Baitu juo kalau awak masuak banyak hotel di negara ko: di tapi kasuanyo atau di 
meja nan ado dalam kamar hotel acok basobok bekas sundudtanm rokok, agak maitam 
atau bolong. Kalau masuak awak ka kamar mandi acok basobok camin nan teleng, 
tong sampah nan bau dan lah bolong2 kanai sundut puntuang rokok, atau wc nan 
tasumbek. Antah manga para penginap sabalunnyo dalam kamar hotel tu. 
 
Suryadi
 

________________________________
Dari: Nofrins Napilus <[email protected]>
Kepada: [email protected]; [email protected] 
Cc: [email protected] 
Dikirim: Senin, 21 Mei 2012 1:57
Judul: [R@ntau-Net] Re: Sidak Pak Mantari - ATC Soeta


Iko bukan sekedar urusan basalemak peak sajo. Lebih berbahaya dr itu. Urusannya 
NYAWA RIBUAN manusia...! Kalau calon wisatawan dr luar negeri tahu, apakah 
mereka masih akan berbondong-bondong ke Indonesia...?

1 atau 2 thn lalu beredar BBM dan SMS yg menyatakan betapa BERBAHAYA nya trafik 
penerbangan di Bandara Soeta dan area sktrnya. Apalagi skrg semakin padat dan 
cenderung udah seperti Terminal Bus. Tapi bayaran tiketnya tetep penerbangan 
udara. Pd saat itu, info tsb dianggap gosip dan mendiskreditkan pihak tertentu. 

Dg sidak Pak Menteri ini, melihat handling orang Indonesia dlm mengurus Air 
Traffic Control, bagian PALING KRITIKAL di Bandara, bukan main NGERIII nya 
kita...! Terutama bagi yg paham aspek EHS...! SOP mana yg dipakai...? Apakah 
gak dpt pelatihan dg standar internasional..? Semoga stlh ini, Bandara Soeta 
akan ada perbaikan serius...! Tetap optimis utk Wonderful Indonesia...! Insya 
allah...

Wass,
Nofrins

"A Portrait is a Landscape of Emotion" - Powered by 
http://faceofindonesia.com/nofrins

________________________________

From: [email protected] 
Sender: [email protected] 
Date: Sun, 20 May 2012 17:31:24 +0000
To: sma1 bkt<[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: Bls: [SMA1Bkt Jaya] Sidak Pak Mantari
  
Suasana balemak peak diluar jam dinas yg normal apalagi waktu boss tdk ada itu 
adalah hal yg biasa hampir di semua kantor2 indonesia. Krn budaya bersih dan 
patuh pada aturan yg sdh di gariskan belum melekat pd bangsa ini. ambo khawatir 
lamo2 DIs ikut jadi stres maliek kelakuan karyawan no itu, apolagi kalau sering 
sidak macam itu, makin tabukak balang mental pekerja indonesia yang ABS. Semoga 
baliau kuat dan di berikan kesehatan prima dlm menjalankan amanat rakyat.
A M 71 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

________________________________

From: Dodo Sutan sati <[email protected]> 
Sender: [email protected] 
Date: Sun, 20 May 2012 09:34:13 -0700 (PDT)
To: [email protected]<[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: [SMA1Bkt Jaya] Sidak Pak Mantari
  
Copas dari Lapau Subalah

......Bandara Soekarno-Hatta medio Februari 2012 dituturkan oleh Siti Ita 
Nasyi'ah wartawan di Majalah Kartini.

Minggu, pukul 06.00 wib, saat jalanan di Jakarta masih lengang, mobil
Mercy L 1 JP melaju kencang menuju bandara Soekarto Hatta. Penumpangnya hanya 
berempat. Pak Menteri BUMN, aku dan pak Jusak. Pak Dis duduk di depan kiri 
berdampingan dengan Zahidin, sopir pribadinya.
Sedangkan aku dan pak Jusak, duduk di belakang. Kami berdua seperti
juragan di mobil mewah itu. Terlihat beberapa botol air mineral dan
camilan kecil tersedia rapi. Juga ada permen.

''Kita berangkat pagi, krn aku pingin mampir ATC (Air Traffic Control)
Soeta,'' kata pak menteri sambil menggulung lengan hem bergaris warna
biru yang dikenakan. Sesegera mungkin, tas kopor kutarik dan
kumasukkan ke dalam bagasi mobil berwarna hitam metalik itu. Sepinya
jalanan ibukota, membuat Zahidin tancap gas full. Tidak sampai 1 jam,
perjalanan menuju bandara Soeta dari Capital Residence, dilalui tanpa
hambatan. Lucunya, saat sampai di pintu gerbang Perum Angkasa Pura
(PAP), mobil melaju pelan. Pak menteri bergegas menurunkan kaca sambil
menyapa sekuriti dan satpam yang tengah berjaga.

''Pagi, pak. Permisi, ya'' sapa pak Dis dgn ramah. Belum sempat
menjawab, mobil yang membawa kita melaju menuju sebuah gedung paling
ujung. Rupanya gedung ini adalah tempat paling vital milik PAP. Karena
di gedung inilah letak berbagai mesin pengontrol lalu lintas udara
yang ada di bandara Soeta. Belum sampai di tempat parkir, terdengar
peluit dari security yang kita lalui. Dari belakang, kulihat petugas
jaga yang ada di pos, berlari-lari menghampiri mobil kami. Dengan
wajah garang, seorang petugas berbadan agak tambun menyuruh mobil kami
kembali.

Alasannya, tempat terlarang dan tidak boleh sembarangan orang masuk.
Utk urusan itu, pak Dis menyerahkan pada Zahidin. Sepintas, kulihat
ada adu argumentasi antara sopir pribadi pak Dis dengan petugas
security. Sedangkan Pak Jusak buru-buru mencari toilet. Apa yang
terjadi, aku tidak tahu pasti. Bagiku, mengikuti langkah pak Dis yang
sangat cepat, lebih penting. Setengah berlari, kuikuti langkah pak Dis
menuju sebuah gedung yg salah satu mejanya bertuliskan receptionis.

''Pagi, Assalamulaikum, permisi,'' sapa pak Dis. Ternyata, ruangan itu
kosong. Tak ada jawaban. Namun demikian, Pak Dis tetap bertahan dan
berusaha memasuki ruang demi ruang yang ada sambil melihat-lihat
keadaan. Kotor dan peralatan kantor berserakan tidak pada tempatnya.
Disamping itu, terlihat meja kerja maupun meja tamu, terdapat botol
air mineral, bekas piring makan dan satu lagi, asbak penuh puntung
rokok. Padahal, ruangan itu full AC. Dingiiin. Bagiku, ini aneh...
Meskipun minggu dikenal hari libur bagi masyarakat umum, tidak
demikian dengan PAP dan dunia airline. Hari libur, justru hari-hari
sibuk bagi instansi yang ada dalam salah satu BUMN tersebut. Makanya,
ada 3 shif yang diberlakukan bagi karyawannya di bagian ini. Belum
tuntas keanehanku, muncul suara nyanyian dari laki-laki yang ada di
dlm ruangan yang ada di televisinya itu.

Akupun kembali mengeraskan suaraku mengucapkan salam. Bukan jawaban
salam, yang kuterima, malah semprotan sinis. ''Siapa lo, pagi gini.
Berisik amat,'' demikian jawab laki-laki berseragam dengan wajah
ketus. Begitu melihat wajahku, laki-laki lain muncul dengan suara tak
kalah garang. ''Siapa yang suruh masuk ke sini,'' katanya dengan suara
lebih keras. Akupun tak mau kalah. ''Mana bosmu, pak menteri pingin
ketemu,'' jawabku dengan tak kalah garang. Mendengar suara galakku,
laki-laki yang ada di dalam, ikutan keluar. Sampai akhirnya ada lima
orang lelaki yang bersiap menghadapiku.

Saat kutoleh ke belakang, pak Dis buru-buru beranjak pergi. Pak Dis
keluar dan mencari-cari sendiri ruangan ATC. Akupun bergegas mengikuti
langkah gesitnya. ''Lho, bukannya itu pak Dahlan Iskan ya,'' kata dua
petugas yang masih muda dan ganteng. Tanpa menjawab, aku pergi berlari
menguntit langkah pak Dis dari belakang. Kulihat, ada perubahan wajah
pak Dis dari yang sebelumnya ramah, agak kecut. HP blackberry warna
hitam dikeluarkan dan memencet nomor telepon. Sambil terus berjalan,
pak Dis menelepon seseorang.

''Assalamulaikum, selamat pagi mas. Mohon maaf, mengganggu libur anda
ya. Sorry, nih, saya nuwun sewu, dan kulo nuwun, ingin melihat ATC.
Melihat komputer yang baru kita beli kemarin. Nuwun sewu lho, mas,''
ucap pak menteri. Rupanya, pak Dis menelpon bos PAP yang tengah
menikmati libur minggu. ''Tidak usah, tidak usah. Biar saya sendiri
saja yang mencari. Saya sudah ada di dalam kantor anda kok ini. Cuma
mencari-cari belum ketemu,'' ucap pak menteri sambil terus
membuka-buka pintu ruangan yg dilalui. Rupanya, sebelum itu, pak Dis
sudah pernah berkunjung. Hanya saja, lupa tempatnya. Meski demikian,
pak Dis tidak putus asa. Sampai akhirnya, ada ruangan yang bertuliskan
ATC.

Bergegas, pak Dis masuk. ''Nah, ini dia,'' ucapnya dengan wajah
berbinar. Akupun mengikuti langkah pak Dis. Benar. Di ruangan yg agak
tersembunyi itu, terdapat sebuah ruangan khusus. Di dalam ruangan itu
ada beberapa orang bekerja. Sambil mengucapkan salam, pak Dis
menyalami satu persatu karyawan yg tengah bertugas. Tentu saja mereka
kaget. Tidak mengira, jika ruangan mereka dikunjungi menteri. Beberapa
orang yang tadinya santai, terlihat kembali ke komputernya. Begitu
juga yang tengah merokok, meletakkan putung rokoknya di asbak yang ada
di sampingnya.

''Wah, lembur ya. Maaf, saya ganggu,'' ucap pak Dis sambil
bertanya-tanya pada karyawan yang berkerja kala itu. Stlh meminta
penjelasan ruangan yg tengah didatangi, pak Dis minta ditunjukkan
tangga menuju tower ATC. ''Wah, disini perokok semua ya,'' kata pak
Dis setengah menyindir. Kudengar ada yang menjawab dan ada yang
membisu, sambil mematikan putung rokoknya. Beberapa orang, kulihat
sibuk menelepon. Entah siapa yang ditelepon. Pastinya, ada dua orang
lelaki yang memperkenalkan diri sebagai supervisor menjadi penunjuk
jalan menuju tower. Kamipun berjalan menuju ruangan yang ditunjukkan.

''Di sini pak. Mari,'' ucap lelaki bertubuh tegap yang mengenakan hem
kuning muda. Di depan pintu masuk ruangan itu, terdapat tulisan
''dilarang masuk'' dan tulisan ''steril''. Selain itu juga ada tulisan
''jagalah kebersihan'' . Karena tempatnya steril, tanpa diminta pak Dis 
mencopot sepatu ketsnya. Apalagi di tempat itu juga terdapat rak
sepatu. ''Di sini tidak sembarang orang boleh masuk pak,'' kata
petugas tadi menjelaskan ruangan khusus itu. Pak Dis hanya
manggut-manggut. Setelah itu, kami diajak naik ke sebuah tangga. Kalau
tidak salah, ada 10 anak tangga yang kami naiki. Di ujung anak tangga,
terdapat sebuah ruangan yang dipintunya bertuliskan ''yang tidak
berkepentingan di larang masuk''.

Rupanya, kita diajak ke sebuah ruangan kontrol yang seluruh ruangannya
full komputer. Suasananya ramai. Minimal ada 30 komputer berbagai
ukuran. Masing-masing komputer ada seorang operatornya. Cuma sayang,
ruangan yang super dingin itu tidak steril, spt slogan yang
dituliskan. Buktinya, di samping meja komputer, ada beberapa makanan.
Mulai makanan kecil, sampai piring bekas makan mie. Tragisnya, ruangan
ber suhu super dingin itu terdapat beberapa asbak ukuran 1 meter.
Sangat kontradiksi ... Paraah ...

STRES

Melihat ini semua, pak Dis bertanya-tanya. ''Kenapa masih ada rokok
dan bekas makanan di ruangan ini? Katanya steril,'' ucap pak Dis
serius. Kulihat, leki-laki yang mengaku supervisor itu gelagapan.
''Oh, iya pak. Rokok itu utk menghilangkan stres saja. Kalau tidak,
temen-teman tidak bisa konsentrasi dalam memantau jalur-jalur
penerbangan, '' jawab lelaki sekenanya. ''Oh, gitu ya. Kalau stres ya
gak usah bekerja saja. Cukup di rumah. Di sini kan butuh orang sehat.
Bukan untuk orang stres,'' jawab pak Dis tak mau kalah. Melihat
jawaban itu, lelaki tadi tersenyum kecut. ''Iya, pak. Siap,'' jawabnya
dengan wajah pucat. ''Tolong ya, pak. yang stres diistirahatkan
saja,'' tambah pak Dis.

Setelah itu, pak Dis minta penjelasan tentang komputer raksasa yang
baru saja didatangkan oleh kementeriannya. Setelah itu, pak Dis
berkeliling dan melihat sekeliling. Begitu melihat ada piring makan,
sendok, mangkuk dan beberapa bekas pembungkus mie, pak Dis berucap
lagi. ''Lebih komplit di sini, dibuka kantin atau resto ya,'' ucapnya
sinis. Sindiran ini ternyata direspon positif. Buktinya, beberapa
lelaki yang sebelumnya mengikuti langkah kita, buru-buru menugasi
kawannya membersihkan bekas makanan, piring atau apa saja yang ada di
meja sekitar komputer. Akupun hanya senyum-senyum melihat karyawan di
bagian komputer itu kelabakan.

KONSER

Puas berkeliling, pak Dis minta ditunjukkan tower tempat mesin ATC
berada. Sesuai namanya, Tower ini merupakan bagian tertinggi yang ada
di bandara Soeta. Tower inilah tempat paling vital dari setiap
bandara. Karena di tempat inilah komunikasi antara petugas dengan
pilot pesawat untuk minta ijin landing atau take off pesawat. Sial.
Meskipun tempat ini bisa dikatakan jantungnya bandara, tidak seperti
yang digambarkan.

Super sterilnya tidak tampak. Puntung rokok juga masih ada di beberapa
tempat. Bahkan, sebuah asbak tinggi, juga disiapkan. Pak menteri,
kembali kecewa. Peralatan serba canggih dan super mahal, tidak
diimbangi dengan atitut operatornya. Ketka ditanya mengapa masih ada
puntung dan asbak, petugas tadi berkata lugu. ''Biasanya kalau
teman-teman panik, pelampiasannya memukul-mukul berbagai alat yang ada
utk pelampiasan kegalauan sambil menyanyi-nyanyi, pak Apalagi jika
cuacanya buruk seperti akhir-akhir ini,'' ujar petugas yang
bertanggung jawab di bagian tower. Pak Dis pun mendengar dengan serius
jawaban petugas tersebut.

''Oh begitu. Bagus,'' jawab menteri kelahiran Takeran sambil
mengangguk- anggukkan kepala. Sejenak, pak Dis minta penjelasan secara
rinci, bagaimana dan apa keluhan yang dirasakan karyawan di bagian
tower itu. Puas, pak Dis mengajak beberapa supervisor turun. Di sebuah
ruangan kecil, pak Dis mengatakan, bahwa semua keluhan akan ditindak
lanjuti. Utamanya, masalah stres dan menabuh bunyi-bunyian di bagian
tower sebagai pelampiasan kegalauan karyawan.

''Ita, tolong, bapak-bapak ini anda beri penjelasan, bagaimana kinerja
kita di Jawa Pos dulu. Bila perlu, besok, yang dibagian tower
dibuatkan orkestra untuk konser musik. Anda kan mantan wartawan musik
toh, jadi gampang untuk mengatur mereka,'' kata pak Dis kepadaku.
Mendengar ucapan pak Dis kepadaku, beberapa supervisor tadi hanya
menganggukkan kepala. Jelas sekali, jika pak Dis kecewa. Jelas, bila
pak menteri gundah.

DOSEN

Sampai akhirnya, akupun angkat bicara. Pada saat pak menteri
mengenakan sepatu, akupun memberi pencerahan. Seperti seorang guru,
akupun mengisahkan bagaimana sterilnya ruangan redaksi Jawa Pos.
Bapak-bapak, kataku memulai ''ceramah'' kecil''.

Di Jawa Pos, peralatannya juga canggih karena ada alat cetak jarak
jauh dan lain sebagainya yg berkaitan dgn satelit. Untuk menjaga itu
semua, bukan berarti karyawan yang merokok tidak boleh merokok. Boleh.
Asalkan di luar ruangan. Begitu juga dengan makan. Semuanya boleh
dilakukan. Karena merupakan kebutuhan utama manusia. Namun, semuanya
itu harus dilakukan pada tempatnya. Untuk merokok, haruslah di luar
ruangan. Di dalam ruang redaksi, harus steril. Jadi, kataku lebih
lanjut, tolong, di sediakan ruangan merokok bagi yang merokok.

Sehingga, selain ruangan ber AC jadi segar dan bersih, peralatan super
canggih yang dibelikan dengan uang rakyat bisa dipelihara dengan
aman. Melihat aku berceramah seperti dosen di depan mahasiswa, pak Dis
menahan senyum sambil pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya.

Oalah....rek. ...rek. Dadi opo aku iki.

Setelah itu, kamipun pamitan pulang. Di tengah perjalanan menuju
mobil, kulihat ada seorang pejabat yang buru-buru hendak menemui kami.
''Mana pak menteri Dahlan,'' tanyanya kepadaku. Akupun segera
menunjukkan dengan tanganku ke arah belakang. Kulihat pak Dis sibuk
menelpon di temani tiga orang supervisor yang tadi kukuliahi.

Sayup-sayup, ku dengar, pejabat yang berlari-lari itu meminta maaf
pada pak Dis karena keterlambatannya itu. ''Maaf pak. Tadi saya ada di
tempat lain,'' ucapnya memberi alasan. Akupun berlari menuju toilet
karena dinginnya ruangan ''steril'' tersebut.

PS :
Bagi mrk yg ingin mengetahui ACT eeh ATC ... Tempat Paling Vital di Bandara !

regards,


Dodo St Sati '90 Bdg


 
__._,_.___
Reply to sender | Reply to group | Reply via web post | Start a New Topic 
Messages in this topic (2) 
Recent Activity:        * New Members 1 
Visit Your Group 
Moderator:
Mohon perhatian: 1. Menghindarkan pengiriman attachment, apalagi >200KB. 2. 
Tidak mengirim email berantai. 3. Potong email sebelumnya, tinggalkan yang 
perlu saja. 4. Tidak one liner (mengirim email sebaris atau kurang, misal: 
"setuju", "saya dukung", "rancak tu" dst). Bila perlu, kirim ke Japri (jalur 
pribadi) saja. 5. Bila topik sudah berganti, tukar subjectnya.

Kirim email kosoang apobilo:
Ka sato maota disiko, ka: [email protected]
cuti dari palantako, ka: [email protected]
Sato duduak baliak disiko, [email protected]
Ingin manarimo digest sajo ka: [email protected]
Lah maleh di palantako, ka: [email protected]

Photo dan file dapek di upload ka website group, cubo masuak ka: 
http://groups.yahoo.com/group/SMA1Bkt/photo
Baco dan upload file di: http://groups.yahoo.com/group/SMA1Bkt/files/
Bia agak tahu tantang fasilitas group pai ka: 
http://help.yahoo.com/help/us/groups/files

 
Switch to: Text-Only, Daily Digest • Unsubscribe • Terms of Use
. 

__,_._,___-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke