1.400 Warga Pesisir Selatan Butuh Listrik

Senin, 12 Maret 2012 | 01:42 AM


PAINAN, KOMPAS.com - Sekitar 1.400 orang penduduk Kecamatan Pancung
Soal, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat di dua nagari (desa
adat) membutuhkan listrik PLN.

"Kami sangat butuh listrik yang belum pernah dinikmati sejak dahulu
sehingga daerah ini kelak tidak lagi disebut sebagai tertinggal," kata
Malid, masyarakat Pancung Soal di Pancung Soal, Minggu (11/3/2012).

Dua nagari yang belum disambung jaringan listrik tersebut, Indrapura
dan Indrapura Selatan yang merupakan nagari hasil pemekaran. Di sana
terdapat 15 kampung dengan penduduk sebanyak 231 kepala keluarga.

Listrik, kata Malid, saat ini sudah menjadi kebutuhan yang mendesak
bagi masyarakat untuk lepas dari ketertinggalan yang dialami sejak
dahulu.

"Listrik ini sudah menjadi idaman kami sejak dahulu. Kami juga telah
mengusulkan hingga beberapa kali ke pemerintah kabupaten melalui wali
nagari (kepala desa adat) di sini," kata Malid.

Dari 15 kampung itu, yang terjauh Mudiak Aie dengan jarak dari ibu
kecamatan sekitar 11 kilometer. Selebihnya hanya berjarak sekitar 4
kilometer, bahkan rata-rata 1,5 kilometer dari ibu kecamatan.

Menurutnya, dengan jarak yang tidak jauh dari ibu kecamatan, tidak
pantas lagi disebut sebagai daerah tertinggal, namun hingga kini
kenyataan itu masih saja terjadi karena ketiadaan jaringan listrik.

"Kami dan keluarga ingin hidup seperti daerah lain, memasak nasi dan
makanan lainnya hanya dengan tinggal memasang listrik ke alat memasak.
Begitu juga malam hari, tanpa menyalakan lampu dinding (petromax),
kami sudah bisa diterangi listrik," ungkapnya.

Dia mencontohkan, pada suasana Lebaran dan bulan puasa, masyarakat
susah karena tidak ada listrik. Sebagai persiapan makan sahur, harus
melebihkan masakan saat berbuka puasa.

"Masih untung pada shalat Tarawih berjamaah, pengurus masjid
menyiapkan alat penerangan dari generator set (genset). Namun biaya
yang harus dikeluarkan untuk bahan bakar minyak genset cukup besar,"
ujar bapak tiga anak ini.

Sebagai alat penerangan malam hari, warga kata dia, umumnya memakai
alat penerangan lampu teplok atau lampu patromax.

Hanya sebagian kecil warga di kampung itu kata dia yang memakai genset
untuk rumah mereka, namun jika dibandingkan biaya yang harus
dikeluarkan untuk membeli bahan bakar minyak tidak seimbang dengan
penghasilan yang diterima setiap harinya.


Sumber : ANTARA

-- 
Sent from my mobile device

Wassalaamu'alaikum
Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
suku Mandahiliang,
lahir 17 Agustus 1947.
nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman.
rantau Deli, Jakarta, kini Sterling, Virginia-USA
------------------------------------------------------------

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke