruh", yang pada kenyataannya para petani
terpaksa menjadi buruh di lahan yang dulu pernah dimilikinya.

Pemerintah pun mengklaim bahwa 1.600 hektar sawah sudah dicetak dalam
setahun terakhir. 9,7 juta rupiah setiap hektarnya. Angka produksi pun belum
bergeser dari 149.138 hektar, 580.654 ton gabah kering giling atau setara
dengan 336.108 ton beras. Masih defisit 65.042 ton beras, kabarnya. Ini
hanya hitungan bagi perkotaan, bukan terhadap mereka yang selama ini
membangun lumbung-lumbung padi, yang sebagian besar telah dihilangkan paksa,
dengan menanam padi ladang atau memanen di sawah tadah hujan.

Satu hal lagi yang terlupakan oleh Pemerintah, karena food estate diletakkan
di kawasan Delta, yang artinya merupakan kawasan mangrove dan lahan basah,
yang tentu saja akan mengangkangi Deklarasi Kalimantan Timur Hijau, yang
selalu yes-yes-yes-yes-yes, karena food estate akan mengalihfungsikan
kawasan mangrove, rawa dan gambut. Bisa jadi para pemimpin tersebut sedang
terhalang pikirannya dengan angka-angka investasi yang fantastis, tanpa
pernah melakukan perhitungan kehilangan ekologi dan sosial-budaya warga.
Defisit pasti akan terjadi, hanya demi memuaskan kebutuhan pangan yang entah
untuk siapa.

Food Estate, sebuah model baru untuk menghancurkan negeri ini. Tatatan
budaya kelola lahan, yang merupakan pembentuk budaya dan identitas negeri
ini. Beragam materi budaya, tari, lagu, syair, dilahirkan dari budaya kelola
lahan. Kebhinnekaan pun ingin ditungalkan oleh pelayan publik. Hanya demi
eksistensi, kepuasan pribadi dan aliran kepingemas untuk memperkuat
pundi-pundi kelompoknya. Food Estate, potret penghancuran negeri.

* Tulisan ini merupakan bagian dari gerakan Blog Action Day 2011 *

Artikel ini dapat dikutip ataupun diperbanyak dengan tetap menyebutkan
sumbernya :

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke