Budi Suwarna dan Yulia Sapthiani

http://cetak.kompas.com/read/2011/06/19/04260760/rezeki.dari.negeri.upin-ipi
n

Ringgit yang dibawa turis Malaysia seperti darah segar yang menambah gairah
berusaha di Bandung. Tidak heran, semua pelaku usaha sekarang membidiknya.

Suasana di Bandara Husein Sastranegara benar-benar bergairah. Sepanjang
hari, ruang tunggu di bandara yang sempit itu penuh sesak oleh calon
penumpang, penjemput, dan pengantar. "Sampai pagi pun ramai karena banyak
makcik dan pakcik asal Malaysia yang menginap menunggu penerbangan pagi ke
Kuala Lumpur," ujar General Manager PT Angkasa Pura II Kantor Cabang Bandara
Husein Sasranegara Eko Diantoro, Selasa (14/6).

Tengoklah suasana pada saat jam kedatangan pesawat dari Kuala Lumpur.
Puluhan orang yang terdiri atas sopir, pedagang uang, dan petugas hotel
dengan sigap berjejer di pintu keluar bandara menawarkan jasa. "Money
changer... ringgit... ringgit... taksi... taksi... rental mobil," teriak
mereka saling bersahutan.

Begitulah, sejak ada penerbangan internasional-terutama dari Malaysia-ke
Bandung, bandara itu menjadi hidup. Padahal, kata Eko, bandara itu sempat
vakum ketika Jalan Tol Cipularang dibuka tahun 2005. "Penerbangan Halim
(Perdanakusuma)-Husein (Sastranegara) langsung rontok," ujar Eko.

Saking sepinya, lanjut Eko, sempat muncul istilah "11" penerbangan dari
Bandung. Maksudnya, setiap hari hanya ada satu pesawat mendarat dan satu
pesawat tinggal landas. Setelah itu, tidak ada lagi penerbangan.

Kini, setiap hari bandara tersebut melayani sekitar 1.000-1.500 orang per
hari, 50 persennya penumpang internasional, terutama dari Malaysia. Roda
bisnis pun berputar lagi. Pajak layanan bandara terkumpul dalam jumlah
banyak. Gerai-gerai makanan kembali hidup. Namun, Eko tidak bisa memerinci
berapa pendapatan bandara dari bisnisnya saat ini.

Cipratan ringgit

Hotel-hotel di Bandung juga banyak kecipratan ringgit. Hotel Amaris
Cihampelas hampir setiap hari mendapat turis Malaysia. Kalau ditotal sejak
hotel itu buka pada Januari 2011 sampai Mei, turis Malaysia telah menyewa
1.200 kamar. "Jumlah mereka memang baru 11 persen dari total tamu Amaris,
tetapi terus tumbuh," ujar Hikmat Nugraha, General Manager Amaris
Cihampelas.

Hotel Mutiara dan Hotel Grand Flower bahkan mulai didominasi para tamu dari
Malaysia. Ani Sumarni, Sales Marketing Hotel Mutiara, mengatakan, jumlah
tamu Malaysia telah mencapai 40 persen. Mereka menginap rata-rata 3-4 malam.

Public Relation Manager Kelompok Hotel Kagum Evaldo Desfarillo Loeis, yang
membawahkan Hotel Grand Flower, menuturkan, jumlah tamu dari Malaysia sudah
mencapai 35-40 persen dari total tamu Grand Flower.

Hotel Santika Bandung juga mendapat tamu Malaysia meski jumlahnya di bawah
10 orang per minggu. "Mereka biasanya rombongan turis yang ingin main golf,"
ujar Martini Santos, General Manager Secretary Hotel Santika Bandung.

Pedagang Pasar Baru sudah pasti kecipratan rezeki, bahkan mungkin paling
banyak. Hendra, pemilik toko AA Rizki, misalnya, Minggu (12/6) pagi, sibuk
melayani pengunjung Malay- sia yang memborong 50 potong mukena senilai Rp 7
juta rupiah. Setiap hari, katanya, ada saja pembeli dari Malaysia.

Hendra juga rutin mengirim 100 potong mukena setiap dua pekan ke Malaysia.
Bahkan, baru-baru ini dia mendapat pesanan 30.000 potong mukena untuk
dikirim ke Malaysia. Hendra hanya membuatkan saja. Label dan motifnya
ditentukan pemesan.

Beni (16) juga setiap hari bisa memperoleh puluhan ribu rupiah dari jualan
tas untuk membawa barang belanjaan. "Saya pernah jual satu tas belanja Rp
100.000, padahal harga sebenarnya enggak segitu," kata Beni.

Keripik jengkol

Selain Pasar Baru, Toko Tiga yang menyediakan aneka celana jins, jaket, dan
pakaian bermerek pun mendapat banyak tamu Malaysia. Pada Selasa (14/6)
malam, ada sekitar 30 turis Malaysia asyik memilih pakaian di sana. Mereka
umumnya mencari barang bermerek dengan harga miring.

"Ini keajaiban yang diatur Tuhan. Ketika pembeli lokal berkurang akibat daya
beli mereka melemah, datang berbondong-bondong tamu Malaysia ke sini. Omzet
toko bisa kami pertahankan," ujar Jefry William, pemilik Toko Tiga, tanpa
menyebut nilai omzetnya.

Restoran juga dapat cipratan rezeki, termasuk Rumah Makan Alas Daun, yang
baru buka dua bulan terakhir. Pada Senin siang ada sekitar 20 tamu Malaysia
yang asyik menikmati hidangan ala Sunda. Pemilik Alas Daun, Wawan Hermawan,
mengaku pernah menerima rombongan turis Malaysia yang terdiri atas 200-an
orang. "Warung ini sampai penuh sesak," katanya.

Menu apa yang mereka suka? "Ah, apa saja. Selera makan mereka sama dengan
kita. Sambal keripik jengkol juga doyan," ujar Wawan.

Gemerincing ringgit yang dibawa turis Malaysia memang menggiurkan. "Turis
Malaysia benar-benar menjanjikan. Karena itu, semua pelaku usaha di Bandung
pasti membidiknya," ujar Hikmat Nugraha.

Untuk itu, pihaknya langsung mempromosikan Hotel Amaris di Kuala Lumpur.
"Kami juga berpromosi di toko-toko di Pasar Baru yang banyak dikunjungi
turis Malaysia," katanya.

Pokoknya, banyak jurus dimainkan para pelaku usaha untuk menggaet turis dari
"negeri Upin-Ipin" itu. Betul... betul... betul!

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke