Sudah saya baca, pak Mochtar. Terima kasih.

Teriring salam. Dikirim dari iPad saya

On 27 Mei 2012, at 12:03, Mochtar Naim <[email protected]> wrote:

> Pak Saf dkk di Dunia Maya,
> Berikut adalah resume dari pendapat saya mengenai hal2 yang telah kita 
> bicarakan sejauh ini di Rantaunet:
> (I)   Tentang NII
>                Bagi saya NII adalah sebuah keniscayaan sejarah dan sangat 
> logis sekali kalau ummat Islam ke masa depan di Indonesia ini melangkah ke 
> arah terbentuknya NII itu. Upaya2 yang telah dilakukan sebelumnya dalam 
> bingkai NKRI untuk mendirikan NII itu belum berhasil, memang, tapi itu adalah 
> bahagian dari ritma pergumulan sejarah.
>                Namun, sekarang ummat Islam sedunia telah memasuki era 
> gelombang ketiga dari tamaddun dunia Islam dengan berakhirnya Perang Dunia 
> Kedua th 1945 yl. Selama 7 abad pertama, Islam lahir dan berkembang ke 
> seluruh dunia, mencapai zenitnya di zaman Baghdad dan Kordoba. Tujuh abad 
> kedua adalah era kajatuhan dan keterpurukan dunia Islam sampai semuanya 
> berada di bawah penjajahan Barat yang titik nadirnya adalah Perang Dunia 
> Kedua, yang sekaligus adalah juga titik awal dari era kebangkitan kembali 
> atau gelombang ketiga dari perjalanan sejarah dunia Islam sampai kira-kira 7 
> abad ke depan pula.
>                Perputaran roda sejarah ini adalah bahagian dari khittah 
> sejarah yang dipergilirkan di antara manusia yang sudah dinashkan dalam Al 
> Quran sendiri: “Wa tilkal ayyãmu nudãwiluhã bainan nãs.” Dan hari-hari itu 
> kami peredarkan di antara manusia2 (Ali ‘Imran 140).
>                Dengan memasuki abad ke 21 ini ummat Islam mulai membenahi 
> diri kembali. Kecuali Palestina dan satu-dua yang lainnya yang masih bergumul 
> melepaskan diri dari keterkungkungan Dunia imperialis-kapitalis Barat, 
> praktis semua sedang membenahi diri untuk mengejar segala ketertinggalannya.
>                Kita sekarang sedang menyaksikan gebrakan2 awal dari tamaddun 
> dunia Islam gelombang ketiga itu, yang menyisir sampai ke Dunia Melayu di 
> Nusantara dan Asia Tenggara ini. Di bidang ekonomi, konsep ekonomi dan 
> perbankan syariah tanpa riba menjalar ke seluruh dunia, tak terkecualinya 
> keara dunia kapitalis Barat sendiri di Eropah dan Amerika. Di bidang politik, 
> sudah sejak dari dibentuknya PBB sesudah PD II, konsep musyawarah, HAM, 
> persamaan hak dan keadilan serta kesama-rataan yang mendasar dalam ajaran 
> Islam diterima menjadi qanun PBB dan negara2 demokratis lainnya di dunia. Di  
> bidang pendidikan, sistem pendidikan Tarbiyah yang mensinergikan unsur2 
> pendidikan intelektual, emosional, spiritual, kultural, sosial, individual 
> dan fisikal (7 unsur pendidikan integral dari Mohd Natsir yang kemudian 
> dikembangkan di Amerika oleh Dawud Tauhidy, muallaf bule Amerika (meninggal 
> 2010 yl), adalah juga gebrakan dari tamaddun Dunia Islam.  Di Indonesia 
> sendiri, kecuali di madrasah dan pesantren, dari hanya beberapa gelintir 
> mahasiswa puteri di Yogya yang berpakaian muslimah di awal 1950an (termasuk 
> bekal pendamping hidup saya), sekarang, seperti dilihat sendiri, di mana2 di 
> Indonesia ini wanita muslimah berjilbab, dan anak2 sekolah dari SD sampai SLA 
> dan PT/Universitas berjilbab.
>                Apa artinya semua ini?
>                Ini semua tidak lain dari awal gebrakan ke arah berlakunya 
> Tamaddun Dunia Islam Gelombang Ketiga yang Indonesia termasuk ke dalamnya. 
> Target sasaran dalam dekade2 ke depan ini tidak lain dari islamisasi Dunia 
> Melayu dan Dunia Nusantara ini sebagai bagian tak terpisahkan dari Dunia 
> Islam.
>                Faktor2 mendasar terhadap terbentuknya NII itu a.l. adalah:
> (1)  Mayoritas terbesar dari WNI adalah ummat Islam. Logis kalau kelompok 
> mayoritas, seperti yang biasa terjadi di manapun, memperjuangkan agar 
> ideologi yang mereka anut menjadi dasar negara. Dia tidak logis kalau ummat 
> Islam, atau ummat manapun, yang merupakan minoritas tetapi memaksakan 
> kehendaknya untuk menguasai negara. Atau sebaliknya, mereka mayoritas tapi 
> membiarkan dirinya dikuasai atau tunduk kepada kemauan minoritas seperti yang 
> ternukil dalam sejarah Nusantara selama ini sampaipun ke NKRI sekarang ini.
> (2) Kebetulan Islam, berbeda dengan agama Kristen yang memisahkan antara 
> urusan politik dan agama (separation of church and state), Islam tidak 
> mengenal pemisahan itu. Islam melihat semua permasalahan kehidupan ini 
> sebagai satu kesatuan yang utuh, integral dan holistik di bawah  naungan 
> kuasa Allah. Makanya wajar kalau ummat Islam berjuang untuk menegakkan negara 
> Islam. Bukan negara sekuler ataupun negara liberal-campur2, ataupun kembali 
> menegakkan nilai2 lama yang sudah outdated atau kaladauarsa.
> 3.            Filosofi kenegaraan yang dikembangkan selama merdeka ini hanya 
> botolnya yang baru dengan label demokrasi, kerakyatan dan kesejahteraan bagi 
> semua, tapi isinya adalah nilai budaya lama feodalisme, etatisme, 
> sentripetalisme, nepotisme dan bahkan despotisme yang sudah kadaluwarsa. 
> Ibaratnya: The old wine in the new bottle.  Kebobrokan dan kemelut politik, 
> ekonomi, dan sosial-budaya dengan meruyaknya korupsi, penyalah-gunaan 
> wewenang dan kekuasaan, penguasaan ekonomi negara oleh kelompok minoritas 
> non-pri yang bekerjasama dengan MNC dan para pejabat dan penguasa negara, 
> dsb, sejak masa Orde Baru dan Orde Reformasi sekarang ini, adalah karena  
> yang diminum adalah anggur tua yang dituangkan dalam botol baru itu.
>                Budaya anggur tua dalam botol baru ini jelas tidak punya masa 
> depan lagi dan harus berganti dengan demokrasi baru yang islami dengan 
> prinsip “rahmatan lil ‘alamin.” Istilah lainnya adalah NII itu.
>                Ke arah itu ummat Islam di Indonesia ini menuju ke masa 
> depannya. Soal apakah perlu mendirikan partai politik atau apanya, itu 
> hanyalah masalah taktik dan strategi yang  dilihat dan diatur secara integral 
> dan holistik.
>  
> Menyusul resume ttg:
>  
> (II)              Tentang  pelaksanaan ABS-SBK dalam masyarakat Minangkabau 
> dan masyarakat Melayu lainnya di Nusantara ini
> (III)            Tentang  pembentukan lembaga TTS (Tungku nan Tigo 
> Sajarangan, Tali nan Tigo Sapilin) dalam konteks masyarakat  Minang sekarang 
> ini.
> (IV)            Tentang Nagari sebagai (i) unit kesatuan administratif 
> pemerintahan terendah, (ii) unit kesatuan keamanan dan pertahanan, (iii) unit 
> kesatuan ekonomi, dan (iv) unit kesatuan adat dan sosial-budaya.
>  
> Mochtar Naim
> 27 Mei 2012

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke