Pak Darul, pak Nof, kalau demikian duduknya masalah, mungkin salah satu 
solusinya adalah menambah jumlah personil ATC dan memperbanyak shift.

Teriring salam. Dikirim dari iPad saya

On 21 Mei 2012, at 07:27, "De Momod" <[email protected]> wrote:

> 
> Pak Saaf, Nof sobat lain.
> 
> Saya melihat dengan 3 shift dalam kerja 24 jam, apa lagi kerja full 
> konsentrasi begitu memang berat.
> 
> Kalau di anjungan kapal bekerja untuk kendaraan slow motion sajo dalam 24 jam 
> dilakukan 6 shift.
> 
> Paliang kurang jadi 4 shift. Satiok shift 6 jam alah barek bana tu.
> 
> Iko 8 jam ambo raso super barek mah.
> 
> Salam
> The old navigator
> 
> make a life meaningful
> Darul via Sinyal Kuat INDOSAT®
> From: Dr Saafroedin Bahar <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Mon, 21 May 2012 13:12:17 +0700
> To: [email protected]<[email protected]>
> ReplyTo: [email protected]
> Cc: [email protected]<[email protected]>; 
> [email protected]<[email protected]>; 
> [email protected]<[email protected]>
> Subject: Re: [Wisata Minang] Re: Sidak Pak Mantari - ATC Soeta
> 
>  
> Saya juga sangat khawatir, pak Nof. Saya sarankan agar MAPPAS - bersama 
> organisasi pemeduli penerbangan lainnya -  mengambil langkah politik konkrit 
> untuk mengoreksinya, antara lain : berterima kasih untuk temuan sidak Menteri 
> BUMN, mendorong Komisi DPR RI yang bersangkutan untuk memanggil Menteri 
> Perhubungan untuk meminta pertanggungjawabannya, serta  memprotes pimpinan 
> Bandara  Soekarno Hatta, dan berbagai langkah lain yang diperlukan untuk 
> menjamin keselamatan penumpang. 
> 
> Teriring salam. Dikirim dari iPad saya
> 
> On 21 Mei 2012, at 06:57, "Nofrins Napilus" <[email protected]> wrote:
> 
>>  
>> Iko bukan sekedar urusan basalemak peak sajo. Lebih berbahaya dr itu. 
>> Urusannya NYAWA RIBUAN manusia...! Kalau calon wisatawan dr luar negeri 
>> tahu, apakah mereka masih akan berbondong-bondong ke Indonesia...?
>> 
>> 1 atau 2 thn lalu beredar BBM dan SMS yg menyatakan betapa BERBAHAYA nya 
>> trafik penerbangan di Bandara Soeta dan area sktrnya. Apalagi skrg semakin 
>> padat dan cenderung udah seperti Terminal Bus. Tapi bayaran tiketnya tetep 
>> penerbangan udara. Pd saat itu, info tsb dianggap gosip dan mendiskreditkan 
>> pihak tertentu. 
>> 
>> Dg sidak Pak Menteri ini, melihat handling orang Indonesia dlm mengurus Air 
>> Traffic Control, bagian PALING KRITIKAL di Bandara, bukan main NGERIII nya 
>> kita...! Terutama bagi yg paham aspek EHS...! SOP mana yg dipakai...? Apakah 
>> gak dpt pelatihan dg standar internasional..? Semoga stlh ini, Bandara Soeta 
>> akan ada perbaikan serius...! Tetap optimis utk Wonderful Indonesia...! 
>> Insya allah...
>> 
>> Wass,
>> Nofrins
>> 
>> "A Portrait is a Landscape of Emotion" - Powered by 
>> http://faceofindonesia.com/nofrins
>> From: [email protected]
>> Sender: [email protected]
>> Date: Sun, 20 May 2012 17:31:24 +0000
>> To: sma1 bkt<[email protected]>
>> ReplyTo: [email protected]
>> Subject: Bls: [SMA1Bkt Jaya] Sidak Pak Mantari
>> 
>>  
>> Suasana balemak peak diluar jam dinas yg normal apalagi waktu boss tdk ada 
>> itu adalah hal yg biasa hampir di semua kantor2 indonesia. Krn budaya bersih 
>> dan patuh pada aturan yg sdh di gariskan belum melekat pd bangsa ini. ambo 
>> khawatir lamo2 DIs ikut jadi stres maliek kelakuan karyawan no itu, apolagi 
>> kalau sering sidak macam itu, makin tabukak balang mental pekerja indonesia 
>> yang ABS. Semoga baliau kuat dan di berikan kesehatan prima dlm menjalankan 
>> amanat rakyat.
>> A M 71
>> 
>> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>> From: Dodo Sutan sati <[email protected]>
>> Sender: [email protected]
>> Date: Sun, 20 May 2012 09:34:13 -0700 (PDT)
>> To: [email protected]<[email protected]>
>> ReplyTo: [email protected]
>> Subject: [SMA1Bkt Jaya] Sidak Pak Mantari
>> 
>>  
>> Copas dari Lapau Subalah
>>  
>> ......Bandara Soekarno-Hatta medio Februari 2012 dituturkan oleh Siti Ita 
>> Nasyi'ah wartawan di Majalah Kartini.
>> 
>> Minggu, pukul 06.00 wib, saat jalanan di Jakarta masih lengang, mobil
>> Mercy L 1 JP melaju kencang menuju bandara Soekarto Hatta. Penumpangnya 
>> hanya berempat. Pak Menteri BUMN, aku dan pak Jusak. Pak Dis duduk di depan 
>> kiri berdampingan dengan Zahidin, sopir pribadinya.
>> Sedangkan aku dan pak Jusak, duduk di belakang. Kami berdua seperti
>> juragan di mobil mewah itu. Terlihat beberapa botol air mineral dan
>> camilan kecil tersedia rapi. Juga ada permen.
>> 
>> ''Kita berangkat pagi, krn aku pingin mampir ATC (Air Traffic Control)
>> Soeta,'' kata pak menteri sambil menggulung lengan hem bergaris warna
>> biru yang dikenakan. Sesegera mungkin, tas kopor kutarik dan
>> kumasukkan ke dalam bagasi mobil berwarna hitam metalik itu. Sepinya
>> jalanan ibukota, membuat Zahidin tancap gas full. Tidak sampai 1 jam,
>> perjalanan menuju bandara Soeta dari Capital Residence, dilalui tanpa
>> hambatan. Lucunya, saat sampai di pintu gerbang Perum Angkasa Pura
>> (PAP), mobil melaju pelan. Pak menteri bergegas menurunkan kaca sambil
>> menyapa sekuriti dan satpam yang tengah berjaga.
>> 
>> ''Pagi, pak. Permisi, ya'' sapa pak Dis dgn ramah. Belum sempat
>> menjawab, mobil yang membawa kita melaju menuju sebuah gedung paling
>> ujung. Rupanya gedung ini adalah tempat paling vital milik PAP. Karena
>> di gedung inilah letak berbagai mesin pengontrol lalu lintas udara
>> yang ada di bandara Soeta. Belum sampai di tempat parkir, terdengar
>> peluit dari security yang kita lalui. Dari belakang, kulihat petugas
>> jaga yang ada di pos, berlari-lari menghampiri mobil kami. Dengan
>> wajah garang, seorang petugas berbadan agak tambun menyuruh mobil kami
>> kembali.
>> 
>> Alasannya, tempat terlarang dan tidak boleh sembarangan orang masuk.
>> Utk urusan itu, pak Dis menyerahkan pada Zahidin. Sepintas, kulihat
>> ada adu argumentasi antara sopir pribadi pak Dis dengan petugas
>> security. Sedangkan Pak Jusak buru-buru mencari toilet. Apa yang
>> terjadi, aku tidak tahu pasti. Bagiku, mengikuti langkah pak Dis yang
>> sangat cepat, lebih penting. Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis
>> menuju sebuah gedung yg salah satu mejanya bertuliskan receptionis.
>> 
>> ''Pagi, Assalamulaikum, permisi,'' sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu
>> kosong. Tak ada jawaban. Namun demikian, Pak Dis tetap bertahan dan
>> berusaha memasuki ruang demi ruang yang ada sambil melihat-lihat
>> keadaan. Kotor dan peralatan kantor berserakan tidak pada tempatnya.
>> Disamping itu, terlihat meja kerja maupun meja tamu, terdapat botol
>> air mineral, bekas piring makan dan satu lagi, asbak penuh puntung
>> rokok. Padahal, ruangan itu full AC. Dingiiin. Bagiku, ini aneh...
>> Meskipun minggu dikenal hari libur bagi masyarakat umum, tidak
>> demikian dengan PAP dan dunia airline. Hari libur, justru hari-hari
>> sibuk bagi instansi yang ada dalam salah satu BUMN tersebut. Makanya,
>> ada 3 shif yang diberlakukan bagi karyawannya di bagian ini. Belum
>> tuntas keanehanku, muncul suara nyanyian dari laki-laki yang ada di
>> dlm ruangan yang ada di televisinya itu.
>> 
>> Akupun kembali mengeraskan suaraku mengucapkan salam. Bukan jawaban
>> salam, yang kuterima, malah semprotan sinis. ''Siapa lo, pagi gini.
>> Berisik amat,'' demikian jawab laki-laki berseragam dengan wajah
>> ketus. Begitu melihat wajahku, laki-laki lain muncul dengan suara tak
>> kalah garang. ''Siapa yang suruh masuk ke sini,'' katanya dengan suara
>> lebih keras. Akupun tak mau kalah. ''Mana bosmu, pak menteri pingin
>> ketemu,'' jawabku dengan tak kalah garang. Mendengar suara galakku,
>> laki-laki yang ada di dalam, ikutan keluar. Sampai akhirnya ada lima
>> orang lelaki yang bersiap menghadapiku.
>> 
>> Saat kutoleh ke belakang, pak Dis buru-buru beranjak pergi. Pak Dis
>> keluar dan mencari-cari sendiri ruangan ATC. Akupun bergegas mengikuti
>> langkah gesitnya. ''Lho, bukannya itu pak Dahlan Iskan ya,'' kata dua
>> petugas yang masih muda dan ganteng. Tanpa menjawab, aku pergi berlari
>> menguntit langkah pak Dis dari belakang. Kulihat, ada perubahan wajah
>> pak Dis dari yang sebelumnya ramah, agak kecut. HP blackberry warna
>> hitam dikeluarkan dan memencet nomor telepon. Sambil terus berjalan,
>> pak Dis menelepon seseorang.
>> 
>> ''Assalamulaikum, selamat pagi mas. Mohon maaf, mengganggu libur anda
>> ya. Sorry, nih, saya nuwun sewu, dan kulo nuwun, ingin melihat ATC.
>> Melihat komputer yang baru kita beli kemarin. Nuwun sewu lho, mas,''
>> ucap pak menteri. Rupanya, pak Dis menelpon bos PAP yang tengah
>> menikmati libur minggu. ''Tidak usah, tidak usah. Biar saya sendiri
>> saja yang mencari. Saya sudah ada di dalam kantor anda kok ini. Cuma
>> mencari-cari belum ketemu,'' ucap pak menteri sambil terus
>> membuka-buka pintu ruangan yg dilalui. Rupanya, sebelum itu, pak Dis
>> sudah pernah berkunjung. Hanya saja, lupa tempatnya. Meski demikian,
>> pak Dis tidak putus asa. Sampai akhirnya, ada ruangan yang bertuliskan
>> ATC.
>> 
>> Bergegas, pak Dis masuk. ''Nah, ini dia,'' ucapnya dengan wajah
>> berbinar. Akupun mengikuti langkah pak Dis. Benar. Di ruangan yg agak
>> tersembunyi itu, terdapat sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan itu
>> ada beberapa orang bekerja. Sambil mengucapkan salam, pak Dis
>> menyalami satu persatu karyawan yg tengah bertugas. Tentu saja mereka
>> kaget. Tidak mengira, jika ruangan mereka dikunjungi menteri. Beberapa
>> orang yang tadinya santai, terlihat kembali ke komputernya. Begitu
>> juga yang tengah merokok, meletakkan putung rokoknya di asbak yang ada
>> di sampingnya.
>> 
>> ''Wah, lembur ya. Maaf, saya ganggu,'' ucap pak Dis sambil
>> bertanya-tanya pada karyawan yang berkerja kala itu. Stlh meminta
>> penjelasan ruangan yg tengah didatangi, pak Dis minta ditunjukkan
>> tangga menuju tower ATC. ''Wah, disini perokok semua ya,'' kata pak
>> Dis setengah menyindir. Kudengar ada yang menjawab dan ada yang
>> membisu, sambil mematikan putung rokoknya. Beberapa orang, kulihat
>> sibuk menelepon. Entah siapa yang ditelepon. Pastinya, ada dua orang
>> lelaki yang memperkenalkan diri sebagai supervisor menjadi penunjuk
>> jalan menuju tower. Kamipun berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan.
>> 
>> ''Di sini pak. Mari,'' ucap lelaki bertubuh tegap yang mengenakan hem
>> kuning muda. Di depan pintu masuk ruangan itu, terdapat tulisan
>> ''dilarang masuk'' dan tulisan ''steril''. Selain itu juga ada tulisan
>> ''jagalah kebersihan'' . Karena tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis 
>> mencopot sepatu ketsnya. Apalagi di tempat itu juga terdapat rak
>> sepatu. ''Di sini tidak sembarang orang boleh masuk pak,'' kata
>> petugas tadi menjelaskan ruangan khusus itu. Pak Dis hanya
>> manggut-manggut. Setelah itu, kami diajak naik ke sebuah tangga. Kalau
>> tidak salah, ada 10 anak tangga yang kami naiki. Di ujung anak tangga,
>> terdapat sebuah ruangan yang dipintunya bertuliskan ''yang tidak
>> berkepentingan di larang masuk''.
>> 
>> Rupanya, kita diajak ke sebuah ruangan kontrol yang seluruh ruangannya
>> full komputer. Suasananya ramai. Minimal ada 30 komputer berbagai
>> ukuran. Masing-masing komputer ada seorang operatornya. Cuma sayang,
>> ruangan yang super dingin itu tidak steril, spt slogan yang
>> dituliskan. Buktinya, di samping meja komputer, ada beberapa makanan.
>> Mulai makanan kecil, sampai piring bekas makan mie. Tragisnya, ruangan
>> ber suhu super dingin itu terdapat beberapa asbak ukuran 1 meter.
>> Sangat kontradiksi ... Paraah ...
>> 
>> STRES
>> 
>> Melihat ini semua, pak Dis bertanya-tanya. ''Kenapa masih ada rokok
>> dan bekas makanan di ruangan ini? Katanya steril,'' ucap pak Dis
>> serius. Kulihat, leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan.
>> ''Oh, iya pak. Rokok itu utk menghilangkan stres saja. Kalau tidak,
>> temen-teman tidak bisa konsentrasi dalam memantau jalur-jalur
>> penerbangan, '' jawab lelaki sekenanya. ''Oh, gitu ya. Kalau stres ya
>> gak usah bekerja saja. Cukup di rumah. Di sini kan butuh orang sehat.
>> Bukan untuk orang stres,'' jawab pak Dis tak mau kalah. Melihat
>> jawaban itu, lelaki tadi tersenyum kecut. ''Iya, pak. Siap,'' jawabnya
>> dengan wajah pucat. ''Tolong ya, pak. yang stres diistirahatkan
>> saja,'' tambah pak Dis.
>> 
>> Setelah itu, pak Dis minta penjelasan tentang komputer raksasa yang
>> baru saja didatangkan oleh kementeriannya. Setelah itu, pak Dis
>> berkeliling dan melihat sekeliling. Begitu melihat ada piring makan,
>> sendok, mangkuk dan beberapa bekas pembungkus mie, pak Dis berucap
>> lagi. ''Lebih komplit di sini, dibuka kantin atau resto ya,'' ucapnya
>> sinis. Sindiran ini ternyata direspon positif. Buktinya, beberapa
>> lelaki yang sebelumnya mengikuti langkah kita, buru-buru menugasi
>> kawannya membersihkan bekas makanan, piring atau apa saja yang ada di
>> meja sekitar komputer. Akupun hanya senyum-senyum melihat karyawan di
>> bagian komputer itu kelabakan.
>> 
>> KONSER
>> 
>> Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC
>> berada. Sesuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi yang ada
>> di bandara Soeta. Tower inilah tempat paling vital dari setiap
>> bandara. Karena di tempat inilah komunikasi antara petugas dengan
>> pilot pesawat untuk minta ijin landing atau take off pesawat. Sial.
>> Meskipun tempat ini bisa dikatakan jantungnya bandara, tidak seperti
>> yang digambarkan.
>> 
>> Super sterilnya tidak tampak. Puntung rokok juga masih ada di beberapa
>> tempat. Bahkan, sebuah asbak tinggi, juga disiapkan. Pak menteri,
>> kembali kecewa. Peralatan serba canggih dan super mahal, tidak
>> diimbangi dengan atitut operatornya. Ketka ditanya mengapa masih ada
>> puntung dan asbak, petugas tadi berkata lugu. ''Biasanya kalau
>> teman-teman panik, pelampiasannya memukul-mukul berbagai alat yang ada
>> utk pelampiasan kegalauan sambil menyanyi-nyanyi, pak Apalagi jika
>> cuacanya buruk seperti akhir-akhir ini,'' ujar petugas yang
>> bertanggung jawab di bagian tower. Pak Dis pun mendengar dengan serius
>> jawaban petugas tersebut.
>> 
>> ''Oh begitu. Bagus,'' jawab menteri kelahiran Takeran sambil
>> mengangguk- anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis minta penjelasan secara
>> rinci, bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan karyawan di bagian
>> tower itu. Puas, pak Dis mengajak beberapa supervisor turun. Di sebuah
>> ruangan kecil, pak Dis mengatakan, bahwa semua keluhan akan ditindak
>> lanjuti. Utamanya, masalah stres dan menabuh bunyi-bunyian di bagian
>> tower sebagai pelampiasan kegalauan karyawan.
>> 
>> ''Ita, tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana kinerja
>> kita di Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower
>> dibuatkan orkestra untuk konser musik. Anda kan mantan wartawan musik
>> toh, jadi gampang untuk mengatur mereka,'' kata pak Dis kepadaku.
>> Mendengar ucapan pak Dis kepadaku, beberapa supervisor tadi hanya
>> menganggukkan kepala. Jelas sekali, jika pak Dis kecewa. Jelas, bila
>> pak menteri gundah.
>> 
>> DOSEN
>> 
>> Sampai akhirnya, akupun angkat bicara. Pada saat pak menteri
>> mengenakan sepatu, akupun memberi pencerahan. Seperti seorang guru,
>> akupun mengisahkan bagaimana sterilnya ruangan redaksi Jawa Pos.
>> Bapak-bapak, kataku memulai ''ceramah'' kecil''.
>> 
>> Di Jawa Pos, peralatannya juga canggih karena ada alat cetak jarak
>> jauh dan lain sebagainya yg berkaitan dgn satelit. Untuk menjaga itu
>> semua, bukan berarti karyawan yang merokok tidak boleh merokok. Boleh.
>> Asalkan di luar ruangan. Begitu juga dengan makan. Semuanya boleh
>> dilakukan. Karena merupakan kebutuhan utama manusia. Namun, semuanya
>> itu harus dilakukan pada tempatnya. Untuk merokok, haruslah di luar
>> ruangan. Di dalam ruang redaksi, harus steril. Jadi, kataku lebih
>> lanjut, tolong, di sediakan ruangan merokok bagi yang merokok.
>> 
>> Sehingga, selain ruangan ber AC jadi segar dan bersih, peralatan super
>> canggih yang dibelikan dengan uang rakyat bisa dipelihara dengan
>> aman. Melihat aku berceramah seperti dosen di depan mahasiswa, pak Dis
>> menahan senyum sambil pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya.
>> 
>> Oalah....rek. ...rek. Dadi opo aku iki.
>> 
>> Setelah itu, kamipun pamitan pulang. Di tengah perjalanan menuju
>> mobil, kulihat ada seorang pejabat yang buru-buru hendak menemui kami.
>> ''Mana pak menteri Dahlan,'' tanyanya kepadaku. Akupun segera
>> menunjukkan dengan tanganku ke arah belakang. Kulihat pak Dis sibuk
>> menelpon di temani tiga orang supervisor yang tadi kukuliahi.
>> 
>> Sayup-sayup, ku dengar, pejabat yang berlari-lari itu meminta maaf
>> pada pak Dis karena keterlambatannya itu. ''Maaf pak. Tadi saya ada di
>> tempat lain,'' ucapnya memberi alasan. Akupun berlari menuju toilet
>> karena dinginnya ruangan ''steril'' tersebut.
>> 
>> PS :
>> Bagi mrk yg ingin mengetahui ACT eeh ATC ... Tempat Paling Vital di Bandara !
>> 
>> regards,
>> 
>> Dodo St Sati '90 Bdg
>>  
>> 
>>  
> 
> __._,_.___
> Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic
> Messages in this topic (3)
> RECENT ACTIVITY:
> Visit Your Group
> Kita membangun MAPPAS untuk ikut menangani masalah-masalah wisata di ranah, 
> dengan cara meminta perhatian fihak yang berwenang mengenai masalah-masalah 
> tersebut di Sumatera Barat. 
> 
> Menimba teknik DPR RI dalam membahas rancangan undang-undang, saya merasa ada 
> baiknya kita himpun sebuah daftar yang memuat secara rinci masalah-masalah 
> kepariwisataan ini, yang untuk sementara kita sebut
> sebagai Daftar Inventarisasi Masalah Pariwisata Sumatera Barat, atau DIM-PSB. 
> Terhadap setiap masalah yang ditemui pada setiap obyek wisata kita sampaikan 
> saran konkrit, dan kita catat respons manajer obyek wisata tersebut.
> Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use
> .
>  
> __,_._,___

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke