Assalamu alaikum pak Zubir Amin, 

tarimo kasih komentarnyo,
btw, lah lamo indak basuo, terakhir sempat silaturahmi ka rumah Ajo di "parak 
limau" ( kebun jeruk) , hampir 8 thn yg lalu.

alun tasampai juo, rencana ambo ingin belajar ilmu komunikasi gaya diplomat 
dari Ajo Buyuang, Zubir Amin...he..he.he

mak Ajo, alhamdulillah di Abu Dhabi, siko keadaan orang Indonesia lebih 
dihargai, 

karena banyak juga yg jadi pekerja trampil, operator, teknisi, engineer, bahkan 
manajer.
di grup pers Adnoc, persh minyak Abu Dhabi, semacam pertamina di Indonesia, 
banyak org Indonesia yg bekerja disana
karena kinerja yg baik, dapat apresiasi bagus dari persh dan org2 arab setempat.

utk rekruitmen tenaga kerja baru di grup Adnoc di UAE dan juga di Qatar, spt 
Qatar petroleum , Qatar Gas, mereka mengutamakan org Indonesia,
selain dinilai kerjanya bagus, juga karena sesama muslim, itulah kelebihan awak 
dibanding org India atau filipina di timur tengah ko.
kecek nyo, urang india banyak hota, saketek karajo, urang indonesia, tak banyak 
omong, tapi kerjaan beres

( btw, mengingat karakter org India tsb, ambo jadi galak2 surang, dipikia2 , 
ampia samo juo, yo karakter urang minang...he.he.he.. )


beda sekali dengan kondisi di Saudi Arabia, dimana banyak org Indonesia jadi 
pekerja rendahan, pembantu rumah tangga, supir dll,
sampai kerja yg tak jelas, yg membuat kita sendiri suka sedih melihatnya, 
sering malu sendiri pula jadinya. 

Malah kita sendiri kalau ke sana ( spt pergi haji atau umroh) seringkali spt 
tak dihargai pula oleh org lain

karano itulah kalau ambo pai umroh lewat jalur darat dari Abu Dhabi siko, 

kalau basuo yo urang2sinan dibawa mahota bahasa arab pasar sajo atau bahaso 
urdu yo urang pakistan/india.

dan ambo kecekkan tingga di Abu Dhabi, baru inyo menghargai awak.


btw, pak Zubir Amin, di UAE ada beberapa  diplomat nyo nan urang awak juo, 

antara lain Konjen RI di Dubai, pak Mansyur Pangeran, mungkin lai kenal Ajo ?


salam hormat utk Ajo Buyuang dan keluarga, semoga sehat wal afiat selalu


HM


[email protected] May 16 10:12AM  

Kalau orang Indonesia kebanyakan menjadi apa di Dhubai n Abu Dhabi, Hendra?.
Mudah-mudahan tidak menjadi tukang pungut sampah kertas ditoko-toko 
Super Market Bin Dawood di Jeddah,Madinah,seperti nn JB jumpai beberapa 
tahun nn lalu disana.
 
Namun demikian,thread Hendra ada mempunyai makna tersendiri.Selamat bertugas.
 
JB,DtRJ,di Bonjer,Jakbar.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
 
-----Original Message-----
From: Hendra Messa <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 16 May 2012 17:58:44 
To: rantaunet<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] belajar dari keragaman budaya, kisah dari Abu Dhabi
 
 
Saat naik bis kota di Abu Dhabi ataupun naik kereta metro di Dubai, satu
 hal yg unik ialah kita bisa mendengarkan ring tone dengan beragam 
melody, saat handphone salah seorang penumpang berdering. Sekali waktu 
tiba2 berdering ring tone dengan irama lagu2 india, saat lain kita bisa 
mendengarkan rentak irama negeri arab, lagu2 barat popular sampai irama 
music yg tak kita kenali sama sekali, pokoknya beragam ring tone bisa 
kita dengarkan dari para penumpang di kendaraan umum tersebut yang 
terdiri dari orang berbagai bangsa. Abu Dhabi dan Dubai, kota besar di 
UAE, adalah kota yg multikultur, orang berbagai bangsa kita temui 
disana, menurut berita dari salah satu media massa setempat, ada sekitar
 200 kebangsaan berbeda tinggal dan bekerja di  negara UAE.
Kita akan bisa merasakannya saat sampai disana, bahkan sejak di Airport,
 kita bertemu para pegawai imigrasi berpakaian jubah , orang arab 
emirati setempat, para porter org india, pekerja cleaning service orang 
Bangladesh, org Filipina yg jadi penunggu toko2 free tax di airport, 
para supir orang2 pakistan, dan para penumpang dari berbagai kebangsaan 
lain nya. Itu baru di airport, saat sampai ke tempat2 umum lain nya di 
tengah kota seperti di mall, di sekolah, bahkan  sampai saat sholat di 
mesjid pun, kita akan bertemu dengan orang berbagai bangsa.
Berdasar pengalaman datang ke Jakarta dari daerah,  kita sering dihantui
 ketakutan akan kriminalitas atau gangguan dari kelompok2 tertentu, 
Sehingga saat datang ke kota besar di negara lain, pikiran khawatir spt 
itu masih ada. Ternyata keadaan nya lain sekali, walau berada di tempat 
asing dengan orang2 asing dari berbagai negara sekalipun, kita bisa 
aman, dan orang2 nya pun baik dan menghargai kita.
Bergaul dg orang berbagai bangsa, mendengar cerita2 mereka tentang 
bangsa dan negaranya, kita seolah2 sedang mengembara ke berbagai penjuru
 dunia, mengenal kondisi alamnya, mengenal perjuangan hidupnya, banyak 
pelajaran berharga juga bisa diraih. Tiap2 negara memiliki cerita2 unik 
tersendiri pula.
Silahkan baca selengkapnya pada link berikut ;
http://hdmessa.wordpress.com/2012/05/16/ragam-budaya-kisah-dari-abu-dhabi/
 
salam 
HM

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke