Minggu, 19 Juni 2011

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/06/19/0433543p.jpg 

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Wisatawan asal Malaysia tiba di Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung,
Jawa Barat, Selasa (14/6), dengan pesawat Malaysia Airlines. Bandara
tersebut saat ini melayani rute Bandung-Kuala lumpur dengan frekuensi empat
kali penerbangan sehari.

Budi Suwarna dan Yulia Sapthiani

http://cetak.kompas.com/read/2011/06/19/03275010/mendadak.malaysia.euy

Turis Malaysia menyerbu Bandung. Mereka berburu telekung, kasut, baju, dan
aneka kain di Pasar Baru. Apa yang menarik? Orang Malaysia bilang, lihat
desain baju buatan Bandung bikin mereka mau pingsan.

Aroma Melayu begitu terasa di Pasar Baru, Bandung, Senin (13/6) pagi. Para
pedagang yang kebanyakan orang Sunda mendadak berbicara dengan aksen Melayu
setiap bertemu dengan rombongan pelancong asal Malaysia.

"Boleh mampir tengok-tengok telekung," ujar seorang pedagang menawarkan
aneka model telekung alias mukena.

"Sile tengok kasut desain modern," kata seorang pedagang kasut atau sepatu.
Pedagang air minum tidak mau kalah. "Sile Abang, Kakak, Makcik, Pakcik
minuman sejuk," ujarnya menawarkan air kemasan dingin.

Jam menunjukkan pukul 10.00. Pada saat itulah biasanya turis Malaysia mulai
mengalir ke Pasar Baru. Mereka datang berburu mukena, sepatu, tas, baju, dan
aneka kain. Di antara rombongan turis Malaysia hari itu ada pasangan calon
pengantin, Muhtazah Abu Bakar (27) dan Nur Hafzan (30). "Kite nak berkahwin.
Jadi, kite cari semue perlengkapan pengantin di sini (Pasar Baru)," kata Nur
dengan vokal e pepet, seperti pada kata sepet.

Dia datang ke Pasar Baru berbekal majalah tentang perkawinan yang memuat
banyak desain baju pengantin. "Desainnya sudah saye pilih dari majalah ini.
Saye nak cari kainnya di sini, jahitnya di Malaysia," ujar Nur ketika
ditemui di Toko Chand Moda.

Sementara Nur sibuk memilih kain, calon suami, Muhtazah, menjalani
pengukuran badan untuk pembuatan blazer pengantin. "Saye buat blazer
pengantin di sini. Rabu nanti blazernya selesai dan boleh dibawa pulang.
Cuma Rp 1,2 juta saja," ujar Muhtazah yang datang ke Bandung pada Sabtu
(11/6) dan kembali ke Malaysia, Rabu (15/6).

Mengapa jauh-jauh berbelanja ke Pasar Baru? "Produk sini bagus-bagus,
murah-murah. Desainnya banyak. Tradisional boleh, modern boleh. Saye nak
pengsan (melihatnya)," jawab Nur dengan wajah sumringah. Bayangkan, lanjut
Nur, harga barang yang sama di Malaysia bisa tiga kali lipat.

Pagi itu Nur belum menghitung berapa ringgit uang yang telah dia habiskan
untuk berbelanja. Namun, seorang manajer di Toko Chand Moda membisikkan, Nur
dan calon suaminya telah berbelanja senilai Rp 25 juta. Wow!

Bawa koper kosong

Begitulah. Turis Malaysia datang ke Bandung memang untuk berbelanja. Eddie
Hisyam Basaruddin dan Fatehah Abdullah, misalnya, sengaja membawa koper
kosong ukuran besar dari Malaysia. Koper itu nanti digunakan untuk
mengangkut barang belanjaan mereka.

Pelancong seperti ini kian banyak ditemui di Pasar Baru. Saking banyaknya,
sejumlah toko di sana menerima transaksi dalam ringgit atau dollar AS.
"Kalau mereka kehabisan ringgit, kami akan antarkan mereka ke money changer.
Kalau malas ke money changer, boleh belanja dengan ringgit," ujar Yeni,
pelayan toko Chandini Boutique.

Selain Pasar Baru, mereka juga melirik Toko Tiga yang menjual aneka celana
jins dan jaket bermerek. Mereka juga gemar berbelanja di factory outlet,
seperti Rumah Mode, The Secret, dan Heritage. Setelah puas berbelanja,
mereka biasanya pelesir ke Tangkubanparahu.

Belakangan ini banyak pula turis Malaysia yang datang ke Bandung untuk
bermain golf. Pekan lalu, misalnya, 114 turis dari Kerajaan Perak, Malaysia,
menggelar turnamen golf di Bandung Giri Gahana, Jatinangor, seharian penuh.

Penerbangan

Turis Malaysia mengalir ke Bandung sejak ada penerbangan langsung AirAsia
rute Kuala Lumpur-Bandung pada tahun 2004. Awalnya hanya ada satu
penerbangan per hari. Seiring dengan semakin banyaknya orang Malaysia yang
berminat melancong ke Bandung, maskapai tersebut menambah jumlah penerbangan
menjadi tiga kali, yakni pagi, siang, dan sore. Belakangan Malaysia Airlines
juga ikut menggarap rute Kuala Lumpur-Bandung.

General Manager PT Angkasa Pura II Kantor Cabang Bandara Husein Sastranegara
Eko Diantoro mengatakan, jumlah penumpang yang datang dari luar negeri ke
Bandung saat ini 700-800 orang per hari. "Sebagian besar warga negara
Malaysia."

Dia yakin jumlah turis dari Malaysia semakin deras karena jumlah penerbangan
Bandung-Malaysia akan bertambah. Pada Agustus 2011, misalnya, Firefly-anak
perusahaan Malaysia Airlines-mulai melayani rute Johor Bahru-Bandung tiga
kali seminggu.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Jawa Barat Herman
Rukmanadi berpendapat, selain turis domestik, pelancong dari Malaysia saat
ini merupakan pasar yang seksi bagi industri pariwisata Bandung. Betapa
tidak, jumlah mereka cukup banyak dan mereka berkunjung tanpa mengenal
musim. Mereka datang ke Bandung sepanjang tahun kecuali bulan Ramadhan.

Selain berbelanja, mereka juga berburu makanan di Bandung. "Selera kita sama
persis. Makanan di sini juga sudah pasti halal. Bandingkan kalau mereka ke
Bangkok, mereka pasti tanya dulu, ini makanan halal atau haram," ungkap
Herman.

Shamsul Ridzal (30), turis asal Malaysia, mengatakan, dia suka sekali makan
pisang keju di Bandung. "Rasanya sedap betul," kata Shamsul yang sudah dua
kali melancong ke Bandung.

Herman mengatakan, turis Malaysia juga tergolong boros membelanjakan uang.
Diperkirakan setiap turis Malaysia membelanjakan rata-rata Rp 2 juta per
hari. Kalau sehari rata-rata ada 700 turis Malaysia yang datang ke Bandung,
uang yang mereka gelontorkan Rp 1,4 miliar. "Itu di luar pengeluaran untuk
hotel dan transpor."

Dia yakin jumlah turis Malaysia yang bisa didatangkan ke Bandung masih
besar. Pasalnya, pasar yang sudah digarap baru sebatas Kuala Lumpur. "Kita
belum menggarap Johor, Penang, dan Kuching," kata Herman.

Persoalannya, siapkah Bandung menerima kedatangan turis asing dalam jumlah
besar? Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat Lex Laksamana yang
ditemui di sela-sela Jabar Travel Exchange mengatakan, Pemprov akan
membenahi infrastruktur, salah satunya membangun bandara internasional di
Majalengka.

Sejumlah pelaku usaha sebenarnya tidak menginginkan proyek yang muluk-muluk.
Mereka cuma berharap pemerintah kota segera mengatasi kemacetan lalu lintas,
membangun trotoar, menata reklame yang semrawut, dan mengangkut sampah yang
berceceran di pinggir jalan.

 

Tak elok dilihat pakcik dan makcik! (SF)

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke