Sebenar berkerunyut kening saya membaca 2 posting di bawah ini. Ibu Evy memberi selamat kepada Ibu Tuti, mungkin karena membaca email address-nya. Tapi ketika saya surut ke belakang membaca email sebelumnya ditutup dengan nama Bapak Herman Malano. "Manola nan batua?" Apa Pak Herman pakai nama perempuan (mungkin istrinya) atau emang sudah menjadi Nick name. Atau malah istri Bapak yang menulis a.n. Bapak.
Baru sekali ini saya membaca posting Pak HM, kok bisa kasih kami sedikit pengetahuan tentang Bapak. Domisili, usia, jenis kelamin, asal, dan semisalnya. Mohon maaf kalau ada saya yang sesat. Salam kenal satu dulu. Saya mengangguk ketika Bapak menulis tentang ekonomi. Sesuai benar kita Pak. Terlalu banyak bergedele tidak akan membuat kita beringsut dari tempat yang kini. Pastikan saja besok apa gelas yang akan dijual. Sudah jelas-jelas Allah menghalalkan jual-beli. Tanya diri kita, "Kapan terakhir kita menjual?" Jangan-jangan terlalu sering membeli. Kata teman saya, "Saya tiap hari menjual kepandaian saya ke kantor?" Apa iya? Cobalah kalau BBM naik, naikkan pula harga kepandaian kita. Bukankah harga ditentukan oleh si pengguna keahlian? Jika "ya", itu namanya bukan menggelas. Salut saya sama Bapak, tanpa banyak kata sudah mendirikan Mal K5. Di Pelanta ini ada yayasan siapa tahu bisa pula ikut serimis dua rimis. Maaf terlonsong saya, saya bukan anggota, tapi saya berharap benar untuk kemajuan YPRN. Salam, ZulTan, L, 51, Bogor Sent from my iPad 2 On 18 Mei 2012, at 09:49, [email protected] wrote: > Selamat ya bu Tuti, > > Bundokanduang di Lampung sangat bergiat. Merealisasikan ide di negeri orang > sama halnya menanam benih kebaikan di negeri sendiri, karena yang akan > memetik manfaatnya lai urang awak juo. > Mudah mudahan dapat dicontoh ditempat lain. Rantau memang batuah. > > Teriring doa kesuksesan untuk bapak dan ibu Malano. > > Wassalam, > > Evy Djamaludin > > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > From: [email protected] > Sender: [email protected] > Date: Fri, 18 May 2012 02:24:27 +0000 > To: <[email protected]> > ReplyTo: [email protected] > Subject: Re: [R@ntau-Net] Ketika Pengurusan Keduniaan Kacau Apa Yang Harus > Dilakukan > > Yth Bpk MDS . > > Keluhan bapak tidak akan merobah apapun,Karena terlalu Luas. Mari kita > kerucutkan k Masalah Ekonomi,Tabanglah Alang Baduo2,Unggeh tabang k muaro,d > Ngarai batanam Lado,Lah malang nasib Kaki Limo galeh Takambang Usiran > Tibo,Jatuah Badarai Aia Mato.ini persoalan Jutaan Orang Minang d Rantau > maupun d Ranah.Solusinya adalah membuat Mall kaki lima(UKM),ini sudah kami > lakukan d Lampung tanpa Bantuan Pemerintah dan Bank. > Karena Konsep ini akan d kembangkan d seluruh Indonesia terutama d Sumbar > mohon sumbangan Pemikiran bapak. > Call 081540942223 ( Herman Malano) > Powered by Telkomsel BlackBerry® > From: Muhammad Dafiq Saib <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Thu, 17 May 2012 17:51:04 -0700 (PDT) > To: [email protected]<[email protected]> > ReplyTo: [email protected] > Subject: [R@ntau-Net] Ketika Pengurusan Keduniaan Kacau Apa Yang Harus > Dilakukan > > Alaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu > > > Ketika Pengurusan Keduniaan Kacau Apa Yang Harus Dilakukan > > Sebuah diskusi panjang tengah berlangsung. Diskusi yang hanya sebatas diskusi > karena memang tidak ada kesimpulan yang bisa diambil. Atau kalau pun ada > kesimpulan maka itu hanyalah sekadar wacana. Sekadar teori. Sekadar > angan-angan. Diskusi berketerusan juga. Sambil mengeluh panjang pendek. > Kenapa dan kenapa. Kenapa kita yang mempunyai filosofi yang begitu indah > tidak diamalkan. Kenapa kata-kata yang seharusnya tidak mengganggu orang lain > dan ditujukan khusus kepada umat Islam itu dahulu dihapuskan. Sehingga > lihatlah sekarang, karena ketujuh kata itu diabaikan, nah inilah yang > terjadi. Kesana sayut, kesini senteng kita jadinya. Coba dulu..... > > Tak habis-habis mengeluh. Coba dulu, kata-kata itu dipertahankan. Hah? Lalu > akan adakah jaminan bahwa segala sesuatu akan berjalan indah sesuai dengan > aturan? Aturan? Kurang apa aturan, meski yang dibikin-bikin manusia seperti > sekarang ini yang ternyata juga tidak berjalan? Aturan tinggallah di aturan. > Kalau memang tidak ada niat untuk menjadi baik, apa dayanya si aturan. Si > Pencilok dihukum, begitu menurut aturan. Tapi si Pencilok bisa mengatur > aturan agar dia tidak dihukum. Atau agar hukumannya diatur-atur. Lalu mau apa > kita? > > Kita salahkan anak kemenakan yang tidak lagi seperintah mamak. Kalau mamak > hanya sekadar pandai memerintah-merintah saja, memang jadi sulit. Sekarang > anak kemenakan adalah generasi merdeka yang tidak suka diperintah-perintah. > Lalu? Lalu terjadilah yang akan terjadi. Di saat 'keduniaan' semakin > menjadi-jadi ini. Disaat informasi, cerita, berita, tontonan ada dimana-mana. > Ada di kantong baju. Ada di layar sebesar 5 senti. Informasi apa saja. Berita > apa saja. Tontonan apa saja. Di dalam kantong baju. Yang layarnya dapat > dinikmati kapan saja, dimana saja dengan siapa saja. Di ruang sidang anggota > dewan. Di atas kereta. Di dalam lift. Di ruang kerja. Di kakus. > > Apa yang akan diperintah? Apa yang akan dilarang? Bagaimana akan melarang? > Lalu kita sibuk juga bernostalgia, dahulu tidaklah begini. Dahulu, ketika > kita teratur mengaji ke surau, kita adalah generasi yang sopan-sopan. Ehem, > benarkah? Bukankah dahulu ada juga yang sekali seketika kita 'makan gadang' > di surau dengan ayam yang dicekau di kandang rumah orang? Atau kita membakar > jagung muda yang diambil begitu saja di ladang mak Tan Ameh, padahal tidak > ada anak atau kemenakan mak Tan Ameh yang ikut dengan kita. Ketika itu kita > sangat menghormati orang tua. Kita sangat takut dan segan kepada mamak. Kita > taat dan patuh kepada orang tua. Alhamdulillah. Dahulu kita berada dalam > lingkungan yang lebih sederhana. Yang lebih tertib, ehem, kalaupun ketika itu > memang lebih tertib. Karena kan ada juga. Mamak yang dulu sering menasihati > kita itu, rajin pula berdamini di lapau Tan Brain. Ketika kita menghampir > pula ke lepau, kita disuruhnya pergi. > > Dalam lingkup lebih luas, kita sesali dan sekali lagi hanya bisa kita sesali > keadaan. Kenapa negeri ini, yang penduduknya 88% (ini data resmi badan sensus > nasional) beragama Islam, kehidupan masyarakatnya hambur adul dalam > kemungkaran. Dalam kemaksiatan. Kemaksiatan terang-terangan. Orang mencuri > terang-terangan. Orang menipu terang-terangan. Orang bermaksiat > terang-terangan. Dan tidak tersentuh hukum. Padahal kita berdalih juga bahwa > negeri ini negeri hukum. Hukum yang mana? Lalu kita salahkan hukum yang > dibuat manusia itu. Padahal, yang benar-benar bermasalah adalah niat kita > untuk menegakkan hukum tadi. Dengan hukum buatan manusia, seorang yang > berbuat kesalahan dihukum sekian-sekian, demikian-demikian. Tapi niat untuk > memberlakukan hukum itu kosong alias bisa ditawar-tawar. Akan sama saja > jadinya, biarpun kita tahu ada ketetapan Allah atas tindak-tindak kejahatan > dan bagaimana seharusnya menghukumnya. 'Kita' tidak ada niat untuk mentaati > hukum yang manapun. > > Kita salahkan cara pengaturan negeri ini. Cara mengangkat pemimpin. Cara > mengutus perwakilan. Cara menetapkan undang-undang. Kalau dilihat salahnya, > memang semua itu lemah belaka. Kita tiru demokrasi ala barat. Satu orang satu > suara. Presiden, gubernur, bupati, wakil rakyat kita pilih dengan aturan satu > orang satu suara. Ini cara demokrasi barat. Lihatlah hasilnya. Semua serba > kebablasan. Lalu gubernur ditangkap KPK. Menteri ditangkap KPK. Bupati > ditangkap KPK karena mereka semua bergelemak peak. Salah.... dimana-mana > salah. Kan seharsunya, seperti yang dirancang pendahulu negeri ini dulu, kita > mengangkat pemimpin itu dengan musyawarah. Maka ada majelis musyawarah > rakyat. Ada dewan wakil-wakil rakyat. Begitu seharusnya. Hah? Bukankah selama > berpuluh tahun kita sudah punya lembaga itu? Bahkan sekarangpun masih ada. > Dahulu lagi, presiden dipilih oleh majelis syuro, yakni majelis > permusyawaratan rakyat, oleh wakil-wakil rakyat. He..he..he.. Bagaimana > mungkin kita melupakan betapa majelis ini selama berpuluh tahun dikangkangi > oleh yang berkuasa. Lalu kita punya presiden seumur hidup yang ditetapkan > oleh majelis syuro kita tadi itu. Padahal majelis itu telah terang-terangan > dikebiri. Di dalamnya duduk orang-orang yang dahulu itu fasih dengan inggih > ndoro. Yes Sir. Dan akibatnya ditetapkanlah presiden seumur hidup. Tapi kata > Allah tidak jadi. Allah biarkan presiden seumur hidup itu tumbang. Berganti > presiden. Diangkat pula oleh majelis syuro kembali. 32 tahun majelis itu > dikangkanginya dengan segala macam cara. Diangkat juga sekali lima tahun, > tapi yang diangkat dia terus. Wakilnya boleh berganti-ganti tapi dia sendiri > tidak. Ada saja caranya agar dia dipilih oleh anggota majelis itu > kembali.Tapi akhirnya, kata Allah diapun jatuh pula. > > Pertanda apa itu? > > Pertanda bahwa tidak ada jaminan kalau Allah tidak berkehendak. Kalau kita > secara individu-individu tidak meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh. > Disini seharusnya tugas para ulama kita yang benar-benar ulama mengingatkan > kita. Tanpa henti-henti. Agar masing-masing kita memulai dengan diri kita > sendiri. Menjaga diri kita dan keluarga kita dari siksa api neraka. Quu > anfusakum wa ahlikum naara. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api > neraka. Ini diarahkan kepada setiap Muslim yang merupakan 88% dari jumlah > penduduk Indonesia kita itu. Ingatkan mereka, setiap mereka, setiap diri. > Jaga diri kalian dan anak-istri kalian dari ancaman api neraka. Ingatkan > calon presiden, calon wakil rakyat, calon guberbur, calon bupati bahkan > sampai calon Ketau RT sekalipun. 'Setiap kalian adalah pemimpin. Dan setiap > pemimpin akan diminta tanggung jawabnya atas kepemimpinannya.' Ketika kalian > tidak bisa mempertanggungjawabkannya, maka tempat kalian adalah neraka > jahannam. Berhati-hati benarlah kalian karena siksa neraka jahannam itu > sangat bersangatan pedihnya. > > Maka terserahlah akan berbentuk apa pengaturan negeri ini. Yang penting > aturlah diri masing-masing kita agar terhindar dari murka Allah. Dari hukuman > Allah. Ingat, ketika kita berdosa kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha > Pengampun Maha Penyayang. Allah niscaya akan mengampuni kita, sebesar apapun > dosa kita, selama kita mau meminta ampun. Tapi ingat, dosa kita kepada sesama > manusia, Allah tidak akan ikut campur sebelum kita saling menyelesaikannya di > antara kita. Ingatlah agar tidak memakan hak orang lain, apalagi hak orang > lain sekampung, sekabupaten, sepropinsi, senegara. Selama orang-orang itu > tidak mengikhlaskan dan memaafkan kita, niscaya kita akan menerima hukuman > Allah di dalam nerakanya kelak. Maka, quu anfusakum wa ahlikum naara. Dan > mulailah dengan diri masing-masing! > > Wallahu a'lam. > > Jatibening, penghujung Jumadil Akhir 1433. > > Wassalamu'alaikum, > > Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam > Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi > Lahir : Zulqaidah 1370H, > Jatibening - Bekasi > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti > subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
