Padang Ekspres • Jumat, 24/02/2012 14:09 WIB • (sih) • 75 klik

Solsel, Padek—Sejak sepekan terakhir, sebanyak 15 orang suku anak
dalam (orang rimba) berada di Solok Selatan. Mereka “turun gunung”
karena dikabarkan hendak mencari tanah kelahiran nenek moyangnya.

Rombongan Suku Anak Dalam itu berasal dari Bukit Duabelas, Kabupaten
Sarolangun Bangko, Jambi.  Menurut cerita yang mereka dapat, mendiang
munyang laki-laki (moyang-red) mereka, bernama Mangku Muhammad,
berasal dari Pagaruyung Batusangkar, Tanahdatar.

“Munyang aku ndak mau dijajah (saat zaman penjajahan, red), lalu masuk
ke dalam hutan dan nikah dengan suku dalam. Sudah lama kami dapat
cerita itu. Kami ingin betul melihat tanah asal munyang kami, juga
famili kami yang orang Minang,” tutur Ismail, 58, Kamis (23/2). Soal
keyakinan, Ismail bersama saudara-saudaranya mengaku telah menganut
Islam.

Kerinduan mereka mengunjungi Pagaruyung akhirnya terwujud. 35 hari
yang lampau, Ismail bersama sanak saudaranya berangkat dari Bukit
Duabelas. Rombongan terdiri dua istri Ismail (Siti Aminah dan
Masidah), mertua perempuannya, saudaranya yang bernama Siti Khadijah,
serta 10 orang anak-anak mereka.

Di antaranya ada yang berusia 1,5 tahun. Dari rimba Bukit Duabelas,
mereka berjalan kaki melewati Kabupaten Dharmasraya, hingga ke
Pagaruyung, Batusangkar.

Dua minggu mereka berada di tanah Pagaruyung. Bukan main senangnya
hati mereka. Kerinduan bertemu dengan sanak famili terlepas sudah
meski tak satu pun warga Tanahdatar yang mereka kenal.

Bagi mereka, siapa saja yang mereka jumpai di sana, dianggap saudara.
“Saat di Batusangkar, kami menginap di kantor camat,” imbuh Siti
Aminah.

Setelah merasa puas melepas di Batusangkar, mereka berencana
melanjutkan perjalanan pulang ke Bangko, melewati Solok Selatan dan
Kerinci. Peralatan yang mereka bawa cukup beragam. Mulai dari terpal
hingga peralatan memasak. Semuanya dibungkus dalam karung plastik yang
dipikul orang dewasa.

Sedangkan anak-anak mereka, hanya kebagian membawa ember kecil. Di
sepanjang jalan, kepada siapa pun yang lewat, bocah-bocah itu akan
menyodorkan ember tersebut.

Saat sampai di Pinangawan, Pauhduo, mereka terlihat sangat lelah.
Apalagi anak-anak. Perjalanan ratusan kilo itu, cukup menguras tenaga
bocah ingusan itu. Di pinggir jalan, di atas rumput mereka selonjorkan
kaki.

Untunglah, beberapa hari di Solsel, mereka mendapat perhatian dari
warga. Ada yang memberikan makanan, ada pula yang memberi uang. “Tadi
malam, kami nginap di rumah sekolah,” ujar Aminah, wanita beranak
empat yang tidak tahu berapa usianya.

Ismail mengaku kasihan terhadap anak-anak. Mereka masih kecil, tapi
terpaksa harus diboyong. Sebab, kalau anak-anak ditinggalkan di rumah
(tengah rimba), mau makan apa. Ismail lalu memutuskan membawa sebagian
anaknya, membantu meminta sedekah dari warga.

“Kami ado diagiah urang dinas sosial rumah trans di Bukik Duobaleh.
Tapi tak ado lahan yang bisa digarap. Di sinan, kebun sawit lah
banyak, milik perusahaan. Susah kami cari makan,” ujarnya.

Sehari-hari, anak-anak mereka memang diizinkan untuk mengutil sawit
oleh pemilik kebun. Namun, itu hanya sebatas anak-anak saja yang
boleh. Dari hasil mengutil sawit, satu orang anak paling banter dapat
lima kilo. Meski jauh dari jumlah kebutuhan, tapi cukup membantu untuk
makan sehari-hari.

Suku anak dalam atau orang rimba, sering juga disebut dengan Suku
Kubu. Namun, istilah Kubu terdengar kasar dan tidak disukai oleh suku
anak dalam. Suku ini hanya terdapat di pedalaman  hutan Provinsi Jambi
dan Sumatera Selatan. (sih)

http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=24527

-- 
Wassalam
Nofend | L-35 | CKRG

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke