Selamat ya bu Tuti,

Bundokanduang di Lampung sangat bergiat. Merealisasikan ide di negeri orang 
sama halnya menanam benih kebaikan di negeri sendiri, karena yang akan memetik 
manfaatnya lai urang awak juo.
 Mudah mudahan dapat dicontoh ditempat lain. Rantau memang batuah.  

Teriring doa kesuksesan untuk bapak dan ibu Malano.

Wassalam,

Evy Djamaludin


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Fri, 18 May 2012 02:24:27 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] Ketika Pengurusan Keduniaan Kacau Apa Yang Harus 
Dilakukan

 Yth Bpk MDS .

 Keluhan bapak tidak akan merobah apapun,Karena terlalu Luas. Mari kita 
kerucutkan k Masalah Ekonomi,Tabanglah Alang Baduo2,Unggeh tabang k muaro,d 
Ngarai batanam Lado,Lah malang nasib Kaki Limo galeh Takambang Usiran 
Tibo,Jatuah Badarai  Aia Mato.ini persoalan Jutaan Orang Minang d Rantau maupun 
d Ranah.Solusinya adalah membuat Mall kaki lima(UKM),ini sudah kami lakukan d 
Lampung tanpa Bantuan Pemerintah dan Bank.
Karena Konsep ini akan d kembangkan d seluruh Indonesia terutama d Sumbar mohon 
sumbangan Pemikiran bapak.
Call 081540942223 ( Herman Malano)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Muhammad Dafiq Saib <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 17 May 2012 17:51:04 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] Ketika Pengurusan Keduniaan Kacau Apa Yang Harus Dilakukan

Alaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu


Ketika Pengurusan Keduniaan Kacau Apa Yang Harus Dilakukan

Sebuah diskusi panjang tengah berlangsung. Diskusi yang hanya sebatas diskusi 
karena memang tidak ada kesimpulan yang bisa diambil. Atau kalau pun ada 
kesimpulan maka itu hanyalah sekadar wacana. Sekadar teori. Sekadar 
angan-angan. Diskusi berketerusan juga. Sambil mengeluh panjang pendek. 
Kenapa dan kenapa. Kenapa kita yang mempunyai filosofi yang begitu indah tidak 
diamalkan. Kenapa kata-kata yang seharusnya tidak mengganggu 
orang lain dan ditujukan khusus kepada umat Islam itu dahulu dihapuskan. 
Sehingga lihatlah sekarang, karena ketujuh kata itu diabaikan, nah 
inilah yang terjadi. Kesana sayut, kesini senteng kita jadinya. Coba dulu.....

Tak habis-habis mengeluh. Coba dulu, kata-kata itu dipertahankan. Hah? Lalu 
akan adakah jaminan bahwa segala sesuatu akan berjalan indah sesuai 
dengan aturan? Aturan? Kurang apa aturan, meski yang dibikin-bikin 
manusia seperti sekarang ini yang ternyata juga tidak berjalan? Aturan 
tinggallah di aturan. Kalau memang tidak ada niat untuk menjadi baik, 
apa dayanya si aturan. Si Pencilok dihukum, begitu menurut aturan. Tapi si 
Pencilok bisa mengatur aturan agar dia tidak dihukum. Atau agar hukumannya 
diatur-atur. Lalu mau apa kita? 

Kita salahkan anak kemenakan yang tidak lagi seperintah mamak. Kalau mamak 
hanya sekadar pandai memerintah-merintah saja, memang jadi sulit. 
Sekarang anak kemenakan adalah generasi merdeka yang tidak suka 
diperintah-perintah. Lalu? Lalu terjadilah yang akan terjadi. Di saat 
'keduniaan' semakin menjadi-jadi ini. Disaat informasi, cerita, berita, 
tontonan ada dimana-mana. Ada di kantong baju. Ada di layar sebesar 5 
senti. Informasi apa saja. Berita apa saja. Tontonan apa saja. Di dalam 
kantong baju. Yang layarnya dapat dinikmati kapan saja, dimana saja 
dengan siapa saja. Di ruang sidang anggota dewan. Di atas kereta. Di 
dalam lift. Di ruang kerja. Di kakus.

Apa yang akan 
diperintah? Apa yang akan dilarang? Bagaimana akan melarang? Lalu kita 
sibuk juga bernostalgia, dahulu tidaklah begini. Dahulu, ketika kita 
teratur mengaji ke surau, kita adalah generasi yang sopan-sopan. Ehem, 
benarkah? Bukankah dahulu ada juga yang sekali seketika kita 'makan 
gadang' di surau dengan ayam yang dicekau di kandang rumah 
orang? Atau kita membakar jagung muda yang diambil begitu saja di ladang mak 
Tan Ameh, padahal tidak ada anak atau kemenakan mak Tan Ameh yang 
ikut dengan kita. Ketika itu kita sangat menghormati orang tua. Kita 
sangat takut dan segan kepada mamak. Kita taat dan patuh kepada orang 
tua. Alhamdulillah. Dahulu kita berada dalam lingkungan yang lebih 
sederhana. Yang lebih tertib, ehem, kalaupun ketika itu memang lebih 
tertib. Karena kan ada juga. Mamak yang dulu sering menasihati kita itu, rajin 
pula berdamini   di lapau Tan Brain. Ketika kita menghampir pula ke lepau, kita 
disuruhnya pergi. 

Dalam lingkup lebih luas, kita sesali dan sekali lagi hanya bisa kita sesali 
keadaan. Kenapa negeri ini, yang penduduknya 88% (ini data resmi badan 
sensus nasional) beragama Islam, kehidupan masyarakatnya hambur adul 
dalam kemungkaran. Dalam kemaksiatan. Kemaksiatan terang-terangan. Orang 
mencuri terang-terangan. Orang menipu terang-terangan. Orang bermaksiat 
terang-terangan. Dan tidak tersentuh hukum. Padahal kita berdalih juga 
bahwa negeri ini negeri hukum. Hukum yang mana? Lalu kita salahkan hukum yang 
dibuat manusia itu. Padahal, yang benar-benar bermasalah adalah 
niat kita untuk menegakkan hukum tadi. Dengan hukum buatan manusia, 
seorang yang berbuat kesalahan dihukum sekian-sekian, demikian-demikian. Tapi 
niat untuk memberlakukan hukum itu kosong alias bisa 
ditawar-tawar. Akan sama saja jadinya, biarpun kita tahu ada ketetapan 
Allah atas tindak-tindak kejahatan dan bagaimana seharusnya 
menghukumnya. 'Kita' tidak ada niat untuk mentaati hukum yang manapun.

Kita salahkan cara pengaturan negeri ini. Cara mengangkat pemimpin. Cara 
mengutus perwakilan. Cara menetapkan undang-undang. Kalau dilihat 
salahnya, memang semua itu lemah belaka. Kita tiru demokrasi ala barat. 
Satu orang satu suara. Presiden, gubernur, bupati, wakil rakyat kita 
pilih dengan aturan satu orang satu suara. Ini cara demokrasi barat. 
Lihatlah hasilnya. Semua serba kebablasan. Lalu gubernur ditangkap KPK. 
Menteri ditangkap KPK. Bupati ditangkap KPK karena mereka semua bergelemak 
peak. Salah.... dimana-mana salah. Kan seharsunya, seperti yang dirancang 
pendahulu negeri ini dulu, kita mengangkat pemimpin itu dengan 
musyawarah. Maka ada majelis musyawarah rakyat. Ada dewan wakil-wakil 
rakyat. Begitu seharusnya. Hah? Bukankah selama berpuluh tahun kita 
sudah punya lembaga itu? Bahkan sekarangpun masih ada. Dahulu lagi, 
presiden dipilih oleh majelis syuro, yakni majelis permusyawaratan 
rakyat, oleh wakil-wakil rakyat. He..he..he.. Bagaimana mungkin kita 
melupakan betapa majelis ini  selama berpuluh tahun dikangkangi oleh 
yang berkuasa. Lalu kita punya presiden seumur hidup yang ditetapkan 
oleh majelis syuro kita tadi itu. Padahal majelis itu telah 
terang-terangan dikebiri. Di dalamnya duduk orang-orang yang dahulu itu 
fasih denganinggih ndoro. Yes Sir. Dan akibatnya ditetapkanlah presiden seumur 
hidup. Tapi kata Allah tidak jadi. Allah biarkan 
presiden seumur hidup itu tumbang. Berganti presiden. Diangkat pula oleh 
majelis syuro kembali. 32 tahun majelis itu dikangkanginya dengan 
segala macam cara. Diangkat juga sekali lima tahun, tapi yang diangkat 
dia terus. Wakilnya boleh berganti-ganti tapi dia sendiri tidak. Ada 
saja caranya agar dia dipilih oleh anggota majelis itu kembali.Tapi 
akhirnya, kata Allah diapun jatuh pula.


Pertanda apa itu?

Pertanda bahwa 
tidak ada jaminan kalau Allah tidak berkehendak. Kalau kita secara 
individu-individu tidak meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh. 
Disini seharusnya tugas para ulama kita yang benar-benar ulama  
mengingatkan kita. Tanpa henti-henti. Agar masing-masing kita memulai 
dengan diri kita sendiri. Menjaga diri kita dan keluarga kita dari siksa api 
neraka. Quu anfusakum wa ahlikum naara. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari 
siksa api neraka. Ini diarahkan kepada setiap 
Muslim yang merupakan 88% dari jumlah penduduk Indonesia kita itu. 
Ingatkan mereka, setiap mereka, setiap diri. Jaga diri kalian dan 
anak-istri kalian dari ancaman api neraka. Ingatkan calon presiden, 
calon wakil rakyat, calon guberbur, calon bupati bahkan sampai calon 
Ketau RT sekalipun. 'Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin 
akan diminta tanggung jawabnya atas kepemimpinannya.' Ketika kalian 
tidak bisa mempertanggungjawabkannya, maka tempat kalian adalah neraka 
jahannam. Berhati-hati benarlah kalian karena siksa neraka jahannam itu 
sangat bersangatan pedihnya.

Maka terserahlah akan 
berbentuk apa pengaturan negeri ini. Yang penting aturlah diri 
masing-masing kita agar terhindar dari murka Allah. Dari hukuman Allah. 
Ingat, ketika kita berdosa kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha 
Pengampun Maha Penyayang. Allah niscaya akan mengampuni kita, sebesar 
apapun dosa kita, selama kita mau meminta ampun. Tapi ingat, dosa kita 
kepada sesama manusia, Allah tidak akan ikut campur sebelum kita saling 
menyelesaikannya di antara kita. Ingatlah agar tidak memakan hak orang 
lain, apalagi hak orang lain sekampung, sekabupaten, sepropinsi, 
senegara. Selama orang-orang itu tidak mengikhlaskan dan memaafkan kita, 
niscaya kita akan menerima hukuman Allah di dalam nerakanya kelak. 
Maka, quu anfusakum wa ahlikum naara. Dan mulailah dengan diri masing-masing!

Wallahu a'lam.

Jatibening, penghujung Jumadil Akhir 1433.

Wassalamu'alaikum,


Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H, 
Jatibening - Bekasi


________________________________

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke