Apakah Gita Wirjawan penganut "Idiologi Pasar" atawa yang lebih popular dengan istilah "neoliberalisme"?
Sangat mungkin kalau menyimak tulisannya, Nasionalisme Ekonomi, di Harian Kompas edisi 7 Oktober 2010 [1], yang kemudian ditanggapi oleh Sayidiman Suryohadiprojo: Nasionalisme Ekonomi yang Memajukan Bangsa (Kompas, 12/10/10) [2], Kwik Kian Gie: Nasionalisme Ekonomi Vs Rendemen Modal (Kompas , 11/10/2010) dan Sri-Edi Swasono: Indonesia Tidak untuk Dijual! (Kompas 4/11/2010) [3] Karena itu tidak aneh-aneh amat kalau memang SBY (yang selalu ingin tampak manis di depan lembaga dan kekuatan-kekuatan "asing") menginginkan Gita Wirjawan sebagai suksesor rezimnya. Berikut tulisan Kwik Kian Gie: Nasionalisme Ekonomi Vs Rendemen Modal, yang menyoroti dengan tajam, tulisan Gita Wirjawan. Wallahualam bissawab Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69-), asal Padangpanjang, tinggal di Depok ======== Kwik Kian Gie: Nasionalisme Ekonomi Vs Rendemen Modal Senin, 11 Oktober 2010 | 03:46 WIB http://cetak.kompas.com/read/2010/10/11/03460669/nasionalisme.ekonomi.vs.ren demen.modal Oleh Kwik Kian Gie Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan menulis di halaman 7 Kompas, 7 Oktober 2010, dengan judul "Nasionalisme Ekonomi". Dari artikel itu, ada kesan kepemilikan modal dianggap tidak penting. Yang lebih penting adalah manfaat ekonomi yang bisa dipetik. Persoalannya, siapa yang memetik manfaatnya? Saya membatasi diri untuk mengajukan beberapa pertanyaan. Apa ada pemilik modal yang membagi bagian terbesar dari rendemen modalnya untuk orang lain ? Kalau betul, alangkah bodoh pemilik modal yang bersangkutan! Argumen yang disampaikan selama ini, kehadiran dan beroperasinya modal, di mana pun, pasti akan mempunyai dampak yang bersifat multiplier dan menjalar ke mana-mana, trickle left, trickle right, trickle up, dan trickle down. Dapatkah Kepala BKPM menunjukkannya dengan angka- angka seperti yang selalu dilakukan oleh para ekonometris di negara-negara maju, Eropa dan Amerika Serikat? Kalau modal asing sebesar 200 miliar dollar AS masuk ke Indonesia untuk mengeksploitasi batu bara, batu bara yang disedot adalah komponen dari produk domestik bruto (PDB). Tetapi, PDB itu milik siapa? Bagaimana pembagian PDB-nya, dalam bentuk: berapa rendemen modal buat pemilik modal? Berapa royalti dan pajak buat pemerintah? Berapa lapangan kerja yang diciptakan? Berapa upah setiap buruh dan staf Indonesia? Kalau pembagian manfaat buat setiap orang yang terlibat dalam bekerjanya modal dipersandingkan, apakah betul peran modal asing akan menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia secara adil? Bagaimana hitung-hitungannya? Penciptaan nilai Dalam artikel Kepala BKPM antara lain ada bagian yang menyatakan "... menghambat penciptaan nilai di Indonesia...". Persoalannya, "penciptaan nilai di Indonesia" apakah sama dengan "penciptaan nilai buat bangsa Indonesia"? Prof Sri-Edi Swasono sering mengatakan bahwa yang terjadi di Indonesia adalah pembangunan di Indonesia dengan manfaat terbesar buat pemilik modal asingnya, bukan buat rakyat Indonesia yang memiliki sumber daya alam. Pemerintah menerima pajak dan royalti yang sangat kecil dibandingkan dengan laba bersih buat investornya. Bagian terbesar dari rakyat Indonesia terlibat sebagai kuli-kuli dengan upah yang sangat minimal, mungkin upah minimum regional (UMR). Siapa yang benar? Lihat saja, misalnya, apa yang terjadi dengan Freeport. BUMN bisa baik dan bisa rusak-rusakan. Sama seperti swasta yang tidak dapat disangkal ikut merusak ekonomi Indonesia dengan skala angka- angka yang luar biasa besarnya. Apakah menurut Kepala BKPM, swasta di AS pada krisis tahun 2008 tidak merusak ekonomi AS dan dunia sampai Presiden Obama menjadi sangat "kiri" seperti sekarang ini? Sumber daya alam yang terdapat di dalam perut bumi Indonesia, di dalam perairan Indonesia, di atas perut bumi berbentuk hutan-hutan, adalah kekayaan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa karena tidak ada yang membuat seperti halnya dengan pabrik roti, pabrik obat, pabrik mobil, pabrik komputer, pabrik perangkat lunak (software). Kesemuanya ini kekayaan yang buatan manusia (man made) dengan kombinasi modal. Akan tetapi, semua kekayaan alam tadi diberikan oleh Tuhan kepada rakyat yang menghuni bumi yang bersangkutan. Jadi, yang terdapat di Indonesia adalah untuk bangsa Indonesia. Karena Tuhan Maha Adil, membagi manfaat dari kekayaan alam harus secara seadil-adilnya. Siapa yang harus mengeksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan rakyat Indonesia ini? Bukankah itu tanggung jawab mereka yang sudah diberi wewenang dan gaji oleh rakyat Indonesia sebagai pemilik semua kekayaan alam itu? Apa bentuk organisasi yang harus mengeksploitasi aset milik rakyat Indonesia pemberian Tuhan itu kalau bukan BUMN? Hanya karena per definisi BUMN dianggap sudah rusak dan pegawainya korup, tidak bisa dipakai sebagai alasan untuk lantas menyerahkan semua dengan gampangnya kepada asing. Ada anggapan seolah perusahaan seperti Goldman Sachs dan JP Morgan mesti bersihnya, mesti efisiennya. Benarkah? Kalau benar begitu, kenapa bisa terjadi krisis Wall Street pada tahun 2008? Bukankah sang raksasa AIG dan Lehman Brothers lenyap dalam sekejap? Kepala BKPM mengungkapkan, "Sepintas, upaya ini seperti mengabaikan kepentingan nasional karena mendahulukan kepentingan penanam modal, terutama penanaman modal asing. Akan tetapi, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jika dirancang dengan baik, upaya ini akan membawa arus dana yang dibutuhkan serta manfaat jangka panjang bagi rakyat". Selanjutnya ditambahkan, "Penyikapan yang dilakukan adalah bagaimana penerapan nasionalisme ekonomi bisa berfokus pada manfaat ekonomi secara menyeluruh". Dapatkah saya mendapatkan penelitian dimaksud serta rincian yang lebih konkret dan lebih eksak mengenai bagaimana penerapan nasionalisme ekonomi yang bisa berfokus pada manfaat ekonomi secara menyeluruh tersebut? Kalau disingkat, inti artikel tersebut adalah modal asing harus kita arahkan sedemikian rupa sehingga manfaatnya kesejahteraan rakyat Indonesia yang sangat besar, adil dan merata. Persoalannya, bagaimana caranya? Rendemen pemilik modal Ketika Bung Karno menjadi presiden, kalau ada menteri yang mengemukakan what to achieve, dan setelah ditanya Bung Karno tidak bisa menjawab how to achieve secara rinci, beliau mengangkat kakinya yang telanjang ke atas meja, menunjuk jari kaki jempolnya sambil mengatakan kepada sang menteri yang bersangkutan, "Kalau hanya begitu pikiranmu, dan weet mijn grote teen ook (jempol kakiku juga tahu)." Last but not least, bukankah modal dari mana pun, juga modal asing, harus memberikan rendemen buat pemiliknya? Kalau modal asing ditanam ke dalam barang publik, bukankah rakyat harus membayar barang publik itu kepada pemilik modal? Di negara-negara yang maju, jalan raya bebas hambatan, air bersih (bisa diminum) dan transportasi massa gratis atau kalau perlu merugi, dibiayai secara gotong royong melalui pajak progresif, dan uang pajak ini tidak perlu dikembalikan oleh penggunanya. Maka, kalau kita bepergian ke Eropa dan AS, highway, freeway, autobahn, snelweg, semuanya gratis. Tidak seperti Indonesia, pemakainya harus membayar dengan tarif tol cukup tinggi sehingga bisa memberikan rendemen kepada pemilik modal yang memuaskan, yang harus lebih tinggi dari tingkat bunga bank yang dibayar olehnya. Kwik Kian Gie Ekonom ------------------------------- [1] http://cetak.kompas.com/read/2010/10/07/04310355/nasionalisme.ekonomi [2] http://cetak.kompas.com/read/2010/10/12/03023423/nasionalisme.ekonomi.yang.m emajukan.bangsa [3] http://cetak.kompas.com/read/2010/11/04/02581532/indonesia.tidak.untuk.dijua l -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
